ISTRI DURHAKA

ISTRI DURHAKA
21


__ADS_3

Saat itu Alex tidak mau meneruskan kemarahannya, ia lebih memilih untuk membawa Anton pergi dari tempat itu, sementara Cahaya sendiri nampak masih bingung dengan kemarahan Alex pada Anton yang terlihat sangat serius.


Di perjalanan, Alex menghadang mobil Anton dan meminta nya untuk berhenti, saat itu Anton pun tak bisa berkutik lantaran Alex sudah menutup jalannya dengan mobilnya.


"Turun!" marah Alex saat itu juga ia turun dari mobil.


Anton segera turun dan menemui Alex, Alex dengan cepat mencengkram kerah kemeja Anton dan memberikannya pelajaran, Anton tak bisa menghindar kala itu lantaran Alex memukulinya secara brutal, sampai akhirnya Anton terjatuh dan terkapar di tanah.


Perkelahian itu di tonton banyak pengendara yang melintas, dan ada salah satu mobil yang menepi untuk menghentikan perkelahian sengit itu.


"Stop, stop, stop.... Tolong jangan bertengkar di jalanan seperti ini, semua masalah bisa di selesaikan," ucap seseorang itu yang melerai pertengkaran tersebut.


"Diam, jangan ikut campur!" bentak Alex yang berusaha menyingkirkan tangan pria itu.


Namun, saat Alex menatap wajah pria tersebut. Ia merasa tidak asing. Ya, laki-laki itu adalah Arka, mantan suami dari Cahaya.


"Kamu?" Alex menunjuk ke arah Arka, ia berusaha mengingat bahwa apa yang ada di kepalanya itu benar.


"Jadi rupanya kamu, pria yang kutemukan sedang bersama dengan mantan istriku, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Arka melempar senyum tipis.


"Apapun yang aku lakukan di sini itu bukan urusanmu, lagian kamu tidak perlu menghentikan perkelahian antara aku dengan dia, dia adalah adik tiri ku, dan aku berhak atas dirinya," celetuk Alex dengan kemarahannya.


"Terserah jika memang kamu mau melakukan itu, tapi aku memintamu untuk tidak berkelahi di pinggiran jalan seperti ini, apa kamu tidak malu banyak mata yang menonton perbuatan kalian di sini? Seharusnya kalian jika ingin bertengkar carilah tempat yang sekiranya kalian tidak merasa malu, tapi jika kalian keberatan, ya sudah, silahkan lanjutkan." jelas Arka memasang wajah tak perduli.


Saat itu Arka memutuskan untuk kembali ke dalam mobilnya, penampilan Arka mencuri perhatian Alex, lantaran saat ini ia sudah lebih baik dari sebelumnya.


Saat Alex sedang fokus memperhatikan kepergian Arka, Anton mencuri kesempatan itu untuk pergi meninggalkan Alex dan langsung masuk ke dalam mobil. Alex pun tak bisa berbuat apa-apa lantaran kepergian Anton tidak ia sadari.

__ADS_1


***


Suatu ketika, saat Alex berada di kantor dan ia diberitahukan bahwa ada meeting di luar kantor oleh sekertaris nya, saat itu juga Alex pergi meninggalkan rungan nya untuk melakukan pekerjaan tersebut.


Tibanya di sebuah restoran yang dipilih, Alex duduk menunggu bersama sekertaris nya, dan tak lama kemudian ada seorang laki-laki yang menyapa Alex dengan penuh senyuman, laki-laki itu adalah pimpinan suatu perusahaan, ia bersama dengan Arka, karena Arka sudah diangkat menjadi sekertaris nya.


"Selamat siang Pak," ucap pak Hermansyah melempar senyum, mengulurkan tangan di hadapan Alex dan juga sekertaris nya.


"Selamat siang Pak, silahkan duduk. Bapak ini sama siapa ya?" tanya Alex ketika menatap Arka yang ada di samping pak Hermansyah.


"Oh, dia adalah sekertaris baru saya," sahut pak Hermansyah dengan bangga.


"Oh, begitu." singkat Alex menjawab, ia terlihat tidak senang saat melihat Arka saat itu.


Namun Arka sendiri justru terlihat sangat enjoy, ia sama sekali tidak memikirkan siapa yang akan ia hadapi dalam sebuah pekerjaan. Dan beberapa saat kemudian, meeting pun di mulai, Arka menjelaskan dengan sangat lugas, dan begitu pun dengan sekertaris Alex yang menyampaikan materi dengan baik.


"Pak, bagaimana, dengan meeting hari ini?" tanya pak Hermansyah yang tidak ingin menunggu lama.


"Oh, tentu saja saya setuju, Pak," dengan cepat Arka menjawab dengan senyuman.


"Kalau begitu, kita sepakat untuk bekerja sama ya, Pak." jawab pak Hermansyah mengulurkan kembali tangannya.


Dengan cepat Alex menyambut jabatan tangan tersebut. Dan saat itu Alex mengarahkan tangannya pada Arka, ia terpaksa melakukan itu karena tidak enak hati dengan pak Hermansyah, dan Arka pun melakukan itu karena tidak ingin sampai membuat pak Hermansyah kecewa.


Setelah meeting berakhir, pak Hermansyah menjamu Alex dan sekertaris nya dengan makanan. Saat sedang menikmati makan siang bersama, Alex nampak melihat sesuatu yang mencuri perhatiannya.


Di sebuah sudut meja yang ada di luar restoran, ia menangkap suatu pemandangan. Cahaya sedang menikmati makan siang bersama di restoran yang sama dengan Anton. Saat itu Anton memperlakukan Cahaya dengan sangat manis, hingga membuat Alex sangat terbakar api cemburu. Ia tak henti-hentinya menghardik Anton yang tidak kapok dengan pelajaran yang telah ia berikan.

__ADS_1


Di saat itu Arka juga melihat orang yang sama ketika ia sedang menikmati makanannya, dan saat itu Arka menyadari bahwa tatapan Alex pun mengarah pada Cahaya.


'Rupanya kamu sudah tidak lagi bersama laki-laki ini, Cahaya. Kamu sudah menggantinya dengan yang lebih muda.' batin Arka saat melihat mantan istrinya itu sedang bermesraan dengan laki-laki lain.


Setelah menikmati makan siang bersama, pak Hermansyah pun mengajak Arka untuk pamit. Mereka pergi lebih dulu dan meninggalkan Alex bersama sekertaris nya.


Arka dan pak Hermansyah keluar dari restoran, dan saat itu juga Cahaya menyadari keberadaan Arka yang melintas di depan meja makannya.


'Mas Arka? Itu beneran mas Arka,' batin Cahaya menatap serius ke arah Arka yang sudah semakin menjauh.


Wangi parfum yang sangat ia kenal meyakinkan Cahaya bahwa apa yang ia lihat itu adalah benar, laki-laki yang baru saja lewat itu adalah mantan suaminya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Anton menyadari lamunan Cahaya.


"Oh, nggak papa kok, kita lanjutkan aja makannya." jawab Cahaya mengalihkan perhatiannya.


Anton mengangguk santai, ia tidak sadar dengan sikap Cahaya. Beberapa saat kemudian Alex pun melintas di depan meja makan Cahaya, berbeda dengan Arka. Jika Arka memilih untuk melanjutkan perjalanannya, Alex justru berhenti tepat di meja makan itu setelah meminta sekertaris nya jalan lebih dulu.


"Enak banget kamu ya, Cahaya. Hubungan kamu denganku itu belum berkahir, tapi kamu udah sama dia terus," ucap Alex kecewa.


"Mas, aku realistis, bukan egois. Jadi kamu jangan membuat keributan di sini, tolong." pinta Cahaya dengan nada cetusnya.


Alex menatap kecewa, mendengar ucapan Cahaya yang begitu sangat menyakitkan baginya. Saat itu Alex memutuskan untuk pergi meninggalkan meja makan Cahaya, dan membiarkan dia bersama dengan Anton, adik tiri yang sudah mulai tergila-gila dengan Cahaya itu.


Sementara Cahaya sendiri sudah tidak berselera makan saat itu, hingga disadari oleh Anton yang duduk berhadapan dengannya.


"Cahaya, kamu jangan khawatir, jika pun kamu tidak bersama dengan kakak tiri ku itu, setidaknya kamu bisa bersamaku," ucap Anton melempar senyum.

__ADS_1


Sontak saja hal itu membuat Cahaya terkejut, ia tidak percaya dengan pengakuan Anton yang secara tidak sengaja itu.


__ADS_2