Isekai : Dunia Impian

Isekai : Dunia Impian
Chapter 11 ~ Ujian masuk guild petualang.


__ADS_3

Pagi hari sudah tiba, mungkin sekitar jam 7-9. Aku berjalan di jalanan kota yang terlihat tidak terlalu ramai karena masih pagi, masyarakat kota masih terlihat sama seperti kemarin tetapi hari ini sedikit berbeda karena ada beberapa manusia setengah binatang yang biasa ada di dunia fantasi pada umumnya.


Aku berjalan lalu menanyakan tentang dimana aku bisa menemukan perpustakaan di kota ini pada salah seorang wanita yang kebetulan lewat. Aku bertanya dengan sopan pada seorang wanita paruh baya. "Maaf mengganggu waktunya sebentar, saya mau tanya nih"


"Silahkan saja" kata wanita paruh baya itu.


"Perpustakaan di kota ini sebelah mana ya? Maklum saya orang baru di kota ini" kataku.


"Oh pantas saja wajahmu terasa asing sekali. Jika kamu mencari perpustakaan, kamu bisa lurus dari sini lalu belok kanan lalu kiri lalu belok kanan lagi sampai mentok lalu belok kiri, nah di sebelah kiri itu ada sebuah gedung yang cukup besar dan diatasnya tertulis perpustakaan" jawab wanita paruh baya itu.


Aku berpura-pura mengerti dan berkata


"Ah, sebelah kiri ya. Baiklah, Terimakasih telah bersedia meluangkan waktunya untuk menjawab pertanyaan ku" lalu membungkuk sebentar sebagai rasa terimakasih ku karena telah memberikan petunjuk mengenai perpustakaan di kota ini, meskipun aku tidak terlalu mengerti apa yang dikatakannya tapi untuk sekarang aku akan mencoba dulu.


Tak lama kemudian setelah aku mengikuti petunjuk yang diberikan wanita paruh itu, akhirnya aku sampai di sebuah gedung yang cukup besar dan diatasnya juga tertulis perpustakaan dalam bahasa Isekai yang entah mengapa aku bisa mengerti. Aku pun langsung masuk kedalamnya.


Arata bisa mengerti bahasa Isekai karena Arata secara tidak sadar telah membuka Grimore yang dikira Arata adalah buku kosong lalu mengembangkan ditempatnya lagi diantara buku-buku lainnya yang dibaca Arata di perpustakaan kecil saat di gua.


Di dalam perpustakaan.


2 jam telah berlalu. Arata sedang duduk di kursi dengan meja yang sudah disediakan untuk membaca di perpustakaan. Arata sudah membaca dan mempelajari beberapa sihir yang umum digunakan oleh manusia di dunia ini. Arata sudah mengerti apa yang dibacanya lalu menutup buku terakhir yang sedang dipegangnya.


"Yosh, kurang lebihnya aku sudah mengerti tentang sihir yang biasa digunakan oleh manusia di dunia saat ini. Setelah ini aku mau apalagi ya?..." Kata ku dalam hati sambil berpikir tujuan ku selanjutnya, tak lama kemudian akhirnya aku menemukan jawabannya.


"Apa mungkin menjadi Maou sama saja ya?"


Aku tersenyum jahat sambil membayangkan diriku jika menjadi Maou sama, lalu kembali memikirkannya matang-matang.


"Tidak, Maou sama tidak cocok dengan karakter ku yang baik hati dan tidak suka menyakiti orang lain ini, bahkan sampai tega membunuhnya. Itu benar-benar bertentangan dengan karakter ku. aku belum pernah melakukannya hingga saat ini—" Tiba-tiba aku mengingat nya.


"Ahh, aku mengingatnya. Aku pernah melakukannya kemarin dan aku tidak merasakan apapun waktu itu, apa jangan-jangan semenjak aku datang ke dunia ini memang hati manusia ku sudah tidak ada? Apa mungkin waktu pertama kali ke dunia ini, aku berada di gua bukannya di dunia luar karena aku bereinkarnasi bukan sebagai manusia lagi? Apa perkataannya benar ya bahwa hanya luarnya saja yang terlihat seperti manusia."


Aku pun meyakinkan diriku sendiri bahwa aku adalah manusia.


"Tidak, tidak, tidak, aku adalah manusia yang baik hati masih sama seperti di dunia sebelumnya. Waktu itu hanya pembelaan diri saja, benar, hanya pembelaan diri saja. jika aku tidak melakukannya mungkin aku yang mati." Aku menyangkal perbuatan ku kemarin dan mencoba meyakinkan diriku sendiri, bahwa aku tidak melakukan kesalahan apapun lalu melanjutkan memikirkan tujuan ku selanjutnya.


"Bagaimana dengan menjadi seorang petualang saja ya? Jika diingat-ingat lagi, anime yang pernah kutonton dulu ceritanya tentang seorang pemeran utama yang menjadi petualang dan itu terlihat asik dan menyenangkan" kataku dalam hati, aku memikirkan nya sebentar lagi lalu membulatkan tekad ku untuk menjadi seorang petualang.


"Yosh! Sudah diputuskan bahwa aku akan menjadi seorang petualang" Kataku dalam hati lagi lalu berdiri dan meninggalkan perpustakaan.


Aku berjalan di keramaian kota lagi lalu bertanya pada salah seorang yang lewat.


"Maaf mengganggu waktunya sebentar, pak" kataku.


"Iya, tidak apa-apa" kata bapak itu.


"Aku mau bertanya, dimana ya letak guild di kota ini?" Tanya ku.


"Oh guild ya, kamu dari sini tinggal lurus lalu belok kiri di perempatan itu, nah kamu jalan lurus terus sampai melihat gedung putih yang cukup besar dan diatasnya juga tertulis nama guild, Gruida." kata bapak itu yang dimudah dimengerti.

__ADS_1


"Oh, baiklah. Terimakasih, pak" kataku sambil membungkuk sebentar lalu pergi menuju tempat yang telah diberitahukan bapak padaku.


Beberapa saat kemudian, akhirnya aku menemukan gedung guild yang dimaksud bapak tadi. Memang benar diatas gedung yang seluruhnya berwarna putih tertulis "Gruida" diatasnya yang merupakan nama guild ini. Aku membuka pintu dan melihat pemandangan yang sangat asing bagiku.


Ada beberapa orang dan setengah manusia yang bertubuh besar dan kekar dan terlihat seperti preman yang kejam, ada juga seorang wanita yang berpakaian seperti penyihir dan terlihat cantik, ada juga seseorang yang memakai pakaian putih seperti penyihir tetapi dia seorang laki-laki, dan lain sebagainya yang umum di guild di dunia fantasi. Terlihat ada 3 orang di sebelah kiri, mereka minum bir sambil melihat ku dengan tatapan tajam.


Aku berjalan santai seolah-olah aku tidak merasa terintimidasi sama sekali.


Mereka berpikir bahwa kenapa seseorang yang sangat lemah, bahkan nyaris tidak memiliki energi sihir bisa berada disini. Mereka melihatku dengan tatapan intimidasi, mereka terlihat seperti tidak menyukai ku, sedangkan yang lainnya terlihat cuek dan tidak peduli sama sekali.


aku tetap santai berjalan menuju meja resepsionis. Di meja resepsionis terlihat ada penjaga yang merupakan seorang gadis cantik. Gadis itu terlihat berusia sekitar 24-28 tahunan, terlebih lagi gadis penjaga meja resepsionis ini memiliki oppai yang cukup besar, mungkin G cup. Gadis itu memiliki rambut panjang berwarna ungu dengan mata biru dan memakai kacamata yang membuatnya semakin cantik.


"Mbak, aku ingin menjadi seorang petualang " kataku dengan sopan.


"Ya, tetapi..." Dia melihat ku sebentar, dilihat dari wajahnya dia terlihat tidak yakin dengan ku.


"Ada apa?" Tanyaku, aku bingung mengapa dia tidak yakin dengan ku.


"Tidak, apa kamu yakin ingin menjadi seorang petualang?" Pekerjaan seorang petualang sangat berat lho!" Kata dia.


"Ya Aku tahu, makanya aku ingin menjadi seorang petualang" kataku.


"Kasihan sekali! Anak semuda dirimu harus menjalankan pekerjaan berat sebagai seorang petualang untuk keluarga ataupun hanya sekedar bertahan hidup di dunia yang kejam ini bukannya bermain bersama teman-teman seusia mu, terlebih lagi kamu terlihat hanya memiliki Novra yang sangat sedikit" kata dalam hati gadis itu.


Gadis itu bernafas dengan panjang dan berkata "huh! Apa kamu benar-benar sangat yakin? Padahal juga kamu masih sangat muda lho! Dimana orang tua mu?"


"Tidak tahu" jawab ku.


"Ha? Bagaimana bisa tidak tahu?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu" jawabku dengan singkat tetapi mengandung maknanya.


Gadis itu langsung paham dengan makna tersirat dalam perkataan ku. "baiklah, jika kamu sangat yakin maka aku tidak bisa melarang mu lagi. Ngomong-ngomong dimana senjata mu? Tidak mungkin kan kamu ingin menjadi seorang petualang tetapi tidak memiliki senjata apapun" kata gadis itu.


"Tidak, aku membawa senjata tapi aku tidak bisa memperlihatkannya padamu karena senjata ku sangat istimewa sekali" jawab ku dengan jujur.


"Baiklah, aku akan mempercayai mu tetapi jika kamu berbohong dan terjadi sesuatu karena kamu tidak membawa senjata, kami tidak akan bertanggung jawab"


"Mengerti, tenang saja aku orangnya jujur kok bahwa aku bawa senjata" jawab ku.


"Oh ya, sebelum kamu menjadi seorang petualang, kamu harus menjalani beberapa ujian dulu dan kamu harus bisa lolos dalam semua ujian ini" katanya dengan pasrah.


"Baiklah" kataku dengan singkat.


Gadis itu pun pergi meninggalkan ku. Tak lama kemudian, dia kembali sambil membawa bola kristal berwarna abu-abu lalu meletakkan bola kristal di meja resepsionis dan berkata "ujian pertama adalah ujian untuk menguji seberapa besar mana mu"


"Baiklah, aku harus bagaimana?" Tanyaku.


"Mudah saja, kamu tinggal sentuh saja bola in—" sebelum gadis itu selesai bicara, aku langsung menyentuh bola itu dan berkata "seperti ini?" Sesaat bola itu langsung pecah dan rusak.

__ADS_1


Gadis melanjutkan perkataannya. "Y-ya..." ketika dia melihat bola kristal pecah dan rusak karena aku menyentuhnya, dia sangat terkejut sekaligus heran karena hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya.


Aku heran, mengapa bola kristal tiba-tiba pecah. Aku pun bertanya "Ada apa? Apa aku gagal?"


Gadis itu masih terkejut lalu menjawab


"Ti-tidak, sepertinya bola kristal ini telah rusak. Tolong tunggu sebentar! aku akan mengambilkan bola kristal yang lain" lalu dia pergi lagi.


"Apa karena aku terlalu kuat menekannya ya? Mungkin saja, kalau begitu aku akan mencoba menyentuhnya sedikit saja ah!" Kataku dalam hati. Kupikir tadi aku terlalu kuat menekan bola kristal nya padahal aku hanya menyentuhnya seperti biasa.


Aku melihat sekitar dan ternyata tidak ada yang terkejut satupun selain mbak penjaga meja resepsionis tadi, padahal aku sudah berharap bahwa semua orang yang berada disini akan terkejut karena kekuatan ku yang sangat luar biasa sekali hingga membuat bola kristal pecah dan rusak. Tapi kenyataannya semua orang terlihat sangat cuek, bahkan ada yang melihat ku saja sudah tidak ada.


Tak lama kemudian, mbak-mbak tadi keluar sambil membawa bola kristal yang baru lalu menaruhnya di meja resepsionis lagi dan berkata "silahkan dicoba sekali lagi"


"Baiklah, aku akan mencoba menyentuhnya sedikit saja" kataku dalam hati. Aku pun menyentuhnya hanya sedikit lalu sesaat bola kristal bersinar dan menampilkan angka 90.000 didalamnya.


Mbak itu menghela nafasnya lagi dan berkata "syukurlah! Bola kristal ini berfungsi, nilai kekuatan sihir mu adalah 90.000. mengejutkan ya, ternyata cukup kuat juga kamu, padahal aku tidak merasakan energi sihir sedikitpun darimu."


"Jelas lah, aku menekan nya entah sampai mana. Aku sendiri pun tidak yakin karena aku ingin hidup santai dan tidak terlalu mencolok sebagai pemeran sampingan saja." kataku dalam hati.


"Jadi aku lolos ujian ni?" Tanya ku.


"Iya, kamu lolos." jawab Mbak itu.


"Jadi—" sebelum aku selesai bicara dia menyela dan berkata "belum, masih ada 1 ujian lagi agar bisa menjadi petualang yaitu ujian pertarungan sungguhan"


"Oh begitu, baiklah. Kapan kita bisa memulainya?" Tanyaku.


"Bisa sekarang, kalau kamu siap." katanya.


"Tolong tunggu sebentar!" Kataku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya lagi lalu berkata "yosh! Sekarang sudah siap"


Mbak itu berkata "seriusan? Ini pertarungan sungguhan lho!"


"Ya, aku tahu." jawab ku.


"mungkin saja kamu bisa terluka karena ujian ini. Apapun yang terjadi dengan dirimu, guild tidak akan bertanggung jawab lho! Apa kamu masih yakin?"


"Ya, sangat yakin sekali." jawabku dengan sangat yakin.


Mbak itu masih mencoba menggoda ku dengan tawaran nya "apa kamu yakin bisa lolos dalam ujian pertarungan sungguhan ini?" Lalu Mbak itu melanjutkan sambil tersenyum "Kalau kamu merasa tidak mampu, kamu bisa mundur sekarang dan membayar saja untuk lolos ujian ini, bagaimana? Apa kamu mau? "


"Aku tidak punya uang, bagaimana?" Tanyaku.


"Tenang saja, kamu bisa menjadi petualang dulu lalu nanti kamu mengambil quest, nah kamu bisa membayarkan uang hasil dari quest itu untuk membayarnya. Bisa dibilang kamu berhutang dengan guild, kamu juga bisa mencicil nya sedikit demi sedikit tetapi dengan bunga 10% saja. Apa sekarang kamu mau?" Jawab Mbak itu sambil tersenyum.


"Tidak, aku akan tetap mencoba mengikuti ujian pertarungan sungguhan ini" kataku dengan sangat yakin.


Mbak itu terlihat pasrah sambil menghela nafas panjang dan berkata "huh! Baiklah, kalau begitu mari ikuti aku" lalu dia pergi dana Arata mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Apakah Arata akan lolos ujian pertarungan sungguhan nya? Atau nanti Arata kalah dan memilih jalur belakang? Apakah Arata akan benar-benar lolos secara gratis tanpa biaya?


__ADS_2