ISTRI DURHAKA

ISTRI DURHAKA
Part 1


__ADS_3

"Dek, bangun. Kita shalat subuh bareng yuk?"


Bahu Celia bergunjang, dengan malas Celia membuka matanya namun segera meraih bantal dan kembali menutup wajahnya.


"Ih, apasih! Ganggu orang tidur saja!"


Dika meraih bantal yang menutupi wajah istrinya dan membelai rambutnya perlahan.


"Kita shalat subuh bareng dek, setelah ini kamu kan harus berangkat kerja juga."


"Abang shalat sendiri sana! Males dengar ocehanmu setiap hari!" Ucap Celia sambil meraih kembali bantal dari tangan Dika dan menutupi wajahnya.


Dika menghela nafasnya dan membiarkan Celia tertidur kembali. Akhir-akhir ini memang Celia pulang larut malam dengan alasan lembur di tempat kerjanya. Dika menghampar sajadahnya dan mendoakan kebaikan untuk istrinya kepada Allah SWT.


Selesai shalat seperti biasanya Dika menuju dapur dan memasak sarapan nasi goreng untuk Celia. Tak lupa sambil menghidupkan mesin cuci untuk mencuci pakaian mereka berdua.


Aroma nasi goreng tercium, Celia bangun dari tidurnya dan meja makan sudah tersedia dua piring nasi goreng beserta teh hangat.


"Mandi dulu dek, setelah ini kita sarapan sama-sama." Dika tersenyum ramah.


"Iya tau, ini juga mau ke kamar mandi!" Celia menyambar handuk yang tergantung dan masuk ke kamar mandi.


Saat sarapan mereka berdua diam, Celia dengan cepat menghabiskan makanannya dan bersiap-siap menuju ke kantor.


"Malam ini nggak usah tunggu aku lagi sepulang kerja! Biar aku bawa motor sendiri saja."


"Tapi nggak baik dek, kamu perempuan malam-malam pulang sendiri. Biar Abang tunggu saja, biar semalaman pun akan Abang tunggu. Lagipula kita kan sekantor, enggak enak dilihat karyawan lain kalau pulang pergi sendiri-sendiri."


Celia melangkah keluar rumah dengan menghentakkan kakinya diikuti Dika yang dengan sigap mengunci pintu rumah. Celia dan Dika bekerja di salah satu instansi pemerintah sebagai ASN, mereka berdua berada dalam satu kantor namun berada pada ruangan yang berbeda. Dika di lantai dua sementara Celia berada di lantai tiga


Sepanjang jalan Celia hanya diam, pikirannya kembali menerawang mengingat kejadian perjodohan sebelumnya. Sang pacar yang diharapkan segera melamar dirinya tiba-tiba mundur hanya karena mahar dan seserahan yang diminta dianggap terlalu besar. Padahal hanya orang tuanya hanya meminta sepuluh juta, tapi kemudian Celia disalahkan dan dianggap perempuan matre.


Kejadian yang sangat memalukan sekaligus memukul wajah orang tua Celia. Saat itu Dika tanpa diduga datang ke rumah dengan niat mengantarkan berkas laporan yang tertinggal di kantor.


"Siapa dia? Selingkuhanmu ya?!" Tuduh Yanto kepada Celia.


"Maaf Bu Celia, saya disuruh Pak Faisal mengantarkan berkas ini dan berpesan agar Ibu Celia memeriksa lagi." Dika menyerahkan laporan tersebut tanpa menghiraukan keberadaan Yanto.

__ADS_1


"Terima kasih ya." Jawab Celia sambil menerima berkas laporan.


"Heh jawab! Kalian berselingkuh ya?!" Tuding Yanto


Ayah yang tak tahan lagi kemudian berdiri dan mencengkeram kaos milik Yanto, "Gaji belasan juta diminta sepuluh juta saja malah memfitnah anakku!"


Yanto terkejut begitupun Celia dan Dika yang berada di hadapan saat itu. Celia merasa malu karena kejadian itu dilihat oleh Dika. Dika yang merasa tak enak dan berada di waktu yang salah, pamit untuk pulang.


"Pak Dika tunggu." Celia menghampiri Dika di luar rumah.


"Saya minta maaf, tolong jangan ceritakan ke teman-teman seluruh kantor."


"Tidak apa-apa Bu, lagipula ini kan urusan keluarga Ibu bukan urusan kantor. Saya tidak akan ikut campur urusan keluarga orang lain."


"Janji ya Pak."


"Saya berjanji Bu." Dika tersenyum dan melajukan motornya tak menghiraukan keributan di rumah orang tua Celia.


"Heh kamu perempuan matre, diam-diam rupanya berselingkuh! Untung saja aku tak jadi melamarmu! Cuihhh!" Yanto keluar dari rumah sambil meludah ke lantai.


"Kamu yang apa-apaan Mas, orang tuaku hanya meminta sepuluh juta untuk biaya pesta pernikahan sisanya orang tuaku yang akan menambah kekurangan biayanya. Bukankah kamu yang ingin pesta pernikahan kita meriah!"


"Dek, kita sudah sampai." Dika tersenyum dan menoleh Celia yang masih duduk di motor.


Celia tersentak dari lamunannya dan bergegas melepaskan helm lalu menaruhnya di stang motor.


"Cieee pengantin baru nih, mesra banget tiap hari boncengan melulu." Siska yang kebetulan berada di parkiran tersenyum jahil terhadap mereka berdua.


"Mari Bu Siska, kami duluan naik." Dika tersenyum ramah sementara Celia langsung menaiki tangga meninggalkan Dika.


'Arghh, kesel banget. Kenapa sih Ayah malah menjodohkan aku dengan Dika!' Celia berbicara dalam hati sambil sibuk menyalakan komputer dan mengeluarkan berkas dari laci mejanya.


Ting!


Sebuah nomor tak dikenal masuk ke ponsel milik Celia. Celia membuka pesan tersebut dan membacanya.


"Maafkan aku ya sayang, kita balikan lagi. Kamu pasti tidak bahagia kan dengan pernikahan mu."

__ADS_1


Celia memilih mengabaikan pesan tersebut karena berpikir pasti salah sambung. Pekerjaannya sangat banyak sehingga pikirannya memilih untuk mensenyapkan nada dering daripada tak fokus pada pesan tersebut ditambah beberapa kali panggilan tak terjawab.


Jam istirahat Celia tetap meneruskan pekerjaannya, sementara pegawai lain berada di dalam kantin. Sebuah nasi bungkus tiba-tiba berada di meja saat Celia sibuk memainkan jarinya di keyboard komputer.


"Makan dulu dek, nanti sakit. Ini Abang bawakan nasi campur dari kantin."


"Iya Bang, nanti ku makan. Ini masih tanggung kerjanya sebentar lagi selesai."


"Sini biar Abang bantuin, Adek makan saja dulu."


Celia ingin marah-marah namun tak jadi dilakukannya karena beberapa pegawai mulai berdatangan setelah dari kantin.


"Beruntung banget Ibu Celia punya suami kayak Pak Dika. Suami saya di rumah mana pernah bantu pekerjaan saya." Tiba-tiba Ibu Felicia muncul di ruangan.


Celia hanya tersenyum terpaksa dan segera menghabiskan makanannya agar Dika secepatnya pergi dari ruangan.


*****


"Dek, masih lama kerjanya?" Dika datang menghampiri di ruang kerja Celia saat hari beranjak malam.


"Masih." Celia menjawab singkat.


"Sini biar Abang bantuin."


Celia yang sudah merasa kelelahan akhirnya menurut saja. Di ruangan ini hanya ada mereka berdua. Sebuah getaran ponsel milik Celia terdengar dari dalam tas miliknya.


"Dek ini ada telepon." Dika menoleh ke belakang dan melihat Celia tertidur kelelahan.


Tak tega untuk membangunkan Celia, Dika meraih ponsel tersebut dan mengangkat panggilannya.


"Halo sayang, kita bertemu di kafe besok dekat kantormu jam makan siang."


Suara pria terdengar membuat napas Dika tercekat.


"Halo sayang, kenapa diam saja?"


Dika menutup panggilannya dan mengusap wajahnya.

__ADS_1


"Aku tahu dirimu tak pernah mencintaiku, tapi tak bisakah kamu melihat usahaku untuk membuatmu bisa mencintaiku."


__ADS_2