
ningrum masuk keruangan Dinda, menyorot tajam penuh intimidasi membuat Dinda bergidik ngeri, di ruangan itu hanya ada Ningrum, Dinda dan anaknya yang tertidur lelap di box khusus bayi
"Bu bulek, duduk" kata Dinda tergugup
Ningrum tak menjawab ucapan Dinda, wajah Ningrum sangat dingin, Ningrum menggeser kursi menjauh dari ranjang Dinda
uwek.. uwekk
bayi itu menangis karna lapar, Dinda ingin mengambil anaknya di box tapi perutnya tiba tiba sakit dan meminta tolong pada Ningrum
"Bu bulek, bisa minta tolong " Dinda sedikit takut
Ningrum menatap tajam, rasanya malas tapi terpaksa tak tega juga pada cucu dari anak mbaknya yang tak tau apa apa
"apa sayang haus ya, sini sama nenek mi mik susunya" Ningrum mengendong Bayi yang belum diberi nama itu
Dinda tersenyum melihat perlakuan manis Ningrum, berharap masalahnya dengan Ningrum cepat membaik dengan kehadiran anaknya
"jadi anak yang baik ya nak, jangan seperti ibu mu jadi pela kor" sindir Ningrum
kembali Dinda tersulut emosi mendengar ucapan Ningrum, ia ingin meneriaki Ningrum namun ibu mertuanya masuk Hinga membuat dia menutup kembali mulutnya
"eh, sudah sampai rum" sapa Sarah
"iy" ucapan Ningrum terputus
"ibu, tolong ambil anak ku dari bulek, dan bulek jangan lagi menyentuh anak ku setelah ini" bentak Dinda
__ADS_1
Sarah kaget, belum pernah mendengar menantunya berkata dengan kasar
"lihat mbak, menantu yang kamu bangakan punya sifat yang sangat buruk" bala Ningrum sambil menyerahkan bayi itu pada Sarah
"bulek yang memulai, aku tidak Sudi anak ku di gendong"
"heh, perempuan bermulut jahat, kamu yang meminta tolong"
"sudah, ada apa ini, coba ceritakan " Sarah mencoba melerai
"dengar ya mbak, menantu mbak ini tidak lebih baik dari Alya, mana pernah Alya membentak orang tua "
"tu kan, mulai Bu, bulek membandingkan aku sama wanita sial an itu yang belum ada apa apanya sama aku, jelas aku lebih unggul karna sudah ada buktinya kak Lukman memilih ku"
"hahaa ... asal kamu tau pelak or, Lukman diam diam masih mencintai Alya, kamu itu karna hamil mana di luar nikah, kalau tidak hamil kamu sudah di buang jauh jauh"
Ningrum tersenyum puas, akhirnya wanita bermuka dua itu di marahi ibu mertuanya sendiri
...*******...
Di posisi lain, Lukman melihat Alya masuk ke sebuah restoran pada Ng tempat biasa Alya dan Daffa makan
Daffa sudah tiba lebih dulu, Alya berjalan mengarah ke tempat yang sudah Daffa pesan terlebih dulu
"kak, maaf ya aku terlambat " kata Alya sambil menunduki tempatnya
"kakak sudah pesan menu kesukaan mu al" Alya membalas dengan tersenyum
__ADS_1
"oh ya Al, soal kemaren, apa kamu sudah memikirkan jawaban" tanya Daffa dengan penasaran
"maaf kak, soal itu, aku sedang menunggu jadwal sidang ku, kalau kak bersedia menunggu sampai sidang ku selesai, aku menerima"
"siap, kakak mau menerima mu al"
Lukman yang mendengar percakapan itu, hatinya panas berjalan mendekati meja Alya dan Daffa
brak
Lukman menggebrak meja, Alya dan Daffa kaget lalu menoleh, Alya sangat geram
"apaan si kamu " bentak Alya tak terima
"kamu yang apaan Al, kamu itu masih istri ku beraninya kamu selingkuh " Lukman membalikkan fakta
sementara orang sekitar sedang makan seketika berhenti, Lukman mengambil kesempatan itu
"ini bapak ibu, wanita ini telah berselingkuh dengan lelaki ini, dia ini istriku tapi main gi la, kurang apa aku selama ini, aku sudah memenuhi tanggung jawab ku tapi masih dia berselingkuh" kata Lukman
Alya menyorot mata menatap tajam, matanya merah menahan malu, sementara Daffa diam membisu, kembali lukman beraksi konyol
"silahkan kalian viralkan ibu bapak, biar wanita ini tau rasa, berani bermain gi la" ucap Lukman menggebu
plak... sebuah tamparan mendarat di pipi Lukman, meninggal bekas jari jari Alya di sana
"jaga ucapan mu, kamu yang telah berselingkuh, jangan pernah menuduh ku selingkuh, ingat aku sudah mengajukan gugatan" Alya berkata sambil air matanya bercucuran deras
__ADS_1
Lukman terdiam, dia tidak mengetahui bahwa Alya telah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan