
Dika berada di rumah Ratna sore hari ini, berkali-kali mengetuk pintu rumahnya tapi tak kunjung terbuka. Mencoba menghubungi ponselnya juga tak aktif. Salah satu tetangga menoleh dan menghampiri Dika yang masih mengetuk pintu.
"Maaf Mas dari kemarin rumah ini kosong, yang punya rumah lagi keluar kota sementara waktu."
"Oh, begitu. Kapan mereka pulang ke sini?"
"Saya kurang tahu juga."
Dika akhirnya berlalu menaiki motornya menuju ke rumahnya. Celia belum juga pulang ke rumah, hanya ada Ibu yang sedang duduk menonton televisi.
"Celia masih di kantor ya?" Tanya Ibu.
Dika mengangguk.
"Tadi Dika ke rumah Ratna, tapi rumahnya sepi. Kata tetangga sebelah, Ratna dan Andi sedang keluar kota sejak kemarin."
Wajah Ibu terlihat kembali sendu, dan mengusap titik air mata di sudut matanya.
"Ibu tidak usah khawatir ada Dika di sini yang akan mengurus Ibu."
"Istrimu bagaimana, Ibu mendengar percakapan kalian tadi malam. Waktu Ibu hanya sisa dua hari di sini."
Dika terkejut, tak menyangka jika Ibu mendengar semuanya.
"Maafkan Dika, Bu. Ibu tak perlu mengkhawatirkan Celia, biar nanti itu menjadi urusan Dika."
*****
Celia menikmati jalan-jalan sorenya di sebuah mal setelah sebelumnya mengganti pakaian dinas miliknya dengan pakaian santai di kantor sebelum pergi. Sudah lama Celia tidak mengunjungi mal favoritnya dan menikmati makanan cepat saji.
Seorang pria kemudian duduk di hadapannya, dan menggenggam tangannya dengan erat. Wajah pria itu tak terlihat karena memakai topi dan masker di wajahnya.
"Ternyata kamu datang juga." Ucap Celia.
"Aku pasti datang, justru aku yang berpikir kamu takut dengan suamimu sehingga tak mungkin datang padaku."
"Hmm begitu rupanya."
"Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku."
"Hari itu aku mengirim undangan padamu berharap kau datang dan membawaku pergi agar pernikahan itu tak terjadi."
"Aku memang bersalah, ku mohon terima diriku lagi."
__ADS_1
"Hanya sepuluh juta yang diminta Ayahku, dan kau mengatakan aku perempuan matre. Aku sudah berpikir ulang dan memutuskan ...." Celia menggantung perkataannya.
"Ya, katakan."
"Biaya hidup berumah tangga akan menghabiskan banyak uang untuk kebutuhan sehari-hari, aku berpikir realistis bukan menjadi budak cinta. Untuk sepuluh juta saja kamu keberatan apalagi nanti jika aku menikah denganmu."
Pria itu membuka topi dan mengelap keringatnya dengan tisu di atas meja.
"Sebenarnya Dika suamiku tidak buruk-buruk amat, dia menafkahiku dan menyerahkan semua gajinya untukku. Mahar yang diberikan pun lebih banyak daripada dirimu."
Ucapan Celia langsung menusuk Yanto yang semakin salah tingkah. Celia memanggil pelayan dan meminta bon harga makanan yang sudah dipesannya lalu membayarnya.
"Cel, dengarkan aku." Yanto menahan tangan Celia sebelum akan beranjak pergi.
"Tak ada yang perlu didengarkan, kesempatan untuk mu sudah tidak ada lagi. Kamu menghina ku dan Ayahku, sampai kapanpun aku tak akan melupakannya itu semua." Celia melepaskan tangannya dari Yanto.
*****
Celia pulang ke rumah membawa barang belanjaannya, Dika sudah menghadangnya di depan pintu dan menyaksikan Celia yang seperti habis bersenang-senang.
"Darimana kamu dek?"
"Ya belanja-lah. Lihat ini, aku membeli kebutuhan rumah tangga untuk mengisi kulkas kita yang hampir kosong."
Celia tak menjawab dan sibuk mengeluarkan belanjaannya. Daging, buah dan sayuran dimasukkannya semua ke dalam kulkas.
"Dek, kamu itu istriku sudah seharusnya kamu menurut denganku."
"Oh masih istri ya, lalu Ibu Siska dianggap apa?"
"Berapa kali Abang bilang, itu semua fitnah!"
"Buktikan jika benar begitu. Tapi seandainya benar, aku pun tak keberatan jika harus berpisah. Dari awal aku tak setuju rencana Ayah menjodohkan kita berdua."
"Celia, kamu baru pulang ya nak. Biar Ibu saja yang memasukkan ke kulkas ya." Ibu datang dan meraih kantong plastik berisi makanan.
"Tidak usah Bu, biar Celia saja. Ibu kan tamu di sini." Jawab Celia ketus.
"Dek, hormati Ibu!"
"Aku menghormati Ibu, Bang itu sebabnya aku melarang Ibu membantuku. Tidak perlu mengajarkan ku rasa hormat!"
Dika ingin menjawab namun segera Ibu memberikan isyarat lewat gelengan kepala.
__ADS_1
"Dika, Celia, Ibu mau pamit besok siang untuk kembali ke rumah Ibu di kampung."
"Ibu di kampung dengan siapa? Dika mohon Ibu jangan pulang, tetaplah di sini sampai Dika bicara dengan Ratna." Dika memohon.
"Oh baguslah jika Ibu mau pulang besok biar Bang Dika akan mengantarkan Ibu ke terminal." Sahut Celia.
"Dek, kamu keterlaluan. Tidak seharusnya kamu membiarkan Ibu di kampung sendirian, Ibu sudah tua dan Bapak sudah tidak ada."
"Apanya yang keterlaluan. Ibu kan punya rumah sendiri, aku tidak membiarkan Ibu terlantar di jalanan. Nanti tiap bulan juga gaji Abang aku sisihkan sebagian untuk dikirim ke kampung Ibu."
PLAKKK!!!!
Celia menahan sakit di pipinya, air matanya mengalir. Ibu terkejut melihat perilaku Dika dan kemudian menampar balik Dika atas perbuatannya.
"Ibu." Dika terkejut dengan reaksi spontan Ibu.
"Sini nak, biar Ibu kompres dengan air dingin." Ibu menggandeng tangan Celia ke kamarnya.
"Tunggu di sini, Ibu ambilkan kain dan mengompres wajahmu."
Celia menunduk dan meraba wajahnya yang memerah. Ibu kembali ke kamar membawa kain yang sudah di celupkan ke dalam air berisi es.
"Maafkan anak Ibu ya."
Celia diam tak menjawab, pikirannya masih berkecamuk kenapa Ibu masih berbuat baik kepadanya.
"Dulu Ibu juga seorang istri dan menantu sepertimu. Ibu paham bagaimana rasanya seorang menantu yang harus hidup serumah dengan mertuanya."
Celia memandang wajah Ibu, tak sedikitpun tersirat sebuah dendam untuknya meski Celia sudah memperingatkan Dika agar Ibu segera keluar dari rumahnya.
"Celia minta maaf ya Bu. Celia bukan tak bisa menerima Ibu, tapi Celia sebenarnya masih belum sanggup menerima perjodohan ini."
"Ibu mengerti, semuanya terjadi secara mendadak. Ada keluarga baru yang harus kamu terima dalam hidupmu setelah menikah. Makanya Ibu akan pulang, karena ingin memberikan kalian privasi dalam rumah tangga. Sudah lama Ibu tak membersihkan rumah peninggalan Bapak."
Celia memeluk Ibu, "Terima kasih ya Bu."
"Kamu sudah makan?" Tanya Ibu.
Celia mengangguk, "Sudah."
"Kalau begitu tidurlah ini sudah malam, pasti kamu lelah kan bekerja seharian."
"Temani aku ya Bu."
__ADS_1
Ibu mengangguk dan berbaring di ranjang bersama dengan Celia.