ISTRI DURHAKA

ISTRI DURHAKA
31


__ADS_3

Pria itu melempar senyum setelah Alex memberikan bayaran yang cukup besar untuk nya, lalu ia pun dengan cepat menyetujui permintaan Alex untuk menjebak Cahaya. Perlahan ia pergi melangkahkan kaki menuju kediaman Cahaya, lalu ia memberikan beberapa ketukan untuk membuat Cahaya sadar bahwa ada tamu di depan rumahnya.


Sementara Cahaya yang baru saja selesai mengganti pakaian karena kotor, ia nampak kesulitan berdiri untuk membukakan pintu, sebenarnya ia merasa kesal lantaran malam-malam begini masih ada orang yang mengetuk pintu kamarnya, dan hal itu membuat Cahaya harus membuka pintu.


Ceklek! Saat itu Cahaya nampak bingung ketika ada seorang laki-laki sedang berdiri di hadapannya, laki-laki itu menampakkan wajah sedih nya pada Cahaya, hingga membuat Cahaya merasa ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Maaf, ada apa kau mengetuk pintu kontrakan ku dengan memasang wajah seperti itu?" tanya Cahaya.


"Aku merasa sangat senang sebelumnya, karena masih ada seseorang yang bersedia membukakan pintu rumahnya untuk ku, aku orang kampung, aku baru saja kecopetan dan aku bingung harus tinggal di mana, karena aku kehilangan barang-barang ku di sekitar sini, makanya aku mencoba untuk meminta bantuan, tapi sayangnya sama sekali tidak ada yang mau membukakan pintu," ucap laki-laki itu berbohong.


"Astaga, lalu apa yang harus aku lakukan untukmu?" Cahaya nampak bingung, lantaran ia tidak tahu harus menanggapi seperti apa.


"Aku tidak berharap banyak, setidaknya berikan aku sedikit minum, karena aku sangat haus." jawab laki-laki itu terlihat sangat sempurna.


Cahaya pun merasa kasihan, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa malam itu benar-benar tidak ada orang lain selain dirinya dengan laki-laki tersebut.


Setelah memastikan bahwa tidak ada orang lain yang melihat kebersamaan antara Cahaya dengan pria itu, Cahaya pun setuju jika ia harus membawanya masuk. Saat itu Cahaya hanya memiliki satu gelas air mineral, dan ia harus memberikannya pada pria yang sedang membutuhkan bantuan itu.


Saat itu Cahaya meminta pria itu untuk duduk di ruang tamu yang sangat sempit, dan setelah ia pergi ke dapur untuk mengambil minum, Cahaya pun duduk berhadapan dengannya.


"Minum lah, itu yang kau butuhkan saat ini," ucap Cahaya pada pria itu.


"Terima kasih banyak, aku sungguh benar-benar merasa terbantu," seru pria itu mengulas senyum.


"Tidak masalah, semoga semua kesulitan mu dapat dengan mudah berakhir." jawab Cahaya memberikan semangat.

__ADS_1


Pria itu melempar senyum, saat itu Cahaya sedang mengurut kakinya yang terkilir, ia merasa sedikit sakit kala itu, dan pria itu terpikir sesuatu untuk melanjutkan jebakan yang diperintahkan oleh Alex.


"Kakimu kenapa?" tanyanya.


"Aku jatuh, dan sepertinya kakiku terkilir," ucap Cahaya.


"Aku bisa membantumu, kebetulan aku bisa memijit," tawar pria itu melempar senyum.


"Benarkah? Ah, tapi tidak usah, aku tidak ingin merepotkan dirimu." jawab Cahaya menolak.


Namun pria itu tidak membiarkan Cahaya menolak, ia bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Cahaya, ia mengajak Cahaya duduk di lantai agar niatnya semakin mudah, saat itu Cahaya tidak bisa menolak lagi lantaran memang kakinya terasa sangat sakit.


Saat pria itu menyentuh dan mengurut kaki Cahaya, Cahaya nampak kesakitan, namun pria itu meminta Cahaya untuk tenang. Bahkan pria itu meminta Cahaya untuk merebahkan tubuhnya dengan alasan agar lebih mudah untuk melakukan pemijatan. Dan dengan bodohnya Cahaya menuruti keinginan pria itu.


"Apa-apaan ini, lepaskan aku!" marah Cahaya ketika pria itu berhasil menindih nya.


"Aku sedang memijit mu tadi, tapi aku berubah pikiran saat menyadari bahwa dirimu sangat seksi, cantik," ucap pria itu dengan senyum penuh menggoda.


"Pria nakal! Lepaskan aku, jangan coba-coba melakukan sesuatu padaku, atau aku akan berteriak!" ancam Cahaya marah.


"Lakukan saja sayang, aku tidak takut. Lagi pula kenapa kau harus berteriak ketika ada kenikmatan di depan matamu, ayolah kita lakukan ini." ajak pria itu yang langsung memberikan perangsangan pada Cahaya.


Cahaya menolak dan ia menggeliat, ia berusaha untuk keluar dari kungkungan pria yang tidak ia kenal itu, dengan keadaan kakinya yang masih sakit, Cahaya terus menggeliat dan menolak.


Sementara Alex sendiri sudah berhasil membawa beberapa warga dan juga ibu kontrakan yang sudah memberikan tempat tinggal untuk Cahaya.

__ADS_1


"Ayo ibu-ibu, bapak-bapak, cepat!" ajak Alex pada mereka.


"Apa berita yang kamu katakan itu benar anak muda? Salah satu penghuni kontrakan saya sedang ada yang berbuat mesum?" tanya ibu kontrakan itu pada Alex.


"Ya Bu, saya bisa menjamin, kalau Ibu tidak percaya ayo kita ke sana sekarang." jawab Alex dengan penuh keyakinan, dan semangatnya pun menggiring mereka pergi ke rumah kontrakan Cahaya.


Saat itu mereka mendengar suara Cahaya erangan dari Cahaya, Cahaya sudah tidak bisa bergerak lagi saat itu, namun ia tidak mau jika sampai pria itu benar-benar berhasil menyentuh dirinya, saat itu telinga mereka sudah terasa panas ketika mendengar suara tersebut.


Hingga mereka pun yakin dengan ucapan Alex, tak menunggu waktu lama, ibu kontrakan pun meminta para warna untuk mendobrak pintu tersebut, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat ada sepasang pria dan wanita sedang tertidur di lantai, kemeja Cahaya sudah terlepas kancingnya. Sementara pria itu sudah tidak memakai kemeja lagi, namun mereka belum sempat melakukan sesuatu karena Cahaya terus memberontak.


Saat itu dengan cepat pria tersebut meraih kemejanya dan kabur, pria itu kabur melalui pintu belakang dan meninggalkan Cahaya begitu saja. Sementara Cahaya sendiri yang masih merasa sakit di bagian kakinya, ikut bangkit dan merapihkan kemejanya. Ia sudah menyadari dari cara para warga memandang dirinya, ada beberapa dari mereka yang mencoba berlari ke belakang untuk mengejar pria itu.


Sebagian lagi masuk dan menemui Cahaya, ibu kontrakan itu sudah berada di depan Cahaya, ia tidak melepaskan pandangannya pada Cahaya yang sedang ketakutan.


Plak!!


Sebuah tamparan mendarat bebas di pipi Cahaya, ibu kontrakan itu sangat geram melihat tingkah Cahaya yang seperti itu. Ia benar-benar tidak memberikan ampun pada Cahaya yang sebenarnya hanya menjadi korban.


"Dasar wanita murahan, kau izin mengontrak di sini tapi kau mau mengotori tempat ini dengan perbuatan mu itu! Kau tidak layak berada di kontrakan ini, sebaiknya kau pergi dari sini!" usir ibu kontrakan itu dengan tatapan kemarahan.


"Ibu, saya mohon tolong jangan lakukan ini pada saya, saya tidak melakukan apa-apa Ibu, pria itu sudah menjebak saya, saya bisa menjelaskan semuanya," ucap Cahaya berusaha untuk menjelaskan.


"Menjebak apanya, sudah jelas-jelas kami semua melihat kau dan pria itu sedang akan melakukan sesuatu. Kau tidak bisa berbohong karena kami sudah melihat semuanya, dan kalau kau benar, tidak mungkin pria yang tadi bersamamu pergi begitu saja meninggal mu, dia kabur darimu." jelas ibu kontrakan dengan suaranya yang melengking.


Cahaya benar-benar tidak ada kesempatan untuk menjelaskan apapun pada mereka, karena mereka semua sudah sepakat untuk mengusir Cahaya pada saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2