
Arata terlihat memakai seragam berwarna putih yang khas dengan akademi Miraiva yang diberikannya tadi malam oleh ibunya, katanya seragam ini adalah seragam akademi Miraiva. Akademi Miraiva adalah sebuah sekolah sihir yang berada di ibukota kerajaan Maritiv, Gruinla bagian timur.
Arata sedang berjalan santai menuju akademi Miraiva, sebenarnya Arata bisa saja menaiki kereta kuda yang bagus dan mewah tetapi dia tidak ingin mencolok, terlebih lagi Arata ingin jalan kaki sembari melihat-lihat keadaan kota.
Menurut cerita dari ibunya Arata (Hestia), Arata dulunya adalah seorang anak yang sangat lemah, bahkan hampir tidak bisa menggunakan sihir sama sekali dan hanya mengandalkan seni bela diri saja.
Alasan Arata bisa masuk ke akademi yang sangat terkenal di seluruh kerajaan Maritiv itu adalah karena pengaruh orang tuanya yang cukup besar. Baru 2 bulan Arata bersekolah, tiba-tiba dia menghilang entah kemana dan tiba-tiba juga datang kembali dengan hawa keberadaan yang sangat berbeda dibandingkan dulu, seperti orang lain saja.
Aku disini dulunya adalah anak yang sangat lemah ya? Tidak buruk juga, lagipula aku tidak ingin mencolok.
Tak lama kemudian, akhirnya Arata sampai di sebuah ruangan. Di sisi lain ruangan terdapat sesuatu yang mirip dengan manusia sawah yang berada di Indonesia dulu. Di samping Arata pula terdapat seorang wanita yang berdiri sembari memegang sesuatu seperti untuk mencatat nilai-nilai. Dia sepertinya adalah salah satu guru pengajar di akademi ini.
Rambut biru panjang, mata biru laut yang indah, sesuatu yang besar dan postur tubuh yang ideal untuk seorang guru pengajar wanita seusia nya.
"Arata!" Panggil nya dengan lembut.
"Apa?"
"Apa benar sekarang kamu sudah bisa menggunakan sihir seperti yang diceritakan oleh Tuan Garvin?"
"Ya, itu benar" jawab Arata.
"Kalau begitu, tembakan sebuah sihir serangan yang kamu bisa untuk menghancurkan target disana" dia menyuruh Arata untuk menembakkan sihir kearah manusia sawah yang terbuat dari jerami dan seukuran manusia normal yang berada di sisi lain ruangan ini.
"Baiklah" lalu Arata menghadap kearah target yang dimaksud.
Kali ini aku harus benar-benar sedikit menggunakan Novra saja, agar dia tidak curiga.
__ADS_1
Arata mengangkat tangan kanannya kearah target lalu membentuk sebuah pistol tangan.
"Apa-apaan dia ini, tidak mengucapkan (merapal) mantra atau apapun saat hendak menggunakan sihir. Tidak mungkin, tidak, Itu mungkin saja sih, jika di ingat lagi dia adalah anak dari seorang Garvin Mavzio tetapi terakhir yang kuingat dia tidak bisa menggunakan sihir apapun. Apakah sekarang itu mungkin?" Gumam guru itu.
Arata berkata dengan pelan "bang!"
Tidak terjadi apapun, guru itu terkejut, dia pikir benar perkataannya tetapi itu hanya dilebih-lebihkan.
"Sudah kuduga meskipun dia anaknya Garvin tetapi menggunakan sihir tanpa merapal itu hal yang mustahil" Gumam guru itu. Dia pikir ujian sudah berakhir.
Arata juga terkejut, kenapa tidak ada yang keluar dari telunjuk nya. Padahal dia sudah memfokuskan Novra dan mengimajinasikan api akan keluar melalui depan telunjuk nya seperti layaknya pistol.
"Eh? Kenapa?" Kata Arata dengan kecewa lalu dia melihat telunjuknya, sepertinya ini ada yang aneh.
Guru itu menghampiri Arata untuk menenangkan Arata.
Guru itu dengan sigap memasang pelindung sesaat setelah menyadari akan ada ledakan.
Perlahan asap hitam mulai hilang dan terlihat kerusakan yang terjadi akibat ledakan itu. Tidak ada kerusakan apapun tetapi manusia sawah itu hancur berkeping-keping dan hanya menyisakan batang kayu sepanjang 30 cm yang menjadi penopang manusia sawah itu.
Guru itu tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Perlahan dia menonaktifkan sihir pelindungnya.
"i-ini tidak mungkin kan, "sihir yang terjeda" bukannya sihir itu sudah hampir punah ya." Katanya dengan pelan.
Sihir yang terjeda adalah sebuah sihir yang mana efeknya terjadi beberapa saat setelah pengguna terlihat mengeluarkan sihir itu, meskipun bukan sihir kuno tetapi sihir ini memiliki daya hancur yang cukup kuat dan besar, terlebih lagi sihir ini sudah hampir punah.
"Seingat ku, aku tidak pernah mempelajari sihir seperti ini deh. Darimana aku mendapatkannya ya?" Kata Arata dalam hati. Arata tidak sadar bahwa dia telah menggunakan sihir yang luar biasa kuat dan kekuatannya sedikit dibawah sihir kuno tapi pemakaian Novra nya sangat sedikit daripada sihir kuno, terlebih lagi Arata tidak tahu dia mendapatkan nya darimana.
__ADS_1
Tiba-tiba guru itu bertanya kepada Arata dengan serius.
"Arata!"
"Apa?"
"Darimana kamu belajar sihir ini? Siapa yang mengajari mu?"
Apa sihir yang kugunakan tadi adalah sihir yang kuat ya? Apa nantinya akan menarik perhatian orang? Sepertinya hanya dia deh yang mengetahuinya di sekitar sini.
Aku melihat kanan-kiri untuk memastikan bahwa hanya ada dia ditempat ini.
Apa aku hapus saja ya ingatannya mengenai yang barusan terjadi? Tapi aku tidak tahu efek sampingnya buat ku nanti seperti apa karena sihir itu. Tidak, yang terpenting sekarang adalah mengamankan kehidupan sekolah ku yang santai dan tenang.
"Jawab Arata!" Katanya dengan tegas.
"Maafkan aku calon guruku." Kata Arata dalam hati.
Arata langsung mengeplak dahi nya menggunakan tangan kanan, seketika ingatannya berubah. Saat ini dia berpikir tidak ada yang aneh dengan sihir yang dikeluarkan Arata tadi karena Arata sudah menghapus ingatan mengenai jedanya tadi hingga dia berpikir sihirnya langsung meledak tanpa ada jeda dan Arata juga terlihat merapal mantra di ingatannya saat ini.
"Kerja bagus, Arata. Kamu mendapatkan nilai A" puji guru iti kepala Arata.
"Terimakasih banyak" jawab Arata.
Arata pun lega karena dia benar-benar tidak mengingat nya.
"Syukurlah! Dia benar-benar lupa, kupikir tadi kehidupan sekolah yang tenang dan santai kedua ku ini sudah selesai sampai sini saja." kata Arata dalam hati.
__ADS_1
Arata tidak menyadari bahwa efek samping dari sihir ini, memiliki lebih banyak kerugian daripada keuntungan itu sendiri.