ISTRI DURHAKA

ISTRI DURHAKA
Part 6


__ADS_3

"Istrimu belum pulang, Dika?" Ibu menyajikan teh hangat dan sepiring pisang goreng di meja ruang tamu.


"Belum Bu, mungkin masih lembur." Jawab Dika berbohong.


Dika meraih sepotong pisang goreng dan memakannya, sudah hampir jam sepuluh malam ternyata Celia belum pulang juga ke rumah.


"Apa Celia mungkin nggak suka Ibu di sini sementara waktu?" Mata Ibu menatap luar jendela dengan nanar.


"Celia suka kok Bu, tapi memang akhir-akhir ini Celia banyak pekerjaan. Maklum karena sudah akhir tahun jadi banyak pekerjaan menumpuk." Lagi-lagi Dika berbohong.


"Coba kamu telpon istrimu, tanyakan jam berapa dia pulang ke rumah."


Dika meraih ponsel dan menghubungi Celia namun tak tersambung. Baru saja Dika ingin menghubungi Celia kembali ternyata terdengar suara motor berhenti di depan rumah.


"Itu istrimu, nak. Sepertinya lagi capek sekali." Ibu menunjuk arah luar pintu yang terbuka.


"Darimana saja kamu?" Dika langsung memberi pertanyaan sebelum Celia melepaskan sepatunya.


"Ya dari kantor lah, memang mau kemana lagi. Awas aku mau masuk kamar dan istirahat."


"Tunggu dulu! Kenapa tak memberi kabar?"


Celia mendorong Dika yang tetap menghalangi jalannya, lalu bergegas ke dalam kamar dan membanting pintu dengan keras. Ibu langsung mencegah Dika dan memberi isyarat untuk tak membuat keributan.


"Sudah, mungkin Celia masih capek. Jangan berondong dengan pertanyaan terus menerus." Ibu mengajak Dika untuk duduk di sofa kembali.


"Dika lelah Bu menghadapi sifatnya yang semaunya sendiri, sepertinya rumah tangga ini akan berakhir."


"Istighfar nak, kalian baru menikah beberapa bulan."


Pintu kamar terbuka dan Celia berdiri di depan pintu karena mendengar perkataan Dika terhadap Ibunya.


"Kalau kau mau cerai, silahkan talak aku sekarang kalau perlu talak tiga sekalian!"


Ibu mengusap bahu Dika dan menggeleng.


"Kenapa diam? Kamu pikir aku tak tahu perselingkuhan mu dengan Siska! Semua pegawai seluruh kantor tahu dengan berita perselingkuhan kalian. Aku malu menjadi bahan gunjingan akibat perselingkuhan kalian."

__ADS_1


"Apa! Selingkuh!" Ibu histeris, nampak kekecewaan di wajahnya.


"Enggak Bu, itu hanya gosip." Jawab Dika.


"Kalau Ibu tak percaya, silahkan lihat foto ini!"


Celia masuk ke kamar dan mengambil ponselnya, lalu menunjukkan rekaman video di kantor saat Dika mengusap kaki Siska yang terkena tumpahan air kopi panas.


"Itu tidak benar! Aku hanya menolong Bu Siska saja."


"Masih berkelit juga, aku akan cari bukti lebih kuat dari ini. Tunggu saja!"


Celia kembali masuk menuju kamarnya, Ibu hanya diam dan menggeleng lemah.


"Apa Ibu salah mendidikmu selama ini?"


"Enggak Bu, itu semua fitnah. Pasti ada yang ingin merusak rumah tangga kami."


"Ibu mohon jangan bercerai, apapun yang terjadi di antara kalian."


Ibu tak mendengarkan dan memilih kembali ke kamarnya. Dika menunduk dan menyesali perbuatannya, kenapa dirinya harus bersikap kasar kali ini. Padahal biasanya dirinya selalu sabar menghadapi Celia.


Pelan Dika membuka pintu kamar, Celia yang baru saja mandi sedang duduk menyisir rambutnya.


"Dek, maafkan Abang ya."


Celia diam dan tetap melanjutkan menyisir rambutnya seakan tak mendengarkan.


"Itu semua fitnah dek, ada yang ingin merusak rumah tangga kita."


"Oh sekarang bilang fitnah padahal tadinya ingin menceraikanku." Celia menjawab dengan sinis


"Maaf Abang khilaf, masalah Ibu dengan Ratna membuat Abang emosi hari ini."


"Oh, ya Bang ingat waktu yang kuberikan masih tersisa dua hari lagi. Ibu harus angkat kaki dari rumahku, aku tak mau ada orang ketiga yang ikut mencampuri urusan rumah tangga kita."


Dika mengusap wajahnya kasar, Celia masih tetap pada pendiriannya ingin Ibu segera keluar dari rumahnya.

__ADS_1


*****


Pagi hari Dika mendapati sebelah ranjangnya nampak kosong, Celia ternyata sudah lebih dulu bangun tidur. Pakaian tidurnya semalam sudah berada di keranjang cucian pertanda Celia sudah mandi pagi-pagi sekali.


Dika berjalan ke arah dapur mencari Celia namun yang ada hanyalah Ibu sedang mencuci piring.


"Sudah Bu, tidak usah dicuci biar Dika saja."


"Nggak apa-apa, Ibu lagi nggak ada kerjaan sekalian olahraga biar ada keringat."


"Kasihan istrimu juga, pagi-pagi sekali sudah dapat telpon dari atasannya katanya ada pekerjaan penting. Tadi juga tidak sempat sarapan, Ibu mau membangunkanmu tapi dilarang sama istrimu." Lanjut Ibu.


Dika menghela nafasnya, dan menggeleng lemah. Menurutnya pasti Celia mencari-cari alasan saja agar tidak berlama-lama bersama Ibu di rumah.


****


"Bu Siska bisa kita bicara sebentar?" Dika menghampiri Siska yang baru saja tiba di kantor.


"Tentu saja bisa." Siska menjawab ramah.


"Kenapa istriku bisa dapat rekaman video saat Ibu Siska terkena tumpahan kopi panas?"


Siska terkejut dan gelagapan, batinnya tidak tenang.


"Maksudnya bagaimana ya Pak, saya tidak mengerti."


"Ada yang mengirimkan video itu kepada istri saya dan memfitnah kita berdua. Seingat saya saat itu hanya kita berdua saja yang baru datang ke kantor dan yang lainnya belum datang."


"Saya benar-benar tidak tahu Pak siapa yang tega merekam video tersebut."


Dika terdiam dan memilih berjalan ke arah meja kerjanya. Siska merasa gugup hingga tak sengaja menjatuhkan berkas-berkas di atas meja kerjanya.


"Eh Pak Dika saya mau tanya, apa betul Ibu Celia akan dipindahkan ke daerah pelosok?" Tanya Siska.


Dika mengernyit heran dan tidak menjawab.


"Ma-maaf Pak Dika kalau pertanyaan saya salah." Siska melanjutkan pekerjaannya dan tak berani bertanya lagi.

__ADS_1


__ADS_2