ISTRI DURHAKA

ISTRI DURHAKA
37


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, semua keluarga menunggu di ruangan Cahaya, saat itu dokter memeriksa keadaan Cahaya dan ia menemukan tanda-tanda kehidupan, Cahaya menggerakkan jemarinya dan kedua alisnya, saat itu suster dan dokter saling menatap. Mereka saling menatap senyum saat usaha mereka hampir saja membuat mereka menyerah.


Cahaya membuka kedua matanya di tengah-tengah keluarga yang sudah menanti dirinya, termasuk Riri, ia selalu menanti Cahaya sadar sejak ia masuk ke rumah sakit. Dan saat melihat orang-orang yang sangat ia rindukan itu hadir, Cahaya nampak sangat senang, ada senyum di wajahnya yang terlihat sangat jelas.


Dokter pun tidak menyangka jika pasiennya bisa mengalami koma selama itu, dan ia merasa bahagia karena pasiennya kini sudah sadarkan diri.


"Selamat Ibu Cahaya, kau sadar setelah tertidur beberapa bulan," ucap dokter itu pada Cahaya.


"Tertidur beberapa bulan, maksud nya?" Cahaya nampak bingung menatap dokter, saat itu kepalanya masih terasa sangat sakit.


"Ya, Ibu mengalami kecelakaan dan Ibu koma selama beberapa bulan, untung saja semua keluarga Ibu yakin bahwa Ibu akan sadar dan membuka mata, dan keyakinan mereka terbukti sekarang." jelas dokter tersenyum mengulas senyum.


Arka, Wulandari, Tasya, Aldo, dan juga Riri mendekati Cahaya, dokter dan suster pun menyingkir untuk memberikan ruang pada meraka yang ingin menyambut Cahaya.


Cahaya menangis kala itu, ja tidak menyangka jika ternyata dirinya mengalami hukuman di dunia dengan ketidak sadaran selama beberapa bulan seperti yang dikatakan oleh dokter. Cahaya menangis tersedu hingga keluar suaranya.


"Cahaya, kamu kenapa?" tanya Wulandari mendekati Cahaya dan menanyakan apa yang terjadi.


Cahaya menoleh ke arah Ibu mertuanya itu, dan ia meraih tangan kanan Wulandari lalu menciuminya beberapa kali, ia mengucapkan kalimat maaf beberapa kali pada Wulandari dengan air mata yang tidak berhenti.


Wulandari merasa sangat senang kala itu, ia senang melihat air mata penyesalan dari Cahaya. Dan saat itu Arka pun merasa sangat senang karena Cahaya sudah menyadari kesalahannya.


"Baik lah, kalau begitu kami yang bertugas ini permisi dulu, sekali lagi selamat atas kesembuhan Ibu Cahaya," ucap dokter tersebut yang telah berusaha keras mengobati Cahaya.


"Terima kasih banyak Dok, kami sangat berterima kasih sekali karena Dokter lah yang telah berusaha keras atas kesembuhan Cahaya," seru Arka membalas senyuman dokter Tio.


"Sama-sama, ini juga karena kegigihan Ibu Cahaya yang berjuang melawan rasa sakitnya, dan tidak lupa kalau semua ini karena Tuhan juga." jawab dokter tersenyum.

__ADS_1


Arka tersenyum, dan saat itu dokter dan suster pergi dari ruangan tersebut. Dan saat itu Cahaya bisa menatap Arka dengan leluasa karena sejak tadi Arka sedang fokus menatap dokter dan berbicara padanya.


Saat itu Cahaya menyeka air matanya, ia menatap Arka sungguh-sungguh. Dan disadari oleh Arka pada saat itu, Arka pun melempar senyum tipis dan mengajak anak-anak mendekati Cahaya.


Saat itu Cahaya tersenyum menatap Tasya, Aldo, dan juga satu gadis kecil yang mencuri perhatian Cahaya, yaitu Riri. Riri tersenyum saat Cahaya menatapnya, namun Riri tak mau mendahului hak Tasya dan Aldo, ia melipir sampai Tasya dan Aldo lah yang berhak mendapatkan pelukan terlebih dahulu dari Cahaya.


"Ibu, Tasya seneng banget Ibu akhirnya sadar," ucap Tasya yang langsung memeluk Cahaya.


"Ya Bu, kami menunggu dengan setia sampai Ibu sadar, dan kini penantian kami semua terbalaskan dengan kesadaran Ibu." Aldo ikut bersuara saat itu, dan memeluk Cahaya juga.


Tasya dan Aldo mendapatkan pelukan dari Cahaya yang merasa sangat senang dan lega, Cahaya mendekap erat tubuh mereka dan juga meminta maaf pada mereka berdua. Saat Cahaya sadar, tidak ada kebencian dan kemarahan yang terlihat pada wajah Wulandari, Arka, dan juga anak-anak.


Mereka nampak sangat senang menyambut kesadaran Cahaya, dan hari itu juga Cahaya sudah diizinkan pulang. Karena dokter memastikan bahwa Cahaya sudah sembuh.


Saat itu di ruangan hanya ada Riri dan Cahaya, Arka sedang membayar biaya administrasi, sementara Wulandari membawa Tasya dan Aldo makan siang, hanya Riri yang saat itu ada di ruangan bersama Cahaya.


"Ya Kak, aku awalnya akan kembali ke jalanan, tapi karena om Arka melarang, aku akhirnya ikut tinggal di rumah om Arka," ucap Riri.


"Ya ampun, mas Arka sangat baik sekali," seru Cahaya kagum.


"Bukan hanya baik Kak, tapi om Arka sangat baik, selama Kakak tidak sadarkan diri, om Arka kerja siang malam untuk membiayai pengobatan Kakak, dan om Arka juga menjual tanah yang dia punya untuk membayar pengobatan Kakak." jelas Riri yang saat itu telah menceritakan semuanya pada Cahaya.


Mendengar hal itu tentu saja membuat Cahaya tersentuh, ia tidak menyangka jika ternyata Arka sebaik itu padanya, dan Cahaya sangat merasa bersalah karena saat ia bertemu dengan keluarga, justru ia harus merepotkan Arka.


Cahaya menangis dalam diam, kala ia mendengar semua cerita dari Riri, dan saat itu Riri mencoba untuk menyeka air mata yang menetes di pipi Cahaya.


"Kak, Kakak sangat beruntung, karena memiliki keluarga yang sangat baik dan mendukung kesembuhan Kakak, sejak Kakak tidak sadar, aku bisa melihat betapa mereka mencemaskan Kakak," ucap Riri menambahkan.

__ADS_1


"Aku sudah melakukan sebuah kesalahan besar Ri, dengan melepaskan keluarga dan memilih hidup sendiri, aku tidak pantas di perduli kan oleh mereka," seru Cahaya terlihat sangat sedih.


"Kakak jangan bilang seperti itu, mereka perduli dan menyayangi tanpa pamrih, aku pun bisa merasakannya." jawab Riri melempar senyum.


Saat itu Riri terdiam ketika melihat Arka sudah berada di depan pintu, ia tidak melanjutkan obrolannya pada Cahaya untuk membuka hatinya yang pernah membatu.


"Waw, sepertinya kalian berdua sedang mengobrol serius, dan aku telah mengganggu kalian," ucap Arka saat menghampiri mereka.


"Tidak Om, tidak ada obrolan yang serius kok," seru Riri membalas senyuman Arka.


"I-iya itu benar. Mas, kamu sudah selesai?" timpal Cahaya yang mengalihkan pembicaraan.


"Ya, semua sudah aman, dan kamu sudah diperbolehkan pulang, kamu sudah siap? Kalau begitu ayo kita jalan."


Arka menatap Cahaya dan mengajaknya turun dari tempatnya istirahat selama ini, dan saat tangan Arka menyentuh tangannya, ia merasa sangat jijik pada dirinya sendiri. Karena saat itu ia mengingat betapa banyaknya dosa yang telah ia lakukan, dan hal itu membuat Cahaya semakin merasa kecil dan buruk.


Lamunan Cahaya disadari oleh Arka, langkah kaki Arka mulai terhenti dan Cahaya pun ikut terhenti.


"Riri, kamu bisa menunggu di mobil sebentar," ucap Arka melempar senyum pada Riri.


"Baik Om, kalau begitu permisi." jawab Riri patuh.


Saat itu Cahaya terpaku lantaran Arka lah yang saat ini sedang bersamanya, Cahaya bingung harus mengatakan apa saat itu, padahal Arka sendiri belum membuka suara.


"Cahaya, kenapa kamu terlihat sangat tegang? Apa kamu merasakan masih ada sesuatu yang sakit?" tanya Arka memperhatikan Cahaya.


Cahaya tersadar dari lamunannya, dan saat itu ia menyadari bahwa pandangan Arka tertuju padanya, pandangan mereka pun saling bertemu, tetes air mata Cahaya pun mengungkapkan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2