
Tengah malam yang dingin dan sunyi Aluna terbangun, tiba-tiba dia merasa haus tenggorokannya terasa kering. Dia segera bangkit berdiri lalu berjalan keluar dari kamarnya. Namun saat kedua kakinya belum jauh melangkah meninggalkan kamarnya, tak sengaja Aluna mendengar suara seseorang yang sedang menerima panggilan masuk dari dalam sebuah kamar yang bersebelahan dengan kamarnya.
Aluna berjalan mendekati pintu kamar yang sedikit terbuka saat itu. Karena penasaran dia pun sengaja menguping dari balik pintu kamar tersebut secara diam-diam. Tapi, tak beberapa lama kemudian, Aluna dibuat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar. Kedua matanya seketika langsung terbelalak kuat, bibirnya bergetar hebat, dan bahkan salah satu tangannya pun spontan langsung menyekap mulutnya sendiri dengan erat. Seketika mimic wajahnya berubah menjadi sangat takut.
Aluna pun segera membalikan tubuhnya untuk kembali menuju ke kamarnya lagi, rasa haus yang saat itu sedang dia rasakan pun seketika hilang begitu saja. Sebab dia masih cukup shock dengan apa yang baru saja dia dengar dari balik kamar itu.
.
.
.
Aluna Louis adalah anak bungsu dari pasangan Andreson Louis dan Keithen Charllote. Dia anak dari salah satu orang ternama di negaranya. Keluarganya cukup di kenal sebagai keluarga yang terpandang dengan kekayaan yang seolah tak ada habisnya. Bahkan juga tidak ada satu orang pun yang tak tau siapa pria terkaya yang bernama Andreson Louis itu.
David Louis ialah kakak tertua satu-satunya yang Aluna miliki. David Louis anak bungsu dari pasangan Andreson Luis dan Keithen Charllote. Andreson sengaja memberikan jabatan tertinggi untuk David sebagai komisaris tinggi di perusahaan terbesarnya, dia percaya bahwa anak sulungnya tersebut mampu mengelola perusahaan yang sudah bertahun-tahun dia kelola sendiri.
Sementara Aluna wanita cantik bermata biru ini masih duduk di bangku kuliah. Dia memang anak dari salah satu orang terkaya di negaranya, tapi dia memiliki sikap yang rendah hati dan bahkan dia juga di kenal sebagai wanita yang baik hati atau pun ramah terhadap siapa pun.
“Selamat pagi ma,” sapa Aluna sembari turun menapaki anak tangga menghampiri Keithen yang sedang menyiapkan sarapan paginya saat itu.
“Selamat pagi juga putri mama yang cantik.” Balas Kaithen sambil memberikan pelukan hangat untuk putrinya tersebut.
Walaupun Kaithen istri dari orang yang kaya raya dia tidak pernah lupa akan tugasnya sebagai seorang istri dan bahkan seorang ibu untuk keluarganya. Mungkin mudah bagi Kaithen bisa menyuruh beberapa asisten rumah tangganya untuk mengerjakan segala sesuatu yang di butuhkan, tapi itu bukan lah sifat yang dia miliki Keithen, sebab dia ingin selalu menjamin kehigienisan dan asupan gizi yang akan di sajikan di atas meja makan untuk suami atau pun anak-anaknya.
Tidak seperti biasanya pagi ini Aluna bangun lebih awal, karena hari ini dia akan menghadapi ujian mata kuliah di kampus.
“Tumben kamu bangun pagi?” Tanya Kaithen yang terlihat heran.
“Hari ini aku ada ujian di kampus ma. Makannya Aluna bangun lebih awal.” Jawab Aluna sambil menuangkan selai coklat di roti yang sudah tersaji di atas meja makannya.
“Owh, ya bagus kalau gitu.” Jawab Keithen.
__ADS_1
“Kakak sama papa kemana ma? Apa mereka sudah berangkat kerja?” Tanya Aluna.
“Belum, papa sama kakak kamu masih ada di kamar. Mungkin sebentar lagi mereka akan turun.” Jawab Keithen yang duduk di kursi samping putrinya tersebut.
“Buruan habiskan sarapanmu lalu berangkatlah, jangan sampai kamu terlambat hari ini. Mama udah suruh pak supir untuk mengantarkan kamu ke kampus sekarang.” Sambung Keithen.
Mendengar ucapan sang mama, tiba-tiba saja membuat Aluna menghentikan aktivitas yang tengah dia lakukan, dia kemudian menoleh ke arah wajah Keithen sambil mendengus kecil.
“Tapi aku nggak mau di antar supir ma. Aku mau naik angkot aja. Seperti biasanya.” Pangkas Aluna yang terdengar manja.
“Tapi Aluna, bukankah baru saja kamu bilang kalau kalau kamu akan mengikuti ujian di kampus?” Tanya Keithen setengah kesal.
Aluna mengangguk pelan sembari mengunyah sepotong roti yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
“Maka dari itu sebaiknya hari ini kamu berangkat ke kampus di antar sama supir aja, biar kamu nggak terlambat.” Imbuh Keithen.
Namun Aluna tetap kekeh dengan keinginannya dia juga menolak untuk di antarkan oleh pak supir hingga membuat Keithen merasa kesal pagi itu.
Selama ini Aluna memang senang berangkat kuliah dengan menggunakan angkutan umum. Entah kenapa dia merasa senang ketika dirinya bisa bertemu atau pun membaur dengan orang sekitar yang sekitarnya mereka tidak dari kalangan orang kaya seperti dirinya itu. Akan tetapi hal tersebut tentu saja sangat bertentangan dengan Keithen.
Keithen justru di buat sangat cemas jika anak perempuan satu-satunya itu selalu memilih pergi dengan menggunakan angkutan umum dibandingkan dengan mobilnya sendiri, sebab dia berfikir diluar sana pasti akan ada banyak orang-orang jahat yang berkeliaran. Apa lagi mereka yang merupakan kaum pinggiran yang kekurangan uang pasti akan melakukan tindakan kriminal yang membuat orang lain rugi.
“Nggak tau juga sih ma, cuma Aluna merasa seru aja bisa naik angkutan umum apa lagi bertemu dengan banyak orang.” Jawab Aluna dengan santainya sambil terus mengunyah sepotong roti.
“Tapi mama tuh khawatir sama kamu nak. Mama takut kalau kamu bertemu dengan orang-orang jahat.” Tutur Keithen sambil mengernyitkan alisnya dengan wajah kesal.
“Ma, mama tenang aja ya. Aluna jamin deh, Aluna pasti akan baik-baik aja. Buktinya sampai sekarang Aluna nggak kenapa-kenapa kan?” Tangkas Aluna yang berusaha menghapus kecemasan di diri ibunya itu.
“Terserah kamu deh, yang penting kamu harus selalu waspada dan harus selalu berhati-hati dimana pun kamu berada. Jangan ceroboh! Mama nggak mau putri mama yang satu ini kenapa-kenapa. Kamu tau kan maksud mama?” Ucap Keithen yang kemudian memeluk putrinya itu dengan rasa hangat.
“Siap ma…” Jawab Aluna spontan memberikan hormat kepada sang Mama.
__ADS_1
“Cepat kamu habiskan makananmu, mama mau ke atas buat panggil papa dan kak David untuk sarapan pagi dulu.” Keithen kemudian bangkit berdiri dan hendak akan pergi meninggalkan meja makan tersebut.
Akan tetapi belum jauh dia melangkah terlihat Andreson telah berjalan turun menapaki anak tangga dan disusul oleh David yang juga sedang berjalan di belakangnya.
“Aku baru aja mau pergi panggil papa sama David, eh taunya kalian berdua udah turun.” Tutur Keithen.
Sementara Andreson dan David hanya melebarkan senyumnya sambil merapikan dasi yang tergantung di lehernya. Sesampainya di meja makan mereka berdua pun mengucapkan selamat pagi kepada Keithen dan Aluna.
Namun tiba-tiba kedua mata Aluna menyorot tajam ke arah sang Kakak yang sudah berdiri dihadapannya yang hanya di batasi dengan sebuah meja makan, bahkan pandangannya pun tak tergoyahkan. David yang merasa sedari tadi sedang di perhatikan oleh adiknya pun langsung bertanya.
“Aluna, ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya David yang merasa penasaran.
Aluna pun sontak langsung saja mengalihkan pandangannya.
“Hemm… Nggak ada apa-apa kok.” Jawab Aluna yang sedikit gugup akan pertanyaan dari sang kakak. Dia kemudian melanjutkan aktivitasnya untuk menghabiskan sepotong roti panggang yang sedang dia genggam.
“Aku nggak percaya kalau kakak melakukan itu? Sepertinya tidak mungkin, tadi malam aku pasti salah dengar.” Batin Aluna dari dalam hati yang tak yakin dengan apa yang dia dengar malam itu. Sebab yang dia tau sang kakak memiliki sifat yang baik dan tak mungkin akan melakukan sesuatu di luar nalarnya.
Selang beberapa menit kemudian sepotong roti yang menjadi menu andalan sarapan pagi Aluna kini telah habis dimakan. Dia kemudian bergegas pergi untuk berangkat kuliah.
“Ma, pa, Aluna berangkat dulu ya. Udah siang, Aluna harus nungguin angkutan umum dijalan depan sana dulu.” Pamit Aluna sambil berdiri meraih tas selempang yang dia letakan di atas kursi kosong di sampingnya.
“Aluna, kenapa harus pakai angkutan umum? Bukankah ada mobil dan supir pribadi untukmu nak?” Tanya Andreson yang merasa heran.
“Aku mau naik angkutan umum aja pa.” Jawab Aluna.
“Biar kakak aja yang antar kamu ke kampus, Aluna.” David memberikan tawaran kepada sang adik.
“Tidak usah, tidak perlu kak. Aluna lebih suka naik angkutan umum aja.” Balas Aluna yang kemudian berpamitan pergi setelah bersalaman dengan tangan kedua orang taunya.
Bersambung...
__ADS_1