
"Aku mau pergi sebentar," ucap Cahaya yang tidak memberi tahu hendak ke mana ia akan pergi.
"Kamu mau pergi ke mana Cahaya? Sudah beberapa hari ini kamu sepertinya sangat sibuk dengan urusan pribadimu, kapan kamu mau membuka diri lagi sebagai wanita panggilan?" tanya Ratih yang sudah berdiri sejajar dengan Cahaya.
Cahaya terdiam, rasanya ia sudah tidak ada minat lagi untuk bekerja sebagai wanita panggilan, karena statusnya yang pernah di tolak oleh Alex dan merasa dibohongi oleh Anton, membuat Cahaya seperti ingin menutup diri untuk laki-laki.
"Emmm, aku tidak ingin memikirkan itu Ratih, aku ingin banyak-banyak memperhatikan anak-anak ku, aku sudah melakukan kesalahan besar dengan cara meninggalkan meraka dan mereka harus tumbuh tanpa aku, ibunya," ucap Cahaya melempar senyum, berharap bahwa pilihannya akan didukung oleh Ratih, sahabatnya.
"Apa maksud kamu, Cahaya?"
Ratih nampak menatap penuh kemarahan ketika Cahaya, justru memilih untuk tidak mau memikirkan hal yang seharusnya ia pikiran, menjadi wanita panggilan sudah seharusnya ia nikmati dari awal dirinya bergabung, namun sepertinya Cahaya justru sudah tidak begitu berminat hingga pikirannya saat ini tidak ke arah sana lagi.
"Ratih, maksud aku jelas, aku sudah tidak ingin lagi memikirkan tentang hal itu, aku ingin hidup normal seperti sebelumnya," ucap Cahaya.
"Cahaya, kamu tidak bisa memutuskan secara sepihak seperti ini, kamu sudah bergabung lama dan kamu mau keluar begitu saja? Ini tidak bisa, Cahaya!" marah Ratih tidak terima.
"Kenapa Ratih, kenapa tidak bisa. Menjadi wanita panggilan itu adalah pekerjaan yang sangat membosankan, aku tidak ingin melakukan itu lagi karena aku ingin memperbaiki hubunganku dengan anak-anak." jawab Cahaya kekeh dengan pendiriannya.
Plak!!
Sebuah tamparan mendarat bebas di pipi Cahaya. Saat itu Ratih terlihat sangat marah lantaran Cahaya sudah mulai berani memutuskan kerja secara sepihak.
"Kenapa kamu menamparku, Ratih?" tanya Cahaya memprotes perbuatan Ratih.
"Kenapa aku menamparmu? Itu sudah sangat jelas alasannya, Cahaya. Kamu tidak bisa berhenti begitu saja dari pekerjaan ini, pelanggan mu tidak hanya Anton dan Alex, jadi kenapa kamu harus berhenti hanya karena dua laki-laki itu," omel Ratih.
"Ratih, aku sama sekali tidak menyebut nama Alex maupun Anton, tapi aku hanya ingin memperbaiki hubunganku dengan anak-anakku, itu saja. Aku bahkan sama sekali tidak mau mengingat Alex maupun Anton, mereka tidak tulus padaku." jelas Cahaya memendam kecewa.
__ADS_1
Tetap saja, alasan yang diberikan Cahaya tidak diterima oleh Ratih, lantaran ia tidak mungkin membiarkan Cahaya berhenti dan meninggalkan pekerjaannya itu, selama ini meraka berjuang bersama-sama, dan ia tidak ingin Cahaya keluar dengan mudahnya.
Tak lama kemudian telpon pun berdering, saat itu Ratih segera mengangkat telpon dan menahan pergelangan tangan Cahaya, agar Cahaya tidak kabur dari rumah.
"Ya halo, bagaimana tuan?" tanya Ratih ketika Alex menghubungi dirinya. Ia sengaja menyebut nama Alex dengan panggilan Tuan.
"Ratih, apa kamu bisa membantu ku? Aku ingin kamu membawa Cahaya untuk ku, aku menunggu di hotel biasa," pinta Alex, setelah berusaha menghubungi Cahaya, namun selalu ditolak.
"Oh, tentu saja tuan, aku akan segera membawa Cahaya ke sana." jawab Ratih dengan penuh senyum.
Lalu setelah itu Alex pun mematikan ponselnya, saat itu Ratih menatap Cahaya yang masih ada di sampingnya, Cahaya berusaha untuk meminta Ratih melepaskan dirinya, namun Ratih tidak mengabulkan permintaannya.
"Ratih, lepaskan aku!" pinta Cahaya yang saat itu ingin berlepas diri dari Ratih.
"Tidak Cahaya, aku tidak akan mengizinkan kamu pergi, ada pelanggan yang ingin ditemui oleh kamu, jadi sekarang juga aku harus mengantar kamu kepadanya," ucap Ratih masih menahan pergelangan tangan Cahaya.
"Cahaya kali ini dia akan membayar kamu sangat mahal, jadi kamu harus menerima tawaran ini, aku tidak akan membuat kamu kecewa Cahaya." jelas Ratih memaksa.
Cahaya tidak bisa berkata lagi, ketika Ratih langsung menyeretnya masuk ke dalam mobil, meskipun di sepanjang perjalanan Cahaya meminta Ratih untuk berhenti, namun Ratih tak menggubris dirinya.
Tibanya di hotel tempat di mana Alex meminta Ratih untuk membawa Cahaya, Ratih pun mengajak Cahaya turun. Cahaya yang sudah beberapa kali di ajak ke hotel itu oleh Alex, merasa sudah tidak asing lagi dengan tempat itu, dan ia memiliki falling bahwa yang memesan dirinya itu adalah Alex.
"Ratih, jangan bilang kalau yang memesan aku itu adalah Alex?" tanya Cahaya menatap serius.
"Kalau iya, kenapa Cahaya? toh selama ini yang berani membayar kamu mahal itu adalah Alex kan, jadi kamu harus masuk dan temui dia." jelas Ratih melempar senyum.
Saat itu Cahaya memberontak, ia tidak mau bertemu dengan Alex apapun alasannya, namun Ratih tetap saja menarik paska tangan Cahaya hingga tiba di pintu kamar hotel milik Alex, saat itu Ratih menyalakan bel, dan tak beberapa lama kemudian Alex pun keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Alex nampak melempar senyum ketika melihat Cahaya, wanita yang selalu menemani dirinya selama ini, namun karena sebuah penolakan dari Alex sendiri lah yang membuat Cahaya memutuskan untuk pergi.
"Terima kasih Ratih, telah membawa Cahaya padaku," ucap Alex melempar senyum.
"Ya Alex, tidak masalah. Tapi kau tahu kan kalau ini tidak gratis," seru Ratih meminta bayaran pada Alex.
"Kamu tenang saja, aku sudah mempersiapkan semuanya untukmu." jawab Alex mengeluarkan sejumlah uang di dalam dompetnya.
Ratih melempar senyum lalu ia melempar kan Cahaya ke dalam pelukan Alex, lalu Ratih melambaikan tangan pada Cahaya yang menatap penuh kemarahan.
"Cahaya, perlakukan tamu dengan baik, aku pergi dulu." pamit Ratih melempar senyum ketika sudah memastikan bahwa Cahaya bersama Alex.
Cahaya tak menggubris ucapan Ratih, ia justru membalasnya dengan kekesalan. Dan tak lama kemudian Ratih pun pamit meninggal kan Cahaya dan Alex,. saat itu Alex mempersilahkan Cahaya masuk ke kamarnya, namun Cahaya masih sangat berat hendak mengikuti ajakn Alex.
Alex terpaksa membawa paksa Cahaya dan menutup pintu kamarnya, saat itu Alex meminta Cahaya untuk duduk di sofa. Dan Alex sendiri ikut duduk di samping Cahaya.
"Cahaya, apa yang kamu pikirkan, kenapa kamu selalu mematikan telpon dariku, apa salahku?" tanya Alex menatap Cahaya.
Cahaya tidak menggubris, kedatangannya di kamar itu tidak seperti sebelum Cahaya mengerti bahwa Alex membutuhkan dirinya hanya karena di saat ia butuh saja.
Alex mulai bersikap manja, ia menciumi tangan Cahaya dan berusaha membuat Cahaya bergairah, namun hari itu Cahaya sama sekali tidak merasakan apapun karena kekesalan di hatinya jauh lebih besar daripada hasratnya.
"Cahaya, apa kau tidak merindukan aku? Aku akan membayar mu jauh lebih tinggi dari biasanya," ucap Alex yang menyadari bahwa Cahaya tidak bereaksi.
"Maaf Alex, aku sama sekali tidak menginginkan hal ini lagi, aku berpikir bahwa apa yang aku lakukan ini adalah sebuah kesalahan, dan aku akan memperbaiki kesalahan itu," seru Cahaya menatap serius ke arah Alex.
Mendengar hal itu tentu saja bertentangan dengan keinginan Alex saat itu, dan membuat Alex mendengus kesal mendengarnya.
__ADS_1