
Siang ini, Lucas datang ke kediaman Alya bersama istrinya dan Ningrum bersama Darmin tak lupa Raka bersama lili juga ikut hadir, mereka menyampaikan permohonan maaf atas apa yang di lakukan Lukman pada Alya
Lucas mengeluarkan amplop coklat dari saku celananya lalu menyerahkan pada Alya, Alya keheranan apa isi di dalam amplop itu
"ini sebagai permohonan maaf dari kami pak Nata Bu Linda juga penebus malu Alya pada masyarakat" kata Lucas
"apa ini pak, kok di kasih amplop segala, itu takdir Alya, saya hanya minta doa agar Alya bertemu kembali dengan jodoh yang baik, hanya itu pak Lucas pak Raka" balas Nata
"mohon di terima pak Nata jangan di tolak, Alya Ayah mohon terimalah" Raka membuka suara
"apa ini yah" tanya Alya
"buka saja nga apa apa Al" kata Lili sambil tersenyum manis
Alya membuka amplop itu ternyata isinya uang sebesar dua puluh juta, Alya kaget lalu menyerahkan uang itu pada Nata
"maaf ayah, bunda bude pakde tapi ini kebanyakan" Alya menyerah amplop itu pada Nata
"ayah mohon terima nak, jangan di tolak, ayah tau ini belum seberapa dengan apa yang Lukman lakukan sama kamu"
"tak akan bisa di bayar dengan apapun, tapi sekali lagi. ayah yang meminta Alya menerima nya " jawab Raka
"baiklah pak Raka saya terima, kalau terus di tolak, takutnya tersinggung, terima saja Al" kata Nata
"terimakasih pak Nata" balas Lucas
__ADS_1
"baik Ayah pakde Alya terima, terimakasih telah merepotkan" jawab Alya
Lili Maria tersenyum akhirnya pemberian mereka di terima Alya walau awal di tolak mentah-mentah namun di bujuk akhirnya di terima juga
sedangkan Ningrum dari tadi sibuk memeluk Alya, melepaskan rindu. sesekali bercengkrama denga Linda
"baiklah pak Nata Bu Linda mas Reno juga mbak Vina kami pamit dulu, lain kali kami main lagi" kata Maria
"Al, bunda pulang dulu ya, sering kasih kabar bunda ya nak, bunda ayah pasti rindu sama kamu" ucap Lili memeluk Alya
"Iya bunda, insha Allah" balas Alya
"hati-hati di jalan" Linda melambaikan tangan
...****...
berulang kali Dinda mencoba namun tetap sama jawaban, no tidak dapat di hubungi, Alya membanting ponselnya ke atas kasur
"arggg" Dinda sangat kesal pada suaminya sendiri
zelina berlari ke kamar Dinda yang dulu di tempati Alya saat di rumah itu, zelina mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam
"Dinda kamu kenapa, buka pintunya" zelina terus mengetuk pintu, dia panik mendengar teriakkan Dinda
"Din, buka ini mbak Din, kamu kenapa, dinda"
__ADS_1
"ada apa Lin, kenapa berteriak manggil dinda" kata sinem dari dapur mendekati Zelina
"ini Mbah, Dinda teriak teriak di dalam, Lina khawatir takut terjadi sesuatu di dalam "
"ah, yang bener saja kamu lin, Mbah ngak dengar apa apa dari tadi"
"benar Mbah, Lina dengar sendiri Dinda berteriak"
zelina kembali menggedor pintu sangat kuat, tak lama Dinda membuka pintu, matanya merah karena menangis
"ada apa sih Din, kamu ngak apa apakan, kandungan kamu baik baik saja" tanya zelina terlihat panik
"ngak apa apa mbak, aku kesel aja kak Lukman susah di hubungi"
"mbak fikir kamu ada apa di dalam, sudah nanti mbak coba telfon lukman, kamu tenang ya"
"ah, di kira ada apa tadi, tau nya karna Lukman, ini belum seberapa Dinda bagaimana Alya dulu menunggu bermingu Minggu menghilang" sindir sinem
"Mbah aja, jangan ngomong gitu Mbah, kasihan Dinda "
"lah benerkan yang Mbah katakan, salahnya di mana coba, sudah ah orang banyak kerjaan, kirain apa tadi" sinem berlalu pergi meninggalkan Dinda dan zelina yang kaget, tak percaya sinem berkata kasar
"sudah, ayo mbak bantu kamu ke baring id kasur, jangan dengarkan ucapan Mbah tadi ya, jangan di masukin ke hati"
"iya mbak, makasih"
__ADS_1
zelina membantu dinda merebahkan diri di atas kasur, zelina duduk di sisi ranjang sambil mencoba menghubungi lukman