
Di suatu tempat.
Lima orang pria terlihat sedang rapat di meja bundar. Mereka adalah petinggi utama dari sebuah organisasi yang memiliki ambisi besar.
"Sayang sekali ya, auranya sudah menghilang." kata pria pertama.
"Ya, sayang sekali kita terlambat." Saut pria kedua.
"Andai saja kita bisa mengajaknya bergabung dengan organisasi kita, mungkin saja untuk membangkitkan nyA hanya membutuhkan satu langkah kecil lagi saja. Sangat disayangkan sekali kita kurang cepat." kata pria ketiga.
"Benar sekali, memang sangat disayangkan tetapi pertanyaannya adalah kenapa tiba-tiba auranya menghilang seolah-olah ditelan bumi? Apakah dia benar-benar sudah mati?" Tanya pria kelima, dia berpendapat bahwa auranya tiba-tiba menghilang itu adalah sangat janggal dan aneh sekali.
"Entahlah, mungkin saja benar bahwa dia sudah mati." jawab pria keempat dengan ragu-ragu.
"Ya, dia benar-benar sudah mati karena Aura nya sudah menghilang tanpa sisa itu pasti." Saut pria pertama.
"Apa buktimu?." Pria kelima melirik kearah pria pertama.
"Tidak ada" jawab pria pertama dengan rasa takut sesaat setelah dilirik.
"Meskipun normalnya Aura yang terpancar dari tubuh manusia tidak bisa dirasakan lagi setelah mereka mati tetapi ada beberapa manusia spesial yang bisa melawan hukum itu. Bagaimana kalau dia adalah salah satunya?" Kata pria kelima.
Dia pun melanjutkan memberitahukan pendapat kepada para seluruh peserta rapat lainnya mengenai pendapat pribadinya.
"Ini hanya pendapat ku saja bahwa dia belum mati, alasan dibalik menghilangnya Aura nya secara tiba-tiba adalah karena dia menekannya sampai seminimal mungkin hingga kita semua tidak bisa merasakannya lagi."
Semua orang yang sedang rapat di meja bundar sangat terkejut dengan pernyataannya, apakah mungkin seseorang menekan auranya yang sangat besar sehingga terlihat sangat kecil? Bahkan hampir tidak terasa lagi.
Itu jelas-jelas mustahil. Biasanya Aura hanya bisa ditekan kurang dari 50% dari seluruhnya, itupun tidak akan berlangsung lama karena kalau jika terlalu lama Aura ditekan maka bisa-bisa meledak seperti bom dan menghancurkan tubuh pemilik Aura hingga hancur berkeping-keping.
__ADS_1
"Mu-mustahil, itu tidak mungkin." Saut pria ketiga.
"Benar-benar, itu tidak mungkin." Saut pria keempat.
Pria ini menghela nafas panjang lalu menyampaikan pendapatnya lagi pada para peserta rapat.
"Kalau begitu, coba jelaskan apa alasan lainnya yang lebih masuk akal daripada pendapat ku ini?"
Mereka semua sangat terkejut lagi hingga tak bisa berkata-kata lagi lalu salah satu pria memberanikan diri untuk menyampaikan pendapatnya.
"Bagaimana kalau dia benar-benar mati, alasan dibalik menghilangnya Aura nya masih misteri." Kata pria pertama.
"Apakah kamu berpikir Aura yang hampir sama besar dan kuatnya dengan nyA, bisa mati dengan mudahnya? Yuusha juga sudah tidak ada. Jadi siapa yang bisa melawannya saat ini? Siapa? Siapa yang sanggup membunuhnya? Aku sangat tidak percaya bahwa dia telah mati dibunuh oleh kroco yang sangat lemah."
"Entahlah, aku juga tidak tahu." jawab pria pertama.
Mereka berlima pun mendebatkan nya lagi mengenai kenapa Aura yang tiba-tiba terpancar dari seseorang lalu tiba-tiba lenyap seperti ditelan bumi saja.
"Yosh, semuanya Dengarkan lah!" Kata pria kelima yang seketika menghentikan perdebatan mereka semua.
"Kita tidak bisa terus berpaku pada orang ini, kita jalankan rencana seperti biasa saja. Jika suatu saat orang ini menghalangi kita, kita bunuh saja saat itu juga. Apakah semuanya setuju? Berdebat terus tidak ada gunanya lho!"
"Ya, memang seharusnya begitu!" Kata pria ketiga lalu mengangkat tangan kanannya sebagai bentuk bahwa dia setuju kalau perdebatan tanpa bukti hanya akan menghabiskan waktu saja.
"Baiklah, aku juga setuju!" Kata pria keempat sembari mengangkat tangan kanannya yang juga setuju sama seperti pria ketiga.
Pria pertama juga mengangkat tangan kanannya diikuti dengan pria kedua yang juga setuju.
"Semuanya sudah setuju, kalau begitu mari kita lanjutkan ke masalah selanjutnya yang harus kita debatkatkan bersama!" Kata pria kelima yang memimpin perdebatan.
__ADS_1
....
Di suatu ruangan, tempat ini terlihat seperti kamar yang cukup mewah dan bagus. Kasur dengan bantal dan selimut yang terlihat lembut, dinding putih yang terlihat elegan, 1 figura kecil yang berisi foto keluarga di meja kecil berlaci yang terdapat disamping kasur. Arata sedang tidak sadarkan diri atau lebih tepatnya sedang tidur di kasur itu.
Arata perlahan bangun meskipun matanya belum terbuka sepenuhnya, dia melihat sekelilingnya.
Apa-apaan ini? Dimana aku? Apa ini mimpi lagi atau ini adalah kenyataan? Padahal kemarin aku sudah menjadi petualang di dunia fantasi tapi ternyata hanya mimpi ya.
Sangat disayangkan tetapi tidak apa-apa. Kenyataan memang menyakitkan tetapi itu lebih baik dari mimpi yang indah. Oh ya, ngomong-ngomong sejak kapan kamarku sebagus ini ya?
Aku mencoba memegang selimut.
Apa-apaan selimut ini, aku tidak ingat pernah memiliki selimut selembut ini juga.
Lalu aku memegang bantal.
Ini juga lembut.
Aku mengusap-usap kedua mataku menggunakan kedua tangan ku lalu membuka mataku sepenuhnya.
Apa yang kulihat adalah sebuah ruangan yang terlihat indah dan elegan seperti kamar milik orang kaya saja.
Aku terkejut dan bergumam "eh? Apa ini? Apa aku bereinkarnasi lagi?" Lalu turun dari kasur.
Aku mendekati sebuah cermin yang berada tak jauh dari kasur tadi dan melihat penampilan ku. Aku terkejut lagi, kenapa tiba-tiba aku memakai pakaian tidur berwarna putih? Kemana perginya kaos hitam polos dan celana panjangku dulu? Apakah ini masih di dunia fantasi sama seperti kemarin?
"Apa-apaan pakaian ini? Baju tidur? Siapa yang memakaikan nya padaku? Apakah aku bereinkarnasi lagi dan sekarang aku menjadi anak orang kaya? Ini aneh sekali tetapi baju ini tidak buruk juga." Gumam ku dalam hati sembari mengidentifikasi baju tidur.
Aku terpikirkan, apakah aku masih di dunia sihir atau tidak, aku pun membuktikannya sendiri dengan cara menggunakan sihir.
__ADS_1
Aku mengangkat tangan kanan ku lalu berkata "api" sesaat terbentuklah bola api yang menyala-nyala merah seukuran bola kasti. Api ini terasa hangat seperti api pada umumnya.
"Dengan ini bisa dipastikan bahwa aku masih di dunia sihir, lalu mengapa tiba-tiba aku berada di kamar yang cukup bagus ini? Apa aku sedang diculik? Dan memang tradisi di dunia fantasi ini mengharuskan kalau menculik seseorang harus diberikan tempat yang bagus dan indah agar orang itu tidak kabur? Apa benar begitu ya?" Banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala mengenai kenapa aku bisa berada di tempat ini.