
Bbbyyuuurr!
Dan benar, wanita itu tiba-tiba langsung terjun begitu saja ke dalam telaga itu dengan kedalaman sekitar 4 meter dari bibir telaga. Kevin yang melihatnya pun langsung panik dan berusaha menolong dengan menceburkan dirinya ke dalam telaga itu. Ia berenang sekuat tenaga untuk meraih tangan wanita itu dan membawanya ke bibir telaga. Kevin berharap wanita itu masih bisa terselamatkan. Kevin memukul pipinya secara berulang-ulang, berharap wanita itu masih hidup.
“Nona, bangunlah. Ayo bangun!” kata Kevin dengan berbagai upaya untuk membangunkan wanita itu.
Namun belum ada tanda-tanda sedikitpun kehidupan yang terlihat pada wanita tersebut. Kevin semakin panik. Dia bingung harus bagaimana, sebab lokasi mereka berdua lumayan jauh dari villa bahkan di lokasi tersebut juga sepi. Belum lagi jarak Rumah Sakit dengan Villa begitu sangat jauh. Ia takut di tuduh sebagai penyebab jatuhnya wanita itu dari telaga jika wanita tersebut meninggal dunia.
“Ayo bangunlah! Atau jangan-jangan wanita ini sudah…” Batin Kevin terputus karena wanita itu tiba-tiba batuk dan mengeluarkan air dari dalam mulutnya. Entah apa yang akan terjadi dengan Aluna jika Kevin tidak berada di sana saat itu.
Di malam yang gelam dengan penerangan yang sangat minim hingga membuat Kevin belum menyadari kalau ternyata wanita yang dia tolong tadi adalah Aluna.
Sementara Aluna langsung duduk menghadap Kevin, ia terus menangis menundukkan pandangannya dan dia pun merasa kesal karena? rencana untuk bun*h dirinya telah di gagalkan oleh pria itu.
“Kenapa! Kenapa kamu menolongku! Biarkan aku m*ti saja!” Teriak Aluna yang menangis histeris sambil memukul pelan tubuh Kevin.
“Kenapa kau marah padaku? Aku sudah berusaha menolong mu, Nona. Kau hampir tenggelam tadi.” Terang Kevin yang berusaha membela dirinya sendiri.
Tangisan Aluna semakin pecah dan tanpa dia sadari, dia tiba-tiba memeluk tubuh Kevin dan menangis di bagian dada Kevin. Kevin semakin bingung, dia pun mencoba untuk menenangkan wanita tersebut.
“Hay nona. Tenanglah.” Ucap Kevin lirih sembari mengusap lembut kepala Aluna.
Namun Aluna terus menangis hingga Kevin terpaksa harus menjadi pangkuan curahan hatinya.
Setelah dirasa tenang, Aluna pun menarik kepalanya menjauh dari tubuh Kevin. Dia lalu menyibakkan rambutnya di depan mata Kevin dan di situlah mereka berdua baru menyadari kalau mereka dipertemukan lagi.
“Kamu…” Ucap Kevin sambil menuding ke arah wajah Aluna dengan wajah terkejut.
“Ka—kamu…” Balas Aluna yang juga ikut terkejut dengan nada pelan.
Wajah Kevin langsung berubah ceria, sebab harapannya kini terjadi saat malam itu.
“Apa kau masih ingat dengan ku, Nona?” Tanya Kevin yang terlihat sumringah.
“Tentu saja aku masih mengenalmu.” Jawab Aluna.
“Lantas apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Aluna sambil mengusap pipinya yang basah akibat menangis.
__ADS_1
“A—aku disini…” jawab Kevin yang menggantung.
Belum sempat Kevin menjawab, Aluna lebih dulu memotong ucapan Kevin.
“Ah… Sudahlah, aku tau pasti kau salah satu tamu undangan di acara pesta itu.” Kata Aluna.
Saat Kevin hendak ingin menjawab dan ingin menerangkan pada Aluna, wanita itu mendadak bersin hingga membuat Kevin kembali menunda perkataannya lagi.
Haaasssiinnnggg!
“Nona, sepertinya kau mulai kedinginan.” Ucap Kevin.
“Entahlah.” Jawab Aluna.
Kevin lalu memberikan tawanan supaya Aluna mau ikut dengannya untuk menghangatkan tubuhnya yang sudah mulai menggigil.
“Suasana disini sangat dingin. Sebaiknya ikutlah dengan ku untuk menghangatkan tubuhmu itu.” Ajak Kevin.
Tapi Aluna hanya diam membisu, dia merasa canggung karena sebelumnya dia sudah banyak merepotkan pria tersebut.
“Tapi…” Ucap Aluna lirih dengan tubuh yang mulai bergetar hebat karena hembusan angin malam yang begitu dingin.
“Baiklah.” Jawab Aluna.
Mereka berdua pun kemudian bangkit berdiri dan sama-sama berjalan menuju ke sebuah Mess tempat Kevin beristirahat tadi.
Sesampainya di sana Kevin mempersilahkan Aluna untuk masuk ke dalam Mess-nya.
“Nona, silahkan masuk.” Pinta Kevin.
Dengan rasa canggung Aluna melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar tersebut.
“Emm, sepertinya bajumu itu sudah basah kuyup. Kau bisa mengganti pakaianmu dengan kemejaku ini, Nona.” Kevin kembali memberikan tawaran kepada Aluna.
“Ti—tidak perlu. Aku tidak mau merepotkan mu.” Jawab Aluna.
“Tenanglah. Aku tidak merasa direpotkan. Jadi cepat ganti pakaianmu dengan pakaian yang kering ini, Nona.” Pinta Kevin dengan nada yang begitu lembut hingga membuat Aluna menuruti ucapan Kevin.
__ADS_1
“Ba—baiklah.” Kata Aluna sambil menerima kemeja berwarna putih milik Kevin.
Saat Aluna sedang mengganti pakaiannya di dalam toilet, Kevin pun segera membuat secangkir teh hangat dia juga membuat mie instan mereka makan berdua.
Selang beberapa menit kemudian, selesai mengganti pakaian, Aluna kemudian keluar dari toilet. Tentu saja, wajahnya terlihat malu saat dia berhadapan dengan Kevin.
“Maaf jika kemeja itu sangat besar untuk kau pakai.” Ucap Kevin sembari membawa sebuah nampan yang berisi secangkir teh dan juga semangkuk mie instan hangat.
“Tidak apa-apa. Aku nyaman memakainya.” Jawab Aluna.
Kevin kemudian meminta Aluna duduk untuk menyantap makanan yang baru saja dia buat.
“Silahkan di makan Nona, mumpung teh sama mie instan nya masih hangat. Maaf saya hanya bisa menghidangkan ini saja.” Kata Kevin sembari meletakan semangkuk mie instan itu di depan Aluna.
“Tidak masalah, justru aku yang harusnya minta maaf padamu. Karena aku sudah banyak merepotkan mu.” Balas Aluna dengan wajah canggung.
Kevin justru tertawa mendengar ucapan Aluna hingga membuat Aluna bingung.
“Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?” Tanya Aluna dengan wajahnya yang terlihat semakin bingung.
“Ha… Ha… Ha… Jangan bicara seperti itu Nona. Sudah, sudah, makanlah dulu.” Pinta Kevin.
Sambil menyantap makanan, mereka berdua pun berbincang-bincang memperkenalkan diri mereka masing-masing. Mereka berdua tak percaya jika mereka dipertemukan lagi di tempat yang berbeda yang jauh dari tempat mereka bertemu sebelumnya.
Percakapan mereka berdua berlanjut dengan sangat menarik hingga membuat keduanya merasakan kehangatan dan kebersamaan sebagai teman meskipun situasi awalnya terasa canggung. Tapi tiba-tiba Kevin melontarkan pertanyaan kepada Aluna mengenai percobaan bunuh dirinya di telaga tadi.
“Nona, kalau boleh tau kenapa tadi kau berusaha untuk bunuh diri? Apa kau sedang memiliki masalah yang berat?” Tanya Kevin hingga membuat Aluna terdiam bahkan terlihat seperti tidak menyukai pertanyaan itu.
Kevin pun paham mengenai maksud dari tatapan Aluna.
“Maaf jika pertanyaanku tadi kurang sopan, Nona. Aku tidak mempunyai maksud apa-apa.” Umpat Kevin dengan wajahnya yang canggung.
“Sudahlah lupakan, tidak perlu membahas itu. Aku tidak ingin membicarakannya sekarang.” Jawab Aluna dan mereka pun kembali membicarakan hal lain.
__ADS_1
Bersambung…