
Erick menghela nafasnya dengan pelan lalu menatap ke arah Adel. " Mama, Erick dan Alexa hanya bersahabat dari dulu, tapi kalau memang kami berjodoh dan nantinya kami saling mencintai itu bukanlah salah kami. tapi itu semua sudah takdir, Erick tidak mau menghalangi takdir ataupun menolaknya. Erick akan membiarkan semua berjalan apa adanya." jawab Erick dengan tegas.
Adel menyipitkan matanya menatap ke arah Erick penuh dengan curiga, entah hanya perasaannya saja atau memang ucapan Erick tadi secara tidak langsung Erick mengatakan perasaannya bahwa saat ini putranya itu sedang tertarik dengan sahabatnya Alexa.
" apa kamu memang mencintai Alexa secara sepihak Rick?" tanya Adel untuk memastikan pikirannya sendiri.
" Erick tidak tau Ma. lagi pula Erick sudah dewasa jadi Erick berhak menentukan jalan hidup Erick sendiri. " jawab Erick dengan tegas sambil berdiri dan meninggalkan Adel Begitu saja menuju mobilnya.
" Rick!,, tunggu! " panggil Adel dengan menaikkan nada suaranya pada Erick
Erick menghiraukan panggilan Adel dengan segera masuk ke dalam mobilnya. Erick ingin marah tapi tidak bisa karena yang berbicara adalah orang yang sudah melahirkan dirinya ke dunia ini. apa salahnya kalau dirinya mencintai Alexa bukankah setiap orang itu berhak memberikan hatinya kepada siapapun yang dia mau, mencintai Alexa juga sebenarnya bukan keinginan Erick kalau pun bisa Erick ingin menghapus perasaanya tapi sekali lagi Erick tidak bisa, perasaannya pada Alexa sudah terlalu dalam dan tidak segampang itu untuk menghapus perasaanya itu.
" gue harus segera menemui Alexa dan mengungkapkan perasaan gue sama Alexa, gue yakin Alexa juga punya perasaan yang sama kayak gue." gumam Erick sambil melajukan mobilnya ke arah kediaman Wijaya.
di sisi lain, Bryan bersiap untuk menemui kliennya yang sudah menunggunya di restoran, sementara Alexa sudah tertidur setelah membersihkan dirinya. Bryan yang tidak mau mengganggu istirahat Alexa segera bergegas ke luar dari kamar menuju restoran yang ada di dalam hotel tempatnya menyewa kamar untuk mereka beristirahat.
" selamat siang " sapa Bryan setelah ada di depan meja kliennya.
" selamat siang tuan Bryan " jawab Alvin sambil mengulurkan tangannya pada Bryan
Bryan menerima uluran tangan Alvin sambil tersenyum tipis.
" maaf membuat anda menunggu tuan Alvin." ujar Bryan
Alvin mengangguk " tidak masalah saya mengerti, mari silahkan duduk tuan Bryan." jawab Alvin dengan sopan mempersilahkan Bryan untuk duduk di depannya.
" silahkan pesan minum dan makanan dulu tuan, sambil menunggu sekertaris saya datang, karena maaf berkasnya masih ada di tangan sekertaris saya. " sambung Alvin setelah melihat Bryan sudah duduk di kursi
__ADS_1
Bryan mengernyitkan alisnya Mendengar ucapan Alvin. " seorang pengusaha seperti anda ternyata bisa melakukan kesalahan seperti ini,, semoga asisten saya tidak salah memilih klien dengan menerima kerja sama dengan perusahaan anda. " jawab Bryan sambil tersenyum remeh. Bryan memang tidak suka membuang waktu walaupun hanya satu menit, Bryan benar-benar tidak suka kalau harus menerima keterlambatan dan menunggu seseorang seperti ini.
Alvin tetap berusaha tersenyum manis sekalipun ucapan orang di depannya ini cukup membuatnya kesal. " sekali lagi maafkan saya tuan Bryan, saya tau pengusaha besar seperti anda ini sangat sibuk. saya benar-benar malu karena keterlambatan sekertaris saya." jawab Alvin
Bryan hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa menjawab ucapan Alvin lagi..
" bagaimana dengan perjalanan anda tadi tuan?" tanya Alvin untuk memecahkan keheningan antara dirinya dan juga Bryan
" lumayan." jawab Bryan singkat sambil membuka laptopnya untuk memeriksa beberapa pekerjaan sambil menunggu sekertaris Alvin datang.
" maaf saya terlambat tuan "
Bryan mengernyitkan alisnya mendengar suara seseorang yang sangat tidak asing di telinganya, suara itu mengingatkan dirinya dengan seseorang dari masa lalunya.
" kenapa bisa terlambat sih, kamu ini benar-benar tidak becus bekerja hingga membuat klien penting saya menunggu." jawab Alvin dengan kesal.
Bryan memejamkan matanya mendengar keributan di depannya sambil mengingat-ingat siapa pemilik suara perempuan di depannya. " suara itu,, tidak mungkin Laura." batin Bryan
Bryan mengepalkan tangannya berusaha untuk mengendalikan emosinya sekarang dan berharap kalau orang di depannya itu bukanlah Laura. Bryan benar-benar sudah tidak ingin bertemu dengan Laura dan membuka luka lamanya kembali. selama ini Bryan selalu berusaha untuk melupakan Laura dan setelah berusaha beberapa tahun belakangan ini akhirnya Bryan bisa melupakan bayang-bayang laura dengan kehadiran Alexa. Bryan benar-benar tidak ingin usahanya selama ini percuma dengan bertemunya dia kembali bersama Laura.
" tuan Bryan " panggil Alvin yang membuyarkan lamunan dan juga pikiran Bryan saat ini.
Bryan mengerjabkan matanya tersadar dengan panggilan Alvin dan mau tidak mau Bryan mendongakkan kepalanya menatap ke arah Alvin dan wanita yang di duga Bryan adalah Laura.
" Bryan,, " lirih Laura yang juga terkejut saat bosnya menyebutkan nama Bryan, secara spontan Laura langsung menoleh ke arah Bryan, dan benar saja pria di depannya itu adalah Bryan mantan tunangannya.
Bryan menatap Laura dengan tajam, jelas terlihat dari sorot mata Bryan penuh dengan amarah dan juga kebencian yang dalam. dengan cepat Bryan berdiri tanpa mengalihkan pandangannya Bryan meraih laptopnya.
__ADS_1
" kerja sama kita batal. " ucap Bryan dengan tegas tanpa menatap ke arah Alvin lawan bicaranya
" ta-tapi kenapa tuan Bryan bukankah kita sudah setuju dan tujuan anda kesini adalah untuk tanda tangan kontrak kerja sama kita." jawab Alvin dengan tidak percaya Bryan memutuskan kerja sama yang belum di mulainya.
Bryan menoleh ke arah Alvin " saya tidak perlu menjelaskan apapun untuk ini. " ujar Bryan sambil membalikkan badannya ingin segera pergi dari tempatnya sekarang. muak, marah dan emosi itu yang Bryan rasakan sekarang.
" Bryan tunggu!" panggil laura sambil berlari mengejar Bryan.
Laura meraih pergelangan tangan Bryan dengan sangat erat mencegah langkah Bryan. " tunggu Bryan, gue mau bicara sama lu tolong." ucap Laura
Bryan menghentikan langkahnya sambil memejamkan matanya sejenak lalu menyentakkan tangan Laura dengan kasar." jangan ganggu gue lagi, dan tidak ada yang perlu di bicarakan, buat gue lu sudah mati. " jawab Bryan sambil bergegas meninggalkan Laura dengan mempercepat langkahnya.
" Bryan, " panggil laura dengan tidak percaya Bryan akan memperlakukan dirinya sekasar itu, selama kenal dan bersama dengan Bryan dulu tidak pernah sedikitpun Bryan bicara kasar padanya apa lagi sampai menghiraukan dirinya seperti itu.
Bryan menekan tombol lift dengan cepat berharap pintu itu akan segera terbuka dan saat pintu terbuka Bryan kembali terkejut melihat Alexa yang keluar dari lift menyusul dirinya. tapi Bryan tidak memperdulikan apapun lagi termasuk Alexa saat ini. entah pikirannya begitu kacau sekarang. Bryan tidak mau meluapkan amarah dan emosinya pada Alexa yang tidak tau apa-apa.
" apa meeting mu sudah selesai Bryan?" tanya Alexa dengan heran. pasalnya Bryan baru saja turun seingatnya tapi kenapa urusan Bryan yang katanya tadi sangat penting begitu cepat di selesaikan, Alexa benar-benar tidak mengerti.
Bryan masuk ke dalam lift tanpa menjawab Alexa dan Alexa yang melihat Bryan tidak seperti biasanya segera mengekor di belakang Bryan dengan kembali masuk ke dalam lift sebelum pintu lift tertutup.
" ada apa Bryan?" tanya Alexa begitu lift tertutup dan berjalan naik ke atas.
" diam!, dan berhenti berbicara. " jawab Bryan dengan dingin.
Alexa menatap Bryan dengan tidak percaya bagaimana Bryan bisa kembali dingin padanya, " kenapa Bryan?, apa ada masalah?" tanya Alexa dengan penasaran
" apa lu nggak denger gue ngomong apa tadi!" bentak Bryan pada Alexa.
__ADS_1
" kenapa lu ngebentak gue sih,,!! kan gue cuma tanya kenapa lu harus sampai ngebentak gue,!" jawab Alexa dengan meninggikan suaranya.