Isekai : Dunia Impian

Isekai : Dunia Impian
Chapter 3 ~ Mengagumi diri sendiri.


__ADS_3

Arata berjalan tanpa arah lagi selama beberapa saat. Arata pun mulai bosan dengan pemandangan yang dilihatnya, sejak dia bereinkarnasi ke dunia ini yang dia lihat hanyalah lingkungan gua, gua, dan gua terus. Lalu Arata pun menendang batu kecil akibat rasa bosannya dan tidak sengaja mengenai beruang yang sedang memakan serigala tak jauh darinya, seperti biasa Arata yang ramah pun meminta maaf padanya. "Maaf, aku tidak sengaja" tentu saja beruang itu tidak mengerti perkataan Arata dan makin marah, beruang mengalihkan pandangannya dari makanannya dan berdiri lalu melihat Arata dengan penuh amarah. Beruang itu 2 kali lebih besar daripada beruang terbesar yang pernah diburu manusia di bumi.


"Wah! Pasti ribut lagi ni!" Gumam ku dalam hati.


Beruang itu menyerang Arata dengan sangat cepat hingga Arata tidak sempat menghindarinya. Arata pun terpental dan menghantam dinding gua dengan cukup keras. Arata sedikit memuntahkan darah dari mulutnya.


"Sakit! Ternyata ini bukan mimpi ya, kalau begitu kuat juga ya kau. Apa makhluk hijau tadi di gua ini hanya setingkat dengan slime ya?" Arata mencoba bangun meskipun tubuhnya sangat sakit, darah mengalir dari kepalanya kebawah perlahan tapi Arata tidak terlalu memperdulikan.


"Menarik nih!" kata Arata. Arata pun berlari menuju beruang itu, lalu Arata melompat dan memukul beruang itu dengan sekuat tenaganya, beruang itu menyerang lagi tapi Arata bisa menghindarinya.


Beruang tadi berhasil memukul Arata sekali karena kecerobohan Arata sendiri. Arata dengan beruang itu saling menyerang, tetapi serangan beruang tidak ada yang mengenai Arata sedangkan serangan Arata selalu mengenainya meskipun serangannya tidak terlalu berpengaruh besar.


ketika kepala beruang itu berada dalam jangkauan tendangan Arata, Arata tidak menyia-nyiakan kesempatan itu lalu melancarkan serangan tendangan dengan kaki kanan yang sangat kuat di kepalanya hingga beruang itu terpental sedikit lalu terjatuh.


Arata juga sudah terlihat sangat kelelahan dan darah yang keluar dari kepalanya juga cukup banyak. Arata pun terjatuh tengkurap karena kelelahan. Jika beruang itu bangkit lagi, sudah pasti Arata akan kalah dan mati tetapi sayangnya takdir berpihak pada Arata. Entah mengapa Beruang itu mati hanya dengan tendangan kaki kanan terakhir Arata. Arata pun bangun dan berkata dengan bernafas tak beraturan "kuat juga kau, sampai membuat ku begini, sialan!"


Setelah bertarung begitu sengit dengan beruang itu, Arata pun merasa lapar. Arata melihat sekeliling dan ternyata bahan makanan yang berada didekatnya, hanya terdapat didepannya, tidak ada yang lain lagi. Arata melihatnya dengan ragu-ragu. jika tidak mau memakannya maka sudah dipastikan Arata akan mati kehabisan darah dan kelaparan.


Arata masih tidak percaya dengan daging beruang itu tetapi dia tidak punya pilihan lain hingga akhirnya Arata mencari batu yang tajam untuk memisahkan daging dengan kulit nya dan memotong-motong dagingnya menjadi beberapa bagian yang lebih kecil.


Beberapa saat kemudian. Arata sudah selesai memisahkan daging dengan kulit dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Arata saat ini sedang memegang paha beruang. Dia merasa agak jijik karena dagingnya masih mentah. Dia sudah berusaha mencari kayu tapi tidak ada satupun di gua ini hingga akhirnya Arata memutuskan untuk memakannya mentah-mentah. Tiba-tiba Arata muntah darah lagi, dia pun langsung memakan daging mentah itu dengan terpaksa.


"Selamat makan" kata Arata lalu dia memakannya. Arata baru memakan satu gigitan lalu dia memuntahkannya lagi.


Rasanya benar-benar sangat buruk tapi ini lebih baik daripada mati kehabisan darah dan kelaparan. Aku harus segera memulihkan kondisi ku hingga prima seperti semula, aku tidak tahu hewan atau monster aneh apalagi yang akan bertemu dengan ku.


Arata melanjutkan memakannya dengan terpaksa tetapi ia mencoba menahannya dan menelannya hingga akhirnya dia selesai menghabiskan semuanya. Arata pun membaringkan tubuhnya di lantai gua dan berkata "ah! Aku tidak ingin memakannya lagi. Rasanya seperti memakan sampah saja, seriusan dah. Tidak bohong!"


setelah makan sampai kenyang, Arata pun merasa ngantuk. Dia melihat sekeliling dan memastikan bahwa keadaan aman. Arata pun memejamkan mata dan tertidur.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian. Arata bangun dari tidur, sekarang dia terlihat lebih baik dari sebelumnya. Seluruh lukanya pun sembuh seperti tidak pernah ada luka. Arata yang menyadari bahwa sudah tidak ada rasa sakit pun memeriksa tubuhnya, kaki, tangan, pipi, semuanya sembuh total, seolah-olah tidak pernah terluka.


Arata heran sekaligus terkejut karena tiba-tiba semua lukanya sembuh.


"Wah! Hebat sekali! Ditinggal tidur saja sembuh semuanya. Apa jangan-jangan kekuatan penyembuhanku sangat luar biasa? Atau..." Arata berpikir sebentar dan melanjutkan "karena daging beruang itu ya? Sepertinya memang dari daging beruang itu deh. Tidak mungkin juga, masa hanya ditinggal tidur semua luka sembuh, itu sangat aneh. Meskipun ini dunia fantasi, tapi aku lebih percaya bahwa daging beruang itu bermanfaat untuk menyembuhkan luka. Seseorang pernah berkata padaku..."


"Janganlah kamu lihat hanya dari penampilan luar saja, memang penampilannya sangat buruk tetapi bisa saja itu sangat baik bagimu" kata seseorang pria padaku.


"Kira-kira begitu lah katanya"


Arata bangun dan semangat kembali seperti semula. "Yosha! Sekarang aku sudah sepenuhnya sembuh. Aku bisa melanjutkan perjalanan dan segera pergi keluar dari gua ini. Tunggu saja, dunia luar yang indah!" Arata pun berlari ke selatan dengan semangat.


Sudah beberapa bulan Arata berjalan terus-menerus mencari jalan keluarnya tetapi selama ini dia tidak menemukan sesuatu yang aneh, bahkan makhluk hidup pun tidak ada. Saat ini dia terlihat sangat menyedihkan dengan tubuhnya terlihat lebih kurus dibandingkan sebelumnya, tangan dan kakinya juga.


Awalnya aku hanya ingin kehidupanku bergenre comedy, school dan romance seperti di anime Jepang, tetapi kehidupanku sekarang malah bergenre Isekai. Jika saat itu aku tidak pergi ke bank malam itu, mungkin hal ini tidak akan terjadi.


Aku jadi teringat kata seseorang.


"Janganlah menyerah, teruslah maju dengan penuh semangat meskipun jalan yang kamu pilih banyak duri" kata seorang pria sambil tersenyum.


Jalan yang kamu pilih ya? Sejak kapan aku memilih jalan seperti ini, tapi terimakasih berkat mu aku akan terus melangkah maju kedepan dan Sepertinya aku harus senang ya, menyesali yang telah berlalu tidak akan ada gunanya sama sekali, lebih baik aku memikirkan cara bagaimana untuk keluar dari sini secepat mungkin. Aku juga lapar tapi aku tidak melihat makhluk hidup apapun sejak hari itu. Aku juga tidak yakin mengapa aku masih bisa hidup tanpa makan dan minum tetapi kemungkinan yang paling besar adalah aku pernah menjadi belajar seni bela diri dan melakukan beberapa latihan yang sangat keras dan aku juga sering berpuasa, mungkin ini tidak masuk akal tetapi hanya itu yang terpikirkan oleh ku saat ini.


Arata yang sedang kelaparan pun akhirnya terjatuh tapi dia tidak pingsan. Dia mencoba mengangkat kepalanya dan secara kebetulan didepannya terdapat rerumputan aneh yang berwarna ungu menyala yang memenuhi beberapa tempat di lantai gua di sekitar Arata. Sekali lagi Arata dihadapkan dengan pilihan yang sulit, memakan rumput aneh ini atau mati kelaparan.


Arata tidak memikirkannya lebih lanjut, dia langsung memakan rumput ungu aneh itu seperti kambing yang kelaparan, Arata cukup terkejut karena rasanya kenyal-kenyal enak seperti mie instan yang biasa dimakannya dulu di Indonesia. Dia memakannya dengan lahap rumput-rumput aneh.


Arata tidak tahu bahwa rumput ungu itu adalah rumput ungu atau biasa disebut Purple grass. Jika ada yang memakannya dan dia tidak kuat menahan racunnya maka akan mati, sebaliknya jika dia kuat menahan racunnya maka akan mendapatkan kekuatan yang sangat besar. Sampai saat ini tidak ada seorang pun yang berhasil menahan racunnya dan berakhir mati mengering. Maka dari itu tanaman ini termasuk tanaman terlarang di beberapa negara.


Tiba-tiba Arata merasa sangat pusing, pandangannya kabur, tenggorokannya terasa sangat kering bahkan terasa lebih kering dari sebelumnya, tubuhnya mengering seperti mayat hidup tapi secara kebetulan didekatnya terdapat kolam air dengan ukuran empat kali dua meter persegi (4×2 m²)

__ADS_1


Arata pun langsung menghampirinya lalu menenggelamkan kepalanya sambil minum air itu. Pusing, pandangan kabur, dan gejala sakit lainnya termasuk tubuhnya kembali normal seperti sediakala. Arata pun mendapatkan kekuatan yang sangat besar, untuk sesaat tubuh Arata mengeluarkan aura ungu yang sangat besar menyelimuti seluruh tubuhnya tapi Arata tidak menyadarinya. Dia hanya merasa sangat bersyukur karena rasa sakitnya hilang dan rasa laparnya juga.


Huh! Selamat! Selamat! Kupikir tadi aku akan mati lagi. Sebenarnya apa-apaan rumput itu, rasanya enak seperti mie instan ternyata sangat beracun ya. Aku harus lebih berhati-hati lagi lain kali saat memilih makanan di gua ini.


Arata melihat ke kolam itu lagi dan melihat wajahnya di pantulan air kolam. Arata melihat seseorang laki-laki tampan yang terlihat berusia 15-16 tahun dengan rambut putih keperakan dan mata berwarna kuning keemasan dan dia memakai kaos hitam polos. Tubuhnya juga normal seperti tubuh remaja seusianya. Laki-laki itu tidak lain adalah Arata.


Apa ini aku? tampan juga ya aku, mata dan rambutnya juga sesuai seleraku. Benar-benar bagus, apa mungkin ini karena aku memberikan nama pada diriku sendiri ya waktu itu ya? Tidak mungkin.


Arata pun membersihkan pikirannya sambil menggelengkan kepala dengan cepat.


Sebaiknya mengagumi diri sendiri sampai disini dulu. Aku harus segera pergi secepatnya dan menemukan kota tempat tinggal manusia lain.


Arata pun melanjutkan perjalanannya. Ketika Arata sedang berjalan santai, secara tidak sengaja Arata menginjak tombol rahasia yang membuat sebuah pintu di dinding gua sebelah kanan Arata terbuka secara tiba-tiba.


Arata merasa penasaran dengan pintu itu akan membawanya kemana, hingga akhirnya Arata memutuskan untuk masuk kedalamnya tanpa menaruh curiga sedikitpun lagi. Beberapa saat kemudian, tibalah Arata di sebuah ruangan, ruangan ini hanya sebesar lima kali empat meter persegi (5 × 4 m²) saja.


Ruangan ini lebih terlihat seperti perpustakaan kecil karena terdapat rak-rak di masing-masing dinding ruangan yang berisikan banyak sekali buku. Arata mencoba mengambil salah satu buku.


"Buku apa ini?" Kata Arata dengan heran, cover dari buku ini hanya merah polos tanpa sedikitpun gambar ataupun tulisan apapun. Arata penasaran apa isi dari buku merah polos ini, dia pun memutuskan untuk membuka buku ini. Arata semakin terkejut, apa yang dia lihat setelah membuka buku itu adalah semua tulisan di buku itu berupa aksara Jawa.


"Aksara Jawa? Apa maksudnya ini? Apa jangan-jangan aku masuk ke Isekai Jawa? Bukan Isekai Jepang pada umumnya ya?" Arata membalikkan lembaran bukunya lagi dan berkata lagi "wah! Aku jadi semakin penasaran dengan dunia luar dunia ini seperti apa" Arata pun membaca buku itu sampai habis lalu mengambil buku yang lain lagi untuk dibaca. Arata sejak dulu memang cukup suka membaca buku hingga membaca buku-buku itu dia tidak merasa bosan ataupun kesusahan.


Tak lama kemudian, Arata sudah membaca semua buku yang terdapat di ruangan itu.


"Oh jadi begitu ya, kehidupan kedua ini mungkin akan sangat menarik" kata Arata sambil menutup buku terakhir yang dibacanya.


Ketika Arata hendak menuju pintu keluar ruangan ini, tiba-tiba dia terjatuh kebawah. Arata tidak menduga bahwa akan ada jebakan di depan pintu tepat, padahal awal Arata masuk tidak ada jebakan atau apapun itu. Mungkin itu adalah jebakan satu arah.


Arata meluncur seperti meluncur di perosotan air hingga akhirnya dia terjatuh dari atas dan tibalah Arata di tempat aneh lainnya di gua ini. Arata nyungsep, dia perlahan berdiri dan melihat-lihat sekelilingnya.

__ADS_1


__ADS_2