
"Dasar bodoh kamu Yanto! Bisa-bisanya kamu lepaskan Celia begitu saja!"
"Celia itu perempuan matre, bisanya nanti cuma menghabiskan uangku saja!"
"Sepuluh juta itu nggak seberapa dibandingkan dengan apa yang kamu dapat nanti." Tukas Ibu.
Ahhh, pusing aku mendengarkan celotehan Ibuku. Lebih baik aku ke kamar saja dan melanjutkan permainan Mobile Legenda yang sempat tertunda.
"YANTO! DENGERIN IBU!"
Tak aku hiraukan segala macam omelan Ibuku. Bisa tekor nanti keuanganku kalau harus menyerahkan sepuluh juta. Lagipula uang darimana sebanyak itu. Motor ninja itu saja juga punya anaknya Pak Lurah yang dititipkan sementara di rumah ini karena Pak Lurah sekeluarga sedang berlibur ke luar kota.
BRAKKK!
Tak kusangka tiba-tiba Ibu sudah mendobrak pintu kamar yang aku kunci. Tanpa aba-aba Ibu langsung merebut ponselku dan menarik rambutku yang mulai gondrong.
"A-aduh sakit, Bu."
Aku meringis kesakitan, sudah bukan rahasia lagi jika Ibu dulunya mantan atlet karate dan juara provinsi. Bahkan piala milik Ibu berjejer rapi di dalam lemari yang setiap hari Ibu bersihkan.
"MAKANYA DENGARIN KATA IBU!"
Aku menunduk, kali ini Ibu sudah melepaskan tangannya dari rambutku.
"Celia itu anak orang kaya, pekerjaan PNS, orang tuanya bisnis sarang walet. Bodoh kalau kamu lepaskan cuma gara-gara mahar dan seserahan bernilai sepuluh juta!"
"Sebaik-baiknya perempuan itu yang paling murah maharnya. Sepuluh juta itu banyak, uang darimana Yanto dapat uang segitu."
"Bodoh kamu Yanto! Belajar agama setengah-setengah begini hasilnya! Apa kamu tidak tahu lanjutannya? Sebaik-baiknya lelaki adalah yang mahal maharnya. Ibu masih punya simpanan bisa buat bayar lima kali lipat dari yang mereka minta!"
"Tapi kami sudah putus juga."
"Besok Ibu akan datang ke rumah orang tua Celia dan kamu harus ikut sekaligus meminta maaf."
__ADS_1
Aku menggaruk kepala yang sebenarnya tak gatal. Bisa-bisanya Ibu nekat ingin datang ke sana setelah anaknya sempat diusir dari rumah tersebut.
Sepertinya aku harus mencari akal untuk membatalkan niat Ibu, bisa-bisa nanti aku yang malu apalagi Celia ternyata diam-diam berselingkuh di belakangku.
"Tapi Celia itu punya selingkuhan, Bu. Yanto nggak mau punya calon istri tukang selingkuh."
Ibu terdiam seakan memikirkan sesuatu, pasti Ibu sedang menimbang-nimbang untuk melanjutkan rencana lamarannya.
"Besok kita kesana! Titik!"
Aku melongo mendengar perkataan Ibu, bisa-bisanya Ibu tetap nekat mau melamar Celia sebagai istri dan menantu di rumah ini. Bahkan Ibu langsung ke bank untuk pergi mengambil uang dan membeli seserahan untuk di antar besok.
Hari ini aku memakai setelan kemeja dan celana kain hitam, padahal ini bukan gaya seleraku. Jangan ditanya, ini semua kemauan Ibu. Adikku Vina bahkan menertawakan penampilan ku. Biasanya aku memakai celana jeans sobek dan kaos hitam metal serta kalung tengkorak di leherku.
Ayahku sedang berada di luar kota yaitu di rumah istri mudanya. Sangat jarang sekali Ayah bisa pulang. Ibu sendiri nampaknya sudah tak peduli apakah Ayah ada di rumah atau tidak. Yang jelas uang bulanan selalu rutin di berikan oleh Ayah kepada Ibu untuk menafkahi kami bertiga.
Kami bertiga menaiki mobil bekas yang sudah lama dibeli oleh Ibu. Ibu bilang bahwa acara lamaran ini haruslah berkesan agar tidak dipandang remeh calon besan.
Kami sudah sampai di rumah Celia, namun sepertinya rumah tersebut sangat sepi. Pagar terlihat dikunci gembok, berkali-kali Ibu menekan tombol bel namun tak kunjung ada yang membukakan pintu pagar.
"Sepertinya nggak ada orang di rumah." Ucap Vina sambil melongok melihat ke dalam.
"Cari siapa ya?" Tanya salah satu tetangga yang kebetulan melihat keluar, mungkin karena beberapa kali mendengar suara bel.
"Cari Celia dan orang tuanya." Jawab Ibu.
"Oh, mereka baru saja pergi. Katanya ada acara reuni keluarga di luar kota. Cuma saya kurang tau kapan mereka balik ke sini."
Fyuhhh! Untung saja Celia dan orang tuanya tidak ada di rumah. Berarti batal deh rencana Ibu untuk melamar Celia sebagai istriku.
"Kita pulang saja ya Bu." Ucap Vina.
*****
__ADS_1
Ibu mengetuk-ngetukkan jarinya di meja makan sambil menatap undangan di atas meja. Ya, pernikahan Celia dan Dika. Entah siapa Dika itu, aku kurang tau. Apa mungkin itu adalah lelaki yang dulunya pernah kutemui saat di rumah Celia.
Aku dan Vina hanya saling melirik dan diam saja, tak berani mengatakan sesuatu. Hingga kemudian Ibu merobek surat undangan hingga berkeping-keping lalu berjalan menuju kamar dan menghempaskan pintu.
"Ini semua gara-gara Kak Yanto. Ibu jadi marah sekarang, pasti uang jajanku akan berkurang."
"Diam bawel. Nanti kakak yang tambahkan uang jajanmu."
"Awas ya, jangan bohong lagi."
"Iya, nih. Seratus ribu buat tiga hari. Cukup kan?"
Aku mengeluarkan selembar uang merah yang langsung disambut oleh Vina. Huh, dasar adikku itu mata duitan. Giliran dikasi duit saja langsung girang bukan main.
Mana gajianku masih lama, tapi ah ya sudahlah. Aku kan anak laki-laki, sudah tanggung jawab ku menafkahi adik perempuan ku. Nanti tinggal minta saja sama Ayah, istri mudanya kan kaya raya.
Sudah tiga tahun ini aku bekerja di perusahaan tambang batu bara sebagai sopir. Kebetulan Minggu ini aku off, karena jatah liburku hanya diberikan tiga bulan sekali dan aku bekerja setiap harinya termasuk hari Minggu.
Sebagian besar gajiku kuberikan kepada Ibu dan Vina. Dengan gajiku itu aku bisa membiayai kuliah Vina di jurusan Kebidanan. Ibu sangat berharap aku bisa menikah dengan Celia, agar keuangan Ibu dan Vina bisa aman. Kata Ibu jika dapat istri PNS maka aku tak perlu repot-repot lagi untuk menafkahi-nya karena Vina punya gaji sendiri untuk biaya hidupnya.
Sudah tentu Ibu kesal melihat undangan tersebut. Bukannya aku tak laku dan kurang ganteng, banyak sebenarnya gadis perawan dan janda kembang yang mendekati ku tapi Ibu tak suka dengan mereka karena mereka banyak sekali maunya.
Sedikit-sedikit mereka minta belikan pulsa, skincare, baju, tas dan barang lainnya. Lama-lama bisa bangkrut aku jika menikahi mereka. Makanya Ibu selalu menjauhkan aku dari perempuan-perempuan matre seperti mereka.
Semalaman Ibu mengunci dirinya di dalam kamar, aku mengetuk pintu bermaksud membawakan makanan.
"Bu, Yanto minta maaf. Tolong bukain pintunya."
Tak lama kemudian pintu dibuka, mata Ibu nampak merah dan sembab karena menangis seharian. Sungguh aku tak mengerti kenapa bisa Ibu jadi sesedih ini hanya karena gagal melamar Celia sebagai istriku.
"Kamu harus hancurkan rumah tangga Celia! Pokoknya Ibu tidak mau tahu! Kamu harus bisa menikah dengan Celia!"
Aku melongo mendengar perkataan Ibu, tak kusangka ternyata Ibu senekat itu. Namun tak ada pilihan lain, aku mengangguk dan menyetujui saja usulan Ibu.
__ADS_1