Isekai : Dunia Impian

Isekai : Dunia Impian
Chapter 16.1 ~ tiba-tiba aku menjadi orang kaya, apakah ini mimpi lagi?


__ADS_3

Banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala mengenai kenapa aku bisa berada di tempat ini.


Tiba-tiba terdengar suara benda yang pecah, spontan aku langsung melihat kearah sumber suara. Apa yang kulihat adalah seseorang gadis yang memakai pakaian pelayan atau maid di depan pintu kamar.


Dia terlihat sangat terkejut sekali ketika melihat ku, aku tidak tahu kenapa dia sangat terkejut seperti itu hingga menjatuhkan teko dan cangkir yang berisikan teh, lantas aku pun bertanya padanya "ada apa?" Bukannya menjawab pertanyaan ku, dia malah langsung lari meninggalkan teko dan cangkir yang pecah tersebut.


Ada apa dengannya? Seperti baru saja melihat hantu. Apa memang wajahku sebegitu menakutkannya?


Aku pun ngaca lagi di cermin.


Menurut ku tidak begitu, wajahku masih tampan seperti sebelumnya deh. Tidak ada perubahan sama sekali sih, lalu kenapa dia langsung lari ya setelah melihat ku? Pelayan yang aneh.


Aku pun menutup (menggenggam) tangan kanan dan seketika api langsung padam. Aku menghampiri meja kecil berlaci yang terdapat sebuah figura kecil yang berisi foto, aku mengambilnya dan mengamati lebih dekat lagi foto itu.


Apa ini? Foto keluarga?


Di foto terlihat jelas seorang pria dewasa, seorang wanita dewasa disampingnya, seorang anak perempuan yang terlihat berusia 6 tahun, dan seorang anak laki-laki yang terlihat berusia 8 tahun. Dua anak itu di depan kedua pria dewasa dan wanita dewasa. Laki-laki yang berusia 8 tahun terlihat mirip dengan wajahnya Arata. Mereka semua yang berada di foto memiliki rambut putih keperakan yang sama satu sama lain, sedangkan matanya yang lain berwarna biru, hanya Arata yang memiliki mata berwarna kuning keemasan.


Apa yang itu aku ya? Tidak, lebih tepatnya orang yang memiliki tubuh ini dulu sebelum aku ya.


Tak lama kemudian, datanglah seseorang wanita paruh baya yang berlari dengan nafas tak beraturan di depan pintu kamar. Dari wajahnya dia terlihat sangat terharu, dia melewati beberapa pecahan kaca tersebut dengan hati-hati lalu menuju kearah ku.


"wanita ini siapa? Apakah dia ibu?" Tanyaku dalam hati lalu melihat foto lalu melihatnya lagi dan mengidentifikasi wajah dari keduanya, meskipun aku kurang yakin tapi dia mirip dengan wanita di foto ini.


Wanita paruh baya itu langsung memelukku sembari menangis bahagia seperti orang tua yang sangat lama tidak bertemu anaknya.


"Arata, Arata, Arata, akhirnya kamu sadar juga. Sudah lama ibu merindukanmu, Arata" katanya sembari menangis bahagia.


"Ibu?" Kata ku dalam hati.


Datanglah seorang pria paruh baya didepan pintu, pria ini juga berekspresi sama seperti wanita paruh baya ini ketika baru saja melihat ku.


"Siapa lagi paman ini? Apakah dia ayah?" Tanyaku dalam hati lagi lalu melihat foto lalu melihatnya lagi dan mengidentifikasi wajah dari keduanya, meskipun aku kurang yakin tapi dia mirip dengan pria di foto ini.


Dia tidak memperdulikan pecahan kaca itu dan langsung jalan menuju ku lalu memeluk ku juga.


Rasa ini? Aku merasa pernah merasakannya dulu.


Arata mengingat kenangan masa lalu di dunia sebelumnya, dia merasa kejadian ini sama seperti saat dia dipeluk oleh kedua orang tuanya yang berada di bumi.


Aku yang penasaran pun bertanya pada mereka dengan polosnya "kalian siapa?" Seketika mereka berdua tercengang dan melepaskan pelukannya secara perlahan.


Apa mereka adalah orang tuanya ya? Jika benar, mereka berdua juga orang tua ku sekarang tapi mengapa aku tidak memiliki ingatan apapun tentang mereka berdua? Menurut pengetahuan ku dari dunia sebelumnya, jika seseorang di reinkarnasikan ke tubuh yang usianya bukan bayi baru lahir biasanya akan ada ingatan yang tumpang tindih dengan ingatan di dunia sebelumnya tetapi saat ini aku benar-benar tidak mengingat siapa mereka berdua, bahkan ingat sedikitpun tidak. Apa maksudnya?


"Arata, kamu tidak bercanda kan?" Kata wanita paruh baya itu yang tidak mempercayai perkataan ku.


"Arata!" Panggil pria paruh baya itu dengan ekspresi harapan di wajahnya.


"Serius, aku tidak mengenal siapa kalian berdua."


Pria paruh baya itu melihat sebentar istri nya lalu melihat Arata lagi. Wajahnya terlihat kecewa tetapi dia tetap mencoba menerima keadaannya.


"Oh begitu ya, kami adalah orang tua mu, Arata"


"Orang tua?"


"Ya, aku adalah ibumu dan dia adalah ayahmu, Arata. Lihatlah pada figura yang kamu pegang itu!" kata wanita paruh baya.


Aku pun mengikuti perintahnya untuk melihatnya lagi, dia pun menunjukkan bahwa pria yang berada di foto adalah ayah ku dan wanita itu adalah ibu ku lalu laki-laki kecil itu adalah Arata dan gadis didepan mu itu adalah adikmu.


"Dia adalah ayahmu, dia adalah ibumu, ini kamu dan dia adalah adik mu, Arata"

__ADS_1


Ehhh, mengejutkan sekali ya. Aku juga punya seorang adik perempuan di dunia ya. Kira-kira seperti apa wajahnya ya? Aku tidak sabar menantikannya tetapi keadaan ini tiba-tiba saja terjadi, mungkin aku butuh waktu sebentar untuk memikirkannya lebih lanjut.


"Ayah dan ibu, bisa kalian keluar dulu. Aku butuh waktu untuk hal ini" kata ku dengan sopan mengusir mereka.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan ku, sebelum menutup pintu wanita paruh baya itu berkata dengan sedih "kalau ada apa-apa, panggil saja ibu, Arata"


"Iya" jawab Arata lalu mereka berdua menutup pintunya.


Mereka berdua ngobrol sembari berjalan meninggalkan Arata sendirian di kamarnya.


"Apa kamu yakin dia adalah anak kita, sayang? Dia bisa menggunakan sihir lho katanya?" Tanya pria paruh baya pada istrinya.


"Ya, aku sangat yakin sekali bahwa dia adalah Arata Mavzio, anak kita. Mungkin benar dia tidak ingat apapun, lagipula dia menghilang tanpa kabar selama 7 bulan lamanya. Setelah dia kembali, dia tidak mengingat apapun, bahkan tiba-tiba sekarang dia bisa menggunakan sihir katanya. Menurut ku itu wajar kalau ada campur tangan pihak ketiga, sayang" jawab wanita paruh baya pada suaminya.


"Oh begitu ya pandangan mu terhadapnya saat ini"


"Apa kamu benar-benar meragukan anak kita sendiri? Bukannya itu hebat kalau sekarang dia sudah bisa menggunakan sihir." Tanya wanita paruh baya pada suaminya.


"Tidak, bukan begitu. Hanya saja aku merasa ada yang aneh dengannya." Jawab pria paruh baya.


Wanita paruh baya menghela nafasnya dengan berat karena dia tidak percaya bahwa suaminya tidak mempercayai anaknya sendiri.


"Huh! Kalau begitu, kita panggil saja dia untuk memeriksanya apakah dia memang benar-benar anak kita, Arata atau hanya sekedar mirip saja. Aku sangat yakin bahwa dia adalah Arata anak kita"


Di kamar tadi.


Aku pun melompat ke kasur dan tengkurap, aku masih tidak mengerti dengan keadaan ini. Tiba-tiba di gua lalu menjadi petualang, baru selesai satu misi langsung pindah bereinkarnasi lagi menjadi anak orang kaya, tapi aku kurang yakin bahwa aku telah bereinkarnasi lagi deh. Bukannya itu aneh? Apa tidak ada ya sesuatu seperti suara dunia misalnya yang bisa menjelaskan keadaan ku saat ini. Kenapa pergantian keadaannya begitu cepat?


Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kepalaku.


"Manusia memang tidak pernah bersyukur ya, ngoceh-ngoceh ingin keluar dari gua sudah dikabulin, ngoceh-ngoceh ingin menjadi anak bangsawan yang kaya juga sudah dikabulin tapi sekarang masih saja ngeluh. Dasar manusia!"


"Siapa? bukannya aku mengeluh tetapi hanya bingung saja. Bisa tidak jelaskan dengan singkat, padat dan jelas mengenai keadaan ku saat ini?" Tanyaku dalam hati.


"Seriusan?... Hallo?... Moshi-moshi? Apa ada orang didalam?... Tolong dijawab? Aku masih tidak mengerti nih!" Tetapi tetap tidak ada jawaban apapun.


Beberapa saat telah berlalu.


Tiba-tiba terdengar 3 suara ketukan dari pintu.


Tok... Tok... Tok...


"Boleh saya masuk?" Kata seseorang pria.


"Silahkan saja" jawab Arata yang masih tengkurap.


Masuklah seseorang pria tua yang berusia sekitar 60 tahunan dan dua orang yang mengaku orang tua ku tadi, entah mengapa aku merasa pria tua ini adalah semacam dokter di dunia ini. Dia menghampiri ku lalu duduk didekat ku.


"Apa kamu adalah Arata?"


"Ya, aku adalah Arata. Kakek sendiri siapa?" Kataku.


"Ternyata benar ya bahwa kamu tidak mengingat apapun, bahkan termasuk saya juga." dia pun menyentuh tangan kanan ku, dia merasakan energi Novra ku.


Energi Novra setiap orang jika dirasakan akan terasa berbeda-beda, satu sama lain tidak akan pernah ada yang bisa sama, seperti halnya sifat-sifat manusia yang beragam. Meskipun kamu meniru perilakunya, pasti akan ada perbedaan walaupun hanya sedikit saja.


"Bisakah kamu berbaring?" Suruh kakek itu.


"Ya." aku pun menuruti perkataan nya untuk berbaring.


Dia menyentuh dadaku lalu dia merasakan sesuatu di dadaku lalu dia menyentuh dahi ku, dia seperti mengeluarkan sesuatu saat menyentuh dahiku sehingga aku merasa terkejut. Aku dengan spontan menyingkirkan tangannya dari dahiku karena rasanya seperti tersengat listrik.

__ADS_1


Pria tua itu dilihat dari wajahnya sekarang dia sangat yakin.


"Tidak usah khawatir, aku sudah memastikannya bahwa dia adalah Arata, anak kalian, sama seperti dulu, dia juga tidak sedang dalam kendali seseorang, tidak ada perubahan apapun pada tubuhnya kecuali ingatannya saja yang menghilang. Saya bisa jamin akan hal itu. Perubahannya tidak hanya itu, ada satu sisi positifnya juga yaitu sekarang kekuatan Novra Arata sedikit lebih tinggi dibandingkan dulu, mungkin kalian juga sudah tahu bahwa sekarang dia bisa menggunakan sihir." Jelas kakek itu.


"Apakah itu karena campur tangan seseorang?" Tanya pria paruh baya itu.


"Tidak, ini adalah murni kejadian alami. Jadi kalian tenang saja." Kata kakek itu.


Ayah dan ibu Arata melihat satu sama lain, wajah mereka terlihat lega sekaligus bahagia karena anaknya sekarang sudah kembali lagi bersama mereka.


"Oh ya, Ngomong-ngomong Kenapa dia tidak mengingat apapun?" Tanya wanita paruh baya itu.


"Entahlah, hilang ingatan Arata sedikit berbeda dengan orang hilang ingatan yang pernah kutangani sebelumnya. Jadi aku kurang mengerti tetapi kalian tenang saja, saya sangat yakin itu bukanlah penyakit yang membahayakan nyawa nya."


"Oh begitu ya, syukurlah!" kata wanita paruh baya itu.


"Kalau hanya segini, aku pergi dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus kutangani." dia berdiri dan berpamitan lalu pergi.


"Terimakasih, Tuan Garius" kata pria paruh baya itu sebelum tuan Garius melewati pintu.


"Ya, Sampai jumpa lagi, Arata." Dia hanya mengangkat tangan kanannya lalu pergi meninggalkan kami.


Arata bangun lalu melihat kearah perginya tuan Garius.


"Siapa pak tua tadi?" Tanya Arata.


"Apa kamu juga melupakannya?" Tanya ibu Arata.


"Ya" jawab Arata dengan singkat.


"Baiklah, aku akan jelaskan. Tuan Garius adalah seorang dokter, dia dulu sering memeriksa dan menyembuhkan mu saat sakit. Dia adalah seseorang yang sangat baik, dia mau datang untuk bertemu dengan mu meskipun jadwalnya sangat padat sekali. Jadi hormati lah dia" Jawab wanita paruh baya itu.


"Oh begitu ya, ngomong-ngomong nama lengkap ku siapa?" Tanya Arata.


Mereka berdua terkejut setelah mendengar perkataan ku lalu ayah berkata "ehh? Nama sendiri kamu juga tidak mengingatnya? Arata"


"Tidak, kalau nama sendiri aku masih ingat yaitu Arata. Tapi yang kumaksud adalah nama keluarga, pasti aku memiliki nama keluarga kan?" Tanya Arata.


"Oh nama keluarga ya, nama keluarga kita adalah Mavzio. Aku adalah ayahmu, Garvin Mavzio" dia mengarahkan tangannya pada wanita paruh baya disampingnya lalu melanjutkan "lalu dia adalah ibumu, Hestia Mavzio. Dan kamu adalah anak pertama kami, Arata Mavzio. Kami berdua adalah orang tua mu"


"Apa aku mengakuinya saja ya? Lagipula menjadi anak dari orang kaya tidak buruk juga." kataku dalam hati. Aku pun memutuskan untuk mengakui nya bahwa mereka adalah orang tua ku sekarang.


"Baiklah, ayah dan ibu" kataku sambil tersenyum lembut.


Mereka berdua terlihat bahagia sekali ketika melihat senyuman Arata, ibu Arata langsung memeluk Arata dan menempelkan dadanya yang besar (H cup) tepat pada wajah Arata sehingga Arata susah bernafas.


Meskipun wanita paruh baya ini sudah hampir mencapai usia 50 tahun tetapi kecantikannya seperti masih usia 20 tahunan.


"Anu!"


Arata pun terpikirkan untuk beralasan, tidak, bukan alasan tetapi ini memang keharusan yang harus dilakukan oleh setiap makhluk hidup yaitu makan.


"Apa, Arata"


"Aku lapar"


"Oh, benar juga. Kamu kan baru bangun dan masih dikamar mulu dari tadi, pasti belum makan. Maafkan aku"


"Tidak apa-apa, yang penting sekarang aku mau mak—" sebelum Arata selesai bicara ibu Arata.


"Ayo! Ibu sudah masak makanan kesukaan mu." tiba-tiba ibu Arata menarik tangan kanan Arata dan turun dari kasur lalu mengajaknya pergi keluar kamar, sedangkan ayahnya mengikuti mereka dari belakang dengan santai.

__ADS_1


Arata akan dibawa kemanakah? Apakah benar dia adalah ibu kandung dari Arata? Lalu maksud surat di gua waktu itu apa? Siapa yang menulisnya?


__ADS_2