ISTRI TAWANAN SANG MAFIA

ISTRI TAWANAN SANG MAFIA
Surat Perjanjian


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Jack tiba-tiba datang ke kediaman Andreson dengan dikawal dua antek-anteknya. Di sana dia sambut sangat baik oleh seluruh anggota keluarga Andreson kecuali Aluna.


“Selamat datang Jack.” Sapa Keithen sambil tersenyum ramah kepada pria yang sebentar lagi akan menjadi menantunya tersebut.


“Selamat pagi Nyonya dan Tuan.” Jack membalas sapaan tersebut dengan nada suara lembut dan wajah yang nampak terlihat gembira.


Begitu pula di lanjutkan oleh David yang juga menyapa dia menyambut kedatangannya. Andreson lalu mempersilahkan tamunya untuk duduk saat kedua kaki Jack baru saja masuk kedalam rumahnya.


“Duduklah Jack.” Pinta Andreson.


“Terima kasih Tuan Andreson.” Balas Jack yang kemudian duduk di sofa ruang tamu.


Tanpa basa basi, jack segera mengeluarkan secarik kertas yang di mana isi di dalamnya adalah sebuah surat perjanjian yang dibuat dengan ditemani oleh pengacara pribadinya. Dia lalu meletakan kertas itu di atas meja ruang tamu.


“Langsung saja kita bicarakan soal mengenai maksud kedatanganku kemari. Tapi sebelumnya, aku ikut prihatin dengan musibah yang Tuan Andreson alami. Jadi begini, aku sudah membuat surat perjanjian untuk anda tanda tangani.” Ucap Jack yang kemudian menyerahkan selembar kertas tersebut pada Andreson.


Andreon menerima lalu membaca isi surat itu. Isi surat itu pun tertulis jika Jack akan meminjamkan uang sebesar lima ratus lima puluh milyar rupiah kepada Andreson dan berjanji akan menikahkan putrinya dengan Jack Kenly. Uang tersebut akan dibayar dengan waktu yang sudah ditetapkan dan disepakati oleh kedua belah pihak. Dan jika pihak kedua belum bisa membayar atau telah melewati batas yang sudah ditentukan maka adil bagi pihak pertama untuk menggugat ke pengadilan. Dengan catatan putri yang bernama Aluna Louis adalah sebagai jaminannya.


Tanpa berpikir panjang Andreson pun sepakat atas perjanjian yang sudah tertulis di isi surat tersebut. David yang masih penasaran dengan isi surat itu mencoba untuk membacanya dan betapa terkejutnya saat dia membaca isi surat yang Jack buat.


Deg!


“Jack, kenapa kau menulis kalau Aluna sebagai jaminannya? Apa maksudnya ini?” Tanya David sambil mengernyitkan dahinya dengan rasa penasaran.


“Mungkin maksudnya itu Aluna sebentar lagi kan mau menikah dengan dia, jadi sebagai jaminannya Aluna akan hidup bersama Jack. Benar begitu kan Jack?” Sahut Keithen.


Jeck hanya tersenyum menyeringai seraya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tatapan licik.


“Tapi kau harus janji, kau tidak boleh berbuat kasar kepada Aluna.” Ucap David.


“Tenanglah David, kau seperti baru mengenalku saja. Surat ini aku buat hanya sebagai formalitas. Jadi kau tak usah khawatir. Aku pasti akan menjaga Aluna dengan sebaik mungkin.” Jawab Jack yang terdengar licik.

__ADS_1


David sedikit ragu dan mendadak dia menarik tangan Andreson saat hendak akan menandatangani surat perjanjian tersebut.


“Tunggu Pa!” seru David.


Perhatian semua orang yang ada di situ pun langsung tertuju pada David. Jack sempat kesal karena David hendak mau menggagalkan usahanya.


“Ada apa David?” Tanya Andreson heran.


“Pa, tolong pikirkan lagi. Apa papa sungguh-sungguh mau menandatangani surat perjanjian itu?” Tanya David.


“David! Jika memang kau masih tidak percaya dengan ku silahkan! Niatku kemari hanya ingin membantu keluargamu. Tapi kalau kau tidak setuju dengan isi surat itu, maka aku akan pergi dari sini.” Seru Jack dengan nada suara sedikit meninggi.


“Jack, Jack, tolong jangan seperti itu. Kami sangat membutuhkan bantuanmu. Kami percaya sama kamu, tolong jangan ambil hati dengan sikap David.” Sahut Andreson.


Keithen pun juga berusaha meredakan amarah Jack.


“Bukan, bukan karena aku tidak percaya denganmu Jack, tapi entah mengapa aku tidak senang jika adikku dijadikan sebagai jaminannya.” Terang David.


“Baiklah, terserah papa dan mama saja.” Jawab David hingga membuat Andreson melanjutkan menandatangani surat tersebut di atas materai.


Entah kenapa David memiliki firasat buruk mengenai Aluna. Dia cemas jika Aluna akan di jadikan budak oleh Jack. Sementara itu setelah menandatangani surat perjanjian tersebut Andreson menyerahkannya kembali kepada Jack, dan sebuah cek yang tertulis dengan nominal lima ratus lima puluh milyar itu pun telah diterima oleh Andreson.


Pria culas dengan sejuta kejahatan itu tersenyum licik saat melihat rencananya kini telah berjalan dengan sangat mulus. Dia juga sudah tidak sabar ingin segera menikah dengan Aluna wanita yang selama ini dia incar.


Selang beberapa menit kemudian terlihat Aluna yang baru saja turun dari anak tangga. Keithen menyapa dan menyuruh anaknya untuk mendekati mereka.


“Aluna kemari.” Pinta Keithen memanggil putrinya.


Dengan wajah asam Aluna pun menghampiri keluarganya di ruang tamu tersebut.


“Kamu mau kemana sayang?” Tanya Keithen basa basi.

__ADS_1


“Aku mau ke rumah Olivia.” Jawab Aluna.


“Duduklah dulu, mari kita kumpul bersama berbincang-bincang dengan Jack.” Pinta Andreson.


Tatapan Aluna mulai sinis melihat kehadiran Jack yang sedang duduk disana.


“Maaf, aku sudah ditunggu teman-teman. Jadi sebaiknya aku pergi sekarang.” Aluna berusaha menghindar, karena dia tak mau berlama-lama melihat wajah Jack saat itu.


Namun di saat dirinya hendak mau angkat kaki dari ruangan tersebut, dia melihat ada sebuah dokumen di atas meja tepat di depan Jack. Aluna pun berfikir kalau dokumen tersebut mungkin hanya lah sebagai surat perjanjian untuk mencairkan uang yang akan dipinjam oleh ayahnya namun dia tak tahu kalau dirinya sebentar lagi akan menjadi suami dari seorang pria yang dia benci selama ini.


David yang tak bisa berbuat apa-apa pun hanya bisa terdiam sambil menatap adiknya yang berjalan pergi keluar dari rumah itu. Dia merasa kasihan karena adik satu-satunya telah dijadikan sebagai jaminan atas perjanjian tersebut.


“Kasihan Aluna, dia pasti akan sangat sakit hati jika mengetahui semua ini.” Batin David dengan pandangan sedih.


Tatkala setelah itu David pamit pergi dari hadapan mereka semua.


“Jack, aku mau ke kamar dulu. Silahkan jika kau masih mau lanjut bicara dengan papa dan mamaku.” Pamit David yang kemudian angkat kaki dari ruang tamu tersebut.


Sementara di tempat lain tak sengaja Aluna bertemu dengan seorang pria yang tak asing bagi dirinya di sebuah kafe saat Aluna hendak mau membayar minuman yang baru saja dia pesan. Dia menoleh ke sebelah kiri melihat pria itu sedang berdiri tepat di sampingnya. Pria tersebut tak lain ialah Kevin.


“Kevin.” Ucap Aluna dengan nada suara lirih.


Kevin menoleh ke arah Aluna dan kemudian menyapanya.


“Hay, apa kabar?” Tanya Kevin.


“A—aku baik. Bagaimana denganmu?” Tanya Aluna yang wajahnya berubah merah jambu.


 


Bersambung…

__ADS_1


 


__ADS_2