
Keithen mencoba menyangkal tanggapan tersebut dan bermaksud agar David bisa satu suara dengan dirinya atau pun suaminya.
“Gini Vid, mama bingung sama kamu. Dulu kamu yang paling semangat mengenai perjodohan ini. Tapi kenapa sekarang kamu bilang kalau kamu nggak setuju? Apa kamu lagi punya masalah sama Jack?” Tanya Keithen dengan wajah penasaran.
David lagi-lagi diam membisu.
“David, mama sama papa udah punya statement ingin menikahkan Jack dan Aluna sesegera mungkin, karena kami nggak mau semakin lama Aluna akan terlena dengan pria itu!” Terang Keithen.
“Tapi ma, kalaupun misal Aluna jadi menikah dengan Jack, apa mama dan papa tidak memikirkan perasaan Aluna nanti? Apa Aluna akan bahagia hidup dengan Jack? Aku rasa Aluna akan bahagia jika dia hidup dengan orang yang dia pilih sendiri, bukan dari pilihan orang lain.” David berusaha membela adiknya tersebut.
Akan tetapi Keithen tetap bersikeras dengan tujuan pertamanya, dia akan tetep menikahkan Aluna dengan Jack. Alasannya karena selain Jack anak yg baik Jack juga keturunan dari keluarga orang kaya, bahkan di mata Keithen, Jack pria muda yang sudah mapan. Jadi Keithen tak lagi mengkhawatirkan mengenai masa depan Aluna nantinya.
“Nggak, nggak Vid. Mama kali ini nggak setuju sama ucapanmu ini. Pokoknya mama dan papa tetap akan menjodohkan Aluna dengan Jack. Jack itu anak orang kaya, dia memiliki banyak harta, dan bahkan kelas keluarga kita dengan dia sama persis.” Terang Keithen.
“Tapi ma…” David kembali menggantungkan ucapannya lagi.
“Udah, udah! Mama nggak mau bahas ini lagi sama kamu, karena kita sudah nggak satu frekuensi lagi!” Keithen beranjak berdiri lalu pergi meninggalkan David di ruangan itu sendiri.
***
Pagi yang sangat berbeda dari biasanya. Area ruang makan yang memiliki desain khas istana kerajaan abad pertengahan yang dilengkapi dengan lampu yang menggantung mewah berukuran besar, meja makan yang panjang, dan delapan kursi yang tertata rapi ala istana kini terlihat tak berpenghuni. Biasanya setiap pagi mereka diawali dengan menyantap sarapan pagi bersama di ruang makan tersebut. Namun kini hanya tinggal Keithen saja yang masih terlihat duduk seorang diri disana.
Semua anggota keluarganya sudah sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing. Bahkan Aluna juga sudah tak mau lagi makan bersama-sama di meja makan itu. Dia lebih memilih untuk menyendiri di kamar setelah ayahnya melarang dia dekat dengan Kevin.
Tok, tok, tok,
Keithen mengetuk pintu kamar Aluna dan mencoba untuk membujuk Aluna agar dia mau menemani ibunya makan di meja makan.
Cklek!
Pintu kamar telah di buka oleh Aluna dengan memasang wajah lesu.
“Sayang, apa kau sudah makan?” Tanya Keithen.
Aluna diam dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Belum ya? Mari kita makan bersama di meja makan.” Ajak Keithen dengan nada suara yang terdengar lembut.
Aluna menolak, dia bilang kalau dirinya belum lapar waktu itu.
“Aluna, apa sih yang membuat sikapmu berubah 180 derajat seperti ini sama mama?” Ucap Keithen kesal.
“Apa karena pria itu?” Imbuh Keithen yang membuat pandangan Aluna melirik sinis ke arah ibunya.
“Ayolah nak, jangan seperti ini! Mama sama papa melarangmu dekat dengan pria itu karena ada alasannya. Apa sih yang istimewa dari pria itu sampai membuatmu berubah seperti ini?!” Sambung Keithen dengan nada suara sedikit tinggi.
“Stop ma! Aku lagi males bahas itu! Kalau mama mau makan, silahkan mama makan aja sendiri! Ada banyak tugas kampus yang harus aku selesaikan sekarang!” Kata Aluna yang kemudian menutup pintu kamarnya dengan keras.
Bulir demi bulir air matanya keluar karena sudah tak mampu untuk membendung lagi. Dia kembali menangis terisak di dalam kamarnya sendiri, sementara di dalam kamarnya terlihat banyak sekali lukisan sketsa wajah Kevin yang dia tempelkan di dinding-dinding kamarnya itu. Dia berjalan mendekati salah satu sketsa wajah Kevin saat pertama kali mereka bertemu. Dia mengusap lembut lukisan sketsa wajah itu sambil menitikkan air mata.
“Vin, aku kangen banget sama kamu. Berat bagiku untuk melupakanmu. Andai aja kedua orang tuaku tidak melarangku bertemu denganmu, aku pasti akan sangat bahagia bisa berada disampingmu setiap hari seperti kemarin. Hisk… Hisk… Hisk…” Ucap Aluna sendiri sambil memeluk sketsa wajah Kevin dengan erat melepaskan kerinduannya yang begitu mendalam.
Sementara selepas dari kamar putrinya, Keithen turun dan berjalan menuju ke ruang makan dengan wajah yang tampak kecewa.
“Selamat pagi Nyonya.” Salah satu pelayan menyapa Keithen sambil menarik kursi yang hendak akan Keithen duduki saat dirinya telah sampai di ruang makan tersebut.
“Kau lihat meja makan ini.” Ucap Keithen yang terdengar lesu.
Di tataplah meja makan panjang mewah itu dengan jeli oleh Bu Laksmi, sebab dia pikir meja makan itu bermasalah.
“Iya, apa ada masalah dengan meja makan ini Nyonya?” Tanya Bu Laksmi bingung.
“Meja ini memang tidak bermasalah. Tapi penghuni rumah ini yang bermasalah.” Kata Keithen.
“Memang apa yang sedang terjadi Nyonya?” Tanya Bu Laksmi.
“Dulu setiap pagi di meja ini ada David dan Aluna. Tapi sekarang meja ini sepi, dan akhir-akhir ini Andreson selalu berangkat lebih pagi dari biasanya sampai dia tidak sempat sarapan di rumah.” Terang Keithen.
“Mungkin Nona Aluna dan Tuan Muda David memang sedang sibuk saat ini. Jadi Nyonya harus sabar ya.” Bu Laksmi mencoba mendinginkan pikiran Keithen.
“Tapi aku rasa bukan karena mereka lagi sibuk, sepertinya mereka sedang marah padaku.” Jawab Keithen.
__ADS_1
“Marah? Mamang apa yang membuat mereka bisa marah kepada Nyonya?” Tanya Bu Laksmi.
Keithen pun membagi keluh kesahnya kepada Bu Laksmi, sebab hanya Bu Laksmi lah yang selalu jadi tempat curhat Keithen di rumah tersebut. Baru setengah bercerita David tiba-tiba pulang hingga membuat Kaithen dan Bu Laksmi terheran.
“David.” Pekik Keithen yang kemudian bangkit berdiri lalu berjalan membuntuti putranya tersebut.
Wajah David terlihat seperti tegang, dia juga berjalan cepat menuju ke kamarnya.
“David tunggu!” teriak Keithen memanggil putra sulungnya.
Akan tetapi David tak memperdulikan panggilan tersebut hingga membuat Keithen semakin heran. David terus melangkahkan kakinya hingga langkah kaki itu sampai ke kamarnya dan dia langsung menutup pintu kamar itu dengan sangat keras begitu saja. Seketika langkah kedua kaki Keithen berhenti.
“Astaga, ada apa dengan anak itu?!” Batin Keithen sambil mengelus dadanya sendiri dan terlihat heran.
Karena tak mau mengganggu David yang mungkin saat itu sedang memiliki banyak masalah, Keithen pun mengurungkan niatnya untuk menemui David di kamar. Segera diambil ponsel pribadinya dari dalam saku celana untuk menanyakan tentang David ke suaminya, sebab yang dia tau David bekerja satu kantor dengan Andreson.
“Hello, Pa.” Ucap Keithen memberikan salam.
“Iya, ada apa Ma?” Tanya Andreson.
“Ada apa dengan David, Pa? Kenapa masih pagi gini dia pulang? Apa lagi ada masalah di kantor?” Tanya Keithen.
“Nanti aja aku ceritakan saat aku pulang.” Jawab Andreson yang seketika langsung menutup panggilan tersebut begitu saja.
Keithen semakin penasaran, rasanya dia ingin segera tahu alasan yang membuat David tiba-tiba pulang ke rumah dengan wajah murung.
Bersambung…
__ADS_1