
Kegelapan total tanpa cahaya sedikitpun, itulah yang kulihat sekarang. Aku juga tidak bisa merasakan apapun. Tangan dan kaki juga tidak bisa digerakkan, ada apa ini? Kalau tidak salah ingat, tadi aku sedang menukarkan uang di bank. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku selanjutnya, lalu sekarang kenapa aku ada dikegelapan total ini? Jangan-jangan sekarang aku berada di... Tidak, aku tidak boleh berpikiran negatif. Mungkin masih ada peluang lain yang lebih baik daripada itu.
Dikeadaan yang gelap dan menyeramkan ini biasanya orang biasa pasti akan langsung ketakutan dan panik, tapi Candra masih bisa tetap tenang karena ia sudah terbiasa dalam kegelapan seperti ini karena dulu dia sering banget tiba-tiba listrik dirumahnya diputus karena tidak membayar tagihan tepat waktunya hingga seluruh benda yang menggunakan listrik tidak bisa digunakan termasuk lampu yang menerangi rumahnya.
Dia juga menduga bahwa ini hanyalah mimpi semata tetapi ia mengeluh dan menggerutu, kalau benar ini mimpi kenapa hanya ada warna hitam? Kemana perginya warna yang lain?
Tak lama kemudian, Aku merasakan sesuatu yang hangat, sungguh ini benar-benar hangat seperti sedang berada di dekat api unggun di tengah hutan pada malam hari. Aku perlahan membuka kedua mataku. Pertama hal yang aku lihat adalah langit-langit gua. Aku bangun sambil memegang kepala ku yang sangat sakit.
Adu...duh! Dimana aku? Gua? Kenapa aku bisa berada di gua? Apa aku sudah mati? Kalau benar aku sudah mati, apa penyebabnya? Aku benar-benar tidak mengingat apapun yang terjadi padaku sebelumnya.
Banyak sekali pertanyaan yang muncul dikepalaku tapi aku tidak tahu harus bertanya dengan siapa hingga akhirnya aku memutuskan untuk berdiri dan melihat keadaan sekitarku, ternyata benar seperti dugaanku yang kulihat adalah sesuatu yang umumnya ada di sebuah gua.
Ketika aku melihat sekeliling tak sengaja aku melihat sebuah kertas di bawah dekat kakiku, aku yang penasaran pun mengambil kertas itu. Dikertas itu tertulis dengan tulisan aksara Jawa, tentunya aku yang asli orang Jawa dan pernah diajari basa jawa pun bisa membacanya dengan mudah.
Di kertas ini tertulis dalam aksara jawa yang berarti "selamat tinggal, Arata" di pojok bawah kanan juga tertulis dengan aksara Jawa yang berarti "dari ibumu tercinta"
Hah? Ibu? Apa mungkin ini surat untuk seseorang yang memiliki tubuh ini sebelum aku ya? Entahlah. Itu juga bukan urusan ku, aku juga tidak mengenalnya, Lagipula Aku tidak ingin tahu dan tidak peduli juga.
Aku pun meremasnya dan membuang kertas itu kebelakang.
Yosh! Kalau benar aku telah bereinkarnasi, itu artinya aku akan mulai hidup baru dari nol ya. Mungkin awalnya ini akan sedikit merepotkan tetapi tidak apa-apa lah, setidaknya aku bisa bereinkarnasi ke dunia fantasi seperti impian ku dulu.
Untuk sekarang...
Pertama-pertama yang dibutuhkan dalam kehidupan adalah nama, kalau tidak punya nama, orang juga akan susah mengenal dan memanggilnya.
Nama ya....
Aku berpikir nama baru apa yang akan ku gunakan dalam kehidupan kedua ku ini. Tiba-tiba terlintas nama Arata dipikiran ku, aku juga tidak tahu mengapa tetapi sepertinya aku harus menggunakan nama itu.
__ADS_1
Sudah ditetapkan ya, namaku sekarang adalah Arata. Tetapi Kalau Arata doang agak kurang gimana gitu. Sepertinya aku harus menambahkan nama lagi dibelakang Arata, inginnya sih aku tambahkan nama keluarga dari keluarga ku di Isekai ini tapi aku tidak tahu nama keluargaku di dunia ini dan di dunia lama aku juga tidak punya nama keluarga. Kalau pakai nama belakangku dulu juga tidak cukup bagus, Di kertas tadi juga tidak tertulis siapa nama keluarga ibu nya.
Aku menghela nafas dan melanjutkan "huh! Merepotkan sekali! Gimana kalau aku buat nama belakang sendiri ya? Yah kalau di jepang mungkin disebut marga atau nama keluarga tetapi di Indonesia tidak ada hal seperti itu. Aku juga tidak tahu apakah dunia ini akan sama seperti Jepang atau tidak" aku pun berpikir sebentar dan memutuskan bahwa akan membuat nama belakang sendiri.
Aku duduk bersila sambil berpikir nama belakang apa yang keren dan indah buatku sendiri. Aku tidak pandai membuat nama mungkin ini akan memerlukan waktu yang lama.
Beberapa jam kemudian. Aku masih berpikir hingga akhirnya aku menemukan nama belakang yang cukup keren yaitu Masashi yang berarti Aspirasi benar. Jika digabungkan memiliki arti Aspirasi benar yang baru.
Mungkin aku pakai itu saja lah!
Aku pun berdiri dan menyatakan nama lengkap ku dengan semangat.
"Yosha! Mulai sekarang namaku adalah Arata Masashi"
Sesaat setelah mendeklarasikan nama lengkap di gua yang sepi ini, tubuhku bersinar berwarna emas sesaat.
Apa-apaan itu? Apakah aku mendapatkan kekuatan yang sangat besar seperti di anime? Ataupun menjadi good looking? Tapi aku merasa tidak terjadi perubahan apapun padaku. Lagipula di anime itu diberi nama oleh makhluk lemah atau diberi nama orang lain tetapi aku memberi namaku sendiri. Apakah bisa seperti itu? Entahlah. Lebih baik aku tidak terlalu memperdulikannya dan aku harus segera mencari jalan keluar dari gua ini.
Apakah ini dunia fantasi? Kalau benar begitu, mungkin ini akan menarik. Tetapi ada kekurangannya dunia fantasi seperti di anime misalnya hukum rimba akan berlaku di seluruh penjuru dunia fantasi ini. Aku pun tidak merasa bahwa saat ini aku memiliki kekuatan curang yang sangat over power seperti di anime-anime. Berarti aku harus berjuang dari 0 di dunia fantasi ini, menurut ku berjuang dari 0 sampai 100 itu lebih menarik daripada langsung ke seratus.
Hukum rimba adalah hukum dimana yang lemah akan selalu diperlakukan seenaknya oleh yang kuat.
Kalau begitu, hanya ada satu pilihan agar aku tetap bertahan hidup di dunia yang lebih kejam ini yaitu aku harus menjadi yang terkuat.
Arata tiba-tiba semakin bersemangat dan berkata "yosha!! Aku akan berjuang di dunia fantasi ini!"
Entah sudah berapa lama Arata berjalan, tapi ia yakin itu sudah cukup lama. Ia berjalan lurus tanpa arah tujuan sambil melihat-lihat keadaan gua. Arata sedang berjalan sambil melamun, dia berpikir jika keluar gua, apa yang akan dilakukan selanjutnya dan secara tidak sengaja Arata menginjak sesuatu seperti ekor binatang. Sesaat langsung ada serangan pukulan menuju Arata, tapi Arata bisa merespon dengan baik dan menghindarinya lalu melompat kebelakang. Arata bisa menghindarinya dengan baik karena dikehidupan sebelumnya Arata sudah menguasai beberapa ilmu bela diri dari berbagai negara.
Makhluk hijau itupun semakin marah dan menyerang Arata secara bertubi-tubi tetapi Arata bisa menghindarinya dengan mudah, bahkan Arata melontarkan pertanyaan ke makhluk itu dengan santainya.
__ADS_1
"Sebenarnya kau makhluk apa? Kok hijau, apa kau goblin? Tidak, sepertinya bukan. Goblin yang kutahu tidak sebesar ini. Apa kau makhluk Isekai jenis baru? Kamu makhluk yang aneh ya" Arata semakin yakin setelah melihat makhluk hijau besar ini, bahwa saat ini dia sedang berada di dunia fantasi seperti di anime.
Makhluk itu masih terus menyerang Arata tetapi Arata masih bisa menghindarinya dengan mudah lalu Arata meminta maaf dengan santai seolah-olah makhluk ini bukan ancaman yang berarti baginya "maaf, aku tadi tidak sengaja menginjaknya. Apa tadi sangat menyakitkan? Maafkan aku, aku tahu aku salah tapi tidak perlu sampai marah sebegitu nya tahu!" makhluk itu masih marah dan terus menyerang Arata tetapi Arata masih belum ada tanda-tanda akan menyerang balik makhluk itu.
Makhluk ini terlihat besar hijau dengan tinggi sekitar 250 cm, tubuhnya seperti manusia tetapi dia memiliki ekor, botak, dan warna kulitnya yang hijau di seluruh tubuhnya.
"Sepertinya kau tidak memaafkan ku ya. Kalau begitu, aku akan sedikit bermain denganmu!" ketika kepala makhluk itu dalam jangkauan, Arata langsung melancarkan tendangan kaki kanannya kearah kepala makhluk itu dengan sangat keras dan cepat sehingga makhluk itu tidak bisa menghindarinya. Makhluk itu terkena tendangan Arata dan terpental cukup jauh beberapa meter kebelakang hingga menghancurkan sedikit dinding gua.
"Ada apa? Kau tadi sangat marah padaku hingga sangat ingin membunuh ku kan? Kalau begitu Bangunlah! Mari selesaikan ini dengan cepat! Dasar bodoh!" Arata mengejek makhluk itu sambil tersenyum, tapi jelas senyum Arata bukanlah senyum yang bermaksud baik.
Arata berjalan perlahan menuju makhluk itu sambil melanjutkan provokasi nya "ternyata kau tidak terlalu kuat ya!" Makhluk itu akhirnya mau berdiri meskipun sempoyongan.
Makhluk itu langsung menuju Arata lalu melakukan serangan pukulannya lagi tetapi serangan kali ini sangat lemah dibandingkan tadi, malahan Arata bisa menghindari serangannya dengan lebih mudah lagi.
Arata mengejek makhluk itu lagi. "Ada apa? Dimana kekuatan mu tadi? Masa tiba-tiba lenyap? Apa memang kekuatan besar dan kecepatanmu tadi ada batas waktunya ya?"
Arata berpikir bahwa makhluk ini sekarang memang benar-benar lemah sekarang dan ini saat yang tepat untuk melancarkan serangan balasan lagi. Arata pun langsung menyerangnya dengan dengkul keatas lalu memukulnya dengan tangan kanan kebawah dengan sangat keras hingga menyentuh lantai gua hingga menimbulkan tanda/lubang dan keretakan di lantai gua.
Secara tidak sengaja mata Arata melihat sesuatu seperti anak panah tapi panjangnya hanya sekitar 5 cm. Benda itu mirip dengan panah bius hewan di dunia Arata sebelumnya. Arata sekarang paham, mungkin saja bukan karena serangan Arata yang membuat makhluk itu melemah tetapi peluru kecil ini.
Arata heran, mengapa tubuhnya saat ini terasa sangat ringan dan kuat. Itu sudah tentu karena dia telah bereinkarnasi ke dunia baru dengan tubuh yang baru pula. Arata bertanya-tanya, sejak kapan ada panah bius itu? Apakah saat Arata bertarung dengannya? Tapi Arata saat itu tidak merasakan hawa keberadaan orang ataupun makhluk lain dari jangkauan 10 meter jauhnya.
Arata sangat penasaran dengan benda itu dan ingin menyentuhnya tetapi ia mengingat kejadian masa lalu yang hampir membuatnya tewas karena melihat benda asing lalu menyentuhnya tanpa tahu benda apa itu.
Arata pun duduk ditempatnya berada sekarang dan berkata dengan santai pada makhluk hijau yang sudah tentu mati itu.
"pertarungan tadi cukup seru tahu, tapi sayangnya ada yang mengganggu pertarungan satu lawan satu kita ya. Orang yang melakukan itu benar-benar pengecut bukan?" Arata menghina orang yang menganggu duelnya itu tetapi tidak ada yang muncul, itu sudah pasti karena tidak ada orang dalam jangkauan 10 meter jauhnya.
Arata berdiri dan mengucapkan "selamat tinggal" Arata yang tidak mau menghabiskan waktunya dengan sia-sia pun pergi meninggalkan tempat kejadian perkara (tkp).
__ADS_1
Tak lama setelah Arata meninggalkan TKP. Ada banyak sekali makhluk berwarna merah sangat kecil, makhluk itu sangat banyak hingga terlihat seperti pasir yang sedang ******* makhluk hijau itu. Ternyata panah bius tadi bukan dari manusia melainkan dari makhluk misterius yang mengendalikan makhluk sangat kecil ini. Makhluk hijau pun lenyap dan menghilang entah kemana.