ISTRI DURHAKA

ISTRI DURHAKA
28


__ADS_3

"Maaf Cahaya, sepertinya kita tidak bisa tinggal satu rumah lagi," ucap Ratih dengan berpangku tangan.


Mendengar itu, tentu saja membuat Cahaya bingung, lantaran Ratih sudah mengatakan sesuatu yang ia tidak mengerti. Kesedihan yang ingin ia bagi pada Ratih, rupanya tidak bisa ia utarakan saat ini, lantaran kalimat yang diucapkan oleh temannya itu.


"Apa maksud mu, Ratih? Kau sedang bercanda, kan?" tanya Cahaya yang meminta penjelasan pada Ratih.


"Tentu saja aku serius Cahaya, kapan aku pernah bercanda denganmu, apa yang aku katakan ini benar. Kita sudah tidak bisa lagi tinggal bersama," seru Ratih dengan yakin.


"Kamu mengusir aku?" Cahaya mulai mengerti.


"Ya, aku mengusir mu dari sini, dari rumahku. Kamu ingin tahu kenapa aku mengusir mu? Tentu saja dengan alasanmu yang tidak masuk akal itu, beberapa hari terakhir ini, kamu sudah tidak menghasilkan uang Cahaya, dan mana mungkin aku mau menampung seseorang yang tidak menghasilkan uang seperti dirimu." jelas Ratih.


Cahaya menutup mulut dengan salah satu tangannya, ka benar-benar tidak menyangka jika Ratih ternyata akan membuangnya ketika tidak menghasilkan uang lagi, selama ini ia menganggap bahwa pertemanan di antara mereka benar-benar akan berjalan lama, lantaran mereka selalu berbagi rasa, di setiap pekerjaan yang mereka lakukan sebagai wanita panggilan.


Namun, karena Ratih sudah Bersekongkol dengan Alex untuk mendepak Cahaya dari rumah itu, membuat Ratih harus mengorbankan persahabatannya itu dengan Cahaya.


"Kamu mendengar apa yang aku jelaskan padamu kan, Cahaya? Jadi sekarang lebih baik kamu kemasi barang-barang kamu dan tinggalkan rumahku!" titah Ratih yang sudah tidak mau lagi berbicara pada Cahaya.


"Tunggu Ratih, kamu tidak bisa mengusir aku seperti itu," ucap Cahaya yang menurunkan tangan Ratih yang menunjuk ke arah luar.


"Kenapa Cahaya, kenapa aku tidak bisa mengusir mu, bukannya ini adalah keinginanmu kan? Kamu pergi dari rumah untuk urusan pribadimu, sementara tugasmu sebagai wanita panggilan sama sekali tidak kau hiraukan, bahkan kamu meninggalkan Alex begitu saja di hotel dan menolak uang darinya," marah Ratih yang tidak bisa lagi menahan kemarahannya.

__ADS_1


"Aku pergi dan menolak uang dari Alex, karena dia sudah berbuat kasar padaku Ratih, dia sudah menamparku," seru Cahaya membela diri.


"Itu karena kamu menolak untuk melayani dia kan Cahaya! Itulah sebabnya kamu harus mendapatkan perhitungan." jelas Ratih memarahi Cahaya.


Cahaya menggelengkan kepala, ia tidak menyangka jika ternyata Ratih sudah mengetahui semuanya, bahkan yang membuat Cahaya tidak menyangka, Ratih justru memilih untuk membela Alex, bukan dirinya.


"Jadi kamu lebih memihak pada Alex, Ratih?" tanya Cahaya, lirih.


"Ya, tentu saja Cahaya, karena kamu sama sekali tidak pernah mau mendengar ucapan ku, aku sudah berkali-kali memperingatkan padamu, fokus! Tapi kamu lebih mementingkan ego mu, kalau kamu akhirnya mau kembali pada anak-anak mu, kenapa kamu dulu ikut bersamaku, aku sangat menyesal, Cahaya telah membantumu." maki Ratih kecewa.


Cahaya terdiam, ia sendiri tidak tahu kenapa beberapa hari ini ia begitu kekeh ingin bertemu dengan anak-anaknya, bagai mendapatkan sebuah hidayah dalam hidupnya, setelah tinggal beberapa lama dalam kegelapan.


"Baik Ratih, jika memang ini adalah keputusan yang terbaik untuk ku, dengan kamu mengusir aku seperti ini, tidak masalah, aku akan pergi dari rumah ini, tolong izinkan aku masuk untuk mengambil barang-barang ku," ucap Cahaya memilih untuk pergi.


"Bagus, itu yang aku inginkan. Kamu harus mendapatkan pelajaran dari kesalahan terbesar mu ini." jawab Ratih melempar senyum.


Cahaya tak perduli, ia memutuskan untuk masuk begitu saja dan mengemasi semua barang-barangnya, dengan yakin Cahaya memilih untuk pergi. Meskipun sebenarnya ia sendiri merasa bingung hendak ke mana setelah ia keluar dari rumah Ratih, rumah itulah yang selama ini membuat dirinya tidur dengan nyenyak dan nyaman.


Sementara Ratih sendiri memilih untuk pergi ke kamarnya, dan menghubungi Alex. Ia ingin mengatakan bahwa Cahaya sudah setuju untuk pergi dari rumah, dan setelah itu Ratih menutup kembali telponnya.


Alex meletakkan kembali ponselnya di ranjang, ia merebahkan dirinya di sana lalu melempar senyum puas dengan kabar yang baru saja ia dengar itu.

__ADS_1


"Cahaya, sungguh bodoh sekali jalan yang kamu pilih, kamu memilih untuk tidak mau lagi melayaniku, itu artinya kamu sudah kehilangan mesin ATM berjalan mu," ucap Alex yang sebenarnya ada rasa berat mendengar kabar itu.


Namun karena Cahaya sudah keterlaluan padanya, seolah membuat Alex membuang jauh perasaan itu.


Sementara di tempat lain, Cahaya sudah memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper, lalu setelah itu ia keluar dari kamar untuk menemui Ratih. Ratih masih di posisi yang sama, sofa miliknya dengan deputung rokok di jarinya.


"Ratih, aku pamit, mungkin memang benar katamu, kalau aku sudah tidak berguna di sini dan tidak menghasilkan uang, tentu saja tidak ada yang bersedia menampungku," ucap Cahaya berpamitan pada Ratih.


"Kalau kamu merasa ucapan ku adalah benar, lebih baik sekarang saja kamu tinggalkan rumah ini, aku sudah cukup baik padamu Cahaya, tapi kamu membalas ku seperti ini," seru Ratih dengan nada kecewa.


"Maafkan aku Ratih, tapi perlu kamu tahu, bahwa setiap orang pasti pernah melakukan sebuah kesalahan, dan setiap orang juga berhak untuk mengakui kesalahannya, aku harap kamu bisa memaafkan aku, aku pergi." pamit Cahaya yang tidak bersuara lagi.


Kalimat terakhir yang dikatakan oleh Cahaya tak didengarkan oleh Ratih, karena ia menganggap bahwa itu hanyalah sebuah puisi yang dibawa oleh Cahaya, ia mengerti bahwa saat ini Cahaya rindu dengan kedua anaknya, tapi Ratih tidak mau mengerti dengan keputusan Cahaya yang ingin berhenti menjadi wanita panggilan.


Kepergian Cahaya membuat Ratih marah, kesal, dan ia sangat jengkel, ia membanting rokok yang baru saja ia hisap itu ke lantai, ia harus merelakan Cahaya pergi dari hidupnya dan tidak lagi berjuang bersamanya.


"Cahaya, aku akan pastikan kalau kamu akan menyesal telah memilih pergi dariku, kamu akan menyesal, Cahaya!" ungkap Ratih penuh ancaman.


Langkah kaki Cahaya semakin menjauh dari kediaman Ratih, uang yang tidak seberapa itu ia bawa pergi bersama langkah nya yang tidak terarah, Cahaya sangat bingung saat itu. Ke mana ia akan tinggal, karena di sana tidak ada siapa pun saudara, sejak tinggal di kota Cahaya hanya tinggal sebatang kara. Keluarganya hanyalah Arka, ibu mertua dan kedua anaknya, dan untuk pergi ke sana, sangat lah tidak mungkin untuk saat ini.


Cahaya pun berkeringat, membawa koper miliknya yang cukup berat, ia terhenti di sebuah pinggiran jalan dan duduk di sana. Menikmati sepoyan angin segar yang menyibak rambutnya yang panjang, saat itu Cahaya terduduk diam cukup lama, ia mulai berpikir ke mana ia akan pergi saat itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke rumah Arka, ia ingin meminta maaf secara langsung pada Arka, mantan suami yang telah ia sakiti itu.

__ADS_1


__ADS_2