
Tibanya di rumah sakit itu, Arka segera meminta pertolongan pada dokter untuk mengobati Cahaya. Saat itu Cahaya dibawa ke ruang UGD dan Arka hendak masuk, namun dengan cepat suster itu menolak kehadiran Arka dan meminta Arka untuk menunggu di luar saja.
"Maaf Pak, Bapak dilarang ikut masuk ke dalam, biar dokter dan kami yang akan menangani pasien," ucap suster itu.
"Tolong berikan penanganan terbaik untuk Cahaya, Sus," pinta Arka memohon.
"Kami akan melakukan pekerjaan dengan baik, Pak." jawabnya tegas lalu menutup pintu.
Arka sangat mencemaskan Cahaya, sudah sangat lama sekali ia tidak bertemu dengan Cahaya, dan kini ia harus mendapatkan kenyataan bahwa Cahaya sedang berada di ruangan UGD, kesedihan Arka tak kalah dengan kesedihan yang dirasakan oleh Riri kala itu. Riri menangis di sudut ruangan karena mencemaskan keadaan Cahaya, wanita yang telah ia anggap sebagai keluarganya.
Tak lama kemudian Ratih dan juga Alex tiba di rumah sakit, mereka berdua menghampiri Arka yang saat itu sedang berdiri di depan pintu rungan UGD.
"Arka, bagaimana keadaan Cahaya?" tanya Ratih penasaran, ia ikut cemas dengan kesalahan yang ia telah lakukan.
"Masih di tangani oleh dokter." singkat Arka menjawab tanpa menoleh ke arah Ratih maupun Alex.
Saat beberapa kemudian Arka pun menatap Ratih dan juga Alex, ia mengingat kembali kejadian yang dialami oleh Cahaya. Ia melihat dari kejauhan bahwa saat itu Ratih lah yang mendorong Cahaya hingga tertabrak oleh mobil Arka. Arka pun menatap tajam ke arah mereka yang saat itu menyadari tatapan Arka.
"Arka, kenapa kamu menatap kami seperti itu," Ratih membalas tatapan Arka dengan rasa takut.
"Kamu kan yang telah mendorong Cahaya hingga ke jalanan, dan akhirnya terjadi hal ini?" Arka bertanya seakan menuduh Ratih.
"Tidak seperti yang kamu pikirkan Arka, aku tidak mendorong Cahaya," elak Ratih tidak mengakui.
"Benar Arka, kalau kau bicara tanpa bukti, itu artinya kau menuduh." timpal Alex membela Ratih.
__ADS_1
Saat itu Alex merasa menyesal karena telah mengikuti Ratih untuk melihat keadaan Cahaya, bagaimana jika sampai Arka mencurigai semua itu dan menyerahkan kejadian ini ke polisi.
Saat itu Riri menghampiri mereka bertiga, lalu meminta mereka untuk jangan membuat keributan, Riri menangis meminta mereka untuk mendoakan yang terbaik untuk Cahaya di dalam sana.
Arka pun menahan amarahnya dan mencoba untuk tenang, sementara Alex sendiri mengajak Ratih untuk pergi dari tempat itu, ia tidak mau jika sampai perbuatan Ratih justru yang akan mengantarkan mereka berdua ke dalam kasus.
Ratih melepaskan tangan Alex yang membawanya pergi, ia terlihat marah kala itu pada Alex, lantaran ia tiba-tiba membawanya keluar dari dalam rumah sakit.
"Alex, kamu kenapa membawa aku ke sini, aku mengajak kamu untuk melihat keadaan Cahaya!" marah Ratih.
"Ratih, apa kamu tidak sadar kalau Arka tadi sudah mencurigai kita berdua, bagaimana kalau sampai Arka menyerahkan kasus ini ke polisi?" tanya Alex menatap serius.
Saat itu Alex meminta Ratih untuk duduk di mobil, dan ia berada di bagian setir. Alex membiarkan Ratih diam untuk berpikir, bahwa apa yang ia katakan itu adalah ketakutan yang nyata.
"Bagaimana Ratih, apa kamu mengerti apa yang aku takutkan?" tanya Alex saat itu.
"Kenapa Ratih, apa alasanmu untuk tidak yakin. Bagaimana kalau Cahaya sadar dan membenarkan kecurigaan Arka, kita berdua akan masuk penjara!" jelas Alex menatap serius.
Ratih pun mulai sadar dengan apa yang dikatakan oleh Alex, ia merasa takut ketika meresapi ucapan Alex yang terdengar sangat serius itu.
"Kalau begitu, kita harus pergi jauh dari sini Alex, sebelum Cahaya sadar dan mengatakan yang sebenarnya," ucap Ratih menatap Alex.
"Itu sebab nya aku mengajak kamu pergi tadi, di hadapan Arka kita bisa saja mengelak, tapi saat Cahaya sadar nanti, apa kita bisa." jelas Alex tegas.
Di saat Alex dan Ratih sedang merencanakan bahwa meraka akan pergi jauh, Cahaya sendiri sedang berjuang di ruangan dengan selang yang menempel di hidung dan tangannya. Cahaya sedang mengalami masa kritis dan saat itu ia sudah dipindahkan di ruangan yang lebih baik.
__ADS_1
Saat itu Arka dapat melihat dengan jelas wajah Cahaya, karena darah-darah dengar yang menutupi wajahnya sudah disapu bersih oleh suster dan dokter. Arka serasa tidak percaya jika pertemuannya dengan Cahaya adalah di rumah sakit. Dan ada satu hal yang menarik perhatian Arka, tangisan Riri lah yang menjadi pertanyaan Arka.
Siapakah gadis itu? Bagaimana mungkin gadis itu bisa menangis dan terlihat sangat sedih saat itu.
"Adik, sebelumnya siapa dirimu, kenapa kau menangis seperti ini di hadapan Cahaya?" tanya Arka menyadarkan Riri.
Riri menoleh ke arah Arka, saat itu Riri menyeka air matanya lalu menceritakan semua yang telah ia lalui bersama Cahaya. Riri menjelaskan bagaimana saat ia bertemu dengan Cahaya hingga akhirnya ia mengajak Cahaya untuk hidup bersamanya. Riri juga menceritakan kebaikan Cahaya padanya hingga akhirnya membuat Riri tidak bisa berkata lagi, karena ia berharap bahwa orang yang ia ceritakan itu dapat membuka mata dan mengerti bahwa ia sangat menyayanginya.
Arka merasa ikut sedih ketika mendengar cerita dari Riri, ia baru paham jika ternyata Cahaya sudah keluar dari dunia hitamnya, dan ia memutuskan untuk hidup miskin di pinggir jalan bersama dengan anak yatim piatu.
"Riri, lebih baik kamu jangan terlalu sering menangis, kasihan Cahaya jika ia mengetahui. Lebih baik saat ini kamu duduk tenang di sini," ucap Arka meminta Riri untuk lebih tenang.
"Tapi Om, saya mohon, tolong sembuhkan kak Cahaya, saya ingin menjaganya," pinta Riri menangis tersedu.
"Om akan berusaha untuk meminta dokter menyembuhkan kak Cahaya, tapi kamu juga harus mendoakan kak Cahaya agar dia bisa melewati masa kritis ini, oke. Om akan kembali." jawab Arka menepuk pundak Riri dan meninggalkannya.
Riri pun menyeka air mata, Arka haru membelikan sesuatu untuk Riri. Ia tahu bahwa saat itu gadis kecil yang sangat mengkhawatirkan mantan istrinya itu sangat menyayangi Cahaya, Arka pergi ke sebuah restoran yang dekat dengan rumah sakit, ia membungkus kan makanan dan minuman, lalu kembali menemui Riri.
"Ini makanan untukmu, Om akan kembali membawa anak-anak Om dan nenek dari anak-anak, kamu tidak keberatan jika menunggu di sini, kan?" tanya Arka meminta persetujuan dari Riri.
"Tentu Om, saya tidak akan keberatan." jawab Riri menerima kotak makanan yang diberikan Arka untuk nya.
Arka pun pergi dengan tenang, ia merasa senang jika saat iki Cahaya bukan lagi dijuluki sebagai wanita panggilan, ia sudah menyadari kesalahannya dan ia pulang dalam keadaan senang. Kedatangan Arka sudah dinantikan oleh Tasya, Aldo, dan juga Wulandari, karena sejak tadi Arka meninggalkan rumah tanpa kabar.
"Arka, dari mana saja kamu, kenapa kamu pulang sesore ini?" tanya Wulandari mencemaskan Arka.
__ADS_1
"Ya Ayah, bukannya Ayah janji mau ajak kami berdua jalan-jalan," ucap Aldo yang ikut mempertanyakan kepulangan Arka.
"Kalian semua harus tahu sesuatu, aku akan mengantarkan kalian bertemu pada seseorang, ayo." ajak Arka tidak menjelaskan apa-apa.