ISTRI TAWANAN SANG MAFIA

ISTRI TAWANAN SANG MAFIA
Sedikit Terlihat


__ADS_3

Pikiran dan hati Keithen kala itu sedang tidak tenang, dia terus gelisah memikirkan kedua anaknya.


“Sejak aku dan Andreson melarang Aluna dekat dengan pria itu, kini Aluna sering mengurung dirinya di kamar. Sekarang David juga ikut mengurung diri di kamar. Ada apa dengan ke dua anak itu sih?!” Gumam Keithen yang terus berjalan mondar mandir di dalam kamarnya menunggu kepulangan Andreson.


Setiap detik setiap menit Keithen terus menatap jam yang menempel di dindingnya. Wajahnya nampak terus gelisah menanti suaminya yang tak kunjung pulang, ingin rasanya dia menemui David dan bertanya langsung. Tapi dia takut jika kedatangannya akan membuat David semakin kalut.


“Papa mana sih, udah hampir jam sembilan malam kok belum pulang juga! Apa di kantor lagi ada masalah?” Gumam Keithen sambil berjalan keluar dari kamarnya dan hendak akan melangkah pergi ke pintu depan rumah.


Namun mendadak langkah kakinya terhenti, dia melihat Aluna tengah duduk sendiri di kursi ruang makan.


“Aluna.” Batin Keithen yang kemudian membelokkan langkah kakinya untuk menghampiri Aluna.


Aluna melihat kedatangan Keithen saat dia tengah meneguk air minum. Dia segera bangkit berdiri hendak mau pergi meninggalkan ruang makan.


“Bi, tolong bawa makanan ini ke kamarku.” Pinta Aluna kepada pelayan yang sedang berdiri di belakang melayani dirinya kala itu.


“Baik Nona.” Jawab si pelayan.


Namun tak kala saat langkah mereka berdampingan seketika Keithen langsung menarik kasar tangan putrinya.


“Mau kemana kamu?!” Tanya Keithen dengan nada suara bengis.


“Aku mau ke kamar.” Jawab Aluna singkat dan tak menoleh ke arah Keithen sama sekali.


“Semakin lama sikapmu semakin kurang ajar sama mama ya! Mama nggak suka kamu terus-terusan mengurung diri di kamar! Apa lagi kamu selalu menghindar setiap kali bertemu dengan mama!” Ucap Keithen dengan nada ketus.


Aluna pun berusaha melepaskan genggaman tangan Keithen yang mencengkram kuat di pergelangan tangannya.


“Mau sampai kapan kamu bersikap seperti ini terus sama mama?! Jawab Aluna!” Seru Keithen kesal.


“Ma, lepasin! Aku nggak mau membahas apapun, karena akan percuma jika aku bicara dengan mama!” Balas Aluna yang kemudian menarik kasar tangannya hingga cengkraman itu pun terlepas.


Aluna segera berjalan pergi menuju ke kamarnya dengan dibuntuti oleh pelayan yang sedang membawa makanan di belakangnya.

__ADS_1


Sementara Keithen mendengus kesal melihat sikap Aluna yang seperti itu dan ia kembali melangkahkan kakinya menuju ke pintu depan rumah.


Hampir satu jam lamanya kini waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, namun Andreson masih belum pulang juga. Keithen lalu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah tepat di ruang tengah menunggu suaminya pulang dan ia duduk di kursi hingga tak terasa kedua matanya pun meredup.


Tetapi dua jam kemudian tepatnya pukul dua belas malam lebih dua puluh menit, terdengar suara klakson mobil yang membuat Keithen terbangun.


“Itu pasti papa.” Batin Keithen sambil menguap.


Keithen pun segera menyambut ke datangan suaminya yang baru saja berjalan masuk ke dalam rumahnya tersebut.


“Astaga Papa, kenapa pulangnya larut malam gini sih? Apa di kantor lagi banyak pekerjaan ya?” Tanya Keithen.


“Aku capek sekali, Ma.” Kata Andreson.


Keithen lalu menyuruh salah satu pelayannya untuk membuatkan minum.


“Bi, tolong buatkan minum buat bapak ya.” Pinta Keithen.


“Baik Nyonya.” Jawab si pelayang yang kemudian menjalankan perintah Keithen.


Andreson murka, dia marah besar kepada David pagi tadi. Karena tak kuasa menahan amarahnya dia mencaci maki David di depan karyawan-karyawannya sampai semua melihat kejadian itu yang membuat David sangat malu.


“Astaga papa, kenapa papa bersikap seperti itu sama anak sendiri sih! Papa bisa kan, bicarakan itu di rumah?!” Sengak Keithen yang seakan tak terima jika David menerima perlakuan kasar dari ayahnya sendiri.


“Tapi David sangat keterlaluan ma! Untuk apa dia menggelapkan uang perusahaan sebanyak itu?! Apa gaji setiap bulan yang papa berikan ke dia itu kurang, sedangkan tanggung jawab dia di kantor tuh nggak terlalu berat!!” Kata Andreson kesal.


“Iya, tapi nggak harus mempermalukan anak sendiri di depan semua karyawan papa kan?! Lagi pula, uang yang David ambil nggak terlalu banyak, uang itu masih bisa kita tutup dengan tabungan pribadi kita.” Jawab Keithen.


“Ma! Aku nggak suka uang perusahan di campur sama uang pribadi kita! Kalau mama tidak paham mengenai masalah perusahaan sebaiknya diam dan jangan membela kesalahan anak!” Kata Andreson tegas.


Malam itu Keithen dan Andreson justru saling berdebat hingga perdebatan itu membuat gaduh sampai terdengar di kamar Aluna.


Aluna yang belum tidur mendengar keributan itu, dia membuka sedikit pintu kamarnya dan menguping pembicaraan kedua orang tuanya yang semakin memanas dari kamarnya.

__ADS_1


Hampir tiga puluh lima menit akhirnya suara ribut itu tak terdengar lagi. Aluna lalu keluar kamar dan melihat kedua orang tuanya yang sudah tak ada lagi di ruang tengah. Ia lalu berjalan ke kamar David, mencari tahu alasan apa yang membuat kedua orang tuanya ribut yang sedari tadi menyebut nama David.


Aluna mengetuk pintu kamar sang kakak, akan tetapi tak ada balasan apapun dari dalam kamar. Aluna kemudian membuka pintu kamar David perlahan sambil memanggil-manggil kakaknya.


“Kak David, kak…” Panggil Aluna lirih.


Namun ternyata David tak terlihat di dalam kamar. Aluna lalu mencari di kamar mandi, tapi dia tak juga menemukannya di sana.


“Sepertinya kakak lagi nggak ada di rumah.” Ucap Aluna sendiri yang kemudian keluar dari kamar David lalu kembali masuk ke kamarnya.


Dia duduk di sudut tempat tidur memikirkan perdebatan yang terjadi antara mama dan papanya. Rasa penasarannya terlalu besar hingga akhirnya dia memutuskan menelepon David untuk mempertanyakan masalah yang sedang terjadi di rumahnya.


Satu, dua hingga tiga kali, panggilan itu baru diangkat oleh David. Suaranya terdengar berisik dari balik panggilan itu.


“Hallo Lun, ada apa?” Tanya David lunglai.


“Kak, kakak lagi di mana sih? Kok suaranya berisik banget?” Tanya Aluna sambil menutup telinga satunya agar komunikasi terdengar jelas.


“Kenapa kau malam-malam menelponku?” Tanya David setengah sadar.


“Kakak lagi clubbing ya?” tanya Aluna.


“Ah bawel aja kau, Lun! Cepat katakan ada perlu apa kau menelponku malam-malam begini?!” seru David.


“Kak, sebaiknya kakak pulang sekarang deh." Pinta Aluna.


"Nggak! Aku nggak mau pulang! Aku masih mau bersenang-senang!" Jawab David.


Mendengar dari nada suara kakaknya, Aluna menduga kalau kakaknya tersebut kini sedang mabuk. Akan tetapi dia tak tau di mana keberadaan kakaknya saat ini.


"Aku akan jemput kakak sekarang?! Kakak lagi di Clubbing daerah mana? Cepat share lokasi kak!” Pinta Aluna yang terlihat cemas dengan kondisi kakaknya waktu itu.


 

__ADS_1


Bersambung…


 


__ADS_2