ISTRI DURHAKA

ISTRI DURHAKA
27


__ADS_3

"Alex aku mau pulang," ucap Cahaya.


"Cahaya, aku ingin kau tetap ada di sini," seru Alex meminta Cahaya untuk tetap ada di sana.


"Alex, kenapa aku harus tetap di sini, sementara aku sendiri tidak menginginkannya!" marah Cahaya yang tidak mau mengikuti keinginan Alex.


Saat itu Alex terlihat sangat marah, ketika ia mendengar bahwa Cahaya tidak menginginkan keberadaannya di tempat itu, Alex mendekati Cahaya lalu menatap nya dalam-dalam, beberapa waktu lalu ia masih bersabar karena ia menginginkan Cahaya yang ia kenal dulu, namun saat ia tahu bahwa Cahaya memang tidak menghendaki keberadaan bersamanya, membuat Alex merasa sangat kesal.


"Cahaya, kamu lupa, bahwa akulah yang mengangkat derajat mu, kamu lupa bagaimana dulu kamu selalu membutuhkan aku," ucap Alex menatap tajam ke arah Cahaya.


"Itu dulu Alex, tapi disaat aku tahu kalau kau menginginkan aku hanya di saat kamu butuh, itu membuat aku belajar bahwa bergantung padamu adalah keputusan yang sangat salah," seru Cahaya membalas tatapan Alex.


"Apa maksud mu Cahaya, apa kamu ingin pergi selamanya dariku?" tanya Alex menahan nadanya.


"Ya, tentu saja. Untuk apa aku bersama dengan laki-laki yang hanya membutuhkan nafsuku, tapi setelah itu, kau seenaknya pergi meninggalkan aku. Alex beberapa waktu lalu aku sangat bergantung padamu karena aku pikir kamu mencintai aku, tapi disaat kamu menolak aku untuk menjadi istrimu, tentu saja aku akan pergi jika hanya untuk kau jadikan sebagai teman tidur." jelas Cahaya mantap.


Plak!!


Sebuah tamparan mendarat bebas di pipi Cahaya, karena sudah tidak bisa lagi menahan diri Alex akhirnya memberikan sebuah tamparan di pipi Cahaya. Saat itu Cahaya menatap Alex dengan kebencian, lantaran ia akhirnya tahu bahwa Alex adalah laki-laki yang sangat kasar.


"Kenapa kau menamparku!" marah Cahaya.


"Karena mulutmu itu sudah cukup berani Cahaya, apa kau sadar dengan kalimat mu itu? Permintaan mu yang tidak masuk akal tidak mudah aku ikuti, kau ditakdirkan sebagai wanita panggilan, tentu saja di harapkan kedatangannya untuk melayani, lalu kenapa kau meminta lebih dari itu," ucap Alex yang tidak bisa lagi menahan emosi.


"Apa kau pikir wanita panggilan ini tidak menginginkan hubungan yang layak, Alex? Apa kamu pikir wanita panggilan seperti diriku tidak berhak meminta hak untuk dinikahi? Kalau memang itu salah, aku akan berhenti untuk menjadi wanita panggilan dan aku akan mencari laki-laki yang bersedia menikahi ku." jelas Cahaya tegas.

__ADS_1


Dengan cepat Cahaya meraih tasnya, ia hendak pergi meninggalkan kamar itu, karena hubungannya dengan Alex sudah tidak baik-baik saja, dan ia tidak mungkin tetap ada di sana setelah mendapatkan tamparan dari Alex.


Sementara Alex sendiri tidak bisa berkata apa-apa lagi saat itu, namun ia tidak rela membiarkan Cahaya pergi begitu saja. Hingga membuatnya memutuskan untuk tetap menahan Cahaya.


"Cahaya, maafkan aku, maafkan sikapku," ucap Alex menahan Cahaya.


"Maaf Mas, aku sudah terlanjur terluka, aku tidak bisa tetap ada di sini, sikapmu merendahkan aku sudah menunjukkan bahwa kamu tidak sepenuhnya membutuhkan aku," seru Cahaya yang tetap ingin pergi.


"Cahaya apa aku perlu membayar mu mahal, untuk membuat mood mu kembali baik padaku?" tanya Alex merogoh dompet dan mengeluarkan ATM berwarna hitam, yang hanya orang kaya lah yang memiliki nya.


"Apa menurut mu aku meminta kamu untuk membayar aku, Alex! Kau benar-benar keterlaluan."


Cahaya menepis tangan Alex, dengan kasar ia membuka pintu kamar dan berlalu pergi begitu saja. Cahaya sudah tidak bisa lagi berlama-lama di tempat itu, ia pergi begitu saja dan meninggalkan Alex.


"Kau harus tahu Cahaya, kau harus melihat sisi buruk ku!" maki Alex setelah ditinggalkan sendiri oleh Cahaya.


Saat itu Alex memutuskan untuk menghubungi Ratih, saat itu Ratih sedang berada di rumah dan dengan cepat ia mengangkat telpon dari Alex, seseorang yang sudah ia kenalkan pada Cahaya.


"Halo Alex, ada apa?" tanya Ratih yang saat itu sedang menikmati sepuntung rokok di tangannya.


"Ratih, aku sudah tidak membutuhkan Cahaya lagi, apa kau bisa membantuku? Aku ingin dia menderita di jalanan sana setelah menolak uang dariku!" ucap Alex dengan nada kesalnya.


Mendengar itu Ratih pun bangkit dari tempat duduknya, ia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Alex padanya, hingga suara Alex begitu terdengar sangat marah.


"Alex ada apa denganmu? Dan apa yang dilakukan oleh Cahaya padamu?" tanya Ratih bingung.

__ADS_1


"Dia sudah pergi dariku sebelum memberikan aku kepuasan, dan dia menolak uang dariku karena tidak mau melayaniku, aku ingin kau menghukum dia," ucap Alex menginginkan penderitaan pada Cahaya.


"Apa sekelewatan itu Cahaya padamu? Ya ampun, dia meninggalkan kamu dan menolak uang darimu, ada apa dengannya! Alex, beberapa hari terakhir ini sikap Cahaya memang sangat menyebalkan, aku sendiri saja merasa jengkel padanya," seru Ratih memberikan bumbu tambahan pada Alex.


"Kalau begitu, kau tidak keberatan saat aku memintamu untuk menghukum dia, kan?!"


Alex terlihat serius dengan ucapannya, dan obrolan itu pun berlanjut hingga beberapa saat kemudian, dan tak lama kemudian Alex menutup ponsel nya dengan perasaan senang.


Sementara di luar sana, Cahaya sedang menangis di dalam taksi yang ia tumpangi, ia menangis dan menyesal karena telah terjun ke dunia hitamnya, rasanya sangat sakit ketika tidak di hargai, dan ia di hargai saat dirinya menuruti apa yang diinginkan oleh laki-laki.


Cahaya mengelus lembut pipinya yang masih terasa panas, lantaran tamparan dari Alex yang meninggalkan bentuk merah di sana, spontan masa lalu bersama Arka pun terbayang di kepalanya. Selama bertahun-tahun menjadi istri Arka, Cahaya tidak pernah mendapatkan sebuah pukulan atau tamparan, meskipun betapa buruknya sikap Cahaya pada Arka.


Mengingat hal itu tentu saja membuat Cahaya semakin menangis, ia kemudian berpikir untuk menceritakan semua masalahnya pada Ratih, satu-satunya sahabat yang selama ini mengerti apa yang ia rasakan. Saat itu Cahaya meminta supir untuk mengantarkan dirinya ke sebuah alamat yang ia sebutkan, dan tak lama kemudian Cahaya pun tiba di depan rumah Ratih.


Cahaya menyeka air matanya, ia mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya pintu itu dibuka oleh Ratih. Saat itu Ratih sudah memasang wajah kesal pada Cahaya, karena sebelumnya ia sudah mengetahui apa masalahnya.


"Ratih, apa aku boleh memeluk mu?" tanya Cahaya yang saat itu sudah tidak bisa membendung air matanya.


"Ada apa Cahaya, apa yang terjadi padamu," Ratih pura-pura tidak tahu apa yang terjadi saat itu.


"Aku... Aku pergi dari Alex." lirih Cahaya menjawab, dan ia menumpahkan kesedihannya sebelum Ratih meraih tubuhnya.


Saat itu Ratih sangat muak, melihat Cahaya menangis di hadapannya, lantaran sudah mendapatkan uang banyak dari Alex untuk mengabulkan permintaannya, saat itu Ratih berpikir bahwa pertemanannya pada Cahaya memang sudah seharusnya berakhir, lantaran saat Cahaya tidak mau lagi menjadi wanita panggilan, maka ia tidak mendapatkan uang dari seseorang yang membutuhkan Cahaya.


"Ratih, kenapa kau tidak memintaku masuk?" tanya Cahaya menyeka air matanya, ketika melihat reaksi Ratih yang hanya diam saja.

__ADS_1


__ADS_2