Istri Hanya Dua Hari

Istri Hanya Dua Hari
Bab 17. IHDH


__ADS_3

dua hari berlalu, Sarah ibu lukman kembali ke kampung halamannya dari Bali, dia berangkat menaiki pesawat mengambil keberangkatan pagi dan tiba sore hari di rumah


zelina kaget saat melihat sosok ibunya berdiri di ambang pintu, karna sebelumnya Sarah tak memberi tahu akan pulang lebih cepat


"ibu" pekik zelina berlari memeluk Sarah


"mana Lukman sama Dinda" tanya Sarah


"di kamar bu, apa mau Lina panggilkan"


"ngak perlu nanti ibu ke sana sendiri, oh ya mana suami mu Gilang juga cucu ibu"


"mas Gilang lagi kerja Bu, kalau Devin sama Mbah di belakang"


"kamu masukkan barang ibu ke kamar, ibu mau menemui lukman" Sarah menyerah koper besar serta oleh oleh untuk anak menantu dan cucunya tak lupa ibunya dan adik kakaknya


tok


tok


tok


ceklek.. lukman membuka pintu sedangkan Dinda tertidur pulas sambil memeluk bantal guling


"ibu, kok ngak ngasih tau kalau mau pulang, tau gitu kan Lukman jemput "

__ADS_1


"sengaja, ibu ngasih kejutan sama anak anak ibu" Sarah memeluk Lukman menyalurkan kerinduan karna lama tak bertemu


Sarah pernah mengajak anak anaknya untuk ikut ke Bali namun anak anaknya menolak, hanya beberapa bulan bertahan setelah itu meminta balik


"Din Dinda bangun, ibu pulang " Lukman membangunkan Dinda


Dinda menggeliat lalu membuka mata perlahan, Dinda masih mengantuk tapi tak enak karna mertuanya baru tiba


"Bu, kapan sampainya, maaf Dinda ketiduran" Dinda mendekat lalu memeluk mertuanya


"baru juga si, ngak apa apa, gimana sama kehamilan mu baik saja kan atau ada masalah " Sarah mengelus perut Dinda pelan


"Baik bu, dedeknya sehat normal" jawab Dinda


"ini buat kamu Lukman juga buat calon cucu ibu yang sebentar lagi lahir " Sarah menyerah satu BOK besar berisi oleh oleh


"makasih bu"


"sama sama sayang"


...*****...


Alya di sibukkan dengan pekerjaan, sedikit demi sedikit dia telah bisa melupakan Lukman, untungnya Lukman tak pernah kembali setelah mentalaq alya waktu itu


"may, ini ya barang barang yang akan kita order lagi" Alya menyerah kertas putih berisi catatan barang habis

__ADS_1


"oh iya, oke letak saja di situ" sedangkan Maya sibuk menghitung uang pemasukan


Alya kembali ke meja kerjanya, dia mengotak Atik ponselnya, tak lama muncul pesan dari no baru yang tak ia kenal


[hai Alya, ini aku Daffa] Alya mengerutkan keningnya


[Daffa siapa] balas Alya


[Daffa temen Maya, yang waktu itu kita makan bareng bertiga]


Alya diam sejenak, mengingat kembali kapan bertemu Daffa, tiba tiba ingatan berputar beberapa hari yang lalu saat mengajak Maya makan di restoran pa dang


[oh iya, maaf maaf lupa, Daffa itu ya]


[iya, kok bisa lupa, apa sedang memikirkan sesuatu sampai lupa sama aku]


Mereka terus saling berbalas pesan sampai tak memperhatikan Maya, yang dari tadi melirik Alya senyum senyum sendiri


"hati hati, main ponsel bisa membuat orang jadi gi la" sindir Maya


Alya menghentikan aktivitas memainkan ponsel, melirik ke arah Maya


"ih, apaan si, ganggu saja" balas Alya


"di tegur malah di bilang ganggu, memang membalas pesan siapa si" tanya Maya yang sedari tadi penasaran

__ADS_1


"mau tau saja, sana kerjakan kerjaan mu yang belum beres"


Maya menurut saja, toh nanti juga Alya akan cerita sendiri tanpa dia mencari tahu karna Maya sudah hafal sifat Alya yang tak mungkin akan merahasiakan sesuatu darinya, begitu juga sebaliknya


__ADS_2