
Sekarang Arata sedang berada di sebuah ruangan yang cukup besar dan luas, Arata yakin saat ini dia berada di ruang makan karena terdapat 8 kursi yang disusun memanjang di kedua sisi dan 2 kursi di depan dan belakang meja yang panjang juga. Diatas meja terdapat sesuatu seperti lampu yang biasa terdapat di ruang makan mewah.
Arata belum usai di kejutkan dengan kamarnya, sekarang dia dikejutkan lagi dengan keindahan dan kemewahan ruang makan ini.
Tak lama kemudian, datanglah beberapa orang pelayan. Mereka menurunkan satu persatu makanan dari meja dorong ke meja panjang.
"Apa-apaan makanan ini? Bukannya ini terlalu banyak hanya untuk diriku sendiri?" Gumam Arata. Arata heran, kenapa hanya untuk dirinya harus dikeluarkan makanan sebanyak ini.
Setelah semua makanan ditaruh di meja panjang, para pelayan pergi meninggalkan kami. Ayah Arata duduk di kursi dekat Arata dan ditemani istrinya disebelahnya, Garvin berkata "silahkan dimakan Arata. Ibu mu sudah susah-susah masak semua makanan ini hanya untuk mu, pastikan kamu menghabiskan semua makanan ini ya, mubasir itu tidak baik lho"
Arata merapatkan kedua tangan lalu berkata "selamat makan" lalu Arata mengambil salah satu daging didepannya lalu memakannya.
Rasa ini? Daging ini lebih enak daripada yang kemarin. Seriusan dah, ini benar-benar sangat enak sekali meskipun aku tidak tahu bagaimana cara membuat daging yang seperti ini, rasanya yang lembut, gurih, manis semuanya bercampur menjadi satu. Entah mengapa aku seperti familiar dengan rasa ini.
Arata terlihat sangat bahagia, bahkan dia sampai-sampai menangis bahagia.
Garvin terkejut lalu bertanya "Ada apa, Arata"
Arata mengusap air matanya dan berkata "Ti-tidak, hanya saja rasa ini aku merasa sangat familiar tetapi aku tidak bisa mengingatnya kapan aku pernah memakannya."
Garvin terlihat lega kembali. Hestia berkata dengan pelan pada Garvin.
"hanya terdapat sedikit perubahan padanya. itu bukan berarti dia bukan Arata anak kita, menurut ku Arata tetaplah Arata. Kan sudah kubilang, insting seorang ibu tidak pernah salah."
"Oh begitu ya" jawab Garvin.
Arata makan dengan lahapnya semua makanan yang sudah susah payah dibuat hanya untuk dirinya.
Tak lama kemudian akhirnya Arata sudah menghabiskan semua makanan yang ada dimeja.
Ahh! Kenyang! Kenyang! Ini seperti mimpi saja. Kapan ya terakhir kali aku makan enak sampai kenyang seperti ini? Sepertinya tidak ada deh.
"Arata!" Panggil Garvin.
"Apa? Ayah." Jawab Arata.
"Mari ikut ayah sebentar!" Garvin berdiri lalu hendak pergi.
"Mau kemana?"
"Sudahlah ikut saja"
Arata pun mengikuti perintah untuk mengikuti Garvin. Mereka berdua pun pergi ke suatu tempat.
Di suatu ruangan yang cukup besar nan luas yang terlihat seperti ruangan kosong tanpa perabotan rumah apapun, terlebih lagi ruangan ini berada dibawah tanah.
"Tempat apa ini? ayah." Tanya Arata.
Tiba-tiba dia berhenti di tengah-tengah ruangan ini.
"Ada apa? Ayah. Apa kita sudah sampai?"
"Kita akan latihan disini!"
__ADS_1
"Apa?"
"Wahai api yang bisa membakar segalanya, kabulkan lah permintaan ku. Circle fire ball" gumam Garvin dengan pelan lalu seketika keluar sebuah lingkaran sihir berwarna merah di punggungnya. Dari lingkaran itu keluarlah bola api sebesar bola sepak yang sangat panas lalu menembak kearah Arata dengan cepat tetapi Arata bisa menghindarinya dengan mudah, dia hanya memiringkan dadanya kekiri hingga tembakan api itu melesat jauh dan tidak mengenai Arata.
"Seranglah aku dengan sihir mu jika kamu bisa, Arata. Tidak usah segan-segan, lakukan saja sekuat yang kamu bisa keluarkan!"
"Apa? Apa kamu serius ayah?"
"Iya, lakukan atau matilah" lalu dia menembakkan bola api yang sebesar tadi lagi tepat mengarah kepala Arata tetapi Arata hanya memiringkan kepalanya kekiri hingga bola api itu melesat jauh lalu meledak dan tidak mengenai Arata.
Kayaknya ni orang seriusan dah, ada apa dengannya? Apa aku layani saja ya? Baiklah, aku akan melayani nya tapi hanya dengan sangat sedikit sekali dari keseluruhan kekuatan yang kumiliki. Jika aku serius, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.
Arata langsung berlari menuju Garvin dengan cepat sembari ditembaki bola-bola api oleh Garvin, tapi tidak ada satupun yang mengenai Arata. Ketika sudah cukup dekat dengannya, Arata melompat sambil menarik tangan kanannya kebelakang seolah-olah siap memukul lawannya. Jarak sudah dalam jangkauan, Arata langsung meluncurkan pukulannya tetapi Garvin bisa menghindarinya dengan mudah, Arata menyerang nya lagi tetapi Garvin masih bisa menghindar dengan mudah. Arata terus menyerang Garvin tapi serangan Arata selalu bisa dihindari oleh Garvin dengan mudah.
"Ada apa, Arata. Apa kamu tidak akan menggunakan sihir mu? Apa kamu masih tidak bisa menggunakan nya?" Tanya Garvin sembari menghindari satu persatu serangan fisik Arata.
"Sihir ya? Baiklah, jika itu yang ayah inginkan maka aku akan memenuhi permintaan ayah itu!" Jawab Arata.
Arata tiba-tiba menghilang, Garvin tampak kebingungan. Dia melihat kanan-kiri lalu berkata "eh? Sihir ilusi ya? Tapi ayahmu tidak akan terperangkap lho!" Katanya dengan sedikit sombong.
Garvin langsung menyadari jika Arata akan menyerang dari titik buta (belakangnya), dia melihat kebelakang dan langsung memukul Arata tetapi ketika Arata terkena pukulannya Arata menghilang seolah-olah itu hanyalah bayangan saja. Dimanakah Arata yang asli? Tentu saja saat ini dia tepat didepan Garvin yang sedang menghadap kebelakang dan sudah siap memukul Garvin. Garvin sudah menyadarinya tetapi itu terlambat, Arata langsung memukulnya dengan sedikit kuat hingga Garvin terpental beberapa meter kebelakang.
Garvin dengan sigap bangkit kembali lalu berkata "ilmu bela diri mu meningkat ya? Sekarang coba tunjukan sihir mu yamg sebenarnya. Tadi pasti hanya trik kecil mu saja kan?"
"Ternyata ayah tahu ya!"
"Kamu tidak bisa membohongi mata orang tua ini, Arata."
"Oh begitu ya? Tetapi kenapa ayah tidak menyadarinya?"
"Sudah terlambat, ayah." Arata mengangkat tangan kanannya ke langit kearah ayahnya lalu berkata "Beku lah!" Seketika keluarlah gunungan ice yang sangat dingin di atas lingkaran itu, dari gunungan ice itu muncul juga kabut-kabut yang biasa ada di tempat yang sangat dingin.
Ternyata sihir ice Arata gagal mengenai Garvin, tiba-tiba Arata merasakan hawa keberadaan Garvin dibelakangnya, sontak Arata langsung menendangnya tetapi tendangan Arata berhasil dihentikan dengan sangat mudah.
"Sudah selesai, Arata." Arata menurunkan kakinya perlahan Lalu Garvin memegang kedua pundak Arata dan berkata dengan serius.
"Arata kamu adalah..." Kata Garvin.
"Apa aku sudah ketahuan sekarang? Memang sebaiknya aku tidak menggunakan sihir sama sekali aja. Selamat tinggal kehidupan mewah dan indah yang sebentar. Kenapa ya kehidupan ku yang indah selalu berakhir dengan cepat? Apakah ini yang disebut angin yang menyegarkan hanya lewat sebentar." Kata Arata dalam hati yang sudah ikhlas melepaskan kehidupan mewah nya, Arata berpikir bahwa Garvin sudah menyadarinya.
"Kamu adalah Anak laki-laki satu-satunya ayah, kamu juga masih sama seperti sebelumnya, ternyata benar ya kata ibu mu bahwa suatu saat nanti Arata akan kembali kepada kita dan ketika dia kembali, dia akan bertambah lebih kuat dari sebelumnya, maka dari itu percayalah padanya. Itu lah yang dikatakan ibu mu padaku, walaupun begitu dia setiap hari masih terus mencemaskan mu. Meskipun ayah mu ini selalu berfikir negatif bahwa kamu tidak akan pernah kembali lagi tetapi ibu mu selalu berpikir positif dan selalu senantiasa menunggu kepulangan mu, Arata." Kata Garvin lalu dia memeluk Arata dan menangis lalu melanjutkan perkataannya dengan sedih.
"Sekarang kamu berdiri disini, menyangkal itu semua, dan membuktikannya pada ayahmu yang bodoh ini. Maafkan ayah, Arata"
Arata cukup terkejut dengan pernyataannya dan berkata dalam hati "Eh?" Lalu Arata menjawab dengan singkat "Y-ya, tidak apa-apa. Lupakanlah masa lalu, mari sambut yang baru, ayah." lalu membalas pelukan hangat dari ayahnya.
Garvin melepas pelukannya dan mengusap air matanya lalu melihat mata Arata dan bertanya kepada Arata dengan serius.
"Siapa yang mengajari mu sihir hingga bisa menggunakan sihir sekuat itu?" Tanya Garvin, yang dimaksud itu adalah gunung ice berukuran sedang yang dibuat Arata tadi.
Arata sebenarnya sangat panik dan bingung harus menjawab bagaimana, tidak mungkin juga kan kalau Arata menjawab hanya dengan membaca buku tiba-tiba dia menjadi sangat kuat seperti ini. Orang mana yang akan percaya hal itu? Tentu saja tidak ada yang akan percaya kan. Pikir Arata.
Arata pun akhirnya langsung mendapatkan jawabannya yaitu dengan berbohong.
__ADS_1
"Sensei" jawab Arata.
"Sensei?"
"Iya"
"Siapa dia? Orang mana? Ayah ingin bertemu dengannya lalu berterimakasih karena telah mendidik anak ayah hingga bisa seperti ini."
"Dia orang dari timur yang sangat jauh, lebih baik jangan bertemu dengannya." Jawab Arata dengan asal-asalan.
"Kenapa tidak boleh?"
"Karena dia telah tiada" jawab Arata sembari menundukkan kepalanya dan terlihat sedih diwajah Arata.
"Oh begitu ya, maafkan ayah. Seharusnya ayah tidak menanyakan itu ya"
"Tidak apa-apa, itu sudah takdirnya."
"Kalau begitu, dia pasti adalah seorang penyihir yang sangat luar biasa hebat ya. Bisa mengajari seseorang yang sangat lemah mengenai sihir hingga bisa menggunakan sihir sehebat ini."
"Ya, begitulah." Kata Arata sambil melihat keatas, seolah-olah dia bangga memiliki guru yang luar biasa hebat mau mengajarinya. Padahal bukan begitu yang sebenarnya terjadi.
"Apa selama 7 bulan ini, kamu selalu bersamanya?"
Lama juga ya menghilang ku.
"I-iya" jawab Arata dengan ragu-ragu.
Di suatu tempat yang masih didalam rumah mewah Garvin dan Hestia. Arata sedang berjalan di lorong rumah, dia benar-benar tidak menyangka bahwa dia akan memiliki kehidupan yang mewah secara tiba-tiba seperti sekarang ini.
Aku masih curiga, kenapa aku tiba-tiba menjadi orang kaya tapi saat ini bukan waktu untuk memikirkannya. Lebih baik, aku menikmati apa yang ada saja sekarang.
Indah sekali desain lorong ini, lantainya terlihat mewah, dindingnya, bahkan atapnya juga. Bukannya hanya mewah tetapi juga sangat bersih.
Akhirnya aku sampai di depan pintu kamar ku tadi, aku langsung masuk kedalam. Suasana kamar masih sama seperti tadi, aku menghampiri kasur lalu melompat ke kasur dan merasakan sensasi kasur yang sangat empuk dan lembut yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
"Seriusan dah, bantal ini benar-benar sangat empuk dan lembut. Aku jadi tidak ingin melepaskannya. Kehidupan malas-malasan seperti inilah impian ku yang sesungguhnya, tidak di isekai ataupun dunia sebelumnya, kenikmatan malas-malasan adalah yang terbaik." Gumam Arata sambil memeluk sebuah bantal.
Waktu berlalu dengan sangat cepat, tak terasa hari sudah malam, Arata melewatkan makan siang karena malas-malasan seharian dan sekarang sudah waktunya makan malam.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu tiga kali.
Tok... Tok... Tok...
"Boleh saya masuk?" Kata seseorang perempuan.
"Silahkan saja" kata Arata yang masih malas-malasan seharian di kasur.
"Saya masuk, tuan" seseorang gadis cantik yang memakai pakaian pelayan masuk ke kamar Arata. Dia masuk secara perlahan lalu berkata "Tuan Arata sudah waktunya untuk makan malam"
"Oh sudah malam ya, tidak kerasa aku malas-malasan sepanjang hari ini." gumam Arata dalam hati.
"Baik-baik." Kata Arata dengan acuh tak acuh yang masih malas-malasan di kasur.
__ADS_1
"Tuan Garvin dan Nyonya Hestia sudah menunggu."
"Baiklah-baiklah, aku segera datang." Akhirnya Arata yang malas-malasan di kasur pun terpaksa bangun dari kasurnya lalu mengikuti pelayan itu keluar dari kamarnya.