ISTRI DURHAKA

ISTRI DURHAKA
Part 3


__ADS_3

Dika menghampiri Celia yang berada di kamar, terlihat Celia sedang akan bersiap-siap untuk pergi.


"Kamu mau kemana malam-malam begini?"


"Sumpek aku di rumah, aku mau jalan-jalan keluar sebentar."


"Biar Abang temani ya, kamu tunggu sebentar saja. Abang mau siap-siap dulu."


"Enggak usah! Aku malas melihat mukamu seharian, enggak di rumah, enggak di kantor sama saja!"


"Lho dek, aku kan suamimu. Sudah kewajiban ku menjagamu." Tangan Dika mencegat Celia yang akan pergi.


"Kalau aku bilang malas ya malas! Aku juga butuh me time seperti Ibu Rumah Tangga lainnya!" Celia menghentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman Dika.


"Astaghfirullah." Dika mengurut dadanya melihat Celia yang berlalu pergi begitu saja.


Secara diam-diam Dika akhirnya memutuskan mengikuti Celia dari kejauhan, dengan cepat Dika menstater motor setelah Celia lebih dulu pergi. Hatinya berkecamuk, teringat saat akan menikah dahulu Ayah mertuanya berpesan agar selalu menjaga Celia.


"Ingat pesan Ayah baik-baik. Celia memang agak keras orangnya, suka membantah, tapi Ayah yakin kamu bisa mengubah sifatnya."


"Celia tidak mencintai saya, apa mungkin dia akan menerima saya menjadi suaminya."


"Sisa umur Ayah tak akan lama lagi, hanya kamu yang Ayah percayai untuk menjaga putri Ayah ini satu-satunya. Setidaknya kalian bisa berteman walaupun Celia belum bisa menerimamu."


Ayah menundukkan wajahnya, tapi Dika tahu bahwa Ayah berusaha menyembunyikan air matanya.


"Sepertinya penghulu sudah datang, kita segera keluar dari kamar untuk ijab kabul." Ucap Ayah ketika mendengar suasana ramai di luar.


Ayah dan Dika berjalan keluar, rupanya penghulu memang sudah tiba di rumah kediaman Celia yang menjadi prosesi akad nikah. Beberapa tamu dan keluarga sudah duduk rapi untuk menyaksikan prosesi pernikahan yang sakral tersebut.


Dengan lantang Dika mengucapkan ijab Kabul dengan lancar tanpa hambatan. Semua para tamu dan keluarga serempak tersenyum. Celia telah sah menjadi istri dari Dika Ananta.


Celia dipanggil keluar kamar untuk menandatangani surat-surat acara pernikahan di hadapan penghulu. Hanya wajah datar yang terlihat dari Celia. Padahal pengantin lain biasanya akan berbahagia di hari pernikahannya.


BRAKKK!


Suara tabrakan terdengar ketika Celia sedang melintasi lampu hijau. Rupanya motor yang dikendarai Celia tertabrak truk yang remnya sedang blong hingga tak mampu menahan laju kendaraannya.


Dika yang sangat panik langsung bergegas menghampiri Celia yang terbaring lemah di jalan aspal. Suasana jalan menjadi macet, supir truk langsung dikerumuni warga yang emosi dan menghajarnya ketika supir truk akan melarikan diri.


*****

__ADS_1


Sudah tiga hari Celia belum sadarkan diri di rumah sakit, Dika selalu berada di samping ranjang Celia untuk menjaganya. Kaki Celia dibalut perban dan di gips karena tulang kakinya yang patah.


"Kamu belum makan nak? Ibu bawakan nasi dan telur balado kesukaanmu."


Ibu yang baru tiba menaruh rantang di atas meja dan mengusap bahu Dika.


"Dika tak selera Bu."


"Makanlah biar sedikit. Tadi Ibu sempat berpapasan dengan Pak Handoko di luar, katanya mau ke kantor polisi untuk memberi keterangan."


"Aku malu Bu, dengan Ayah mertuaku. Aku gagal menjaga Celia."


"Ini namanya musibah, kita kan tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya."


"Hhhhh air...." Suara rintihan terdengar dari mulut Celia.


Dika langsung mengambilkan air minum dengan sedotan.


"Syukurlah nak, kamu sudah sadar." Ucap Ibu.


"Dimana aku?" Mata Celia menerawang melihat kamar bercat putih dan infus di tangannya.


"Kamu lagi di rumah sakit dek, jangan banyak bergerak ya karena kakimu habis dioperasi oleh dokter."


"Kakimu patah, untuk sementara di gips dahulu sampai benar-benar sembuh. Abang sudah mengurus izin cutimu di kantor. Jadi sementara ini, kamu di rumah saja."


Air mata Celia luruh, teringat malam itu sebelum kecelakaan dirinya membantah perkataan suaminya Dika. Selama ini Dika memang selalu sabar menghadapinya.


Sebenarnya Celia tak bermaksud menyakiti Dika, Celia hanya ingin agar Dika menceraikan dirinya.


Setelah dua hari akhirnya dokter mengizinkan Celia pulang ke rumah. Dika mendorong kursi roda Celia dan membawanya ke depan televisi.


Semenjak Celia tak bisa berjalan, Dika menjadi semakin repot. Pagi-pagi sekali Dika membantu memandikan Celia dan memakaikan pakaiannya. Hari ini Dika harus kembali bekerja seperti biasanya karena tak enak jika terlalu lama izin kepada atasan.


"Adek, nonton TV saja ya. Abang sudah masak dan menaruhnya di meja makan. Sekarang Abang mau ke kantor dulu, nanti siang jam istirahat Abang akan mampir sebentar ke rumah."


"Ya. Tolong ambilkan remot TV nya Bang."


Dika mengambil remote TV dan memberikannya kepada Celia. Setelah itu Dika bergegas ke kantor agar tak ketinggalan absen dan secepatnya menyelesaikan pekerjaannya.


"Pak Dika laporan keuangan yang kemarin sudah aku selesaikan. Jadi Pak Dika tak usah mengerjakan lagi." Ucap Siska saat melihat Dika sedang akan menghidupkan layar komputer.

__ADS_1


"Aduh, saya enggak enak ini Bu."


"Kita ini kan satu tim, ya wajar saling membantu. Dulu Pak Dika juga kan pernah bantu pekerjaan saya sewaktu saya sakit."


"Oh, ya Pak Dika ini saya buat dua kopi. Satunya buat Bapak saja." Siska menaruh secangkir kopi di meja kerja Dika.


"Lain kali enggak usah repot-repot Bu Siska. Saya juga kurang hobi minum kopi. Hanya sesekali saja jika mengantuk."


Siska sedikit cemberut mendengar perkataan Dika. Sudah semenjak lama Siska menaruh perhatian kepada Dika, tapi Dika tak pernah menyadari akan perasaannya.


"Hari ini saya ulang tahun, apa Bapak bisa menemani saya makan di kantin siang ini? Teman-teman yang lain juga sudah aku ajak."


"Maaf ya Bu Siska, saya siang ini akan makan di rumah sekaligus menemani istri saya sebentar."


"Oh, baiklah." Siska langsung beranjak menuju meja kerjanya.


Suara pesan masuk dari nomor tak dikenal muncul ke layar ponsel milik Dika.


'Istrimu sedang berselingkuh, dia menerima tamu laki-laki di rumahmu.'


Dika mengabaikan pesan tersebut, dan langsung memblokir nomornya. Suara gelas pecah langsung membuat Dika terkejut.


"Awww panas...." Siska mengusap kakinya yang terkena air kopi yang masih panas.


"Ibu tidak apa-apa?" Dika langsung membersihkan air kopi yang mengenai betis kaki milik Siska dengan tisu.


"Enggak apa-apa, Pak. Ssshhh...."


"Kaki Ibu memerah begini, biar Ibu oleskan saja lotion. Kebetulan tadi saya sempat mampir beli lotion saat berangkat ke kantor rencananya nanti mau saya bawakan untuk istri saya."


Dika mengambil lotion dari dalam tas kerjanya dan menyerahkan ke Siska.


"Pak Dika ditunggu segera ke ruangan rapat, maaf saya lupa memberitahu Bapak." Seorang Office Boy muncul di ruangan kerja sambil terengah-engah karena habis berlari.


"Baik, saya segera ke sana sekarang. Tolong kamu bersihkan lantai ini ya." Dika menunjuk lantai yang kotor terkena pecahan gelas dan tumpahan air kopi.


"Baik, Pak."


Sesaat Dika pergi, Office Boy tersebut berbisik di telinga Siska.


"Jangan ganggu rumah tangga Pak Dika, Bu atau saya akan laporkan ke istrinya."

__ADS_1


"Apa maksudmu, kamu tidak lihat kakiku melepuh begini dan Pak Dika hanya menolongku." Siska beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju sofa ruang tunggu tamu.


__ADS_2