
Nata menyerah uang yang di beri keluarga Lukman sebagai tanda permintaan maaf juga penebus malu kepada Alya, jelas jelas mana ada malu bisa di tebus pakai uang, namun itu cara mereka menghargai Alya
Alya sebenarnya tidak menginginkan uang itu, ia bermaksud memberikan kepada papanya, tapi Nata menolak, itu di berikan kepada Alya bukan dirinya
"apa rencana mu setelah ini nak" tanya Linda duduk di samping Alya
"belum tau ma, sementara ini Alya hanya ingin di rumah"
"apa kamu ada niat melanjutkan kuliah mu" kata Nata
"ngak pa, Alya Malu karna teman teman Alya sudah banyak tahu Alya di tinggal"
nata mangut mangut, sambil memikirkan apa yang baik untuk putrinya setelah ini, tak mungkin Alya hanya berdiam diri di rumah saja
nata tidak mempermasalahkan jika Alya di rumah saja, tapi itu tidak baik kalau anaknya benar benar di rumah saja tanpa melakukan sesuatu kegiatan
"apa kamu mau membuka toko..! dengan modal ini jelas tidak cukup, papa tambahkan modal, mau nak" nata kembali membuka suara
Alya berfikir sejenak..
"untuk saat ini belum pa, Alya akan memikirkan nya lagi"
"ya sudah, ini kamu pegang saja, jika sudah menemukan idenya beritahu papa, papa akan bantu"
"iya pa, makasih" Alya mengambil amplop berisi uang itu
__ADS_1
...****...
Vina siang ini mengajak Alya keluar jalan jalan bersama kembar, awalnya Alya menolak tapi terus di paksa akhirnya mengikutinya
ini cara Vina, agar adik iparnya kembali ceria seperti dulu, sejak Alya kembali dari kampung halaman Lukman, Alya jarang keluar rumah. dia sibuk mengurung diri di rumah tak banyak berinteraksi dengan orang lain selain keluarganya
"ayok dek, kembar sudah siap tu di mobil" kata Vina
"kak, aku ngak ikut aja deh, malu"
"malu kenapa, udah ah ayok, kasihan kembar loh udah janji" Vina membujuk
"tapi kak, aku kucel banget karna kurang perawatan, Malu kak"
"kucel gimana, coba kamu bercermin. kamu tetap cantik dek" Vina mendorong Alya menyembulkan diri di pantulan cermin
Alya terpaksa menyerah, mengikuti kemauan kakak iparnya itu...
...****...
Lukman balik ke rumahnya, Dinda memasang wajah kesal karna Lukman tidak memberinya kabar
lukman cuek saja, walau dia tau bahwa Dinda marah padanya, terlalu lelah untuk berdebat..
"man, sudah pulang kamu, itu istri sirih mu buat orang panik aja" kata Mbah sinem
__ADS_1
"panik, panik kenapa mbah"
"teriak teriak sendiri di kamar, sudah gila kali, coba kamu periksa ke dokter deh" usul sinem
zelina yang mendengar percakapan itu langsung menghampiri sinem dan Lukman yang sedang duduk di kursi makan, berniat ingin menegur mereka
"Mbah, jangan ngomong gitu lah sama cucu sendiri" tegur Zelina
"cucu siapa, dia bukan cucu ku" sinem tak terima
"lah dia kan istrinya Lukman otomatis cucu Mbah juga
"menantu cucuku ya Alya, siapa Dinda"
"sudah sudah, malah berdepat si mbak Mbah, ngak ingat umur apa kalian" tegur Lukman
"kamu Lukman, istri lagi hamil besar malah di tinggal tinggal, memang kemana kamu dua hari ini" tanya zelina
"anuh mbak, hemm," Lukman mengaruk kepala nya yg tak gatal
"anuh anuh, anuh apa, jawab kemana kamu, jangan bilang menemui alya" zelina mencoba menebak nebak
"ngak mbak, siapa bilang aku malah sudah mentalaq alya" Lukman keceplosan
"serius kak, kakak sudah mentalaq wanita sialan itu" Dinda menimpali ucapan Lukman
__ADS_1
sinem langsung melebarkan matanya, tak percaya bahwa Lukman telah menjatuhkan talaq yang artinya Alya kini bukan lagi istri Lukman
"jaga ucapan mu, dia bukan wanita sialan yang ada kamu yang sialan" bentak sinem lalu berlalu menjauh