ISTRI TAWANAN SANG MAFIA

ISTRI TAWANAN SANG MAFIA
Ada Yang Disembunyikan


__ADS_3

“Apa kau yakin ingin tahu siapa orang itu Nona?” Ucap Kevin yang kemudian mengunci pandangannya menatap Aluna.


Aluna menoleh ke arah Kevin dan pandangan mereka pun mulai menyatu.


“Aku mencintaimu, Nona.” Celetuk Kevin yang berharap gadis itu paham mengenai isi hatinya.


Kedua bola mata Kevin terus menatap mata Aluna hingga pandangan mata mereka kembali bertemu. Mendengar itu Aluna merasa senang karena ternyata Kevin juga suka pada dirinya, tapi disisi lain dia takut jika Jack tiba-tiba datang menghajar Kevin ketika mereka sudah menjalin hubungan berpacaran, sebab Aluna tahu betul bagaimana sikap Jack ketika ada pria yang berusaha mendekati dirinya.


Aluna hanya terdiam, dia juga tak menjawab perkataan Kevin, seketika dia langsung mengalihkan pandangannya dari tatapan Kevin hingga membuat Kevin sedikit kecewa, dia takut jika ungkapannya tadi membuat gadis itu marah kepadanya.


“Emm, lupakan saja ucapanku tadi, Nona. Maafkan aku jika aku terlalu lancang bicara seperti itu kepadamu.” Terang Kevin yang kemudian juga menundukkan pandangannya begitu saja.


Aluna bangkit berdiri menjauh dari tempat duduknya tadi dan disusul oleh Kevin yang juga berdiri menghampiri Aluna, karena dia merasa bingung melihat sikap Aluna yang berubah dingin. Kevin pun merasa bersalah, dia takut jika ucapannya tadi membuat Aluna kesal.


“Nona sungguh, aku minta maaf. Kita lupakan saja soal ucapanku tadi.” Terang Kevin lagi.


Aluna menoleh dan kembali menatap dalam kedua mata Kevin. “Vin, aku juga cinta sama kamu. Tapi aku takut jika Jack tiba-tiba datang dan menghajar mu. Aku nggak mau melihatmu celaka!” Batin Aluna yang hanya bisa bicara di dalam hati. Sebab hal ini sudah sering terjadi saat ada seorang pria yang mendekati Aluna.


Kevin semakin di buat bingung dengan sikap Aluna yang semakin dingin.


“Nona, ku mohon lupakan ucapanku tadi. Aku tidak ingin mengacaukan suasana hatimu….” Mendadak Kevin mengantungkan perkataan karena Aluna tiba-tiba berjalan mendekati Kevin lalu menyambar bibir Kevin begitu saja.


Kedua mata Kevin membulat sempurna, dia tak menyangka kalau gadis ini sangat berani untuk menci*m dirinya lebih dulu.


“Astaga, apa yang dia lakukan? Kenapa dia menci*mku?” Gumam Kevin dari dalam hati dengan wajahnya yang semakin bingung.


Kevin pun melingkarkan tangannya di pinggang Aluna dan menikmati kec*pan demi Kec*pan dari bibir ranum milik Aluna.


Hembusan nafas keduanya pun semakin menyatu, mereka berdua sama-sama saling menikmati. Entah kenapa kec*pan ini terasa sangat berbeda dengan wanita yang pernah Kevin kenal sebelumnya. Begitu pula dengan Aluna yang merasakan hal yang sama seperti Kevin. Mungkin apakah benar yang orang-orang katakan tentang ci*man dengan orang yang kita cintai itu rasanya nikmat? Entahlah, hanya mereka berdua saja yang tau bagaimana rasanya.


Terus dan terus mereka berdua menikmati pergerakan benda kenyal yang bergerak sangat lincah, hingga membuat jemari Kevin terus bermain dengan lihai merayapi setiap detail tubuh Aluna.


Akan tetapi di tengah permainan itu Aluna tiba-tiba mengajak Kevin pulang.


“Vin, aku mau pulang. Sebaiknya kita pulang sekarang.” Pinta Aluna yang kemudian memasukan semua barang-barangnya ke dalam tas.

__ADS_1


Kevin pun mengiyakan permintaan Aluna, dia mengantarkan Aluna pulang. Malamnya Kevin tidak bisa tidur sama sekali, dia terus memikirkan tentang Aluna. Bahkan begitu pula dengan Aluna yang juga merasakan hal yang sama dengan Kevin hingga akhirnya Aluna memutuskan untuk menelepon Kevin.


Ponsel Kevin bergetar dan secepat mungkin ia langsung meraih ponselnya yang dia letakan di atas meja. Sebuah panggilan masuk terlihat dari Aluna, wanita yang kini sedang dia pikirkan.


“Aluna, ada apa dia meneleponku malam-malam begini?” Batinnya dari dalam hati.


Segera mungkin dia angkat panggilan masuk tersebut.


“Iya, halo Nona Aluna.” Sapa Kevin dari balik panggilan itu.


“Ku pikir kau sudah tidur Vin.” Balas Aluna.


“Aku belum mengantuk sama sekali.” Jawab Kevin.


“Ada apa Nona? Tumben malam-malam meneleponku?” Imbuh Kevin.


“Aku nggak bisa tidur, Vin.” Jawab Aluna.


“Kenapa?” Tanya Kevin.


“Entahlah.”


“Enggak Vin, cuman nggak tau kenapa aku tiba-tiba pengen telpon kamu. Nggak apa-apa kan?” Tanya Aluna.


Dan mereka berdua pun lanjut bercakap-cakap melalui telepon. Hingga tak terasa waktu menunjukan pukul 12 malam dan panggilan itu pun berakhir. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Aluna segera berjalan untuk membuka pintu kamarnya. Setelah pintu dibuka nampak kak David yang sedang berdiri di balik pintu tersebut.


“Kak David.” Sapa Aluna.


“Kau belum tidur?” Tanya David.


“Belum kak. Apa kakak baru pulang?” Tanya Aluna.


“Iya, sebab ada pekerjaan yang harus kakak selesai malam ini juga.” Terang David.


“Tapi papa tadi pulangnya sore kak. Padahal kakak dan papa kan satu kantor.” Kata Aluna.

__ADS_1


Seketika David terdiam membisu, wajahnya berubah gugup saat sang adik berbicara seperti itu. Bagaimana tidak, selepas pulang dari kantor David selalu pergi ke markas untuk mengerjakan sebuah proyek besar yang pernah dibicarakan beberapa waktu yang lalu bersama Jack. Dia selalu pulang tengah malam. Proyek illegal itu saat ini sedang berjalan dan sedang dikerjakan oleh Jack serta beberapa anak buahnya.


David kembali memberikan alasan palsu kepada Aluna, dia membuat alibi bahwa pekerjaan di antara ayah dan kakaknya itu berbeda, walau sesungguhnya beberapa pekerjaan di kantor masih diambil alih oleh sang ayah.


Aluna pun percaya begitu saja tentang alasan yang David berikan karena dia masih belum banyak mengerti soal masalah pekerjaan di kantor yang dijalani oleh kakaknya.


Pagi itu seperti biasa keluarga Andreson menyantap sarapan pagi bersama-sama di ruang makan. Tiba-tiba Aluna menyinggung masalah kepulangan kakaknya yang akhir-akhir ini sering pulang larut malam.


“Pa, apa di kantor lagi ada banyak pekerjaan?” Tanya Aluna sambil mengunyah rotinya.


“Enggak, kenapa emang?” Tanya Andreson sambil mengernyitkan dahinya.


“Tapi kenapa akhir-akhir ini kakak pulangnya larut malam terus, Pa?” Tanya Aluna.


Seketika David tersedak mendengar pertanyaan Aluna yang dia ucapkan di meja makan saat itu. Perhatian mereka langsung tertuju ke David, tak terkecuali Andreson. Sementara Keithen langsung menyodorkan air minum untuk anak sulungnya.


“David. Pelan-pelan dong makannya nak. Cepat minum!” Ucap Keithen.


Selepas meneguk air minum, David segera mengalihkan topik pembicaraan agar Andreson tidak banyak bertanya dan dia sengaja mengajak ayahnya berangkat kerja saat itu juga.


“Sepertinya ini sudah siang. Mari kita berangkat sekarang, Pa.” Ajak David sambil melihat jam tangan mewah yang melilit di pergelangan tangannya.


“Tunggu David. Papa mau tanya sama kamu,”


Deg!


Wajah David seketika mulai panik, dia bahkan merencanakan beberapa jawaban yang hendak akan diberikan untuk sang ayah.


“Tadi adik kamu bilang kalau akhir-akhir ini kamu pulang larut malam? Dan kamu bilang kalau di kantor sedang ada banyak pekerjaan?” Tanya Andreson yang kemudian meletakan sendok beserta garpunya atas piring.


David sangat bingung menjawab pertanyaan Andreson saat itu.


 


Bersambung…

__ADS_1


 


 


__ADS_2