
Cahaya nampak panik saat itu, lantaran suara melengking ibu kontrakan dan ibu-ibu lainnya yang meminta dirinya keluar dari kontrakan itu, mereka tidak mau jika Cahaya membawa kutukan buruk karena perbuatannya. Cahaya menangis saat itu karena tidak bisa mengatakan apa-apa. Ia tidak bisa berkata apapun untuk membela dirinya, karena mereka tidak percaya pada apapun yang ia ucapkan.
Saat itu ada seorang ibu yang mengeluarkan koper Cahaya dari kamar lalu membuangnya begitu saja di hadapan Cahaya.
"Bawa barang-barang mu dan pergi dari sini wanita kotor!" titah ibu itu menatap penuh amarah pada Cahaya.
"Benar, kau lebih baik segera tinggalkan tempat ini, cepat!" seru ibu kontrakan tak kalah marah.
Saat itu Cahaya hanya terdiam lalu melakukan gerakan meraih kopernya, dan dengan kakinya yang masih terasa sakit, ia akhirnya keluar dari rumah itu. Cahaya tidak bisa membendung air matanya yang tidak bisa ia tahan lagi, di luar rumah ada beberapa bapak-bapak yang juga sedang menyoraki dirinya, Cahaya tidak berani menoleh ke arah mereka, karena hadirkan dan kutukan mereka pada Cahaya.
Saat itu Alex pun berada di barisan mereka semua, dan kehadirannya tidak disadari oleh Cahaya lantaran Cahaya sejak tadi menundukkan kepala dan tidak berani mengangkat kepala nya menatap kemarahan para warga.
Saat itu Alex melempar senyum tipis, ketika melihat Cahaya keluar dari rumah kontrakan itu, ia berhasil membuat Cahaya kehilangan tempat tinggalnya di tengah malam yang gelap. Saat itu Cahaya tidak tahu ke mana ia akan pergi, dan ke mana ia akan istirahat, karena memang ia sebatang kara.
"Cahaya!"
Suara seseorang memanggil nama Cahaya, dan saat itu Cahaya terhenti dari langkahnya, ia menoleh ke belakang dan menyadari bahwa ada seorang pria yang memanggil namanya, di tengah malam yang gelap, wajah pria itu tidak terlihat dengan jelas, karena lampu-lampu jalanan yang tidak begitu menerangi membuat Cahaya menjadi terbatas.
Saat Alex sudah sangat dekat dengan dirinya, barulah Cahaya sadar bahwa pria yang memanggil dirinya itu adalah Alex.
"Alex, kenapa kamu ada di sini?" tanya Cahaya bingung.
"Bagaimana permainan ku Cahaya? Apa sudah cukup oke?" Alex justru melemparkan pertanyaan pada Cahaya saat itu.
"Permainan, apa maksud kamu, Alex!" suara lantang Cahaya menggema, dan saat itu ia melihat senyum penuh ledekan dari Alex.
__ADS_1
"Permainan yang sangat menarik bukan? Saat aku menjebak mu bersama dengan seorang pria dan pada akhirnya kamu bernasib malang seperti ini, di usir oleh pemilik kontrakan dengan hina." jawab Alex tersenyum puas.
Cahaya terkejut bukan main, karena mendengar pengakuan dari Alex, rupanya semua yang terjadi padanya malam itu adalah permainan Alex sendiri. Cahaya sangat marah, ia mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali saat itu ia melakukan sesuatu pada Alex, namun Alex justru menunjukkan sikap penuh tawa di hadapan Cahaya.
"Cahaya... Cahaya.... Ini adalah konsekuensi kamu karena kamu memilih pergi dariku, aku tidak akan membiarkan itu terjadi begitu saja Cahaya, kamu harus membayar semua sakit hatiku," ucap Alex menatap serius pada Cahaya.
"Apa yang kamu mau dariku Alex? Apa jangan-jangan kamu juga yang telah menghasut Ratih hingga aku diusir dari rumahnya!" tuduh Cahaya.
"Ya, kamu benar sekali Cahaya. Aku lah yang membuat kamu diusir dari rumah Ratih, dan sekarang kamu juga di usir dari kontrakan kamu, itu semua karena aku Cahaya, aku lah penyebabnya. Bagaimana? Usahaku untuk membuat kamu menderita cukup bagus kan," seru Alex membalas tatapan Cahaya.
"Kamu adalah pria terjahat yang pernah aku temui Alex, aku tidak punya masalah padamu, tapi kamu selalu menggangguku. Kamu sendiri yang tidak mau bertanggung jawab atas diriku, tapi kenapa kamu masih mengusik ku." marah Cahaya yang tidak menyangka jika Alex lah di balik semua masalah yang ada.
Alex tak menimpali, ia hanya tertawa bahagia melihat penderitaan Cahaya saat ini, dan Cahaya pun merasa bahwa percuma jika ia tetap ada di sana, Alex tidak memberikan jalan apapun padanya, ia hanya sedang menertawakan penderitaan yang kini menimpanya, dan tidak lebih dari itu.
Cahaya membawa kopernya dan memutuskan untuk pergi, namun langkah kaki Cahaya ditahan oleh Alex yang saat itu masih belum puas terhadap nya.
"Saat aku tahu kalau kau hanya mementingkan ego mu, di tambah lagi dengan ulah mu yang jahat hingga membuat aku sampai di titik ini, aku sama sekali tidak menganggap dirimu manusia Alex, tapi aku menganggap mu sebagai setan yang berwujud manusia, aku sangat membenci dirimu, mana mungkin aku mau kembali pada laki-laki egois dan jahat seperti mu." tolak Cahaya mentah-mentah.
Cahaya membawa kopernya dan melanjutkan perjalanannya, sampai kapan pun ia tidak akan kembali pada pekerjaan itu dan kembali pada Alex. Dan kepergian Cahaya membuat Alex sangat marah, ia tidak menyangka jika ternyata membuat Cahaya kembali lagi padanya itu ternyata sangat sulit.
***
"Mbak, mbak bangun,"
Suara seseorang tengah mengusik tidur Cahaya, dan ia pun terbangun ketika mendengar suara tersebut. Saat itu Cahaya membuka kedua matanya, semalam ia tertidur di sebuah ruko, karena lelah hendak pergi ke mana, ia pun terhenti di sana dan tertidur.
__ADS_1
"Maaf, saya mengganggu Ibu," ucap Cahaya setelah membuka kedua matanya dan melihat ada seorang wanita di hadapannya.
"Tidak masalah jika kau mau tidur di depan ruko saya saat malam tiba, tapi kalau bisa usahakan pergi sebelum saya datang untuk membuka ruko saya," seru ibu itu dengan nada sedikit tidak enak.
"Baik Bu." jawab Cahaya mengangguk pelan.
Cahaya pun melanjutkan perjalanannya, ia nampak bingung saat ini mau pergi ke mana, ia sudah tidak memiliki banyak uang saat ini, dan ia bingung harus membawa langkah dan kopernya ke mana.
"Ya Tuhan, aku sangat lapar sekali," lirih Cahaya bergeming.
Di pagi hari yang banyak sekali manusia melakukan aktivitas mereka dengan semangat, Cahaya justru masih lontang lantung tidak ada kegiatan apapun, bahkan ia tidak tahu harus melakukan apa saat ini.
Saat hendak melangkahkan kembali kakinya, Cahaya tiba-tiba menabrak seseorang hingga membuat orang tersebut terjatuh. Saat itu Cahaya berusaha menolong dengan keadaan kakinya yang masih terasa sakit.
"Adik, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Cahaya.
"Tidak Kak, aku tidak apa-apa," ucap adik itu.
"Ayo duduk dulu, biar aku periksa kakimu." suruh Cahaya meminta adik itu untuk duduk bersamanya.
Cahaya pun mulai memeriksa keadaan kakinya, dan untung saja kaki gadis kecil itu tidak apa-apa. Cahaya melempar senyum dan menyodorkan tangan padanya.
"Kakimu tidak apa-apa, siapa namamu?" tanya Cahaya.
"Aku Riri, Kak," seru gadis kecil itu.
__ADS_1
"Ya ampun cantik sekali namamu, putriku seusia dirimu. Oh ya, apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu tidak sekolah?" tanya Cahaya bingung.
"Aku sudah putus sekolah Kak, ibu dan ayahku sudah meninggal beberapa bulan yang lalu, dan aku tinggal di jalanan ini sendiri," seru Riri menatap penuh kekosongan.