Isekai : Dunia Impian

Isekai : Dunia Impian
Chapter 14 ~ aku ingin kehidupan yang damai


__ADS_3

Di aula guild.


Arata sudah sampai di guild lalu dia langsung menghampiri Shai Vin yang merupakan penjaga meja resepsionis untuk melaporkan quest dan mendapatkan hadiah nya.


Arata memberikan papan yang bertuliskan "Quest terselesaikan" pada Shai Vin. Shai Vin menerimanya lalu menyimpan papan itu.


Shai Vin mengambil kantung kecil lalu memberikannya pada Arata. Arata mengambilnya lalu melihat apa isi dari kantong kecil tersebut. Ternyata isinya adalah uang yang berbentuk lingkaran seperti uang koin, terlebih lagi hanya terdapat 4 keping koin emas saja. Arata tidak terlihat terkejut sama sekali dengan uang kepingan karena sedari awal Arata sudah menduga bentuk uang nya akan seperti uang koin.


Arata berpikir, apakah uang ini sangat banyak atau sedikit.


"Apa ini termasuk banyak ya? Meskipun ini sedikit tetapi uang ini terlihat seperti terbuat dari emas. Mungkin ini berharga, tapi aku tidak tahu uang ini bisa dapat apa saja di dunia ini." Kata Arata dalam hati.


Ketika Arata hendak pergi tiba-tiba Shai Vin memanggil Arata.


"Tunggu!"


"Apa?" Tanya Arata.


"Kamu belum mengembalikan kertas quest nya"


"Oh itu ya" Arata mengambil kertasnya dari penyimpanan dimensi lalu memberikannya pada Alya.


Shai Vin menerimanya lalu berkata "Terimakasih" sambil tersenyum.


Arata pergi lagi sambil bergumam dalam hati nya "apa kertas itu berharga ya?" Arata tidak tahu bahwa itu adalah kertas yang bisa dihapus tulisan ataupun gambaran nya hingga terlihat seperti baru lagi dan bisa digunakan ulang, mirip-mirip dengan teknologi komputer ataupun hp yang bisa dihapus dengan mudah lalu membuat sesuatu yang baru.

__ADS_1


Matahari sudah mulai tenggelam di ufuk barat. Udara di sore hari mulai terasa sejuk, mungkin sekitar pukul 3-4 sore.


Arata sedang berjalan di jalanan kota yang terlihat cukup ramai dari berbagai kalangan sambil memakan 1 buah apel yang dibelinya tadi seharga 1 perak.


"Jika 1 buah apel seharga 1 keping perak tadi dan uang ku tadi adalah 1 keping emas lalu dikembalikan lagi oleh pedagangnya sebesar 19 keping perak. Jika dihitung-hitung dan dibandingkan dengan mata uang negara Indonesia, sebut saja rupiah. 1 apel seharga 3.000 rupiah terakhir kali aku membelinya dulu, jadi jika 1 keping emas ku tadi bisa membeli 20 buah apel secara keseluruhan, maka 1 keping emas jika dirupiahkan adalah 60.000 rupiah. Apa benar begitu ya? Ahhhhhh, lupakan saja. matematika memang selalu merepotkan dan menyebalkan, aku benar-benar tidak menyukainya, seriusan dah!. Lebih baik aku...." Arata berhenti berjalan dan juga berhenti menggigit apelnya, dia melihat langit. Matahari sudah terlihat di ufuk barat, dia menyimpulkan bahwa saat ini sudah sore hari dan dia belum makan siang tadi karena lupa.


"Ah, sudah hampir gelap ya." Tiba-tiba perut Arata berbunyi, biasanya jika perut berbunyi itu menandakan sedang lapar. "Aku belum makan siang juga." Arata melanjutkan berjalan.


"Aku jadi ingat kata seseorang yang mengatakan "jika kau lapar, makanlah!" Itu benar-benar pribahasa yang unik."


....


Arata mengunjungi sebuah restoran, dia langsung bertanya pada kasirnya. Ditempat ini terdapat makanan apa saja, setelah dijawab menu-menu yang tersedia, Arata bertanya harganya dan ternyata uang nya tidak cukup. Dia pun meminta maaf lalu pergi mencari restoran lain. Arata sudah memasuki dan melakukan hal yang sama dibeberapa kedai makanan yang dikunjunginya, jawabannya tetap saja yaitu makanan nya terlalu mahal dan uangnya tidak cukup, meskipun ada beberapa yang cukup tetapi itu hanya buat 1 kali makan saja. Arata berpikir "masa sekali makan enak dan mewah lalu selanjutnya tidak makan sih, lebih baik yang sederhana tapi selanjutnya masih bisa makan" ini dilakukan Arata karena dia dulu pernah mengalami hal dimana dia pergi ke restoran dan dia lupa melihat menu harganya, memakan makanannya, lalu melihat tagihannya, ternyata uangnya tidak cukup, dia pun disuruh cuci piring. Semenjak saat itulah Arata selalu melihat ataupun menanyakan harga terlebih dahulu lalu melihat berapa uang yang dimilikinya.


Sekarang Arata sedang berada di sebuah restoran, restoran ini terlihat sepi tanpa pengunjung satupun. Awalnya Arata ragu-ragu tapi setelah melihat harganya yang terjangkau, Arata pun tidak memiliki pilihan lain. Saat ini dia berpikir "tidak peduli tempatnya dah, yang penting untuk saat ini bisa makan dulu. Itu sudah cukup, daripada kelaparan."


"Silahkan! Tuan" kata pelayan itu sembari menaruh makanan di meja sambil tersenyum ramah.


"Iya" jawab ku dengan singkat.


Arata melihat 10 tusuk sate kotak yang terlihat tersusun rapi di sebuah piring dengan ragu-ragu, kenapa sate ini harganya murah? Apakah karena dagingnya? Kenapa juga tempat ini sepi? Arata melihat sekeliling lagi dan masih sepi.


"Ada apa? Apa kamu pikir tempat ini sepi karena makanannya yang tidak enak ataupun masalah lainnya?"


"Tidak, aku tidak bermaksud be—" Arata belum selesai bicara, tiba-tiba pelayan itu menyuapi Arata.

__ADS_1


"Aaa!! aemm!! Enak kan?" Tanya dia.


"Ini benar-benar sangat enak. Daging ini rasanya seperti daging kambing yang dibakar dengan api yang tidak terlalu besar maupun kecil, bumbunya juga merasuk ke dagingnya. Rasa lembut, gurih, renyah semuanya menjadi satu dimulut. Rasa Sate ini aku belum pernah memakannya sebelumnya, terlebih lagi ini cukup murah." Komentar Arata dalam hati. Arata terhanyut dalam kelezatan sate daging yang murah dan enak ini. Meskipun Arata tidak mengatakan apapun dari mulutnya tetapi mimik wajah Arata sudah terlihat sangat jelas bagaimana enaknya sate itu.


"Benar, ini benar-benar enak." kata Arata masih sambil mengunyah.


"Kan sudah kubilang" kata pelayan itu.


"Oh ya, kalau makanannya seenak dan semurah ini kenapa bisa tidak ada orang satupun yang datang?"


"Sebenarnya harga normalnya bukan segitu tetapi karena kamu adalah pelanggan pertama kami dan juga pelanggan terakhir."


"Ehh, kenapa? Padahal makanannya cukup enak menurut ku, tempat juga bersih dan luas, pelayanannya ramah." Arata terkejut tetapi ekspresi wajahnya tidak menunjukkan begitu.


"Restoran ini akan segera ditutup karena tidak mampu membayar biaya sewanya. Apa kamu tahu? Restoran ini dulunya sangat ramai tahu, orang-orang pada makan sembari mengobrol santai bersama teman-teman, orang terdekat, ataupun keluarga. Waktu itu benar-benar masa berjayanya restoran ini, tetapi semenjak hari itu restoran ini mulai sepi."


Arata tidak terlalu memperdulikan perkataannya dan bergumam dalam hatinya "kenapa dia curhat pada ku? Jika di ingat-ingat, kejadian seperti ini pernah terjadi di anime deh. pemeran utama makan di tempat yang sepi pelanggan lalu pelayan nya curhat bahwa restorannya pernah berjaya dulu lalu pemeran utama menawarkan diri untuk membantunya lalu tak lama setelahnya, restoran kembali ramai seperti masa berjayanya lalu pemeran utama menikah dengan pelayan itu. Apa dia pikir aku pemeran utama nya ya? Aku tidak ingin hidup yang merepotkan dan penuh masalah seperti layaknya pemeran utama. Aku hanya ingin hidup santai dan menenangkan, maka dari itu aku abaikan sajalah curhatan nya, meskipun itu akan bertolak belakang dengan karakter ku yang baik dan ramah ini tapi aku tidak peduli, asalkan aku bisa hidup santai dan menenangkan itu sudah lebih dari cukup buatku."


Tanpa disadari, Arata sudah menghabiskan seluruh satenya yang berada di piring. Dia pun berkata "Terimakasih atas makanannya" seperti orang Jepang ketika baru selesai makan. Arata berdiri lalu pelayan itu bertanya "sudah mau pergi?"


"Ya, lagipula sudah mau malam juga."


"Oh begitu ya, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih karena telah meluangkan waktu mu untuk makan ditempat kami." Kata pelayan itu dengan ramah sambil membungkuk.


"Aku juga berterimakasih karena dikasih harga yang murah tapi enak ini" kata Arata sambil membalas membungkuk. Mereka berdua bangun secara bersamaan lalu Arata pun pergi meninggalkan restoran itu.

__ADS_1


Kemanakah tujuan Arata selanjutnya?


__ADS_2