Isekai : Dunia Impian

Isekai : Dunia Impian
Chapter 12 ~ Ujian masuk guild, pertarungan sungguhan


__ADS_3

Tak lama kemudian, akhirnya kami sampai di sebuah ruangan terbuka yang cukup luas dan besar. Jelas ini bukanlah ruangan biasa melainkan ruangan khusus untuk pertarungan sungguhan. Ruangan ini terdapat beberapa batu besar dan tinggi, rerumputan yang cukup banyak di beberapa area, dinding ruangan juga terbuat dari batu, dan di salah batu itu terdapat seseorang yang terlihat seperti sedang bertapa.


Ketika kami sudah cukup dekat dengan pria itu, kami berhenti. Ternyata pria ini bukanlah ras manusia karena kulitnya yang berwarna merah gelap, di kepalanya juga ada 2 tanduk di kanan dan kiri. Sekali lihat pun sudah sangat jelas dia bukanlah manusia.


Pria itu masih dalam posisi bertapa lalu dia berkata "apa kamu orang yang ingin bergabung menjadi anggota guild tetapi lewat jalur depan? Kejujuran? Apa kamu pikir begitu?"


"Ya, begitulah" jawabku dengan singkat.


Dia berkata "baiklah, aku akan sedikit bermain dengan mu" lalu dia berdiri dan memancarkan aura yang besar.


"Hari ini om juma tangguh seperti biasa, sebagian besar peserta langsung menyerah dan memilih membayar saja setelah merasakan aura intimidasi nya. Sekarang bagaimana denganmu?" Kata dalam hati Mbak itu, dia melihat Arata lalu terkejut karena Arata terlihat tidak takut, bahkan merinding pun tidak. Arata masih berdiri tegak, sama seperti sebelumnya.


"Oh hebat juga kau, bocah" kata Om juma.


Om juma tiba-tiba ada disamping Arata, seolah-olah dia menghilang bagaikan kilat lalu om juma melancarkan pukulan kearah Arata tetapi dengan cepat Arata menyadarinya dan langsung melompat kebelakang. Akhirnya Om Juma hanya memukul lantai ruangan dan sedikit menghancurkannya.


Om juma terkejut tetapi ekspresi wajahnya tidak menunjukkan begitu lalu om juma berkata "ehhh, bukan hanya tidak takut tapi kau juga bisa menghindarinya dengan baik ya. Baiklah, mungkin aku akan sedikit serius. Bersiaplah, bocah"


"Aku selalu siap kapanpun, paman" jawabku dengan santai.


Om juma memanggil kapaknya dengan mengangkat tangan kanannya lalu sebuah kapak datanglah dari arah belakang Arata dengan cukup cepat. Arata dengan santai menghindari kapak itu yang mengarah tepat di kepalanya. kapak itu langsung menuju om juma lalu dipegang.


"Aku patut memuji mu, bocah. Sekarang kamu lolos ujian ini" katanya.


Aku terkejut sekaligus heran, aku yang tidak mempercayainya pun langsung bertanya "apa itu benar? Kamu tidak bercanda kan? Kita masih belum bertarung lho"


"Ya" jawab Om juma singkat. Aku masih tidak mempercayainya, aku pun memutuskan untuk berjalan mendekatinya tapi tidak sedikitpun menurunkan kewaspadaan ku.


Ketika aku cukup dekat dengannya, tiba-tiba dia mengayunkan kapaknya kearah ku tetapi aku dengan sangat cepat mengambil katana tiruan yang warna birunya lebih pudar dibandingkan yang asli, katana tiruan ini ku buat dengan suatu sihir.


Aku mengambil katana tiruan menggunakan tangan kanan dari penyimpanan dimensi dan menangkis serangan Om juma.


Kenapa aku tidak pakai katana legendaris yang asli saja? Itu sudah jelaskan, aku tidak ingin terlihat mencolok. Jika seseorang melihat aku memegang katana legendaris, Bisa gawat juga kalau aku dikira seseorang yang sangat istimewa karena bisa membawa katana legendaris bersama ku. Ada 2 kemungkinan yang akan terjadi, kemungkinan pertama, aku akan diperlakukan khusus dan akan sangat dihormati oleh semua orang, mungkin juga akan ada beberapa orang yang tidak menyukai ku. Kemungkinan kedua, aku akan diperlakukan sangat buruk, bahkan bisa tidak diperbolehkan untuk mendekati wilayah manusia karena katana legendaris ini dulunya adalah milik raja iblis, siapapun yang bisa memegangnya maka dia adalah raja iblis selanjutnya atau terlahir nya raja iblis yang baru, mungkin seperti itu. Aku sendiri juga kurang mengerti, dunia fantasi apa yang kutinggali sekarang, jadi aku memilih main aman saja.


"Ehhh, ternyata bawa senjata juga kau, bocah" kata Om juma.


"Ternyata dia tidak bohong bahwa dia benar-benar membawa senjata tetapi mengapa tadi dia tidak mau memperlihatkannya tadi? Tidak ada yang aneh dengan katana itu juga. Tidak, yang lebih penting sekarang aku harus pergi dari sini karena ujian yang sebenarnya baru saja dimulai" kata dalam hati gadis itu lalu dia pergi meninggalkan kami berdua.


"Yakan paman tadi juga hanya tangan kosong, makanya aku juga tangan kosong. Kalau paman bawa senjata, aku juga bawa senjata lah. Biar adil" kataku dengan santai.


"Oh, jawaban yang menarik, bocah"


Aku mendorong sedikit lebih kuat hingga kapak om juma sedikit terpental keatas dan terjadilah adu katana melawan kapak, aku berusaha menangkis serangan om juma yang tiap serangannya semakin kuat dan juga membalasnya. Terjadilah pertarungan adu senjata yang epic. Ketika aku merasa memiliki kesempatan, aku langsung mengambil kesempatan itu meskipun beresiko. Aku langsung menendang kearah pinggang kiri om Juma menggunakan kaki kiriku dengan kuat hingga Om Juma terpental cukup jauh dan mengenai dinding ruangan khusus pertarungan ini. Dinding itu tidak hancur sedikitpun karena terdapat suatu pelindung yang tak terlihat yang cukup kuat untuk meminimalisir kerugian akibat ujian pertarungan sungguhan.


Om Juma perlahan bangkit kembali, dia cukup kuat juga hingga tidak terluka setelah terkena tendangan Arata.


"Hebat juga kau, Paman. Bisa menahan tendangan ku tanpa terluka sedikitpun." Kataku.


Om Juma sudah berdiri lalu dia berkata "selamat" aku yang mendengar itu langsung terkejut dan bertanya "apa? Apa maksudnya?"

__ADS_1


"Selamat kamu telah lolos ujian pertarungan sungguhan" kata Om Juma dengan jujur.


Aku masih tidak percaya karena tadi dia menipu ku juga dengan berkata begitu, aku pun bertanya lagi. "Seriusan ni? Tidak bohong?"


"Ya, kali ini beneran. Kamu lolos ujian ini. Sejak awal memang ujian ini hanya menguji



Sanggupkah peserta menghindari serangan musuh dari jarak pandangnya meskipun serangan itu sangat cepat?


Sanggupkah peserta menghindari serangan dari titik buta nya?


Sanggupkah peserta tidak mudah tertipu dengan lawannya?


Sanggupkah peserta satu lawan satu?


Sanggupkah peserta melawan kembali?


Masing-masing bernilai 1 poin, jika ingin lolos ujian pertarungan sungguhan, setidaknya dibutuhkan 4 poin dan kamu baru saja mendapatkan nilai sempurna yaitu 5 poin. Jadi kamu dinyatakan sudah lolos dari ujian ini" kata Om Juma dengan jujur, tetapi Arata masih tidak percaya dan tetap ditempatnya.



"Sepertinya kamu orangnya benar-benar tidak mudah percaya dengan orang lain ya, bocah" kata Om Juma. Tak lama kemudian, datanglah Mbak penjaga meja resepsionis tadi dan bertanya pada Arata "jika kamu tidak mempercayainya, harusnya kamu mempercayainya ku bukan?"


"Ya" jawab ku dengan singkat.


Di aula guild, tepatnya di depan meja resepsionis.


Arata sedang mengisi sebuah formulir pendaftaran karena awal tadi Mbak itu lupa memberikannya kepada Arata. Di formulir itu Arata harus mengisi dengan jujur seperti nama lengkap, usia, dan job/keahlian.


Arata sudah mengisi semuanya lalu memberikan formulir kepada Mbak penjaga meja resepsionis.


"Arata Masashi, usia 16 tahun, job/keahlian yang dipilih samurai. Baiklah, tolong tunggu sebentar"


"Oh ya, siapa namamu? Kamu sudah tahu namaku. Masa aku tidak tahu namamu sih"


"Oh, maaf. Namaku Shai, Shai Vin" jawabnya sambil mengurus data Arata. Tak lama, Vin sudah selesai mengurus data Arata.


Shai adalah nama keluarga nya dan Vin adalah nama aslinya.


"Ni!" Vin memberikan sebuah kartu, kartu ini seperti kartu identitas dengan panjang 9 cm dan lebar 5 cm (9 cm × 5 cm). Di kartu ini terdapat nama guild "Gruida" dibagian paling atas dan dibawahnya terdapat nama, usia, job/keahlian, rank, dan masa berlaku.


"Terimakasih, Shai" kata Arata dengan sopan. Arata melihat sebentar kartu guild lalu memasukkan kedalam penyimpanan dimensi.


"Ni!" Vin memberikan sebuah kalung penanda rank guild. Arata menerima kalung itu dengan bingung dan bertanya "kalung apa ini?"


"Itu adalah kalung penanda rank. Kamu harus memakainya kemana saja ketika sedang menjalankan quest, itu berguna agar orang tahu rank kamu dan asal guild mu"


"Jika tidak?"

__ADS_1


"Jika tidak, maka kamu akan mendapatkan sanksi yang bisa saja berupa denda ataupun yang lainnya."


"Ah, baiklah. Tapi tadi di kartu guild sudah ada tingkat ranknya?"


"Oh yang itu untuk dirimu sendiri"


Arata memakai kalung lalu bertanya lagi. "Oh ya, Ngomong-ngomong apa itu rank?"


"Rank adalah sebuah tingkatan yang mengukur seberapa mampukah seorang petualang untuk mengambil suatu quest, maka dari itu di quest terdapat aturan rank yang di sesuaikan dengan kesulitannya. Rank di guild ini dibagi menjadi 9 yaitu 1. Yowai, 2. Trunei, 3. Silver, 4. Gold, 5. Epic, 6. Ace, 7. Neira, 8. Mitical dan 9. Supervisor yang tertinggi." Jelas Vin.


"Oh begitu ya" Arata melihat kalung penanda rank yang dipakainya dan terlihat tertulis Yowai di kalung itu.


"Eh? Aku yang terlemah gitu? Tidak, sepertinya bukan begitu. Mungkin ini karena aku baru saja diterima ya. Benar, ini karena aku baru saja bergabung." kata Arata dalam hati.


"Ngomong-ngomong bagaimana cara naik ranknya?" Tanya Arata.


"Mudah, kamu hanya perlu membuktikannya dengan kemampuan mu sendiri." Kata Shai Vin sambil tersenyum.


"Ha? Maksudnya? Aku makin tidak mengerti"


"Misalnya ketika kamu baru saja menyelesaikan quest, nanti kamu akan mendapatkan hadiah sesuai tingkat kesulitan questnya dan sebuah points. Jika points itu sudah mencapai batas yang sudah ditentukan untuk rank itu, maka kamu akan dipromosikan ke rank selanjutnya."


"Points ya? Oh ya, kalau tidak salah tadi di kartu guild terdapat


rank \= Yowai points\=0/10" kata Arata dalam hati.


Di depan papan quest. Arata sedang melihat-lihat quest yang cocok dengan rank nya saat ini yaitu Yowai. Ternyata tak banyak quest yang bisa dikerjakan di rank Yowai seperti Arata. Akhirnya Arata memutuskan untuk mengambil salah satu quest yang permintaannya adalah untuk menemani seseorang yang bernama iona untuk mencari tanaman herbal di hutan, tanpa melihatnya lebih detail lagi lalu menyerahkan kertas quest itu pada Vin untuk diberikan persetujuan nya.


Vin pun memberi persetujuan itu lalu memberikannya pada Arata kembali. Ketika Arata hendak berjalan pergi, tiba-tiba Vin memanggil Arata "Tunggu!"


"Apa?" Tanya Arata. Arata berhenti lalu melihat kearah sumber suara yang memanggilnya.


"Kamu melupakan ini!" Kata Vin.


"Ha?" Arata kembali lagi ke meja resepsionis lalu bertanya "bukannya kertas quest itu sudah kuberikan padamu dan juga sudah mendapatkan persetujuan darimu?"


Arata heran, mengapa kertas quest nya dikembalikan lagi padanya, dia kira kertas quest diserahkan kepada penjaga meja resepsionis lalu langsung menjalankan quest nya.


"Iya, itu benar"


"Tapi mengapa ini dikembalikan lagi padaku?" Tanya Arata.


"Itu karena kamu harus mendapatkan tanda tangan dari orang yang mengajukan permintaan di quest ini sebagai tanda bukti bahwa kamu benar-benar menyelesaikannya dengan baik" jawab Vin.


"Oh begitu ya" kata Arata sambil menerimanya kembali.


"Iya" kata Shai Vin sambil tersenyum.


Arata pun pergi tanpa halangan lagi. Apakah yang akan terjadi pada quest pertama Arata? Apakah akan melawan monster kadal raksasa? Kadal anak-anak? Kadal remaja? Bayi kadal? Goblin? Ataupun monster lainnya? Apakah misi quest ini akan berjalan lancar? Atau ...

__ADS_1


__ADS_2