
Banyak hal yang Richard tidak mengerti. Dan ia juga tidak ingat apapun masalah ibu kandungnya.
Ia baru ingat, bahwa ia bisa neretas data milik sang Mama kandung dan juga Mama Debby nya.
"Kenapa malah tidak terfikir kan olehku, " Gumam Richard seraya membawa beberap barang yang mungkin akan menjadi petunjuk bagi nya.
Ada sebuah sebuah ponsel mati juga, kemungkinan itu, milik Debby atau juga milik Mama kandungnya.
Keindahan malam ki i terasa mencekam bagi Richard, ia begitu ingin main dengan sang istri tapi ia ingin masalahnya segera terselesaikan sehingga ia bisa menikmati hidup dengan bebas bersama keluarganya. Tapi semakin hari masalah makin terasa rumit, di tambah Robert tidak membuka mulutnya perihal masa lalunya.
Namun yang pasti, Robert dan pimpinan kelompok pembunuh bayaran itu adalah teman.
"Tuan mau kemana lagi,? " Tanya pak mun.
"Ada hal yang harus segera aku selesaai kan, jika Mama bertanya, aku sedang tidur di apartemen," Ucap Richard seraya tersenyum pada pak Mun.
"Hati-hati dan tetaplah jaga kesehatan, " Ucap pak Mun.
__ADS_1
"Baik kakek, kakek juga, selamat malam, " Ucap Richard seraya masuk kedalam mobilnya
Mobil itupun melaju dengan begitu cepat, sehingga denga waktu sebentar saja, mobil itu sudah tidak terlihat.
"Apa aku harus ceritakan semuanya nada Selena, ya. Bukankah jauh lebih baik jika tidak ada rahasia diantara kita," Gumam Richard seraya membawa mobil nya.
"Mungkin itu yang harus aku lakukan, siapa tahu.. Selena memiliki jalan keluar," Gumam Richard kembali.
Setelah itu, ia fokus mengemudi, sehingga Richard menyadari, bahwa ada sebuah mobil yang mengkuti nya.
"Sial*an! Rupanya ada yang ingin bermain denganku, baiklah... Mumpung hati lagi butuh pelampiasan kemarahan, " Ucap Richard seraya memutar setir mobilnya, sehingga dengan cepat, mobil itu berputar dan kini menghadap pada sebuah mobil yang ada dibelakang mobilnya.
Saat mereka sudah siap dengan senjata berupa kayu untuk memukul Richard, Richard keluar dengan santainya.. Ia menyadari bahwa di situ tidak akan ada orang yang lewat , jalan itu sungguh sangatlah sepi, terlihat tawa mereka saat Richard menoleh kearah sekitar.
"Kenapa tuan Richard , Apakah anda takut, disini tidak akan ada orang yang menolong mu, hahhahahaha," Tawa mereka pecah
Terlihat Richard tersenyum.
__ADS_1
"Ya, aku takut, jika nanti kalian mati, tidak akan ada yang membawa jasad kalian, atau... Kubuang ajaa kalian ke jurang sana, itung-iyunh buat sedekah pada hewan di bawah sana, pasti mereka akan berterimakasih karena sudah memberikan mereka makanan yang begitu enak, " Ucap Richard seraya menyendekapkan kedua tangannya di depan dadanya, sedang akn tubuh nya bersandar pada mobilnya.
"Kau jangan bangga diri Richard, disini tamatlah riwayat mu, " Ucap ketua pembunuh itu seraya memberi kode pada kawan-kawannya untuk menyetang Richard.
pertarungan itupun terjadi, Satu orang melawan 3 orang.
"Ckkkk, kalian hanya akan membuang-buang waktuku saja," Ucap Richard seraya membalas setiap serangan dari mereka.
Bug... Bug...
Suara pukulan tepat di perut salah satu preman itu.
"Aaaaa... " Teriaknya saat Richard mematahkan salah satu kakinya.
Lalu ia berbalik menatap kearah yang lain, dan mereka menyerang Richard secara bersamaan
Hanya dengan 1 pertahanan nya, Richard bisa melawan mereka.
__ADS_1
"Katakan pada pemimpin kalian, suatu saat kita akan bertemu, malam ini aku ada urusan," Ucap Richard seraya berlalu. Richard benar-benar tidak membiarkan mereka menyentuh dirinya.