ISTRI DURHAKA

ISTRI DURHAKA
25


__ADS_3

Mendengar Wulandari mengatakan hal itu, tentu saja membuat Tasya semakin kesal dan kecewa, ia terlihat marah saat itu pada neneknya. Namun Wulandari sendiri mengatakan hal tersebut agar Tasya sadar, bahwa yang bersalah bukan lah ayahnya saja, ibunya pun bersalah atas semua pertengkaran dan perpisahan yang terjadi.


Sikap keras Wulandari mengajarkan cucunya membuat Tasya terluka, namun Wulandari tidak menghentikan semua itu, ia ingin Tasya sadar dan tidak lagi menyalahkan Arka.


"Sekarang kamu tidur, karena besok kamu akan kembali masuk sekolah!" titah Wulandari.


Tasya tak menjawab, ia langsung merebahkan tubuhnya dan merangkul guling, ia terisak kembali dalam tangisan seorang diri di kamar. Sementara Wulandari sudah keluar dari kamar itu meninggalkan Tasya. Saat itu Arka menghampiri Wulandari, ia ingin tahu keadaan putrinya saat itu.


"Bu, bagaimana dengan Tasya, apa dia sudah jauh lebih tenang?" tanya Arka.


"Mungkin Ibu yang terlalu kasar berbicara dan meminta pengertian pada Tasya, tapi Ibu melakukan ini agar Tasya sadar, dan tidak selalu membela ibunya," ucap Wulandari menyadari bahwa ucapannya memang sedikit meninggi.


"Maksud Ibu," lirih Arka tidak mengerti.


"Ibu memarahi Tasya Arka, Ibu memarahinya karena dari sudut pandangnya, kamu lah yang bersalah atas semua ini, pertemuan antara Tasya dengan ibunya sangat berpengaruh buruk pada tutur katanya, Ibu tidak menyukai nya." jelas Wulandari mengutarakan isi hatinya.


Arka terdiam, ia tidak bisa menyalahkan ibunya, dan ia juga tidak bisa menghukum putrinya yang memang saat itu masih belum mengerti apa-apa, Arka akhirnya mengalah dan meredam kekesalan Wulandari. Ia juga mengantarkan Wulandari masuk ke kamarnya, memintanya untuk istirahat setelah seharian melewati masa yang tegang.


Wulandari pun mengikuti keinginan Arka ia, memejamkan kedua matanya ketika Arka menyelimuti tubuhnya dengan kain, Arka sendiri memutuskan untuk keluar dari kamar itu setelah Wulandari memejamkan mata.


Perlahan Arka membuka pintu kamar Tasya, saat itu Tasya masih belum sepenuhnya tertidur, ia menyadari bahwa ayahnya datang menemuinya di kamar.


Saat itu Arka duduk di samping tempat tidur Tasya, ia mengelus lembut kening Tasya hingga membuat Tasya membuka mata. Saat itu Arka tersenyum, ketika menyadari bahwa putrinya itu sudah membuka mata untuknya.


"Sayang, belum tidur?" tanya Arka, lirih.


Tasya menoleh ke arah ayahnya, lalu saat itu ia duduk di samping sang ayah yang memasang wajah teduh. Saat itu Arka memberikan nasehat untuk putrinya, mau tidak mau Arka harus memberikan pelajaran agar Tasya mengerti bahwa ayah dan ibunya memang tidak bisa bersama lagi, dan Arka pun berusaha menyampaikan nasehat itu dengan cara yang halus, ia tidak ingin jika putrinya itu memiliki luka batin yang tersimpan dalam diamnya.

__ADS_1


Tasya akhirnya luluh, ia memeluk tubuh ayahnya dan menangis di pelukannya, Arka tersenyum dan mengecup lembut kening putrinya. Setelah panjang lebar menasehati akhirnya Tasya mengerti.


"Ayah, bolehkah Tasya meminta Ayah untuk menemani tidur Tasya malam ini?" tanya Tasya berharap.


"Tentu sayang, tentu saja Ayah mau menemani kamu, sekarang kamu tidur ya, Ayah akan menemani kamu." jawab Arka setuju.


Tasya melempar senyum, lalu ia mulai merebahkan tubuhnya dalam pelukan Arka. Setelah Tasya tertidur Arka pun mulai memejamkan kedua matanya hingga pagi hari menjelang.


Saat itu Wulandari sudah mengetuk pintu beberapa kali di kamar Arka, namun tak kunjung mendapatkan jawaban. Hingga akhirnya Wulandari memutuskan untuk membuka pintu kamar.


"Loh, Arka ke mana?" tanya Wulandari terkejut saat ia tidak melihat putra nya.


Wulandari keluar kembali dari kamar hendak mencari Arka, ia membuka kamar Aldo, tak menemukan Arka, lalu ia pergi ke kamar Tasya, di sana Wulandari melihat sesuatu yang membuat dirinya terdiam di pintu kamar. Rupanya semalaman Arka tidur bersama dengan anak perempuannya.


Perlahan Wulandari mendekati mereka yang masih tertidur lelap, karena malam sudah berganti pagi, waktunya Tasya masuk sekolah dan Arka bekerja di kantor. Selama ini Wulandari lah yang menjadi alarm di rumah itu, Arka dan Tasya pun terbangun ketika mendengar suara Wulandari.


"Arka, Tasya, ini sudah pagi, waktunya kalian mandi dan bersiap-siap," ucap Wulandari melempar senyum.


"Ya Bu, terima kasih sudah membangunkan kami." jawab Arka membalas senyuman Wulandari.


Tasya pun tersenyum saat mendapatkan sapaan dari Wulandari, saat itu Wulandari mendekati Tasya lalu memeluknya dengan erat. Wulandari meminta maaf pada Tasya, karena semalam ia sudah membuat hati cucunya itu terluka. Sementara Tasya yang sudah mendapatkan nasehat dari sang ayah, turut meminta maaf juga pada Wulandari.


Arka menatap kedua wanita yang paling berharga di hidupnya itu dengan senyum, dan ia pun akhirnya meraih mereka berdua ke dalam pelukannya.


"Ayah sangat senang sekali melihat kalian akur seperti ini, Ayah harap semua masalah dan ujian bisa kita selesaikan dengan kepala dingin, Ayah sayang kalian," ucap Arka memeluk mereka dengan erat.


Senyum tulus antara Wulandari dan juga Tasya terpancar, saat mereka sedang berpelukan mereka tidak menyadari bahwa ada Aldo di depan pintu, Aldo mendengar harapan dan keinginan dari ayahnya yang menginginkan kedamaian. Aldo pun datang menghampiri mereka dan berdiri di depan ranjang.

__ADS_1


"Kalau Tasya dan Nenek di peluk Ayah, Aldo kenapa tidak?" protes Aldo yang menginginkan hal yang sama.


Arka tersenyum melepaskan pelukannya pada Tasya dan Wulandari, Arka pun melambaikan tangan meminta Aldo untuk mendekati dirinya.


"Rupanya kamu juga ingin Ayah peluk, putra kesayangan Ayah," ucap Arka melempar senyum.


"Tentu saja Ayah." jawab Aldo.


Arka turun dari ranjang dan segera memberikan pelukan pad Aldo, agar Aldo juga tidak merasa disendirikan kala itu. Tasya dan Wulandari pun saling berpelukan saat Aldo dan Arka berpelukan.


"Sekarang lebih baik kalian segera mandi, karena kalau tidak maka kalian akan terlambat!" titah Wulandari meminta meraka untuk segera melanjutkan tugas meraka.


"Siap Ibu,"


"Siap Nenek,"


Arka dan kedua anaknya melakukan gerakan hormat pada Wulandari, sebagai orang tertua di rumahnya. Lalu setelah itu mereka pun dan bersiap-siap, sementara Wulandari sendiri memutuskan untuk segera membuatkan sarapan pagi untuk mereka.


Di sela kesibukan Wulandari sebagai seorang ibu dan nenek, ia merasa sangat senang, lantaran keluarganya kini kembali rukun meskipun Arka gagal membina rumah tangga nya.


Sementara di tempat lain, Cahaya sedang bersiap-siap untuk pergi, ia sengaja bangun pagi karena ingin membelikan sesuatu untuk kedua anaknya. Beberapa hari terakhir ini Cahaya nampak tidak lagi menemui Anton maupun Alex, dua laki-laki yang sudah memberikan dirinya uang cukup banyak.


"Aku harus pergi ke rumah mas Arka, aku ingin menemui anak-anak." ungkap Cahaya saat berdiri di depan cermin.


Saat itu Ratih sedang meminum kopi, melihat Cahaya yang sudah terlihat rapi.


"Ratih, aku pergi dulu ya," pamit Cahaya buru-buru.

__ADS_1


"Cahaya, kamu kau ke mana?" tanya Ratih menahan Cahaya, saat itu Cahaya harus berhenti dari langkahnya lantaran Ratih memanggilnya.


__ADS_2