
Beberapa saat kemudian. Tas pasar yang dipegang gadis itu sudah penuh, dia pun berdiri.
"Apa sudah selesai?"
"Belum, ada 1 tanaman lagi yang harus ku ambil. Bersiaplah kakak, tempat ini adalah favoritnya"
Arata langsung paham bahwa yang dimaksud sarangnya adalah tempat yang sering dilewati oleh Monster kadal raksasa yang dirumorkan itu.
"Baiklah" jawab Arata.
"Bapak tadi bilang kadal ya? Apa mungkin kadal yang dimaksud masih satu jenis dengan kadal yang waktu itu ya? Kalau benar, ini pasti akan sedikit merepotkanku" kataku dalam hati.
Arata dan iona pun menuju tempat yang dimaksud.
Beberapa saat telah berlalu, akhirnya mereka berdua sampailah di sebuah tempat. Tempat ini terlihat seperti kawah dengan diameter sekitar 100 meter, kawah ini dikelilingi pepohonan yang ukurannya cukup besar dibandingkan tadi dan ditengah-tengah nya terdapat pohon mindik yang cukup besar dan rindang. Tak jauh dari pohon itu terdapat kadal raksasa yang sedang tidur dengan tinggi sekitar 8 meter dari kepalanya hingga ujung ekornya. Kurang lebihnya kadal ini tampak sama seperti saat di gua tetapi kadal ini sedikit lebih kecil dan terlihat lebih lemah juga dibandingkan kadal yang Arata temui saat di dalam gua.
"Oh ternyata kadal ini lebih kecil daripada di gua, apa mungkin dia adalah anaknya ya? Mungkin ini akan sedikit mudah" Pikir Arata.
iona langsung gemetaran ketika baru saja melihat kadal raksasa itu, dia langsung bersembunyi dibelakang ku.
"Ada apa? Apa kita tidak jadi saja?"
"Tidak, kita harus tetap kesana untuk mengambil daunnya, aku membutuhkan beberapa daun dari pohon itu juga." kata iona meskipun dia terlihat takut.
"Mau aku ambilkan saja? Tanpa menggangu kadal itu. Kamu diam disini dan jangan bersuara ataupun bergerak sedikitpun, aku pasti akan kembali lagi."
"Baiklah, aku mengandalkan mu, kakak"
"Ya, serahkan saja padaku" kata Arata dengan percaya diri bisa mengalahkan kadal raksasa itu.
Arata pun turun masuk kedalam kawah itu, baru beberapa saat Arata berjalan, kadal itu terbangun dan melihat Arata tetapi Arata langsung mematung. Kadal raksasa itu semakin penasaran, dia mendekati Arata perlahan. Ketika kadal raksasa itu menciumi Arata, Arata mencoba menahan nafasnya agar tidak dicurigai kadal raksasa itu.
"Gruuuuuuooooaaaahh!!" Raungan kadal raksasa itu tepat didepan wajah Arata, tetapi Arata masih tetap mencoba untuk tenang. Kadal raksasa itu hendak pergi tetapi tiba-tiba iona berteriak. "Kakak, berhati-hatilah" kadal itu langsung menyadarinya dan menyerang Arata menggunakan kuku-kuku nya yang tajam. Arata langsung menarik katana tiruan dari penyimpanan dimensi untuk menangkis serangannya. Kadal raksasa itu menyerang Arata dengan bertubi-tubi tetapi Arata terus mencoba menahan serangannya lalu tiba-tiba ekor kadal raksasa itu menyerang Arata dari samping sehingga Arata terpental beberapa meter karena serangannya terlalu mendadak, terlebih lagi Arata hanya fokus pada satu sisi saja.
__ADS_1
Arata bangun perlahan, Arata hanya mengalami luka ringan saja. Kadal raksasa itu melaju menuju Arata sambil menghujani Arata dengan bola-bola api yang dikeluarkan dari mulutnya.
"Boleh juga kau, kadal sialan!" Kata Arata dengan kesal. Arata menghindari satu bola api lalu menerjang hujan bola api itu, tanpa ada satupun yang mengenai Arata. Ketika sudah cukup dekat, Arata melompat, kadal raksasa itu menyerang Arata menggunakan ekornya lagi tapi sebelum ekornya itu mengenai Arata, Arata berkata "First move, kilatan halilintar" seketika dia melesat sangat cepat bagaikan kilatan halilintar dan memotong ekornya itu. Ekor kadal raksasa itu pun terputus dan terjatuh di tanah lalu keluarlah hujan darah dari ekornya yang terpotong. Kadal raksasa itu semakin marah tapi ketika araya baru mendarat di tanah dengan elegan, dia berkata lagi "second move, kilatan halilintar terbalik" seketika Arata melesat dengan sangat cepat sekali kearah leher kadal raksasa itu lalu memotongnya, Arata memotongnya dengan sangat mudah, semudah memotong wortel menggunakan pisau. Arata mendarat di tanah diiringi dengan jatuhnya kepala kadal raksasa itu yang menimbulkan suara gemuruh.
iona datang menuju Arata lalu memeluknya dan berkata sembari menangis "aku sangat mencemaskanmu, kakak. Kupikir kamu akan mati juga seperti yang lainnya. Terimakasih telah berhasil mengalahkannya, tanpa sedikitpun terluka. Ternyata kamu benar-benar kuat ya seperti perkataan mu."
"Kan tadi aku sudah bilang, tenang saja dan serahkan saja padaku"
iona memanggil Arata lalu bertanya tentang apa yang dilakukan Arata tadi hingga bisa membunuh kadal raksasa itu dengan mudah, dia terlihat sangat penasaran akan hal itu.
"Ne! kakak tadi menggunakan sihir apa? Aku belum pernah melihat gerakan seperti itu sebelumnya."
"Entahlah, jangan tanya aku, dek. Aku juga tidak tahu, tadi aku hanya main lompat-lompat sambil berkata apa yang terlintas dipikiran ku sesaat biar kece kayak anime gitu. Mana bisa aku mengatakan itu padanya ya, hehehe" Kataku dalam hati sambil melihat wajahnya yang penuh dengan harapan.
"Rahasia" kataku dengan tersenyum sambil menutup mulutku hanya dengan jari telunjuk.
iona terlihat kecewa dan berkata "ehhhhhh, ayolah kakak. beritahukan padaku, gerakan apa tadi. Itu terlihat keren sekali, kakak" wajahnya terlihat berbinar-binar.
"Meskipun aku memberitahu mu. Kamu pasti tidak akan bisa mengerti, ini persoalan yang hanya dimengerti oleh orang dewasa"
Akhirnya Arata terpikirkan untuk mengalihkan perhatian nya dengan berkata "Apa kamu tidak jadi mengambilnya? Nanti ada kadal raksasa lain lho kalau kamu tidak segera mengambilnya."
"Ah! Benar juga" dia melihat kanan-kiri, ternyata tidak ada lalu dia menangis sambil berkata "tidak ada!"
"Apanya yang tidak ada? Kalau kamu mencari tas, disana." Kataku sambil menunjuk kearah tempat iona menonton tadi.
Dia merasa malu sambil menggaruk-garuk kepalanya dan berkata "Hehehe, aku lupa. Kalau begitu, aku ambil dulu ya" lalu iona mengambil tas pasar nya yang tertinggal di tempatnya saat menonton tadi.
Arata baru kepikiran bahwa di dalam tubuh binatang ataupun monster yang pernah ditontonnya dulu ada sesuatu yang berharga seperti batu sihir ataupun yang lainnya, sebelumnya dia tidak kepikiran akan hal itu. Arata yang penasaran pun akhirnya mencoba mencarinya dengan membedahnya menggunakan katana, ternyata benar saja tepat di bagian jantung terdapat kristal menyala, mungkin saja itu batu sihir yang dapat dijual. Arata pun langsung mengambilnya dan melihatnya sebentar.
"Apa ini? Batu sihir? Simpan ah siapa tahu ini berharga" kata Arata dalam hati lalu dia memasukkan batu sihir kedalam penyimpanan dimensinya.
iona sudah mengambil tas pasar nya dan sekarang dia dibelakang Arata.
__ADS_1
"Kakak, warga desa pasti akan sangat senang ya mendengar kabar ini"
"Lebih baik jangan beritahukan kepada mereka"
"Kenapa?"
"Jika kamu memberitahukannya, mereka hanya akan khawatir padamu."
"Apa benar begitu?" Tanya dia dengan polos.
"Iya, Nanti kamu bilang saja begini, ketika kita masuk ke wilayahnya dia sudah dikalahkan oleh seseorang terlebih dahulu atau bisa dibilang kita sedang beruntung."
Dia langsung menurut saja dengan perkataan Arata.
"Oh begitu ya, baiklah" kata dia lalu menganggukkan kepala satu kali.
Di rumah iona. Terlihat seseorang wanita yang berusia sekitar 40 tahunan yang sedang berbaring lemas. Kondisinya cukup buruk. Gadis kecil tadi memberikan cairan hijau yang berada didalam wadah gelas bambu. Cairan itu adalah obat yang dibuatnya sendiri dari bahan-bahan yang dicarinya bersama Arata tadi. Wanita itu merespon dengan lemah lalu meminumnya dan dibantu oleh iona. Sesaat setelah meminumnya, wanita itu tertidur kembali.
"Ibu, istirahatlah dengan tenang. Kamu pasti segera sembuh." Kata iona dengan sedih sambil menyelimuti ibunya itu.
Mereka berdua sudah berada di luar rumah. iona membungkuk kearah Arata lalu berkata "Terimakasih telah menemani ku." Lalu dia berdiri lagi dan berkata sambil menunduk "berkat kakak, ibu ku sekarang akan segera sembuh. Doakan saja ya, kakak"
"Ya, tentu saja." Lalu Arata menyodorkan kertas quest untuk ditandatangani oleh gadis kecil itu. iona heran lalu dia bertanya "apa ini? Kakak"
"Ini ad—" sebelum Arata berbicara, tiba-tiba iona mengingatnya. Dia pun langsung mengerti dan memberikan sebuah papan bertuliskan "Quest terselesaikan"
Arata heran, ini tidak seperti ekspetasi kata ditandatangani yang didengar Arata sebelumnya.
"Apa ini?"
"Entahlah, Mbak-mbak penjaga meja resepsionis memberikan ku ini. Katanya nanti kalau questnya berhasil sesuai keinginan ku, berikan saja papan ini pada petualang itu"
"Oh begitu ya" kata Arata lalu menerima papan itu.
__ADS_1
Arata pun langsung pergi meninggalkan nya.
Apakah Arata akan mengalami masalah lagi saat perjalanan pulang nya?