
di ruang tamu Ningrum duduk lemah, dirinya tak memiliki tenaga padahal ingin sekali mencecar Lukman
begitu juga lili, tak kuasa menahan sedari tadi ia berusaha agar tak menangisi kepergian menantu tercintanya, setelah Alya benar benar menghilang. ia merasakan kesedihan mendalam
Maria berusaha menenangkan Ningrum dan Lili, sedangkan zelina dan Gilang tak keluar dari kamar, terasa malu menampakkan wajahnya
"sudah bulek, kan ada Dinda ganti Alya" Dinda berusaha mendekatkan dirinya pada keluarga Lukman
"jauhi diri mu dari ku, tak Sudi kamu menyentuh ku" tolak Ningrum
"Bund, aku akan berusaha seperti Alya" Dinda beralih pada lili
"tak akan ada yang bisa mengantikan alya sekali pun itu kamu" lili menggeser sedikit duduknya
"kenapa bund, bulek aku juga istrinya kak Lukman, sama seperti Alya juga menantu tapi kenapa dia yang kalian sayang" Dinda tak Terima kehadirannya tak di terima baik
"kamu dengan Alya itu berbeda, jelas. kenapa harus kamu hadir" Ningrum berdiri meninggalkan ruangan itu
"kak, kenapa diam aja si, aku di hina begitu" Dinda merangkul lengan Lukman
"sudah lah Dinda, aku malas ribut. nanti juga Meraka akan menerima mu"
"ya tapi sampai kapan kak"
__ADS_1
"sabar, kamu usaha mendekatkan diri pada mereka, seperti Alya, nanti juga mereka akan luluh sendiri"
"sudah sudah, Kalian jangan bertengkar di sini, orang lagi pusing kalian malah ribut " tegur Raka
...*****...
Di sisi lain, Tiga jam di perjalanan tanpa berhenti, Alya dan keluarganya sampai di rumah mereka
Nata turun terlebih dulu setelah itu Alya, Linda dan Vina bersama kedua anaknya, sedangkan Reno memarkir mobil di garasi rumah
"Alhamdulillah, selamat datang kembali di rumah" kata Nata menyambut Alya
"makasih papa mama mau menerima Alya lagi"
"eh, kok ngomong gitu sih, jelas nerima lah, kamu itu anak kami" balas Linda
"ini yang mana harap dari kamu, bisa tertawa lagi seperti dulu"
"iya ma, minta doanya agar Alya bisa melewati ini"
"mama papa Abang dan kakak mu selalu mendoakan mu dek" ucap Reno duduk di sisi istrinya
"makasih bang, kak Vina"
__ADS_1
"sama sama dek, eh. kembar ayo istirahat dulu di kamar masih ngantuk ini" Vina mengajak kembar ke kamarnya
"bobok yang nyenyak ya cucu nenek, muach" Linda bergantian mencium cucunya
"iya nek" balas kembar sambil mengucek matanya
"ma, aku ke kamar juga ya, masih capek " pamit Alya
Linda dan nata mengangguk, tinggal bertiga di ruang tengah itu setelah Alya dan Vina ke kamar mereka
sampai di kamar, Alya terisak pelan tak ingin orang tua dan kakaknya tau, bukan karna berpisah dari Lukman ia menangis tapi untuk menghilangkan rasa sakit di hatinya agar dendamnya ikut mereda
nyatanya, Alya menangis bukannya mereda malah membuat sakit hati dan dendamnya semakin besar, ia memukul dadanya berharap rasa itu tidak ada lagi
*kenapa kau tega kak, aku rela menunggu mu, aku jadi bahan gosipan orang orang dan ini balasan mu* Alya bergumam dalam hati
kembali ke ruang tengah, dimana Nata Linda dan Reno duduk berdiskusi, merencanakan apa selanjutnya agar Alya tak berlarut-larut dalam kesedihan
"apa rencana papa untuk Alya" tanya Reno
"papa belum ada ide Ren, kamu apa punya rencana untuk adik mu"
"ngak ada pa, kalau mama bagaimana " tanya Reno pada Linda yang tengah berfikir
__ADS_1
"untuk saat ini, biarkan Alya dalam pengawasan kita, kalau dia di luar takutnya Lukman bertindak yang tidak tidak" kata Linda
sedikit banyak Linda dan nata mengetahui karakter Lukman, Lukman kalau kehendaknya belum tercapai maka tidak akan menyerah sampai dia mendapatkan keinginannya