
Tiga hari kemudian, Andreson mengutus beberapa orang kepercayaan dan pengacara pribadinya untuk datang di kediamannya. Tujuan utama Andreson memanggil orang-orang penting tersebut di rumahnya ialah hanya karena dia ingin membicarakan tentang nasib kelangsungan perusahaannya saat ini.
David tak sengaja menguping dari celah pintu kamar Andreson yang kala itu sedikit terbuka. Dia mendengar bahwa ayahnya ingin melelang beberapa perusahaannya untuk menutup semua biaya kerugian perusahaan yang kini sedang dialami. Selepas mendengar keputusan ayahnya David tak setuju, namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena ayahnya masih belum mau bicara dan beliau masih belum mau bertemu dengan putranya. David hanya bisa menyesali perbuatannya yang ceroboh karena ambisius ingin memiliki kekayaan dengan hasilnya sendiri. Setelah menguping dia pun kemudian pergi menuju ke kamarnya sendiri.
“Agh!!! Aku nggak setuju kalau papa akan melelang beberapa perusahaannya! Aku harus cari cara biar semua masalah ini bisa terselesaikan!” Gerutu David sambil berjalan mondar mandir di dalam kamarnya sendiri.
Akan tetapi tak beberapa lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. David segera membuka pintu kamarnya dan ternyata Keithen yang tengah berdiri di balik pintu tersebut.
“Mama.” Sapa David.
Keithen seketika langsung memeluk tubuh David dan menangis begitu saja.
“Mama, ada apa? Kenapa mama menangis?” Tanya David heran.
Keithen kemudian menceritakan semua keputusan Andreson yang hendak berencana ingin melelang beberapa perusahaannya. Sementara David berpura-pura tidak tahu akan hal itu, David diam dan hanya mendengarkan keluh kesahnya sang ibu.
“Vid, mama nggak setuju sama keputusan papa kamu. Cepat kamu cari jalan keluar supaya papa tidak jadi melelang perusahaannya. Hisk… Hisk… Hisk…” Rungut Keithen yang tak henti-hentinya menangis.
“Mama yang tenang ya, aku akan cari jalan keluarnya secepat mungkin.” David berusaha menenangkan pikirkan Keithen kala itu.
“Mama cuman percaya sama kamu, karena hanya kamu yang tau bagaimana kondisi perusahaan. Mama sudah berusaha membujuk papa untuk tidak melelang perusahaannya, tapi kamu tau sendiri bagaimana sikap kerasnya papa kamu kan, Vid? Hisk… Hisk… Hisk…” Ucap Keithen.
“Iya ma, mama tenang ya. Aku pastikan semua akan baik-baik aja.” Jawab David yang terus berusaha menenangkan pikiran ibunya tersebut.
***
Dua hari berlalu, keadaan Andreson sudah mulai membaik tapi belum sepenuhnya pulih. Andreson duduk di halaman belakang rumah dengan ditemani oleh sang istri. Disana mereka berbincang-bincang membicarakan soal perusahaan namun Keithen sengaja tidak ingin berdebat banyak saat itu, mengingat kondisi suaminya yang baru saja pulih. Dia juga tak mau menambahkan beban pikiran suaminya walau dirinya tidak setuju dengan keputusan yang Andreson buat.
“Mulai saat ini kita harus memperkecil pengeluaran. Kamu tahu sendiri bagaimana kondisi perusahaan kita sekarang.” Kata Andreson.
__ADS_1
Keithen diam sambil memasang wajah yang menahan amarah. Sedetik kemudian ponsel Andreson berdering ada sebuah panggilan masuk dari asisten pribadinya yang akan memberikan kabar mengenai pelelangan tersebut. Andreson mengangkat panggilan itu dan berbicara panjang lebar dengan asisten melalui telepon. Sedangkan David yang berdiri di belakang mereka pun tak sengaja mendengar percakapan ayahnya. Dia lalu memberanikan diri menghampiri Andreson setelah panggilan itu berakhir.
“Pa!,” kata David yang berdiri di hadapan Andreson saat itu.
Andreson hanya diam sambil melirik sinis ke arah anaknya tersebut.
“Pa, aku dengar semua pembicaraan papa tadi.” Ucap David.
Andreson hanya terdiam bahkan dia juga memalingkan pandangannya dari tatapan David.
“Pa, apa tidak ada cara lain untuk mencari jalan keluar ini?” Tanya David.
Andreson terus terdiam dan tak bergeming.
“Pa, David nggak setuju kalau papa mau melelang beberapa perusahaan milik kita. Jadi tolong pa, jangan membuat keputusan secara sepihak.” Sambung David yang memancing emosi Andreson.
Sekuat tenaga Andreson beranjak berdiri dari kursi rodanya sambil menatap tajam kedua mata anaknya tersebut.
“Oke, David mengaku salah karena sudah menggelapkan uang perusahaan, tapi tolong kali ini dengarkan David pa. Kita bisa cari jalan keluar ini sama-sama tanpa harus melelang perusahaan.” Ujar David yang terus bersikeras membujuk ayahnya tersebut.
Tapi Andreson tetap kekeh dengan keputusannya tanpa harus mendengarkan solusi atau pendapat dari semua orang.
“Aku tetap akan melelang beberapa perusahaan kita!! Jadi kau tidak perlu memberikan pendapat apapun kepadaku?! Mengerti!!” Pekik Andreson yang kemudian angkat kaki dari hadapan David begitu saja sembari sengaja menyimpuk pundak David dengan kasar.
Keithen yang sejak tadi duduk sambil memperhatikan perdebatan mereka berdua pun mencoba berdiri mendekati anak sulungnya tersebut.
“Memang keras kepala sekali papa mu itu?! Mama udah nggak tau lagi harus bagaimana, mama udah pusing!!” Seru Keithen yang juga pergi begitu saja meninggalkan David.
“Agh!!” David menghantam keras udara di sekitarnya.
__ADS_1
Di tempat lain ada sebuah mobil rubicon berwarna hitam berhenti tepat di depan pintu gerbang kediaman Andreson, orang tersebut mengamati dengan jeli wajah rumah Andreson dari dalam mobilnya sambil tersenyum licik.
“Rasakan pembalasanku! Aku yakin penghuni rumah ini, saat ini pasti sedang panik memikirkan nasib perusahaannya. Kalian pikir, kalian hebat!! Dasar bod*h!” Cecar pria berkacamata hitam yang berada di dalam mobil rubicon tersebut.
Sudah hari ke lima David masih terus berfikir keras untuk bisa menggagalkan niat Andreson, tapi hingga saat ini dia tak kunjung menemukan solusi yang tepat. Sehingga dia memutuskan untuk meminta bantuan kepada Jack. Rasanya memang sangat malu jika harus mengemis pertolongan terhadap musuh, tapi mau bagaimana lagi dengan kondisi yang seperti saat ini. Mau tidak mau David harus tebal muka dengan Jack, karena hanya Jack lah orang satu-satunya yang mungkin bisa diandalkan.
“Jalan satu-satunya aku harus menemui Jack dan meminta bantuan kepadanya?! Tapi apakah dia mau membantuku?” Awalnya David ragu, tapi dia tetap harus percaya diri dengan keputusan yang diambil.
“Semoga aja Jack mau menolong nasib keluargaku.” Lantas David bergegas pergi meninggalkan kamarnya. Namun di saat dia sedang berjalan cepat menuruni anak tangga, dia beriringan dengan Aluna yang baru saja pulang dari kampus hendak mau berjalan menuju ke kamarnya. Aluna tertegun melihat kakaknya yang tergesa-gesa turun dari anak tangga tersebut.
“Kakak.” Panggil Aluna yang seketika menghentikan langkah kaki kakaknya tersebut.
David menoleh menatap Aluna.
“Kakak mau kemana?” Tanya Aluna.
Mendadak David pun menarik tangan Aluna dan mengajaknya keluar menjauh dari rumah itu. Aluna heran, dia bingung tapi dia tetapi mengikuti ajakan David. Setelah dirasa aman David pun menceritakan niatnya yang hendak akan menemui Jack dan meminta bantuan terhadap pria yang Aluna benci.
“Astaga kak! Apa nggak ada orang lain selain dia kak?! Nggak, aku nggak setuju kalau kakak minta bantuan sama dia.” Seru Aluna yang terdenger sedikit emosi.
“Siapa lagi orang yang akan menolong keluarga kita sekarang, Lun?” Pekik David.
“Kak, kita masih bisa minta bantuan ke paman! Aku yakin paman pasti mau kok bantu kita. Aku akan hubungi paman sekarang.” Aluna bergegas mengambil ponselnya dari dalam tas selempang yang dia pakai.
Setelah ponselnya berhasil diambil, ia pun segera menelpon Paman Hazan mencoba untuk meminta bantuan kepadanya.
Bersambung…
__ADS_1