
Malam ini terlihat begitu terang, dengan cahaya rembulan, setelah Richard membersihkan tubuh nya dan juga Selena sudah selesai dengan persiapannya, Mereka berdua melangkah kan kakinya menuju ke kamar anak-anak, ada rasa deg-degan ynag Richard rasakan. Karena malam ibu adalah awal anak-anak akan melihat siapa Ayahnya.
''Kenapa? Apakah mas gugup?'' tanya SelenSelena saat Richard berhenti tepat di depan kamar anak-anak.
''Apakah mereka tidak membenci ku?'' hanya Richard menatap Selena
''Mereka adalah benihmu, mereka tidak akan membenci mu Mas. akan tetapi mereka sangat merindukanmu mereka membutuhkanmu, mereka butuh pengakuanmu,'' ucap Selena Seraya membalas tatapan Richard.
Richard mungkin akan mengakui mereka sebagai anaknya dan menunjukkan bahwa dirinya adalah ayah mereka, tapi untuk mempublikasikan mereka ke hadapan dunia mungkin bukan saat ini, karena Richard tahu bahwa tertangkapnya Robert bukanlah akhir dari semuanya, dan Richard akan menyakinkan anak-anaknya akan hal itu. Richard pun meyakinkan diri untuk membuka pintu kamar anak-anaknya.
''Surprise "
Betapa terkejutnya Richard saat mendapatkan kejutan dari kedua anaknya, ternyata kedua anaknya sudah berdiri di balik pintu. Terharu, tentu Richard sangat merasa anak-anaknya benar-benar menungguinya.
Haruka begitu ceria dengan senyuman yang lebar. Beda dengan Hazel, Perlahan senyuman itu memudar seiring nya Hazel menatap lelaki yang berdiri di hadapannya. Sekelibat bayangan kebersamaan Richard dengan kangen lain selain Mamanya teringat di ingatan Hazel, membuat Hazel memundurkan langkah nya saat Richard mendekat ke arah nya, Sedangkan Haruka langsung berhambur memeluk sang Papa.
''Papa, benarkah kau Papa kami?'' tanya Haruka saat berada dalam gendongan Richard, tatapan keduanya saling bertemu.
''Iya sayang, Ini Papa ... Papanya Haruka dan Hazel,'' ucap Richard dengan mata berkaca-kaca.
''Bukan, kau bukan Papa kami, Bukankah sebelum ini kau bersama wanita lain, dia bukan Mama, berarti kau bukan Papa kami, ''
Deg... Deg... Deg
__ADS_1
Pandangan Richard dan Selena bertemu, Selena tidak menyangka jika reaksi Hazel akan berbeda dengan Haruka. Hazel memang pernah meyakini bahwa Richard yang ada di televisi itu adalah Papanya namun Selena selalu mengatakan jika itu bukanlah Papanya. terbukti saat ini Hazel menolak dengan kehadiran Richard, bukan papa yang ia tolak tapi penampakan Richard lah yang tidak bisa hasil terima.
Melihat dan mendengar ucapan Hazel akhirnya Richard pun terpaksa menurunkan Haruka dari gendongannya.
''Haruka sama Mama dulu ya, Ma... bisakah kau bawa pergi Haruka, '' ucap Richard yang dj mengerti oleh Selena.
''Sayang, Haruka ikut Mama ya, kita buatkan Papa minuman, Papa pasti haus kan, '' ucap Selena seraya membawa Haruka keluar dari kamarnya.
Seketika ruangan itu menjadi hening. Hazel berdiri di dekat ranjang dengan tangan mengepal dan mata hanb menatap tajam pada Richard.
''Kau marah sama Papa, Kah marah karena Papa tidak pernah menampakkan wajah Papa di hadapan Hazel, Nak... Papa punya alasan untuk itu, '' ucap Richard menjelaskan pada Hazel
''Apakah alasan itu karena wanita yang ada di samping mu?'' tanya Hazel yang membuat Richard tersenyum.
''Kau marah karena rasa cintamu pada Mama mu iya kan?'' tanya Ricard seraya duduk di samping Hazel.
''Bohong,'' sargah Hazel
''Wanita itu adalah teman bisnis Papa, Kami tidak memiliki hubungan apapun, Kau bisa mengenalnya nanti,'' ucap Richard
''Kau anak laki-laki Papa, Kau bisa memahami Papa, Banyak hal yang tak bisa Papa jelaskan, tapi Papa yakin... seiring nya waktu berjalan, kau faham dengan situasi yang Papa alami, Kau anak yang cerdas Hazel, di usiamu yang masih sangat kecil, kau sudah bisa memahami masalah perasaan, '' ucao Richard seraya menundukkan kepalanya.
Sejenak ruangan itu menjadi hening kembali, hasil terlihat terdiam saat Richard menjelaskannya dengan kelembutan, Hazel juga melihat Papanya menunduk.
__ADS_1
...----------------...
''Louis, kau tahu Richard pergi kemana? Apakah kau tidak curiga saat Papamu tidak memberikan kabar padamu dan Mama?'' tanya Debby pada Louis yang baru saja hendak masuk kedalam. kamarnya.
''Papa sudah dewasa Ma, dan juga Papa bukan orang lemah seperti Papanya kak Richard, Papa penjahat, tentu dia sekarang baik-baik saja, mungkin masih asyikk dengan para wanitanya, '' ucap Louis seraya berlalu dari hadapan Mamanya.
''Louis, kah itu anak kandungnya, Tapi kenapa kau tidak perduli, Bahkan Richard terlihat lebih perduli pada Mama dan Papa,!" teriak Debby
"Itu karena Lak Richard belum tahu siapa kalian, Jika ia tahu, Apakah ia akan perduli pada kalian," ucap Louis yang di bebmnatkan oleh Debby.
"Mama, Kakak sekarang bukanlah kakak yang dulu, dia sekarang menjadi orang hebat bahkan Louis berpikir Kakak jauh lebih hebat dari Papa, Bagaimana seandainya Kak Richard tahu bahwa yang membunuh ibu dan juga Ayahnya adalah mama dan papa, Apakah Kak Richard akan tinggal diam, aku rasa tidak! mungkin saja kak Richard akan membalas kalian dengan berkali-kali lipat,'' ucap sinis Louis pada mamanya.
"Dan kau akan tinggal diam jika melihat Papa dan mamamu ini terbunuh, ?"tanya Debby dengan amarah yang menggebu
"Hahahahah, tentu. Apa yang bisa Louis lakukan, Melawan kakak? itu sama saja bunuh diri, Ma. Tapi... selagi kalian tidak ketahuan, maka... baik-baik lah padanya, jangan buat dia curiga, '' ucao Louis yang kini sudah menutup pintu kamarnya.
''Dasar anak gak tahu diri, gak ada gunanya kau Louis,!'' teriak sang Mama.
sedangkan Luis yang mendengar ucapan mamanya hanya bisa tersenyum, Louis Jengah mendengar setiap kali mamanya membandingkan ia dengan Richard, padahal Louis anak kandung mereka namun perbandingan itulah yang membuat Louis tidak menyukai orang tuanya, dan sekarang racun yang richar tanam dalam diri Luis makin mendalam, sehingga Louis merasa yang paling perhatian padanya, dan itulah yang Richard gunakan untuk mrngikat Louis agar berada dalam pihaknya.
Perasaan Debby kiji tak menentu kalau mendengar ucapan Louis, Benar yang di katakan Louis, Richard saat ini makin kuat, posisinya juga semakin tinggi, Jika mereka tak segera turun tangan untuk melenyapkan Richard, maka... kesempatan itu akan semakin kecil.
Saat ini suaminya juga belum meberikan kabar, kecemasan Debby makin terasa kalau melihat pesannya yang tak kunjung di balas.
__ADS_1
Malam makin larut, Dengan berbagai rayuan dan bujikan akhirnya Richard bisa meluluhkan hati anak lelaki nya.
''Sekarang kita pergi, Bukannya Hazel mau sekolah di tempat yang banyak temannya dan juga sekolah yh ang besar seperti di televisi?'' tanya Richard pada sang anak yang di balas anggukan kepala oleh Hazel. Tentu membuat Richard langsung tersenyum dan menggendong tubuh Hazel dengan penuh kasih sayang dan cinta.