
Kembali lagi ke waktu sekarang. Arata masih berdiri tegak menatap lurus ke Mazeh yang berada 5 meter didepannya.
"Apa kalian berdua sudah siap?" Ucap wasit.
"Ya," jawabku dengan singkat.
"Siap sempurna," jawab Mazeh yang sudah memasang kuda-kuda yang terlihat kuat dan tidak mudah dirobohkan dengan mudah.
"Satu... Dua... Tiga..... Mulai!"
"Hebat juga ya, kau. Tidak terlihat takut meskipun aku berada jauh diatasmu, apa kamu percaya diri dengan kekuatan sihir mu? Sayang sekali, dipertarungan ini kita tidak diperbolehkan menggunakan sihir sama sekali. Kita disini hanya bisa menggunakan kekuatan fisik saja," ucapnya.
"Tenang saja, habisnya aku juga bisa menggunakan seni bela diri," jawab Arata.
"Oh begitu."
Mazeh langsung menendang Arata tetapi Arata bisa menghindarinya dengan mudah, mazeh melancarkan pukulan dan tendangan yang kuat kearah Arata tetapi sayangnya serangan mazeh bisa dihindari semua oleh Arata dengan mudah. Mazeh masih terus menyerang Arata, sedangkan Arata masih terus menghindarinya dengan santai seolah-olah pertarungan sudah dimenangkan olehnya sejak awal.
"Ada apa? Kenapa tidak menyerang? Kalau begitu, kamu akan kalah lho," ucap Mazeh. Mazeh terlihat kesal karena musuhnya hanya menghindar saja dari tadi dan tidak ada tanda-tanda bahwa Arata akan menyerang balik Mazeh.
"Apa kamu meremehkan ku?" Tanya Mazeh dengan kesal.
"Tidak, aku sama sekali tidak meremehkan mu tetapi aku dari tadi mengamatimu," ucap Arata dengan senyuman tapi jelas senyuman Arata menandakan dia sudah merencanakan sesuatu.
Mazeh merasakan sesuatu dari senyuman Arata dan langsung mundur kebelakang untuk menjaga jarak dengan Arata.
"Ada apa? Apa kamu tidak ingin menyerang lagi? Sudah lelah kah?... Kalau begitu sekarang giliran ku kan?" Tanya Arata.
Mazeh dalam hatinya, dia merasa bahwa Arata adalah lawan yang tangguh baginya.
Arata bergerak dengan cepat dan menendang Mazeh kearah samping kepala tetapi Mazeh bisa merespon dengan baik, Mazeh sesaat langsung memasang tangannya sebagai pelindung untuk melindungi kepalanya.
"Cih!" Kesal Mazeh dalam hatinya.
Arata pun menurunkan kaki kirinya dan sesaat Arata langsung menendang dengan kaki kanan dengan sama kuat dan cepatnya hingga saking cepatnya Mazeh tidak sempat merespon. Mazeh pun sedikit terbental kesamping tetapi dia masih bisa berdiri meskipun sempoyongan. Arata mendekati Mazeh lagi lalu melakukan tendangan bergantian yang sama berulang kali, Mazeh masih mencoba terus bertahan tetapi karena tendangan Arata semakin lama semakin kuat dan juga cepat.
Ketika Arata mendapatkan kesempatan, Arata langsung mengakhirinya dengan tendangan yang lebih kuat dan cepat lagi dari sebelumnya hingga Mazeh tidak sempat menyadari tendangan Arata. Mazeh pun perlahan kehilangan kesadarannya lalu terjatuh.
Para penonton heboh dan terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang. Seorang pemula yang baru masuk, bahkan tidak membawa seragam bisa mengalahkan salah satu dari murid terbaik di akademi Miraiva.
"Hebat juga, bocah itu."
"Aku padamu, dek"
"Keren."
"Hm... Tidak terlalu hebat"
"Hebat." Dan komentar-komentar lainnya.
"Ternyata hebat juga bocah ini meskipun tingkah lakunya kurang sopan," batin pria yang memarahi ku tadi.
Aku menghampirinya lalu membungkuk 45° karena kupikir menentang seseorang yang penting itu akan merugikan mu di masa mendatang. Tidak lain, aku melakukan ini hanya demi ketenangan masa depan ku. Benar, ini hanya demi masa depan belakang.
"Maafkan aku, aku salah karena aku tidak tahu siapa sebenarnya kamu," kataku sambil membungkuk kearahnya.
"Oh gitu ya, bangunlah!" Perintahnya.
"Ba-baiklah," ucap ku lalu berdiri tegak kembali.
__ADS_1
"Seperti janjiku tadi, sekarang kamu secara sah naik tingkat langsung ke tiga tingkat selanjutnya yaitu Hijau polos dan karena kamu belum memiliki seragamnya, ini aku kasi sekalian." Dia melanjutkan sambil memberikan ku seragam khusus berwarna hitam seperti yang lainnya dan sabuk hijaunya.
"Terimakasih banyak," ucapku.
Apa-apaan ini? Seragam baru?
Tiba-tiba seorang gadis tadi memelukku dari belakang, itu cukup mengejutkan ku.
"Syukurlah ya, kamu tidak jadi menjalani pelatihan khusus, aku khawatir tahu kalau sampai kamu menjalani pelatihan khusus itu," ucapnya.
"Oh ya, ngomong-ngomong siapa kamu?"
Dia perlahan melepaskan pelukannya dan mulai memperkenalkan diri.
"Maafkan aku karena belum memperkenalkan diri... Namaku Lucy Watson... Kalau kamu siapa?"
Ehh, sepertinya dia tipe gadis yang sok akrab ya. Tidak kenal langsung peluk aja, bersyukurlah karena aku orangnya baik dan ramah. Maka dari itu, aku tidak mempermasalahkannya.
"Lucy ya?... aku, Arata, Arata Mavzio," jawab Arata.
Dia terkejut dan berkata. "Ehh, kamu adalah anggota keluarga Mavzio ya?"
"Yaa, memangnya kamu mengenalnya?"
"Tentu saja, salah satu keluarga elite di kerajaan ini dan salah satu dari anggota Mavzio adalah seseorang yang pernah menjadi kaisar sihir,"
Ehhhh, ada kaisar sihir juga ya. Jadi teringat suatu anime... Tidak, menjadi seorang kaisar sihir pasti merepotkan. Lebih baik, aku menikmati hidup yang tenang seperti ini sajalah.
"Tahu banyak ya, kamu."
"Eh?"
"Bukannya itu pengetahuan umum ya?"
Gawat, ternyata seterkenalnya ya ayahku di dunia ini.
"Ehh, oh begitu ya... Pengetahuan umum ya, hehehe," jawabku dengan malu.
Dia terlihat curiga pada Arata, Arata dalam hatinya dia sangat panik. Dia takut kalau, dia akan ketahuan lalu dikeluarkan dari anggota keluarga dan hidup miskin lagi.
Di suatu tempat yang masih di lingkungan sekolah Miraiva. Di sebuah pohon berdaun pink yang cukup rindang, terlihat seorang gadis yang sangat cantik dengan rambut hitam panjang dan mata berwarna coklat. Namanya adalah Nanami Irania.
"Kupikir dia akan melamun disini seperti biasa," batinnya.
Suatu hari.
Terlebih seorang remaja berwajah tampan yang terlihat berusia 15-16 tahun dengan rambut putih keperakan dan mata berwarna kuning keemasan yang memakai kaos hitam polos. Tubuhnya juga normal seperti tubuh remaja seusianya tapi hanya kekuatan sihirnya yang sangat lemah. Laki-laki itu tidak lain adalah Arata yang dulu, sebelum Candra bereinkarnasi menjadi Arata.
"Hei, Arata. Apa yang kamu lakukan disini?"
"Bukan apa-apa, aku hanya berpikir... Dunia ini sangat indah bukan?"
"Kenapa tiba-tiba?"
"Tidak, bukan apa-apa. Lupakan saja,"
Kembali ke masa kini.
Andai aku mengerti perkataanmu waktu itu, mungkin saja kamu tidak akan menghilang selama 7 bulan dan baru kembali saat ini... Kalau bukan ini tempatnya, apa aku terlalu berekspresi tinggi ya? Yang sebenarnya dimaksud sensei bukanlah kamu, Arata.
__ADS_1
Nanami menggelengkan kepalanya dan tetap berusaha yakin bahwa yang dilihatnya malam itu adalah Arata dan yang dimaksud sensei juga adalah Arata bukan yang lain lagi.
Tidak, tidak, tidak, aku tidak boleh bimbang. Aku harus tetap yakin bahwa Arata sudah berada didalam kota ini dan saat ini dia juga sudah berada di sekolahan ini.
Nanami pun berlari untuk melanjutkan pencariannya.
"Ting! Tung! Ding! dung! ding! dung! Waktunya jam istirahat."
Tak kerasa jam istirahat sudah tiba, Arata masih berada di gedung yang sama dan melakukan hal yang sama yaitu berlatih. Arata terlihat kelelahan karena latihannya melawan seorang guru karena tidak ada murid yang sedang berada di gedung ini yang bisa menandingi Arata.
Bel istirahat berbunyi.
"Sudah waktunya istirahat, kamu istirahatlah dulu!" Ucapnya.
"Baiklah," jawabku.
Guru laki-laki tadi pun pergi, ternyata nama panggilan guru itu adalah Suwarto. Katanya ada beberapa alasan dia tidak memberitahukan nama lengkapnya, Arata juga sudah tanya dengan anggota yang lain tapi jawabannya sama semua.
Arata pun menjatuhkan diri dan berbaring karena kelelahan. Arata bernafas tidak beraturan karena kelelahan, dia tidak menduga kekuatan fisik Suwarto sangat kuat, bahkan tanpa sihir apapun.
Suwarto benar-benar bahaya, sejak sampai di dunia ini. Baru kali ini, aku merasa bersemangat ketika beradu fisik tanpa sedikitpun sihir.
Datanglah seorang gadis yang cantik, dia memiliki rambut biru pendek dan mata yang juga berwarna biru. Benar, dia adalah Lucy Watson.
"Hebat juga ya, Arata san," ucapnya.
Arata perlahan duduk dan Lucy duduk disampingnya Arata.
"Tidak, aku tidak terlalu hebat bahkan mengalahkan sensei Suwarto saja aku tidak bisa."
"Tidak, tidak, tidak, kamu bisa latih tanding melawannya saja sudah hebat, apalagi bertahan cukup lama seperti tadi."
"Oh begitu ya, terimakasih."
Tak lama kemudian, datanglah Mazeh.
"Arata!"
"Apa?" Ucap Arata lalu melihatnya.
"Hebat juga ya, kamu. Bisa beradu cukup lama dengan sensei Suwarto."
"Bahkan kamu juga, memangnya sehebat apa sih dia?"
"Kamu tidak tahu?"
Arata hanya menggelengkan kepalanya.
"Singkatnya dia sangat hebat."
"Singkat banget ya." Batin Arata.
"Sebenarnya tadi aku tidak bersungguh-sungguh karena ada beberapa alasan." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya dan terlihat sedih di ekspresi wajahnya.
"Jadi?..."
Arata pun berdiri lalu memukul dadanya dengan pelan layaknya seorang teman.
"Jangan terlalu dipikirkan, di setiap pertandingan pasti ada pihak yang menang dan juga kalah. Aku tidak peduli, kamu mau bersungguh-sungguh ataupun tidak. Sekali menang tetaplah pemenang, jadi tidak usah terlalu dipikirkan. Benarkan, Lucy?" ucap Arata dengan semangat sambil tersenyum.
__ADS_1
"I-iya."