ISTRI DURHAKA

ISTRI DURHAKA
Part 4


__ADS_3

Bentakan, makian dan amarah seringkali dilakukan Celia jika mendapati hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dika selalu hanya tersenyum dan meminta maaf atas kekurangannya.


"Dek, ini Abang belikan tas buatmu karena tas kerjamu Abang lihat sudah sobek bagian belakangnya."


"Berapa ini Bang harganya?" Celia mengernyit melihat tas berwarna hitam di tangannya.


"Dua juta saja dek, katanya ini asli dari kulit buaya."


Celia melemparkan tas tersebut ke lantai dengan marah.


"Dasar bodoh, tas itu dari kulit sintetis! Harganya juga murah dijual online shop."


"Tapi dek, ini Abang beli dari Ibu Siska teman kerja kantor kita. Nggak mungkin dia menipu."


"Pokoknya aku nggak mau tahu besok tas itu sudah harus enyah dari hadapanku! Terserah mau Abang kembalikan atau dibuang saja ke tempat sampah!"


Celia berlalu ke kamar sambil memutar kursi roda miliknya. Dika menunduk menatap tas tersebut. Pikirnya Celia akan senang menerima hadiah darinya karena ini adalah hari ulang tahunnya.


Esok harinya, Dika membawa tas yang dibelinya kembali ke kantor. Rencananya Dika akan mengembalikan tas tersebut kepada Siska.


"Ibu Siska, maaf ini tasnya saya kembalikan."


"Memang kenapa Pak?"


"Istri saya kurang suka modelnya, jadi saya mau mengembalikan. Kalau bisa uangnya dikembalikan setengahnya juga tidak apa-apa."


"Kalau kurang suka modelnya, saya masih ada model tas lainnya. Pak Dika bisa lihat-lihat dulu atau bawa pulang biar nanti istri Pak Dika memilih sendiri."


"Maaf Bu, lebih baik tidak usah saja. Nanti biar istri saya yang membeli sendiri."


"Sepertinya Pak Dika ada masalah dengan istri di rumah." Siska menatap menyelidik netra Dika.


"Ini tasnya Bu, saya minta uang saya saja."


Siska menghela nafas dan akhirnya mengambil dompet di tasnya lalu mengeluarkan lembaran uang.


"Ini Pak, uangnya masih utuh dua juta."


"Maaf ya Bu Siska." Dika merasa tak enak karena akhirnya Siska mengembalikan seluruh uangnya.


*****


"Dek, ini uangnya dua juta. Tasnya sudah Abang kembalikan ke Ibu Siska."

__ADS_1


Celia diam dan melirik sebentar lalu melanjutkan memainkan ponselnya.


"Taruh saja di dompetku! Tahu sendiri kan letaknya di mana biasa aku menyimpan dompet!"


"Iya dek."


Dika melangkah menuju kamar dan membuka lemari pakaian. Di tempat itulah biasanya Celia menaruh dompet tepat di bawah lipatan pakaiannya.


Secarik amplop terjatuh saat Dika mengambil dompet milik Celia. Sebuah amplop dengan motif bergambar bunga. Dika penasaran dengan isi amplop tersebut dan lalu menyimpannya di saku celananya. Dengan cepat kemudian Dika menaruh uang dua juta miliknya ke dompet Celia.


"Abang! Kok lama sih, cepetan. Bikinkan aku teh panas."


"Iya dek, akan Abang buatkan. Tunggu ya."


Dika melangkah ke dapur dan memasak air panas untuk menyeduh teh.


"Ini dek tehnya, mau Abang tiupkan?"


"Enggak usah! Belikan aku gorengan deh ke depan! Aku lagi malas makan nasi di rumah."


"Ya sudah dek, Abang keluar dulu beli gorengan."


"Awas jangan lama-lama!"


"Mas beli gorengannya sepuluh ya." Dika langsung menjulurkan uang kepada tukang gorengan yang segera disambut.


"Eh, Pak Dika. Mau beli gorengan juga?"


"Iya nih pesanan istri saya, katanya lagi pengen makan gorengan."


"Oh, beruntung sekali ya istri Pak Dika punya suami seperti Bapak. Kalau suami saya dulu mana mau saya mintain tolong keluar berbelanja." Ucap Siska mengenang masa lalu.


Siska sudah setahun ini menjanda, mereka bercerai akibat suaminya telah berselingkuh dan membuat selingkuhannya hamil. Siska memilih mundur dan mengikhlaskan suaminya untuk menikahi dan bertanggung jawab atas perbuatannya.


"Mudah-mudahan nanti Bu Siska bisa dapat pengganti yang lebih baik, berdoa saja."


"Sebenarnya pengganti mantan suami saya sudah ada tapi sayangnya dia nggak mencintai saya."


Dika terdiam karena sudah tahu bahwa Siska sedang menyindirnya.


"Ini Bu gorengannya." Tukang gorengan menyerahkan bungkusan kepada Siska dan Siska menyerahkan uang pas.


"Saya duluan Pak." Siska berlalu dan menaiki motor.

__ADS_1


*****


"Pak Dika, saya mencintai Bapak. Tolong jangan menikah dulu, berikan saya kesempatan." Siska meremas undangan pernikahan yang diberikan oleh Dika.


"Maaf Bu Siska, saya hanya menganggap Ibu tak lebih dari rekan kerja. Kita hanya bersahabat, mungkin Ibu salah mengartikan kebaikan saya selama ini." Dika merengkuh pundak Siska dan menenangkannya.


"Kalau Pak Dika tak mencintai saya, kenapa Pak Dika membantu saya waktu itu?"


Dika terdiam sesaat, lalu berucap "Aku membantu semua orang tidak hanya dirimu. Maaf aku harus pergi, dia bidadari ku sedang menungguku saat ini."


Dika melangkah semakin menjauh, sementara Siska berusaha untuk mengejar Dika.


"Pak Dika jangan pergi!"


"Paakkkk....!"


Siska terbangun di atas tempat tidurnya, peluh keringat sudah membasahi dirinya. Rupanya AC di kamarnya tak menyala dikarenakan mati listrik. Perlahan Siska melangkah keluar kamar menuju dapurnya untuk mengambil air minum.


Tenggorokannya terasa kering karena mimpi yang dialaminya barusan. Siska melirik jam di ruang tengah yang menunjukkan waktu pukul empat pagi. Matanya tak dapat tertidur kembali seusai mimpinya barusan.


Pagi hari ini Siska kembali ke kantor, mengisi absen dengan sidik jarinya lalu menuju ruang kerjanya. Dilihatnya meja kerja Dika yang masih kosong karena suasana pagi masih sangat sepi.


Sudah berkali-kali Siska mengoleskan bedak dan cream wajah untuk menutupi mata pandanya namun nampaknya mata panda itu masih terlihat dengan sangat jelas.


"Pagi Bu Siska." Dika yang baru datang langsung menyapanya hingga membuatnya salah tingkah.


"E-eh pagi juga Pak Dika." Siska menjawab dengan terbata-bata.


"Hari ini ada rapat tidak ya? Dengar-dengar ada yang bilang rapat hari ini ditunda."


"Hmm, kurang tahu saya Pak. Saya juga baru saja datang soalnya."


"Kelihatannya Bu Siska kurang sehat ya."


"Tidak Pak, saya baik-baik saja."


Dika tak melanjutkan lagi obrolan dan memilih menghidupkan komputer untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Oh ya Pak Dika bagaimana keadaan istri Bapak, Bu Celia?"


"Sudah makin membaik, mungkin Minggu depan sudah bisa bekerja kembali." Ucap Dika dengan tetap fokus menatap layar komputer.


Siska terdiam, dirinya sebenarnya sangat berharap agar Celia makin lama berada di rumah agar dirinya bisa mendekati Dika.

__ADS_1


__ADS_2