ISTRI DURHAKA

ISTRI DURHAKA
33


__ADS_3

Mendengar hal itu tentu saja membuat Cahaya merasa kasihan, ia tidak tahu mengapa hatinya bergetar saat mendengar kalimat yang diutarakan oleh Riri kala itu. Saat itu Cahaya mencoba untuk menghibur Riri dan mereka pun akhirnya berteman.


Cahaya ikut bersama Riri di sebuah tempat tinggal kumuh, sebagai tempat tinggalnya sendiri setelah kehilangan kedua orang tua, kedua sayapnya sudah patah dan ia harus menyibakkan sayapnya sendiri dengan banyaknya rintangan yang ada.


"Kak, ini tempat tinggal ku," ucap Riri menunjuk ke arah bangunan kardus yang ada di tepi sungai.


"Ini?" Cahaya menatap serius ke arah Riri, ia berpikir bahwa saat itu Riri sedang bercanda.


"Ya, ini adalah rumah ku, tempat istirahat ku ketika aku lelah dan melindungi ku dari hujan juga panas." jawab Riri melempar senyum.


Cahaya merasa sedikit risih kala itu, ia merasa menyesal lantaran telah ikut bersama dengan Riri, namun saat melihat Riri yang saat itu cukup senang dengan kehadirannya membuat Cahaya menepis rasa menyesal nya.


Riri mengajak Cahaya masuk dan duduk di rumah kecil itu, rumah itu benar-benar tidak layak untuk dihuni, namun di sana lah kenyataan yang mengantarkan Cahaya pada takdirnya.


Riri meminta Cahaya untuk istirahat di sana, lalu ia juga memijat kaki Cahaya yang masih terasa sakit. Saat itu Riri merasa sangat senang lantaran ia memiliki teman hidup, ia merasa ada harapan untuk tetap bersemangat kala itu.


Hingga beberapa hari kemudian, Cahaya dan Riri ada di sana. Beberapa hari setelah kedatangan Cahaya, Riri gunakan uang tabungan nya untuk biaya makan dan minum bersama dengan Cahaya. Dan setelah keadaannya juga Cahaya membaik, mereka pun mencoba untuk mendiskusikan keadaan mereka yang menyedihkan itu.


"Kak, kita harus bekerja, uang tabunganku sudah habis tak tersisa," ucap Riri pada Cahaya.


"Maafkan Kakak ya Riri, kedatangan Kakak hanya membawa beban untuk mu," seru Cahaya merasa bersalah.


"Tidak Kak, ini bukan salah Kakak. Kakak menang sedang tidak baik-baik saja, sebab itu kita bertemu dan berusaha mengobati Kakak sampai sembuh." jawab Riri yang sama sekali tidak merasa keberatan.

__ADS_1


Saat kaki Cahaya sudah membaik, ia merasa berhutang budi pada Riri. Lantaran karena dia lah yang telah merawat dirinya hingga ia sembuh, Cahaya berpikir bahwa saat ini lah waktu yang tepat untuk membalas kebaikan Riri.


"Emmm, Riri... Kamu kerjanya apa, untuk menghidupi keseharian kamu di sini?" tanya Cahaya serius.


"Tidak pasti Kak, aku kadang ngamen di lampu merah, atau juga jadi tukang kuli di pasar, aku tidak tahu pekerjaan ku sebenarnya apa, tapi yang jelas di saat ada waktu senggang, aku gunakan untuk bekerja." jawab Riri penuh semangat.


Deg... Hati Cahaya tersayat ketika itu, ia merasa tersadar jika selama ini ia sangat buta akan penderitaan orang lain, bahkan ia sendiri lari dari masalah bersama keluarga di saat keluarga jatuh miskin, padahal keluarganya masih terlihat baik-baik saja, makan pun masih bisa sehari tiga kali, namun ia lari dari semua itu dan memilih bekerja sebagai wanita panggilan.


Tak terasa air mata Cahaya menetes, ia merasa bahwa kisah yang baru saja ia temui itu sebuah tamparan untuk kehidupan pribadinya. Ada rasa menyesal yang terlintas di hatinya, hingga air matanya terus mengalir kala itu.


"Ada apa Kak?" tanya Riri menatap Cahaya.


Saat itu Cahaya pun menyeka air matanya dan tersenyum di balik kesedihan yang ia rasakan. Cahaya menatap Riri dan mencoba untuk menutupi masalahnya.


"Tidak, aku tidak apa-apa," ucap Cahaya, lirih.


"Ya, ada sedikit sesal yang aku rasakan saat ini, aku memiliki keluarga, tapi aku justru meninggal mereka." jawab Cahaya kembali meneteskan air mata.


Saat itu Riri mengerti duka yang dirasakan oleh teman barunya itu, ia nampak terlihat berusaha menghibur Cahaya dan membuatnya kembali semangat. Dan saat itu Cahaya pun sadar, bahwa sesal yang ia rasakan sudah tidak berguna, hidup harus ia jalani, dan ia sudah berusaha menerima keadaan yang ada saat ini, tinggal di sebuah sudut kampung yang kumuh dan di rumah kardus yang mungkin akan hancur sewaktu-waktu jika hujan turun.


"Riri, sudah tidak perlu memikirkan tentang masalah ku atau masalah mu, kini kita harus tetap hidup, dan kehidupan itu harus berjalan. Kita tidak boleh terpaku dalam masalah," ucap Cahaya menyeka air matanya.


"Kau benar, kalau kita terus saja memikirkan masalah, hidup kita akan semakin terbebani. Kalau kau mau, kau bisa ikut denganku mengamen hari ini di lampu merah," seru Riri menawarkan pekerjaan.

__ADS_1


"Tentu saja aku bersedia, aku mau ikut bersamamu." jawab Cahaya melempar senyum, ia sama sekali tidak menunjukkan keberatan pada Riri.


Riri melempar senyum, ia sangat senang karena kini ia tidak sendiri lagi, ia sudah memiliki teman baru yang sangat baik padanya. Hari itu juga Cahaya keluar dari rumah kardus itu, lalu ia mencoba untuk ikut bersama dengan Riri, terjun ke jalanan untuk mencari rupiah. Kini kehidupan Cahaya sangat jauh berbeda. Ia sangat terlihat tidak menarik lagi.


Setelah keluar dari rumah Ratih, Cahaya tidak memiliki banyak uang, dan ia sudah tidak bisa lagi melakukan beberapa perawatan seperti yang ia lakukan dahulu.


"Tunggu Kak," ucap Riri.


"Ada apa?" tanya Cahaya terhenti.


"Kau harus kelihatan dekil dan jelek, karena jika kau terlihat cantik, maka orang tidak akan kasihan pada mu, dan tentunya tidak mau memberikan dirimu uang." jawab Riri.


Cahaya nampak bingung apa yang akan dilakukan oleh Riri, Riri pun mengusap-usap kedua telapak tangannya di sebuah arang hitam di pinggir jalan, lalu setelah itu ia mengusap kan warna hitam itu di tangan dan kaki Cahaya, Cahaya nampak tidak terima saat itu, namun mengingat ucapan Riri bahwa jika ia terlihat bersih dan cantik maka orang tidak akan memberikan uang padanya.


Terakhir Riri memberikan warna hitam itu di kedua pipi Cahaya, lalu ia mengobrak-abrik rambut Cahaya hingga berantakan.


"Apa kita perlu melakukan ini?" tanya Cahaya merasa sedikit kesal.


"Iya, ini perlu kita lakukan, sebutan kita di jalanan adalah gembel, atau pengamen jalanan, jadi penampilan kita perlu sedikit mendekati dengan kalimat keduanya." jawab Riri tegas.


Cahaya tidak menyangka, jika ia ternyata akan ditakdirkan menjadi pengamen seperti yang dikatakan oleh Riri, Cahaya tak bisa banyak berpikir saat itu. Ia dibawa oleh Riri keluar dan tiba di jalanan yang padat saat jam siang tiba.


Di bawah terik matahari yang menyengat itu, Cahaya dan Riri berada di bawah lampu merah. Ia mendatangi satu mobil ke mobil lainnya dengan sebuah nyanyian yang mereka lakukan, lalu ada sebagian yang memberikan uang pada Riri di sebuah plastik yang ia bawa, dan ada juga yang tidak memberikan uang pada mereka.

__ADS_1


Cahaya nampak berkeringat saat itu, terik matahari sangat menyengat hingg membakar kulitnya. Namun Cahaya tidak boleh menyerah jika Riri saja mampu bertahan kala itu.


Menyusuri jalanan yang padat, lampu merah pun kini sudah berganti menjadi hijau. Riri mengajak Cahaya untuk pergi dari tempat itu, karena jika tidak, mereka akan menggangu para mobil yang hendak berlalu.


__ADS_2