Isekai : Dunia Impian

Isekai : Dunia Impian
Chapter 8 ~ penyambutan yang tidak ramah sama sekali.


__ADS_3

Di tengah hutan Frunaium. 3 pria yang mengambil quest special sedang berjalan sembari mengobrol satu sama lain di tengah perjalanan mereka menuju tujuannya yaitu gua Goezho sumber dari Aura mengerikan yang membuat satu kota panik.


"Hei! Bukannya ini aneh?" Tanya pria kedua pada kedua pria lainnya.


"Ya, ini sangat aneh. Kita sudah berjalan cukup lama tetapi tidak ada hewan-hewan yang muncul atau monster yang biasa ada ditengah hutan seperti ini. Apa mungkin ini termasuk pengaruhnya ya?" Kata pria pertama.


"Mungkin benar seperti itu. Monster ini menurut kabar yang beredar dia sangat mengerikan, bisa aja ini ulahnya juga." jawab pria kedua.


"Kalau benar begitu, hanya dengan auranya saja bisa membuat para hewan dan monster yang terkenal cukup kuat dan buas yang merupakan penghuni tengah hutan ini melarikan diri. Kalian berdua berhati-hatilah saat nanti kita melawannya." kata pria ketiga yang menghawatirkan kedua pria lainnya.


"Dimengerti!" Kata kedua pria lainnya secara bersamaan.


Di gua Goezho.


Beberapa saat kemudian, aku melihat pintu gerbang setinggi 10 meter. Aku sangat senang karena setelah perjalanan panjang dan berliku-liku masalah telah selesai sekarang. akhirnya aku bisa keluar dari gua ini juga. Aku berjalan mendekati gerbang keluar gua dan mendorongnya dengan kedua tangan lalu berkata "Selamat datang dunia luar yang indah! Akhirnya setelah sekian lama aku bisa melihat mu juga, dunia fantasi" kataku dengan semangat.


Tiba-tiba ada yang menyapa Arata dari depan dengan sebuah kunai yang mengincar kepala Arata tetapi Arata bisa menghindarinya dengan mudah.


Orang itu perlahan mulai terlihat, mereka adalah 3 orang pria. Pria pertama terlihat berbadan besar yang memakai zirah besi dan perlengkapan lengkap layaknya seorang ksatria, pria kedua terlihat kurang lebih sama dengan pria pertama tetapi pria kedua tidak membawa perisai. Sedangkan pria ketiga terlihat memiliki badan paling besar dibandingkan yang lain, pria ketiga juga memakai zirah tapi zirah yang dipakai hanya terdapat dibahu kanannya dan terbuat dari kulit itu bertujuan untuk memperlihatkan tubuh besar dan kekarnya, pria ketiga juga memiliki pedang besar di punggung nya, pria ketiga yang tidak lain adalah bos/pemimpin dari kedua pria lainnya. Masing-masing dari mereka juga memakai sebuah kalung dengan papan persegi berwarna ungu yang memiliki panjang 7 cm dan tinggi 1,5 cm dan ada tulisan Epic di papan kalung itu berwarna putih.


Arata bingung mengapa mereka menyerangnya, dia pun menanyakan itu pada mereka dengan santai "ada apa? Kenapa kalian menyerangku? Apa aku pernah berbuat salah pada kalian?" Arata sangat ingat ketika dia berada didalam gua, dia tidak pernah bertemu ataupun hanya melihat manusia asli satupun.


"Lucky! Sepertinya Dewi Avrius sedang berpihak pada kami ya. Dengan tubuhmu yang terluka parah, mana mungkin kamu bisa melawan kami bertiga yang masih sangat segar dan bertenaga ini" kata pria ketiga.


"Eh? Apa? Apa maksud kalian? Siapa Dewi Avrius?" Tanyaku dengan heran. Aku heran letak beruntung nya dimana, padahal mereka disekitar sini aku tidak melihat sesuatu yang menguntungkan buatku.


"Kamu tidak perlu tahu siapa Dewi Avrius itu karena sebentar lagi kamu akan mati." Arata masih diam saja seperti orang bodoh, lalu dia melanjutkan perkataannya.


"Sepertinya kamu bodoh ya, monster" kata pria ketiga sambil senyum tipis tapi jelas senyum itu bukanlah senyum yang baik.


"Hah? Monster?" Arata melihat kebelakang dan kanan-kiri tetapi tidak ada makhluk hidup lain selain dirinya. Arata pun bertanya dengan heran "apa maksudmu aku?"

__ADS_1


Pria ketiga berkata lagi dengan nada marah dan menghina pada Arata.


"sepertinya kamu memang benar-benar bodoh! Disini hanya ada kami bertiga dan kamu. Kalau bukan kau siapa lagi, dasar monster berwujud manusia!"


"Tunggu, tunggu, tunggu. Kalian Sepertinya salah paham, aku bukanlah manusia." Arata salah bicara, dia pun berkata lagi untuk membenarkan perkataan nya.


"Ah! Tidak, maksudnya Aku hanyalah manusia biasa sama seperti kalian berdua" Arata mencoba menyangkalnya karena memang seperti itu kenyataannya yang Arata tahu.


"Dari perkataan pertama mu saja sudah jelas bahwa kamu adalah monster. Jangan coba membohongi kami, dasar monster. dilihat dari luar memang kau seperti manusia biasa, tapi auramu yang sangat luar biasa kuat dan besar seperti itu, mana bisa kami percaya. Jika kamu seorang petualang rank tertinggi, prajurit khusus dan elite, ataupun sekelasnya. Mungkin saja kami percaya tapi kau adalah sesosok yang baru saja keluar dari gua itu dengan selamat" kata pria ketiga.


"Setuju" saut orang pertama lalu pria kedua juga berkata "sangat setuju"


"Memangnya gua apa itu?" Tanya Arata yang tidak tahu apapun mengenai gua itu karena Arata aslinya adalah jiwa yang bereinkarnasi ke tubuh yang berada didalam gua dan tidak pernah sekalipun melihat dunia luar, ini pertama kalinya Arata melihat dunia luar.


"Tuhkan benar saja, kamu bahkan tidak mengetahuinya" kata pria kedua.


"Jangan banyak bacot! dasar monster! Ayo kita langsung serang saja dan dapatkan hadiahnya sesegera mungkin" kata pria ketiga yang tidak sabar mendapatkan hadiah dari raja.


"Tunggu! tunggu!" Kata Arata.


Arata masih mencoba menghindari serangan 2 pria itu dengan mudah tetapi karena tubuhnya sudah terluka cukup parah. Arata pun cukup kesulitan jika harus bertahan lebih lama lagi. Arata dihadapkan dengan pilihan sulit sekali lagi, membunuh 3 manusia ini atau mati dibunuh mereka. Arata tentunya tidak mau mati dan memilih membunuh mereka bertiga saja.


Arata menarik katana dari sarungnya di pinggang kiri dan mengayunkan katananya menuju leher pria pertama dengan sangat cepat seperti kilatan petir menyambar tetapi tiba-tiba pria ketiga muncul dan menghadangnya dengan pedang besarnya.


"Akhirnya kamu mau bertarung juga, meskipun tubuhmu sudah terluka parah seperti itu. Dilihat dari sini sudah jelas kan? Bahwa kamu akan mati disini! Monster!" Kata pria ketiga dengan sangat yakin bisa membunuh Arata tetapi kenyataannya tidak seindah ekspetasi.


"Apa benar begitu? Kupikir kalian yang akan mati lho!" Kata Arata dengan santai seperti biasa.


Pria pertama semakin marah lalu mementalkan katana Arata. Pria pertama mengayunkan pedang besarnya lagi kearah kepala Arata dengan cepat tetapi Arata bisa menangkisnya meskipun dengan cukup kesusahan. Arata bernafas tidak beraturan. Tiba-tiba pria pertama dan kedua menyerang Arata dari belakang, tetapi Arata yang menyadari itupun mementalkan pedang besar milik pria ketiga dan menangis serangan bersamaan dari pria pertama dan kedua. Terjadilah pertarungan 1 vs 3 yang dimana 1 orang sudah sangat lemah dan terluka parah sedangkan 3 orang masih sangat segar dan sehat juga. Arata berjuang mati-matian menghadapi mereka bertiga hingga akhirnya Arata mencapai batasannya, Arata pun memilih untuk menggunakan sihir kuno lagi yaitu sihir pembekuan ruang dan waktu.


Sihir ruang dan waktu adalah sihir yang membekukan seluruh ruang dan waktu yang berada disekitar pemakai, tidak ada makhluk hidup yang bisa bergerak ketika sudah berada dalam area sihir ini.

__ADS_1


Selagi Arata bertarung mati-matian, Arata berkata dengan pelan "freeze space and time" seketika seluruh tempat dan waktu disekitar Arata membeku seperti patung. Mereka yang berada dalam sihir kuno ini tidak akan bisa bergerak ataupun berpikir apapun. Mereka benar-benar sedang berada didalam waktu yang berhenti.


Arata berlutut dan memuntahkan darah dari mulutnya lalu berdiri lagi meskipun dengan semboyongan. Arata dengan cepat menebas kepala mereka bertiga menggunakan katana legendaris lalu mematikan sihir ini. Seluruh ruang dan waktu disekitar Arata pun kembali normal.


Tiba-tiba saat mereka bertiga sadar, kepala mereka sudah terpisah dengan badan mereka. Mereka heran sekaligus terkejut, mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Perlahan kesadaran mereka hilang dan mati.


Arata juga terjatuh dan terungkap tetapi ia masih sadarkan diri.


"Ah! Aku melakukannya lagi" gumam Arata dalam hati.


Arata membalikkan badannya dan berbaring lalu Arata mengambil apel dari sihir penyimpanan ruang dimensinya menggunakan tangan kanan sedangkan katana legendaris ditaruh di sebelah kiri. Apel ini bukan apel biasa karena dilihat dari warnanya saja apel ini sangat aneh karena berwarna biru menyala dan ditemukan didalam gua yang sama anehnya.


...


Arata tidak sengaja menemukan apel ini didalam gua saat mencari jalan keluar. Arata melihat kanan-kiri, ketika Arata sadar tidak ada makhluk hidup apapun selain dirinya ditempat itu. Arata pun dengan sigap mengambil apel aneh itu dan memasukkannya kedalam penyimpanan ruang dimensi. Arata mengambil apel ini dengan alasan "siapa tahu ketika sedang tidak menemukan makanan apapun, setidaknya aku bisa tetap makan meskipun hanya satu buah apel yang sedikit aneh. Lagipula ini didalam gua dan tidak ada pemiliknya juga, jadi ini tidak termasuk pencurian ya" lalu Arata pergi meninggalkan tempat itu.


...


Arata saat ini menatap apel yang diarahkan ke langit dengan curiga. Arata ragu-ragu untuk memakannya karena dari pengalaman yang didapat Arata ketika didalam gua dan memakan makanan aneh, dia selalu merasa kesakitan, bahkan ada beberapa yang hampir membuatnya mati.


"Apa aku harus memakannya ya? Apel aneh ini" Gumam Arata dalam hati sambil melihat-lihat apel aneh itu dengan ragu-ragu. Beberapa saat kemudian, akhirnya Arata memantapkan diri untuk memakannya karena dia sudah sangat lelah sekaligus lapar dan energi sihir (Novra) nya juga sudah hampir habis. Arata memakannya, pada gigitan pertama Arata merasa apel ini sangat enak seperti rasa apel di dunia sebelumnya. Arata pun memakannya dengan lahap hingga akhirnya habis lalu membuang sisa apel aneh yang tidak bisa dimakan.


"Rasanya enak seperti apel di bumi. Aku juga tidak merasakan kesakitan apapun malahan tubuhku sudah tidak sakit lagi tapi aku masih belum bisa bergerak. Mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama setelah memakannya" Beberapa saat kemudian, akhirnya Arata kembali pulih sepenuhnya seperti semula, seolah-olah Arata tidak pernah mengalami luka apapun. Tubuhnya benar-benar pulih seperti sedia kala. Arata bangun dan duduk. Arata tiba-tiba terpikirkan dengan perkataan salah satu pria tadi.


"Aura ku sangat mengerikan ya? Kalau benar perkataannya, maka aku tidak akan bisa mengunjungi kota tempat tinggal manusia di dunia ini. aku harus menahan Aura ini seminimal mungkin agar manusia tidak takut denganku." gumam Arata.


Arata berpikir sebentar lalu menemukan jawabannya. Arata duduk bersila dan memejamkan matanya, dia terlihat seperti sedang bertapa. Arata memfokuskan seluruh sesuatu yang diyakini Arata sebagai Novra atau energi sihir lalu menekannya sampai seminimal mungkin hingga hampir mencapai angka nol Novra. Orang awam yang melihat Arata mungkin berpikir bahwa Arata sangat lemah sekali, bahkan hampir tidak memiliki energi sihir sama sekali.


Novra adalah energi sihir yang tidak semua makhluk hidup tentu memilikinya di dunia ini.


Arata bisa menekan Novra nya hampir sampai nol juga berkat apel aneh yang dimakannya. Jika tidak ada apel itu mungkin saja Aura Arata hanya bisa ditekan sedikit saja dan masih membuat para manusia takut dengannya tetapi Arata tidak tahu apapun mengenai apel aneh itu.

__ADS_1


Arata membuka matanya perlahan apa yang dia lihat adalah...


__ADS_2