
POV Celia
"Apa Ayah tidak salah?" Celia membanting sendok berisi makanan yang akan disuapkan ke dalam mulut.
"Pilihan Ayah takkan salah, Dika laki-laki yang baik, punya pekerjaan tetap, dan saleh."
"Tidak! Aku tidak setuju! Apa kata orang nanti apalagi kami sekantor!"
Aku pergi ke dalam kamar dan menangisi diri, acara lamaran dan tanggal pernikahan telah ditentukan. Pria yang kuharap akan menjadi pendampingku ternyata tak muncul di hari pernikahanku padahal aku sudah mengirimkan surat undangan tersebut.
Semua ini karena Ayah, Ayah meminta mahar sepuluh juta kepada Yanto. Awalnya ku pikir Yanto akan menyanggupi dan memenuhi kemauan Ayah tapi ternyata Yanto menolak mentah-mentah. Bahkan julukan perempuan matre kini disematkan kepadaku.
Aku malu, Ayah. Anakmu ini sekarang dianggap perempuan materialistis padahal daripada membuang-buang uang bukankah lebih baik uang itu untuk membangun rumah saja atau usaha saja sebagai sampingan pekerjaan meskipun aku berstatus PNS.
Di hari pernikahan, aku tak bisa tersenyum manis. Hatiku sakit, Dika memberikan mahar berupa rumah untukku. Rupanya sudah lama Dika membeli rumah tersebut dan mengangsurnya dengan memotong sebagian gajinya di bank.
Rumah ini dibuatkan sertifikat atas namaku, ditambah seperangkat perhiasan. Seharusnya Dika cukup berikan saja mahar seperangkat alat sholat dan Al-Quran, daripada buang-buang uang seperti itu.
Makin hari aku semakin kesal dan emosi berada satu rumah dengan Dika. Ditambah lagi janda kembang bernama Siska yang satu ruangan dengan Dika, selalu berusaha mencari perhatian terhadap Dika.
Kadang di hari libur selalu menelpon Dika dengan alasan pekerjaan atau meminta bantuan saat lembur, alasan printer yang rusak. Sampai kemudian Dika membeli tas seharga dua juta kepada Siska, padahal yang ku tahu harga tas itu hanya beberapa ratus ribu saja.
Seandainya kaki ku tidak terbalut gips dan perban sudah aku lempar tas itu wajahnya. Dika terlalu baik terhadap semua orang. Setelah tiga bulan akhirnya balutan gips di kakiku dibuka juga oleh dokter, dan sekarang aku mulai bisa berjalan kembali.
Malam ini Dika memasak makanan untukku, berupa telur dadar. Bau harum tercium hingga ke kamar, aku yang tadinya tak berselera untuk makan akhirnya keluar kamar juga dan mendapati dua porsi piring makanan di atas meja.
"Makan dulu dek, maaf cuma ini yang bisa Abang masak untukmu." Dika seperti biasanya selalu tersenyum untuk mengambil perhatian ku.
Aku menyendokkan nasi dan seiris telur dadar namun kemudian memuntahkannya kembali. Astaga rasanya asin banget, entah berapa sendok makan yang Dika masukkan ke dalam adonan telur.
"Apaan ini Abang? Abang mau membunuhku?"
__ADS_1
Dika terkejut melihat reaksiku.
"Kenapa Dek?"
"Makan sendiri ini, rasanya asin banget! Mau bikin aku tekanan darah tinggi ya!"
Aku menggeser piring makanku dengan kasar ke arah Dika. Dika kemudian mencicipi telur dadar buatannya sendiri dan kemudian ikut memuntahkannya.
"Ma-maaf dek, Abang tidak sengaja. Sepertinya Abang memasukkan garamnya dua kali."
Baru saja aku ingin kembali memarahinya, pintu rumahku diketuk.
"Siapa lagi ini malam-malam begini bertamu ke rumah."
"Biar Abang yang liat keluar ya Dek."
Aku melengos dan membiarkan Dika pergi ke depan pintu. Ketika pintu terbuka Dika terdengar sangat senang, entah siapa yang datang. Aku berpikir apa mungkin itu selingkuhan Dika, jika ya maka aku akan segera melaporkan kepada Ayah kelakuan menantu kesayangannya itu. Perlahan aku berjalan ke depan pintu dan terkejut melihat sosok di hadapanku.
Rupanya Ibu kandungnya Dika yang datang kemari, padahal bukankah Ibu tinggal bersama adiknya Dika yaitu Ratna.
"Maaf ya nak, Ibu mendadak datang tanpa kabar."
Dika langsung mengajak Ibu masuk ke kamar tamu, tanpa persetujuan ku terlebih dahulu. Aku lihat Ibu datang sendiri tanpa ada siapapun yang mengantar, barang yang dibawanya juga tak banyak hanya berupa tas kusam berisi pakaiannya saja.
Aku mendengar dari luar kamar, Ibu menangis dan berbicara dengan Dika. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tak peduli. Dari awal aku sudah meminta Dika untuk tinggal terpisah dengan orang tua, termasuk orang tuaku. Semoga Dika tak lupa dengan janjinya itu.
Jam sepuluh malam, Dika masuk ke kamar. Aku berbaring memunggungi Dika, karena bagaimanapun juga Dika berhutang penjelasan denganku.
"Dek, kamu sudah tidur?" Dika membelai rambutku, sementara aku tetap cuek memunggunginya.
"Untuk sementara boleh Ibu tinggal di sini ya Dek?"
__ADS_1
"Siapa yang mengizinkan Ibu masuk ke kamar tamu? Apa pendapatku masih dihargai di sini?"
"Iya Abang salah, maafkan Abang. Ini sudah malam, dan Ibu diusir oleh Ratna juga suaminya."
"Tiga hari kuberikan, setelah itu Ibu harus angkat kaki dari rumahku."
"Tidak bisakah dek, kamu menghormati orang tuaku?"
"Apa aku pernah memasukkan keluargaku tanpa izin darimu dan tinggal di sini?" Aku membalas pertanyaannya dengan pertanyaan agar Dika berpikir.
"Abang tak pernah melarang jika keluargamu ingin menginap di rumah ini. Selama ini kamu kan yang tak ingin keluargamu dan keluarga ku tinggal di sini."
"Aku tak mau tahu, pokoknya setelah tiga hari Ibu harus angkat kaki dari rumah ini."
*****
Pagi hari seperti biasanya aku bersiap-siap akan berangkat bekerja. Di meja makan sudah ada ayam goreng, sayur bening dan teh hangat tersedia. Aku hanya melirik sebentar dan kemudian berlalu keluar rumah menaiki sepeda motor untuk ke kantor.
Saat itu Dika dan Ibu tak menyadari jika aku sudah pergi ke kantor karena mereka masih sibuk berada di dapur. Di tengah jalan aku memilih singgah membeli nasi kuning untuk di bawa ke kantor. Aku enggan memakan masakan Ibu hari ini, sengaja kulakukan itu agar Dika secepatnya mengusir Ibu dari rumah.
Sampai di kantor bergegas aku mengisi absen dan menaiki tangga, namun sebuah tangan mencekalku sebelum aku menapakkan kaki ke atas tangga.
"Dek, kenapa kamu langsung pergi tanpa pamit?"
Oh , Dika rupanya yang mencekal tanganku. Aku berusaha melepaskan tanganku, untung saja pagi ini masih sepi sehingga tak ada yang akan melihat pertengkaran kami.
"Suka-suka akulah Bang, sama halnya seperti Abang yang sesuka hati membiarkan Ibu menguasai rumahku saat ini."
"Kamu boleh sakiti aku tapi jangan pernah kamu sakiti Ibuku!" Dika melepaskannya tanganku dengan hentakan dan lebih dulu menaiki tangga.
Apa-apaan ini, berani sekali dia kini mulai melawan ku. Aku harus membuat perhitungan dengan Dika, jika Ibu tak keluar dari rumah dalam tiga hari maka aku yang akan keluar dari rumah tersebut. Aku akan mengajukan permohonan tugas kerja di lapangan meski tempatnya berada di daerah pelosok sekalipun, itu lebih baik daripada serumah dengan Ibu.
__ADS_1