
"Kak, kita istirahat dulu di sini," ajak Riri pada Cahaya.
"Di sini?" tanya Cahaya menunjuk ke sebuah bangku kotor yang dipilih oleh Riri.
"Ya Kak, di sini adalah tempat biasa aku menghitung berapa rupiah uang yang akun dapatkan, ayo kak." jawab Riri dengan semangat mengajak Cahaya duduk.
Cahaya pun tidak bisa membantah, ia ikut duduk bersama Riri dan benar-benar menyatu dengan keadaan Riri, Riri pun mengubah Cahaya untuk tidak merasa jijik dan mulai terbiasa dengan keadaan yang ada.
"Alhamdulillah, hari ini kita mendapatkan uang yang lumayan, ini bisa kita pakai untuk membeli makan siang dan makan malam, Kak," ucap Riri dengan semangat.
"Ya Riri, kebetulan aku merasa sedikit lamar," seru Cahaya meremas perutnya.
"Kalau begitu, kita bisa beli makanan sekarang juga." jawab Riri tersenyum dan mengajak Cahaya pergi ke sebuah warteg yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Cahaya dan Riri mulai memilih menu makanan yang akan mereka santap pagi ini, dan setelah memesan meraka pun menyantap dengan bahagia. Kenikmatan yang Cahaya rasakan sangat berbeda ketika ia berada di rumah Ratih dengan kemewahan yang ada. Rasa menyesalinya saat itu sungguh lebih besar dari sebelumnya.
"Kak, apa kau menikmati makanan sederhana ini?" tanya Riri.
"Tentu Riri, aku sangat menikmatinya." jawab Cahaya menimpali.
Riri dan Cahaya saling melempar senyum, lalu setelah itu mereka kembali menikmati makanan itu hingga habis tak tersisa.
Setelah merasa cukup kenyang, Riri pun membayar makanan itu dengan uang penghasilannya dengan Cahaya. Lalu setelah itu Riri mengajak Cahaya pergi ke pasar, untuk melanjutkan pekerjaan di sana.
Cahaya nampak terkejut saat Riri mengajaknya bekerja kembali, namun untuk menolak ia tidak mungkin, karena jika ia menolak makan Riri akan tetap pergi sendiri.
Saat itu Cahaya mendapatkan berbagai tamparan setelah bertemu dengan Riri, kehidupan yang sangat sulit ia lalui hingga berbulan-bulan lamanya. Saat itu Cahaya nampak kurus kering bersama Riri, banyak sekali rintangan yang ada selama ia bekerja di jalanan bersama dengan Riri.
__ADS_1
Saat itu Cahaya sedang berjalan terpisah dengan Riri di sebuah jalanan, Cahaya membawa plastik berwarna hitam untuk meminta-minta di setiap mobil yang berhenti. Cahaya pun menyumbangkan suara sebelum orang-orang yang ada di sana memberikan uang, beberapa pemilik mobil ada yang sama sekali tidak membuka kaca, dan ada yang menolak kehadiran Cahaya yang sangat kucel dan dekil. Tak jarang ada makian dari pengendara motor pada Cahaya, karena merasa risih dengan nyanyian yang ia berikan.
Sementara di tempat lain, Riri pun sedang berusaha dengan suara yang ia punya, ia menyumbangkan suara lalu mendapatkan upah dari pengendara mobil dan motor.
Takdir mungkin belum memihak Cahaya, ia bahkan sama sekali belum mendapatkan uang dari saat lampu merah itu menghentikan para pengendara, dan saat Cahaya hendak menghampiri sebuah mobil terkahir dan menyumbangkan lagu, penilik mobil itu rupanya membuka kaca.
Saat itu Cahaya terkejut karena pemilik mobil tersebut adalah orang yang ia kenal. Ya, pemilik mobil itu adalah Ratih, ia sedang berkencan dengan Alex. Ratih mengucek matanya, saat melihat orang yang tidak asing baginya.
"Cahaya, apa itu dirimu?" tanya Ratih samar.
Cahaya nampak tertunduk saat itu, ia tidak berani mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Ratih, saat itu Ratih turun dari mobil karena rasa penasarannya.
Setelah itu Ratih membawa Cahaya ke pinggir jalan, ia memastikan bahwa itu benar-benar Cahaya, Alex pun ikut turun karena ia ingin mendengar pengakuan dari wanita yang pernah menolaknya itu.
"Oh ya ampun sayang, kamu lihat siapa wanita ini, wanita ini adalah Cahaya," ucap Ratih merangkul lengan Alex.
"Mungkin dia sudah mendatangi mantan suaminya, namun sayangnya mereka menolak kehadiran Cahaya dan membuang nya ke jalanan seperti ini, oh ya ampun, kasihan sekali."
Ratih nampak menatap penuh hina pada Cahaya. Sementara Cahaya sendiri tidak tahu harus melakukan apa, karena saat itu ia merasa sangat malu sekali.
Berbulan-bulan ia bekerja bersama dengan Riri di jalanan, ia merasa semua berjalan dengan lancar. Dan hari ini lah ia merasa bahwa hidupnya sangat tidak beruntung, tidak mendapatkan uang dan ia justru bertemu dengan Ratih dan juga Alex.
Ratih berjalan menghampiri mobilnya, dan ia mengeluarkan isi dompet untuk memberikan sumbangan pada Cahaya. Saat itu Ratih mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu dan meletakkan uang itu di sebuah tempat yang Cahaya bawa.
"Itu untukmu Cahaya, bisa kau gunakan untuk membeli makan beberapa hari," ucap Ratih melempar senyum.
"Oh, aku juga ingin menyumbang uang sayang." jawab Alex yang ikut mengeluarkan isi dompet.
__ADS_1
Saat itu Alex juga memberikan uang seratus ribuan pada Cahaya, Cahaya seperti sudah benar-benar tidak sanggup menatap mereka berdua. Apalagi saat itu Ratih dan Alex menyebut mereka dengan sebutan sayang. Sungguh, hati kecil Cahaya sangat kesal.
"Maaf, aku tidak membutuhkan uang ini," ucap Cahaya emosi lalu mengembalikan uang milik Ratih dan juga Alex.
"Ayolah Cahaya, jangan sok jual mahal seperti itu, kami berdua tahu kok, kalau kamu itu sangat membutuhkan uang, kalau tidak kenapa kamu turun ke jalanan dan menyumbangkan lagu-lagu," seru Ratih mengembalikan uang itu.
"Ya, ini lah pekerjaan ku sekarang, tapi aku tidak menerima uang dari hasil hubungan kalian berdua, lebih baik ini kamu gunakan untuk perawatan kamu saja, agar terlihat lebih menarik." jawab Cahaya menolak keras.
Mendengar penolakan itu tentu saja membuat Ratih sangat kesal, ia mendorong Cahaya ke jalanan hingga tak tersadar bahwa ada sebuah mobil yang melintas dan...
Braaakk!!
Tubuh Cahaya tertabrak oleh mobil yang melintas. Saat itu Ratih tidak menyangka jika kesalahan fatal telah ia lakukan di pinggiran jalan. Mobil yang telah menabrak Cahaya itu terhenti seketika dan ia keluar untuk melihat korban.
Darah segar keluar dari mulut Cahaya, dan saat itu beberapa mobil lainnya ikut terhenti dan melihat kejadiannya. Alex dan Ratih terlihat gugup di sana, Riri pun yang ada cukup jauh dari tempat kejadian segera berlari menghampiri lokasi.
Riri dengan cepat membuat wadah yang ia gunakan untuk menerima uang, ketika ia mengenali baju korban kecelakaan itu. Dengan cepat Riri mendekati Cahaya dan ia terkejut saat mengetahui bahwa itu benar-benar Cahaya.
"Kakak... Kakak Cahaya bangun!" suara Riri histeris ketika meletakkan tubuh Cahaya di pangkuannya.
Saat Riri memanggil Cahaya dengan sebutan nama, dan dengan histeris ia menangis. Membuat penabrak itu mengenali Cahaya, penabrak itu adalah Arka, ia sebelumnya terlihat bingung meskipun ia berada sangat dekat dengan Cahaya.
"Adik, ini Cahaya?" tanya Arka merasa tidak asing, ia seperti kenal dengan wanita di hadapannya.
Wajah Cahaya sudah tidak dikenal lagi, lantaran lumuran darah yang keluar saat itu.
"Ya, ini Kak Cahaya, tolong selamatkan Kakak saya!" pinta Riri menangis.
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama, Arka pun dengan cepat membawa Cahaya dan Riri ke dalam mobil, ia membawa mereka ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.