
"Cahaya, aku tidak mau kejadian ini terulang kembali, kamu tidak bisa membawa anak-anak sesuka hati kamu tanpa seizin dariku!" marah Arka menatap Cahaya penuh.
"Mas, kamu terlalu berlebihan sama aku, aku udah lama nggak ketemu sama anak-anak, wajar dong kalau sekalinya aku ketemu, aku bawa mereka jalan-jalan agak lama," ucap Cahaya membela diri.
"Tidak Cahaya, itu tidak wajar. Kamu pergi tanpa memberi tahu aku ataupun Ibu, seharusnya kamu memberi tahu aku biar aku dan Ibu tidak panik," seri Arka.
"Itu benar Cahaya, seharusnya kamu memberitahu Ibu atau Arka dulu sebelum kamu membawa anak-anak pergi," sambung Wulandari membela Arka, karena ia merasakan betapa paniknya mereka saat itu.
"Mas, Bu, kalian kenapa si selalu menyalahkan aku, aku tuh cuma mau nyenengin anak-anak aja, nggak lebih dari itu kok. Kalau pun memang kalian nggak suka, oke, aku akan pergi dari sini!" sergah Cahaya tidak mau mengakui kesalahannya.
Cahaya berlalu meninggalkan Arka dan Wulandari yang masih terlihat sangat marah, dan saat Cahaya hendak masuk ke dalam mobil dengan cepat Tasya berlari mengejar sang ibu.
Tasya menangis meminta Cahaya untuk berhenti dan tidak pergi lagi meninggalkan dirinya, namun sayangnya Cahaya sudah terlanjur kecewa pada Arka dan ibu mertua nya.
"Ibu, jangan pergi lagi Bu, jangan tinggalin Tasya, kalau Ibu pergi, Tasya mau ikut Ibu," rengek Tasya memegang erat pergelangan tangan Cahaya.
"Cahaya, apa-apaan kamu ini, kenapa kamu mau ikut Ibu kamu, Ayah tidak akan mengizinkan kamu untuk ikut bersama Ibu kamu," seru Arka melarang Tasya untuk ikut bersama ibunya.
"Tapi Ayah, Tasya nggak mau Ibu pergi, Tasya mau ikut Ibu Ayah." jelas Tasya masih merengek dalam tangisnya.
Cahaya sendiri tidak bisa berkata apa-apa, tidak mungkin ia akan membawa Tasya untuk ikut bersamanya, karena pekerjaannya yang tidak memungkinkan membuat Cahaya harus menolak keinginan Tasya.
"Tasya, lebih baik kamu ikuti saja keinginan Ayah kamu, dan jangan nakal sama Ayah, Ibu harus pergi sekarang," ucap Cahaya melepaskan tangan Tasya yang menahan pergelangan tangannya.
"Tidak Ibu, Tasya mau ikut Ibu, Tasya mohon, hiks," seru Tasya masih sedikit memaksa.
"Maaf sayang, Ibu tidak bisa ikut bersama mu, lebih baik kamu ikut bersama Ayah dan nenek, kalian akan bahagia bersama mereka." jelas Cahaya masih menolak.
__ADS_1
Arka dan Wulandari hanya saling menatap satu sama lain, melihat sikap Cahaya yang sepertinya cuci tangan setelah membuat Tasya bahagia ketika bersama nya.
Namun, Arka sendiri tidak bisa melepaskan Tasya begitu saja jika Cahaya akan membawanya, karena ia sudah mengetahui bagaimana pekerjaan Cahaya.
Cahaya pun berlalu pergi dengan meninggalkan rasa sakit yang amat dalam di hati Tasya, lantaran permintaannya untuk ikut bersama sang ibu tidak ia kabulkan, saat itu Arka berusaha untuk meraih Tasya yang terjatuh dan menangis, namun dengan cepat pergelangan tangan Arka di tepis oleh Tasya.
Tasya bangkit dan menyeka air matanya, ia menatap penuh kebencian pada sang ayah karena ia menganggap bahwa ayahnya lah yang telah membuat ibunya pergi.
"Aku benci sama Ayah, aku sangat membenci Ayah!" marah Tasya berlalu pergi meninggalkan Arka.
Arka beberapa kali memanggil Tasya, namun Tasya memilih masuk ke kamar dan mengunci nya, sementara Aldo sendiri masih terdiam di tempat sebelumnya, entah apa yang ia rasakan kala itu, karena ia sendiri tidak mungkin melawan ayahnya atau menyalahkan ibunya.
"Aldo, ayo kita masuk," ajak Arka merangkul Aldo yang sejak tadi tidak bersuara.
"Ayah, kenapa Ibu dan Ayah selalu bertengkar jika bertemu? Apa tidak ada lagi kesempatan bagi Ayah dan Ibu untuk bersama seperti dulu? Ayah, Aldo rindu dengan masa-masa dulu yang pernah kita lewati bersama," lirih Aldo mempertanyakan tentang hal itu pada Arka.
"Tapi kenapa kalian berdua harus berpisah, bukannya jika bersama itu bisa jauh lebih indah, meskipun akhir-akhir ini Aldo tidak pernah melihat lagi ayah dan ibu bersikap manis seperti dulu," sahut Aldo masih bersuara.
Saat itu Arka tidak bisa menjawab apapun, ia nampak bingung lantaran kedua anaknya memiliki pemikiran yang berbeda, ia berusaha untuk merayu Aldo dan mengajaknya masuk, adzan magrib sudah terdengar dan kala itu Tasya masih menangis sedih karena kepergian ibunya.
Arka dan Wulandari saling menatap setelah memberikan pengertian pada Aldo, dan Aldo pun mulai mengerti kala itu jika kedua orang tuanya memang telah berpisah, Aldo mulai memahami jika kedua orang tuanya memang tidak akan bisa kembali seperti yang ia inginkan.
"Sekarang Aldo mulai paham kan? Dan Ayah minta Aldo sekarang istirahat di kamar, Insya Allah saat Ayah gajian nanti, kita akan jalan-jalan," ucap Arka setelah panjang lebar menjelaskan pada Aldo.
"Baik Ayah." jawab Aldo melempar senyum tipis.
Aldo pamit pada Arka dan Wulandari untuk pergi ke kamar, Arka menyandarkan kepalanya di kursi, ia menghembuskan nafas pelan sembari memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Arka, kamu kenapa?" tanya Wulandari.
"Bu, Arka bingung harus berkata apa sekarang ini, bagaimana caranya menyikapi Tasya," ucap Arka merasa pusing.
"Pelan-pelan Arka, kita tidak bisa langsung meminta anak-anak untuk mengerti, butuh waktu untuk memberikan pengertian pada mereka, soal Tasya, biar nanti Ibu yang akan membantu kamu untuk bicara pada Tasya," seru Wulandari yang mengerti jika putranya itu sedang memilikimu banyak masalah.
"Terima kasih banyak Bu, semoga anak-anak bisa segera mengerti ya Bu." jawab Arka berharap.
Wulandari mengangguk pelan, ia mengerti bahwa saat itu putranya sedang banyak pikiran. Dan saat itu juga Wulandari memutuskan untuk menghampiri kamar Tasya, saat itu Wulandari perlahan mengetuk pintu dan meminta untuk membukakannya.
"Tasya, ini Nenek, boleh Nenek masuk?" tawar Wulandari saat itu berkata di balik pintu yang masih tertutup.
Tasya mendengar suara itu, lalu setelah itu ia segera menyeka air matanya dan membukakan pintu, saat itu Wulandari melempar senyum saat melihat cucunya sudah sembab karena terlalu lama menangis.
"Masuk Nek," ucap Tasya lirih.
"Terima kasih sayang." jawab Wulandari melempar senyum. Lalu ia masuk dan menutup pintu itu kembali.
Aeka memperhatikan dari kejauhan, saat itu ia tidak mendengar pembicaraan antara nenek dan anaknya, Wulandari memeluk Tasya terlebih dahulu sebelum ia mengajak Tasya mengobral.
Wulandari pun memberikan pengertian pada Tasya agar ia bisa sedikit memahami apa yang telah terjadi pada kedua orang tuanya, dan saat itu Wulandari justru mendapatkan serangan dari Tasya yang tidak mau menerima nasehat darinya.
Antara Tasya dan Aldo sangat jauh berbeda, Tasya sedikit keras kepala dan tidak mau menerima nasehat dari Wulandari, ia justru membentak Wulandari dan memprotes semua takdir yang menimpa pada kehidupannya.
"Nenek, jika Ibu dan Ayah tidak bisa bersama-sama lagi, untuk apa Tasya hidup, jika hanya melihat pertengkaran dan jarak yang semakin tujuh seperti ini!" marah Tasya mengeluarkan rasa kecewanya.
"Tasya, kenapa kamu bicara seperti itu, apa kamu pikir Ayah mau melakukan semua ini, tidak Tasya. Ayah ditinggalkan oleh Ibu kamu, dan memilih bersenang-senang sendiri di luar sana, Ibu kamu telah durhaka pada ayah," seru Wulandari dengan sedikit bernada tinggi.
__ADS_1