
"Tunggu dulu, ada apa memangnya Arka?" tanya Wulandari menahan tangan Arka yang hendak meraihnya.
"Ayo Bu, aku tidak bisa menjelaskan sekarang." jawab Arka singkat, lalu tetap memaksa mereka untuk ikut bersamanya.
Wulandari, Tasya, dan Aldo akhirnya pergi bersama dengan Arka. Di dalam mobil lah Arka menjelaskan bahwa ia akan menemukan mereka pada Cahaya, seseorang yang sudah sangat lama sekali tidak mereka temui. Bahkan Tasya dan Aldo sudah sering sekali berkata ingin bertemu, namun tidak tahu di mana tinggal Cahaya.
Arka pun menjelaskan bahwa saat ini kondisi Cahaya sedang kritis di rumah sakit, membuat mereka merasa sangat sedih lantaran berita duka itu baru terdengar.
"Ayah, kita sudah sangat lama sekali tidak bertemu dengan Ibu, tapi kenapa sekarang Ibu justru dalam keadaan kritis di rumah sakit," protes Tasya menangis.
"Ya Ayah, kenapa Ibu bisa sampai masuk rumah sakit seperti ini, bagaimana keadaannya," sambung Aldo yang ikut mencemaskan keadaan Cahaya.
"Kalian berdua harus tenang ya. Di sana Ibu kalian juga sedang berjuang, jadi kalian harus mendoakan Ibu agar bisa melewati masa kritisnya." jelas Arka menatap mereka satu per satu.
Tibanya di rumah sakit, mereka buru-buru masuk ke ruangan dan mengejutkan Riri, Riri yang saat itu sedang menggenggam erat tangan Cahaya seketika ia lepaskan karena ia takut jika hal itu menyinggung perasaan Tasya dan Aldo, yang ia sudah ketahui bahwa Cahaya memiliki dua orang anak.
Arka tersenyum menyikapi Riri, yang sangat santun itu. Ia justru merasa bersalah karena kehadirannya membuat Riri terlihat kikuk.
"Riri, jangan takut, mereka adalah anak-anak Cahaya, wanita yang kau panggil Kakak itu, mereka baik kok," ucap Arka melempar senyum dan meminta Tasya dan Aldo untuk berkenalan dengan Riri.
"Halo, aku Riri." lirih Riri mengulurkan tangan.
Tasya dan Aldo pun mengulurkan tangannya secara bergantian. Dan saat itu Tasya dan Aldo memeluk tubuh Cahaya dan memanggil namanya beberapa kali, ia menangis meratapi kesedihan yang mereka rasakan. Namun, saat itu Cahaya sama sekali tidak merasakan apapun, ia sedang berjuang dalam ketidaksadarannya saat itu.
Siang malam Arka menemani Cahaya, ia berharap bahwa Cahaya akan sadar kala itu dan membuka matanya dengan senyuman, sementara Riri untuk sementara waktu ia bersama dengan Wulandari di rumah, ia beristirahat, tidur, dan makan di sana. Arka tidak mengizinkan dia pulang kembali ke asalnya sebelum Cahaya sadar.
__ADS_1
Malam itu, Arka lah yang berjaga di ruangan yang tidak begitu luas itu, aroma obat pun terasa sudah biasa bagi Arka yang sudah menemani Cahaya beberapa hari terakhir.
"Cahaya, bangun lah, kenapa sudah beberapa hari kamu dirawat di sini, tidak menunjukkan tanda-tanda apapun," ucap Arka yang mencemaskan keadaan Cahaya.
Saat itu Cahaya masih tidak sadar, hanya suara alat saja yang menemani Arka di sana. Hingga akhirnya Arka tertidur dalam posisi duduk.
***
1 bulan kemudian...
Suara ponsel berdering, saat itu Arka baru saja tiba di rumah, ia bekerja siang malam untuk mencari uang pengobatan Cahaya. Sudah satu bulan lamanya Cahaya tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan sadar, hingga membuat Arka harus bekerja keras karena biaya pengobatan yang tidak sedikit.
Arka sampai melupakan kesehatannya, karena berharap Cahaya akan sadar dan membuka kedua matanya. Baru saja Arka akan bangkit dari kemiskinan, namun ia harus mengeluarkan semua itu untuk pengobatan Cahaya.
Saat itu Wulandari mendatangi Arka yang ada di kamar, Arka nampak sedang memgangi sebuah kertas, dan saat menyadari ada ibunya, Arka terkesiap dan meletakkan kertas itu.
"Arka, apa yang kamu lakukan dengan surat itu?" tanya Wulandari penasaran.
Arka menatap kertas tersebut, lalu ia mengalihkan pandangannya kepada Wulandari, dan tersenyum.
"Bu, tanah yang baru saja aku beli, harus aku jual untuk biaya pengobatan Cahaya," ucap Arka menatap serius.
"Arka, apa kamu sudah memikirkan hal ini? Apa kau sudah serius," seru Wulandari penasaran ketika Arka memutuskan hal itu.
"Ya Bu, aku serius, tidak ada yang bisa melakukan ini selain kita Bu, Ibu tahu kan kalau Cahaya tidak memiliki siapapun selain kita," Arka menatap ibunya dengan berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ibu tahu Arka, tapi apa kamu lupa, bahwa sekarang ini Cahaya sudah bukan siapa-siapa kamu lagi?" tanya Wulandari mencoba untuk menyadarkan Arka.
"Ya, aku sadar ini Bu, aku sangat sadar. Tapi ini keputusan ku." jawab Arka sungguh-sungguh.
Mendengar jawaban itu, Wulandari tidak bisa lagi berkata apapun, ia terdiam mengikuti semua keputusan yang telah dipilih oleh Arka. Karena tidak ikut mencari nafkah Wulandari hanya bisa mendukung apapun yang menjadi keputusan Arka.
"Ibu mendukung kamu Arka, kamu benar, Cahaya sebatang kara, dan dia tidak memiliki siapapun, Ibu akan mendukung apapun yang menjadi keputusan kamu," ucap Wulandari melempar senyum.
"Terima kasih banyak Ibu, Kalau begitu besok pagi aku akan segera menjual tanah itu." jawab Arka merasa sangat senang.
Esok paginya Arka sudah bersiap-siap untuk melakukan tugasnya, ia pergi ke rumah teman kantornya dan menawarkan lahan yang baru saja ia beli, dan saat itu Arka mendapatkan tatapan dari temannya yang sedang duduk bersamanya di sebuah caffe itu.
"Apa kamu yakin akan menjualnya padaku, Arka? Bukan kah beberapa minggu yang lalu kamu mendapatkan lahan ini," Ridwan menatap Arka dengan serius, karena ia tidak mengerti mengapa temannya itu menjual tanahnya.
"Ada keperluan yang mengharuskan aku menjual apa yang aku miliki kawan, dan itu sangat mendesak," ucap Arka melempar senyum seolah tak ada beban.
"Apa masalahnya, kebutuhan mendesak apa, Arka?" tanya Ridwan penasaran.
"Ibu anak-anak sedang kritis di rumah sakit, aku harus membiayai semua pengobatan yang ada di sana, meskipun sebenarnya sudah satu bulan ini tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran." jawab Arka lirih.
Ridwan merasa bingung dengan masalah yang temannya hadapi itu, ia nampak bingung karena yang ia tahu bahwa Arka sudah bercerai dengan ibunya anak-anak, lalu mengapa ia membantu? Dan pertanyaan itu pun dijawab dengan jawaban yang sama seperti yang Arka katakan pada Wulandari. Dan hal itu membuat Ridwan sadar bahwa Arka memiliki hati yang sangat baik.
"Baik lah, kalau begitu aku akan membeli tanah mu dengan harga yang sedikit tinggi, aku tahu kau membutuhkan banyak uang, karena ceritamu yang sangat mulia ini, aku menjadi sadar bahwa hubungan tidak mudah putus begitu saja meskipun perceraian sudah terjadi," ucap Ridwan merasa salut pada Arka.
"Terima kasih banyak, kamu sudah membantuku dengan bersedia membeli tanah ini, dan kau membelinya dengan jumlah yang tinggi, itu sangat membantuku sekali Ridwan," seru Arka merasa sangar senang.
__ADS_1
"Sama-sama Arka, semoga ibunya anak-anak bisa cepat sadar dan bisa berkumpul kembali." jawab Ridwan melempar senyum.
Arka merasa sangat lega, dan saat itu Ridwan segera menandatangi surat-surat yang ada, lalu Arka mendapatkan pembayaran yang cukup besar di rekeningnya, dan bukti itu sudah masuk di ponsel Arka. Arka melempar senyum lalu mengucapkan terima kasih beberapa kali pada Ridwan, teman baik yang selalu bersamanya di kantor.