
hari ini, Alya izin tidak masuk kerja, karna hari ini waktunya Alya mengajukan gugatan ke pengadilan
sebenarnya waktunya sudah lewat, Alya sengaja memperlambat pengaduannya karna mencari waktu yang tepat dan tidak sibuk mengurus tokoh
Alya hari ini di temani orang tuanya, dua hanya bertiga karna Reno kerja dan Vina mengurus kembar yang sangat aktif
"Al, sudah siap, berkas berkas lengkap" tanya nata saat Alya hendak naik ke mobil
"sudah pa"
Nata melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah menuju ke pengadilan dengan jarak sekitar tiga puluh menit
"bismillah, semoga lancar pengajuan kamu nak, semoga ini langkah menuju kebaikan dan kebahagiaan untuk mu " Linda mendoakan Alya
"aamiin" jawab mereka bertiga serentak
Alya menatap keluar jendela, tak menyangka dia akan mengalami hal seberat ini, memutar kembali pada ingatan saat dia bertemu dengan lukman, bagaiman Lukman menyatakan isi hatinya melamar Hinga mereka resmi menjadi suami istri dan pada titik sekarang harus menjalani persidangan beberapa Minggu kedepan setelah pengajuan gugatan
Alya menitikkan air mata, bukan karna dia sedih. ini tangisan terakhir yang dia keluarkan menangis nasib karna perbuatan Lukman
*aku berjanji, setelah ini tak ada lagi kesedihan karna Lukman* gumam Alya sambil menghapus air matanya berjatuhan
"kok nangis nak" tanya Linda yang dari tadi memperhatikan Alya dari kaca depan
__ADS_1
"en enggak apa apa ma" Alya berusaha menghentikan tangisannya
"ngak apa apa kok tiba tiba nangis" timpal Nata sambil fokus menyetir
"pengen nangis aja pa"
"sudah ah, kita akan menuju kebahagiaan dan selamat tinggal kepedihan" Linda menyemangati Alya sambil membentangkan tangannya lebar
Alya terkekeh karna merasa terhibur dengan kelakuan mamanya
...
Lukman tidak mengetahui Alya hari ini akan menggugatnya, karna mereka lost contact, Alya memblokir panggilan dari Lukman
"ngak tau Bu, aku tak bisa lagi menghubungi Alya "
"kenapa ngak bisa, apa Alya sudah ganti no baru"
"aku di blokir makanya ngak bisa lagi menelfon dia"
"oh begitu, tungu saja mungkin nanti akan ada surat sidang di antar ke sini "
"ibu tahu dari mana" tanya Lukman mengubah duduknya menghadap Sarah
__ADS_1
"karna dulu ibu pernah mengugat ayah mu, makanya ibu tau"
Lukman mangut mangut saja, mengerti apa yang di jelaskan ibunya, tak lama keluar Dinda membawa nampan berisi teh dan kue yang di beli di pasar
"Bu, aku merasakan perut mu sedikit sakit" Dinda memegangi perutnya yang besar
"apa sudah keluar air bercampur darah din" tanya Sarah mulai sedikit khawatir
"belum Bu, cuma kadang sakit terus timbul lagi tapi lama lama sakitnya bertambah"
"itu tandanya kamu akan melahirkan, Lukman siapkan keperluan Dinda dan anak mu, kita bawa Dinda ke rumah sakit" perintah Sarah
"apa harus sekarang Bu, tidak bisa nanti saja Lukman lagi ngeteh ni"
jawaban Lukman membuat Sarah geram, Sarah menjelitkan mata lebar lebar, membuat Lukman sedikit takut kemudian menuruti apa kata ibunya
"cepat Lukman, jangan kayak perempuan lembek" teriak Sarah yang sudah di dalam mobil bersama Dinda dan zelina
"iya iya, ini juga sudah cepat bu"
"ayo, berangkat nungu apa lagi, nungu anak mu brojol di jalan" kembali Sarah berteriak
"iya iya, ah bawel "
__ADS_1
Lukman menarik tuas mobil menuju rumah sakit kota, kalau di kampungnya kurang memadai dan bidannya kadang tidak ada