
Cahaya terpaku di hadapan Arka, beberapa kali ia mengucapkan kata maaf pada Arka saat itu, dan Arka pun menyadari bahwa Cahaya sudah berubah.
"Cahaya, jangan seperti ini, jangan merasakan bahwa kau adalah pendosa besar, jangan menghakimi dirimu sendiri seperti ini. Semua memiliki dosa sendiri-sendiri, jika diperuntukan aku lah yang bersalah, sebagai suami aku tidak bisa membimbing dirimu, aku gagal menjadi suami yang mendidik mu," ucap Arka yang saat itu ikut merasa bersalah.
"Nggak Mas, ini murni kesalahanku, karena aku yang memilih pergi darimu, ini bukan salah mu," seru Cahaya tidak mau jika Arka merendahkan dirinya.
"Kalau begitu, kita sama-sama belajar untuk merubah jalan kita, kau berubah untuk dirimu dan aku pun begitu, sesal dan air matamu akan mengiring mu ke jalan yang lebih baik." jelas Arka memberikan semangat.
Cahaya melempar senyum, ia mengangguk pelan saat itu dan merasa sangat senang karena Arka masih bersedia menasehati dirinya dan mau memaafkannya.
Saat sedang fokus menenangkan dan memberikan nasehat untuk Cahaya, di tempat lain Wulandari sedang menunggu, sudah beberapa lama mereka berdiri di parkiran mobil, menunggu kedatangan Cahaya dan Arka.
"Riri, apa di dalam semua baik-baik saja?" tanya Wulandari penasaran saat itu.
"Tentu saja baik Nek, saat aku meninggalkan mereka, mereka sedang membicarakan sesuatu, hanya itu." jawab Riri menjelaskan.
Tak lama kemudian Arka dan Cahaya pun keluar dari sana, dan hal itu membuat Wulandari merasa sangat lega.
"Maaf, sudah membuat lama menunggu," ucap Arka menghadap ke arah Wulandari.
"Tidak masalah Nak, semua baik-baik saja kan?" tanya Wulandari memastikan.
"Ya Bu, semua baik, kalau begitu kita langsung jalan ya." jawab Arka melempar senyum dan membuka pintu samping untuk Cahaya.
Saat itu Cahaya lah yang menduduki bangku yang ada di samping Arka, sementara Wulandari dan lainnya duduk di bagian tengah dan belakang.
Saat itu Cahaya di bawa ke rumah Arka, di sana ia dirawat sampai benar-benar dalam keadaan baik dan sehat. Tibanya di sana Wulandari menyambut Cahaya masih sama seperti menantunya yang dahulu, dan ia tidak mengasingkan Cahaya meskipun hubungan putranya dan dirinya sudah bukan lagi suami istri.
__ADS_1
Suatu hari Cahaya keluar dari kamar, di saat Arka dan anak-anak sedang bercanda bersama, saat itu Cahaya ikut bergabung dan duduk di samping Wulandari.
"Apa kau lapar?" tanya Wulandari pada Cahaya.
"Tidak Ibu, aku hanya ingin melihat senyum keluarga ini, entah kenapa terasa sangat damai dan tenang sekali kalian, padahal mas Arka sendiri sudah kehilangan tabungan dan tanah yang baru saja ia beli untuk biaya pengobatan ku, tapi kalian masih bis tertawa dan bahagia seperti tidak ada beban," ucap Cahaya yang merasa bersalah.
"Kalau dipikirkan memang itu semua menjadi beban, Cahaya. Tapi kalau semua itu kita lepaskan, maka itu tidak akan menyiksa kita. Dalam kehidupan ini pasti ada pasang surutnya, apalagi saat ini tidak ada waktu untuk memilih antara dirimu dan harta yang baru saja terkumpul. Semua penting Cahaya." jelas Wulandari melempar senyum.
Cahaya terpaku mendengar jawaban Ibu mertuanya, kebaikan dari keluarga itu membuat Cahaya merasa sangat malu, karena apa yang mereka tanam sama sekali tidak berbuah keberhasilan, Arka memiliki istri seperti Cahaya, yang tidak menghargai setetes pun keringatnya selama menikah.
Cahaya bangkit dan pergi dari tempat itu, ia tiba di halaman depan rumah sederhana, dan ia menangis tersedu di sana. Arka yang menyadari pun mencoba untuk menyusul Cahaya dan bicara padanya.
"Cahaya, apa ada kata-kata yang membuat dirimu tersinggung?" tanya Arka menatap serius.
Cahaya menyeka air matanya, dan membalas tatapan Arka yang mengarah padanya, saat itu kedua tangan Cahaya reflek meraih kedua tangan Arka, Arka yang menyadari itupun merasa bingung lantaran Cahaya melakukan hal itu.
"Mas, aku mau pergi saja dari sini, aku tidak pantas mendapat kan kebaikan dari kamu, Ibu, dan juga anak-anak, aku sudah menanamkan keburukan pada kalian," ucap Cahaya tersedu.
"Kalau kau tidak tinggal di sini, bersama keluarga mu, lalu kau mau tinggal di mana?" tanya Arka.
"Aku tidak tahu. Mas, apa kamu masih mencintai aku? Apa masih ada kesempatan aku untuk bisa menjadi istri yang baik untuk kamu?"
Spontan Cahaya bertanya demikian, ingin tahu apakah masih ada cinta di hati Arka untuknya, dan saat itu Arka terdiam tak menanggapi ucapan Cahaya.
"Mas," lirih Cahaya memanggil Arka.
"I-iya," sahut Arka tersadar dari lamunannya, "emmm, Cahaya.. Kenapa kamu memberikan pertanyaan itu padaku," ucap Arka bingung.
__ADS_1
"Aku ingin tahu Mas, aku ingin tahu jawaban dari kamu," seru Cahaya berharap, hal itulah yang akan memperkuat dirinya untuk tetap tinggal, namun jika jawaban Arka tidak sesuai dengan yang ia harapkan tentu saja Cahaya akan pergi.
Arka terdiam cukup lama, perpisahan yang ia putuskan itu tidak bisa diubah lagi, kebaikan Arka menampung Cahaya dan memberikannya fasilitas bukan karena ia masih mencintai Cahaya, namun karena Cahaya adalah Ibu dari anak-anaknya.
"Maaf Cahaya, sejak aku memutuskan untuk menceraikan kamu, di saat itu lah aku memutuskan untuk berhenti mencintai kamu, aku tahu bahwa ini membutuhkan waktu sangat lama untuk melupakan kamu, tapi saat aku tahu kamu mengkhianati aku, di saat itulah aku tidak bisa menerima kenyataan," lirih Arka mengutarakan isi hatinya.
"Ya, ya Mas, aku paham maksud kamu, di sini memang aku lah yang bersalah, wajar saja jika kamu marah dan membenci aku," ucap Cahaya menyeka air matanya.
"Sampai saat ini aku tidak punya rasa membenci kamu Cahaya, aku hanya berhenti mencintai kamu. Cahaya, kalau kita tidak bisa bersama sebagai suami istri lagi, bukan berarti kita tidak bisa berteman, kan?" tegas Arka meminta hal lain pada Cahaya.
Cahaya hanya memberikan respon diam dan menganggukkan kepala pada Arka, setelah itu Cahaya memutuskan untuk masuk kembali ke kamar.
Saat malam tiba, Cahaya mengumpulkan semua keluarga, karena kondisi tubuhnya sudah membaik dan sehat. Ia memutuskan untuk pergi dari rumah besok pagi.
"Ibu, mas Arka, anak-anak, keadaanku sudah cukup membaik dari sebelumnya, terima kasih karena beberapa hari aku sudah diizinkan tinggal di sini dan mendapatkan fasilitas, untuk itu, aku ingin berpamitan, aku ingin memperbaiki diri ini yang penuh dengan salah dan dosa," ucap Cahaya melempar senyum, ia sudah yakin dengan keputusannya.
"Memangnya kamu mau ke mana, Cahaya?" tanya Wulandari cemas.
"Aku ingin menjadi santri di salah satu pondok yang ada di kota, aku ingin memperbaiki diri di sana, dan aku ingin menebus semua dosaku di sana, Ibu." jawab Cahaya dengan mantap.
Cahaya memiliki pikiran tersebut setelah menonton acara dakwah di TV, dan ia ingin sekali menjadi salah satu santri di sebuah pondok pesantren. Dan hal itu membuat Arka sangat senang mendengarnya, tentu saja mereka setuju dengan keputusan Cahaya.
"Kalau kau ingin pergi ke sana menjadi salah satu santri, maka besok pagi kami semua akan mengantarkan mu Cahaya, raihlah ridho Allah dan tebus lah dengan taubat nasuha, semoga Allah senantiasa bersamamu. Ingat, Allah tidak akan merubah nasib seorang hamba, kecuali hamba itu sendiri yang mau mengubahnya." jelas Arka sangat setuju.
Cahaya melempar senyum, kali ini ia bisa bernafas lega, lantaran keluarga yang pernah ia sia-siakan itu lah yang membuat dirinya tersadar. Senyum Wulandari, Tasya, Aldo, Riri, dan juga Arka menjadi penguat alsan dirinya berubah menjadi lebih baik.
Cahaya percaya dan yakin, bahwa kebahagiaan yang hakiki nya adalah saat ia mampu menggenggam hidayah yang sampai padanya, Cahaya ikut tersenyum ketika wajah sumringah keluarganya itu mendukung keputusannya.
__ADS_1
Terima kasih banyak, semoga dapat menginspirasi kehidupan kita yang tentunya tidak lepas dari ujian dan cobaan, semoga Allah selalu bersama kita semua..