
"Aku harus menemui mas Arka, ibu, dan juga anak-anak, aku harus minta maaf sama mereka, dan memberi tahukan mereka kalau aku sudah keluar dari pekerjaan ku ini."
Cahaya bangkit dengan semangat, ia merasa bahwa apa yang ia pikirkan itu adalah keputusan yang benar. Namun saat beberapa langkah meninggalkan tempat duduknya, tiba-tiba Cahaya terhenti. Saat itu pikirannya berkata lain dengan hatinya yang terlihat sangat semangat sebelumnya.
"Tapi, apa mungkin ibu dan mas Arka mau memaafkan aku, apa mungkin mereka mau menerima aku, aku sudah melakukan perbuatan yang menjijikkan, apa mungkin mereka mau menerima aku kembali."
Ungkap Cahaya yang mendorong dirinya untuk berhenti di tempat, dan ia mulai berpikir kembali hendak ke mana ia pergi, ia mengurungkan niat untuk menemui keluarga mantan suaminya, karena ia tidak siap jika kehadirannya tidak diterima lagi seperti halnya Ratih.
Cahaya pun akhirnya memutuskan untuk pergi mencari tempat tinggal lain, dengan bekal sisa uang yang ia miliki, Cahaya pun mendapatkan kontrakan yang sangat sederhana. Tidak memiliki fasilitas apapun kecuali tempat tidur dengan alas tikar yang tersedia di sana.
"Ya ampun, aku harus tidur di lantai dengan karpet kecil ini, dan dengan satu bantal ini?" Cahaya menatap ke arab karpet yang terbentang itu, lalu mengalihkan tatapan nya pada ibu kontrakan yang yang di sampingnya.
"Ya, hanya ini fasilitas yang kami miliki dengan nilai pembayaran sangat murah, seperti kamu berikan padaku, tapi kalau kamu tidak menyukai nya, kamu bisa mencari kontrakan lain yang memiliki fasilitas yang bagus, dan tentunya pembayaran nya pun lebih besar dari ini," seru ibu kontrakan itu dengan senyum kecut.
"Baik lah Bu, saya akan tinggal di sini untuk beberapa hari, dan saya harap kalau saya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, agar saya bisa pindak ke kontrakan yang tentunya lebih baik juga." jawab Cahaya penuh harap.
Ibu kontrakan itu hanya tersenyum, ia tidak berkata apa-apa lagi setelah itu. Ia memutuskan untuk pergi dan membiarkan Cahaya masuk ke kontrakan yang sempit dan panas itu.
Cahaya nampak tidak ikhlas menginjakkan kakinya ke lantai itu, namun dengan sangat terpaksa Cahaya harus tinggal di tempat itu karena keputusannya sendiri.
Malam hari telah tiba, Cahaya merasa sangat lapar saat itu. Di dalam rumah yang sepi dan panas, membuat Cahaya merasa tidak betah, ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah itu dan mencari udara segar.
"Aku rasa, tinggal di luar rumah jauh lebih nyaman daripada tidur di kontrakan kecil itu, huuffs malang sekali nasib ku," keluh Cahaya sambil terus berjalan dengan melipat kedua tangannya.
__ADS_1
Di malam yang dingin itu, Cahaya mulai berada cukup jauh dari kontrakan, ia keluar dari komplek untuk mencari makanan. Saat itu Cahaya melihat ada gerobak nasi goreng yang sedang berkeliling mencari pelanggan, Cahaya pun berpikir bahwa malam-malam seperti ini tentunya sangat enak jika menyantap nasi goreng, ia pun memanggil si abang itu dan membuatnya berhenti.
"Bang, nasi goreng satu ya, yang pedes, makan di sini," ucap Cahaya penuh senyum.
"Baik Neng, saya siapkan dulu." jawabnya tersenyum, karena akhirnya nasi gorengnya ada yang membeli.
Saat itu Cahaya dengan santai duduk di sana, ia menunggu sampai nasi goreng buatan nya itu siap disajikan, beberapa saat kemudian ada dua orang pemuda yang menghampiri tempat itu, mereka pun duduk di sana dan memesan nasi goreng.
Cahaya masih terlihat santai, tak menanggapi para pengunjung yang mulai ramai mendatangi tempat itu, karena Cahaya sendiri memilih untuk sibuk dengan ponselnya.
Saat itu, dua laki-laki yang ada di sebrang tempat duduk Cahaya sedang memperhatikan dirinya, mereka menatap Cahaya lain, dan berisik sesuatu yang tidak di sadari oleh Cahaya.
"Cewek ini tinggal di mana ya, kok kayaknya asing banget?" tanya salah satu dari mereka.
Mereka terus membicarakan Cahaya, hingga suara bisikan itu membuat Cahaya sadar, apalagi saat Cahaya mengetahui bahwa meraka saat itu sedang memperhatikan dirinya, membuat duduk Cahaya semakin tidak nyaman.
"Pak, nasi goreng saya sudah hampir jadi belum, ya?" tanya Cahaya mengalihkan pandangannya.
"Hampir selesai Neng, tunggu sebentar lagi ya." jawabnya yang sedang mengaduk-aduk penggorengan.
Cahaya mengangguk pelan dan melemparkan senyum, saat itu Cahaya merupakan pakaiannya. Rok mini yang ia kenakan itu sepertinya membuat Cahaya sadar bahwa hal itulah yang membuat mereka memperhatikan dirinya, beberapa waktu lalu, Cahaya sangat senang ketika ada laki-laki yang memperhatikan dirinya, namun kali ini entah mengapa Cahaya merasa risih dan tidak nyaman ketika ada laki-laki yang memperhatikan dirinya.
Saat itu makanan yang dipesan oleh Cahaya sudah ada di meja makan, ia tersenyum dan mulai menikmati makanannya, ia memutuskan untuk acuh pada dua pria yang sedang memperhatikan dirinya itu.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian nasi goreng milik dua pria itu pun diantar ke mejanya, mereka juga menikmati makanan itu sambil terus memperhatikan Cahaya dari sebrang meja.
'Mereka membuat mood makan ku hancur, pandangan mereka membuat aku sangat muak.' batin Cahaya yang begitu sangat terganggu.
Cahaya pun tak menghabiskan makanannya, saat itu Cahaya bangkit dan membayar makanan nya, lalu setelah itu Cahaya memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu. Dan dua pria itu ikut bangkit untuk mengikuti Cahaya.
Jalanan yang sepi dan tidak ada orang yang berlalu lalang itu membuat Cahaya sangat takut. Ia mempercepat langkah nya dan mematikan layar ponselnya terlebih dahulu.
"Ayo cepat, kita jangan kehilangan jejaknya," ucap salah satu dari pria itu.
"Iya ya, dia tidak akan lari ke mana-mana," bisik nya dan terus melangkah.
Di malam yang hening itu, Cahaya menyadari bahwa ada langkah kaki yang mengikuti dirinya, saat itu Cahaya tidak berani menoleh ke belakang. Namun ia memutuskan untuk mempercepat langkah kakinya, dan sedikit berlari.
Kedua pria yang penasaran dengan Cahaya itu ikut berlari mengejar Cahaya hingga akhirnya Cahaya merasa lelah dan ia tersasar. Kontrakannya tidak ada di sana, langkah kakinya justru mengantarkan dirinya ke tempat yang sangat jauh.
Cahaya terjatuh dan ia tersungkur, rok mini yang ia kenakan tersibak hingga membuat kedua pria yang mengikutinya itu semakin tergoda. Mereka berdua terhenti ketika Cahaya berada di tanah, Cahaya ingin segera bangkit dari sana, tapi kakinya terkilir dan terasa sangat sakit.
"Siapa kalian, kenapa kalian mengikuti aku?" tanya Cahaya dengan nada tingginya.
"Kenapa kamu berlari cantik, kami berdua merasa bingung ketika kamu berlari seperti ini, mari aku bantu." tawar salah satu dari pria itu yang ingin meraih tangan Cahaya.
Saat itu dengan keras Cahaya menolak menjabat tangan siapapun dari dua pria yang ada di hadapannya itu, dan ketika mereka ditolak oleh Cahaya, membuat mereka semakin tertarik pada Cahaya. Cahaya terus berusaha untuk bangkit namun beberapa kali ia gagal, tawa dari kedua pria itu membuat Cahaya merasa sangat jengkel, namun untuk menerima bantuan dari mereka pun tidak mungkin dilakukan oleh Cahaya.
__ADS_1